Thursday

16 April, 2020

Quick Tour Zorin OS 15.1 Ultimate Edition

Ini video kedua saya, saya buat tadi pagi sebelum kegiatan briefing harian di Excellent. Menjelaskan mengenai distro Linux yang saat ini saya pakai untuk bekerja sehari-hari di rumah.

Distro yang saya gunakan adalah Zorin OS 15.1 Ultimate edition yang berjalan pada Intel NUC Hades Canyon series NUC817HVK VR Edition.

Video ini saya rekam menggunakan aplikasi OBS Studio, kemudian saya trim sedikit di bagian awal dan akhir. Awalnya saya coba pakai OpenShot Video Editor namun hasil exportnya mencapai 10X besar video asli. Video asli sekitar 15 MB, hasil export menjadi 135 MB. Saya butuh mengecek apa yang perlu disesuaikan agar hasilnya lebih baik.

Karena terdesak waktu hendak briefing, saya mencoba aplikasi VidCutter. Hasilnya belum terlalu memuaskan. Jadi akhirnya saya memilih pilihan lain, yaitu perintah CLI menggunakan ffmpeg.

Karena keperluan saya hanya trim diawal dan diakhir (menghapus bagian saat saya menyiapkan rekaman desktop dan diakhir saat saya menutup rekaman desktop), saya cukup melihat sesi waktu mulai dan waktu selesai video yang tepat. Saya dapatkan dengan cara memutarnya di aplikasi video/VLC dan saya lihat videonya bisa dimulai pada detik kedua dan berakhir pada menit ke enam detik ke tiga puluh. Jadi perintah ffmpeg yang saya pakai adalah :

ffmpeg -i ujicoba.mp4 -ss 00:00:02 -to 00:06:30 -c:v copy -c:a copy quick-tour-zorin-os.mp4

Hasilnya, ukuran awal 15.8 MB menjadi hasil akhir 15.2 MB. Excellent.

Mungkin ada cara lain yang lebih elegan atau lebih mudah, tapi setidaknya cara tersebut sesuai dengan keperluan saya 🙂

Catatan : Harap maklum kalau hasilnya amatiran. Aslinya memang amatir, hehehe… Ini saja perlu perjuangan agar saya berani bersuara di video 😀

Aplikasi Screencast pada Sistem Linux

Seperti yang saya tuliskan kemarin : Tetap Aktif Saat Situasi Sulit : Pengorbanan Kuda, saya mencari aplikasi Screencast yang akan saya gunakan untuk merekam desktop dan aplikasi tertentu yang nantinya akan dikonversi menjadi video tutorial.

Aplikasi ini harus berjalan dengan baik pada sistem Linux, terutama Linux Zorin OS 15.1 berbasis Ubuntu 18.04 yang saya gunakan saat ini.

Ada tiga aplikasi yang kemarin saya ujicoba, yaitu ffmpeg, RecordMyDesktop dan Open Broadcaster Software (OBS) Studio.

ffmpeg merupakan aplikasi yang powerful dengan banyak pilihan. Sayangnya, dia berbasis console, jadi saya harus mempelajari perintah-perintahnya agar bisa melakukan perekaman screen/desktop yang saya gunakan.

Setelah mencoba beberapa saat, saya memutuskan beralih ke aplikasi yang lain. Selain karena berbasis perintah console yang memerlukan hapalan perintah dan adaptasi, hasilnya juga tidak sesuai dengan keinginan. Kemungkinan ini karena perintah dan parameter yang saya berikan melalui console kurang tepat.

Aplikasi kedua adalah RecordMyDesktop. Ini aplikasi yang relatif ringan dengan tampilan simple. Mudah digunakan karena berbasis GUI (Graphical User Interface) dan bisa secara to the point melaksanakan tugasnya melakukan perekaman screen/desktop.

Sayangnya, saat saya gunakan, hasilnya blur. Jika saya beralih pindah ke window/aplikasi lain, gerakannya patah-patah dan tampilannya kacau. Saya berasumsi mungkin setting FPS (Frame Per Second)-nya kurang tepat, tapi setelah saya coba sesuaikan beberapa kali masih gagal, saya beralih ke software ketiga.

Software ketiga adalah Open Broadcaster Software (OBS) Studio. Aplikasi ini tersedia pada Linux, Windows maupun Mac. Tampilannya juga GUI dan feature-nya lebih komplit dibandingkan dengan RecordMyDesktop.

Saat saya mencoba merekam, hasilnya juga bagus tidak patah-patah, padahal semua setting saya biarkan default berdasarkan deteksi awal OBS Studio.

Ini adalah hasil perekaman awal saya untuk aplikasi Chess pada Zorin OS 15.1. Abaikan suara saya yang agak-agak aneh, karena saya pribadi perlu penyesuaian bicara untuk video 🙂

Saya juga mencoba melakukan perekaman desktop dikombinasi dengan video dari webcam dan menggunakan beberapa layar aplikasi. Misalnya saya ingin melakukan menampilkan aplikasi Terminal di satu sisi, kemudian aplikasi browser disisi lain dan ada tampilan webcam disudut layar. Hal itu mudah sekali dilakukan menggunakan OBS Studio karena dia menggunakan skema layer/tumpukan layar. Saya cukup menambahkan layer apa yang saya inginkan pada panelnya.

Pada gambar diatas, ada 4 source yang saya gunakan untuk Scene default. Ada video capture yang diambil dari webcam, ada audio input capture yang diambil dari mic, ada screen capture untuk tampilan seluruh desktop (posisi saya disable) dan terakhir ada Window capture untuk tampilan per aplikasi.

Untuk memulai perekaman, saya cukup klik tombol “Start Recording” disisi kanan dan untuk mengakhirinya saya bisa klik tombol “Stop Recording” (tombol yang sama karena sifatnya toggle). Secara default hasilnya berekstension .flv. Saya bisa melakukan konversi dari .flv menjadi .mp4 atau menjadi format lain menggunakan aplikasi ffmpeg. Jika tidak mau repot, bisa juga langsung memilih format .mp4 pada menu settings.

Untuk saat ini, OBS Studio sudah memenuhi keperluan saya dalam memulai langkah menjadi Youtuber atau dalam upaya memproduksi video tutorial. Langkah selanjutnya adalah membuat video dan menggunakan aplikasi video editor untuk merapikannya.

Monday

13 April, 2020

5 Tips Melakukan Meeting Online

Sejak adanya kegiatan Kerja dari Rumah (KDR) atau Work from Home (WFH), mekanisme meeting secara online semakin terbiasa dilakukan. Meski demikian, adakalanya peserta meeting lupa beberapa hal standar yang sebaiknya dipertimbangkan saat melakukan meeting online, antara lain :

1. Latar belakang/Background

Meski meeting online dilakukan dimana saja, baik di rumah, di tengah sawah maupun saat sedang aktivitas di luar ruangan lainnya, ada baiknya mempertimbangkan tampilan latar belakang.

Kurang apik rasanya jika meeting online, apalagi yang sifatnya meeting resmi, harus disuguhi pemandangan ajaib.

Jika didalam kamar, ada baiknya merapikan background tampilan jika hendak menghidupkan webcam. Kan kurang pas kalau ada jemuran atau baju berantakan atau hal-hal privacy yang tampil yang selayaknya tidak perlu ditampilkan.

Kita bisa memilih di ruangan tertentu yang relatif aman untuk meeting online, misalnya ruang kerja atau kamar khusus atau ruangan dengan latar belakang tembok yang cukup apik untuk ditampilkan.

Beberapa aplikasi meeting online bisa memilih gambar tertentu sebagai latar belakang. Kalau aplikasi yang digunakan tidak bisa mendukung hal tersebut dan semua ruangan kita berantakan, ada baiknya memilih untuk mematikan webcamnya 🙂

2. Suasana dan Noise

Saya pernah melakukan meeting online yang suasananya ramai sekali. Suara host atau presenter terdengar sayup-sayup sementara suara dari peserta meeting yang lain terdengar ramai. Pernah juga saat meeting di Excellent ada suara kukuruyuk ayam atau suara penjual ketoprak dan es potong yang sedang menjajakan jualannya.

Kadang saat meeting internal, saya sempat berhenti sejenak dan bertanya, apakah si tukang jualan bisa dipanggil sekalian supaya ke rumah saya karena saya mau beli es potongnya hehehe…

Jika kita punya anak kecil dan kita sedang meeting online resmi dengan pihak lain, ada baiknya meminta si anak untuk bermain di ruang lain atau bisa juga meminta isteri untuk mengajaknya main. Jika perlu, tombol Mic bisa dimute/dinonaktifkan sementara agar saat host melakukan presentasi, suaranya tidak tabrakan dengan suara berisik dari tempat kita.

Ukuran formal informal mungkin agak samar, namun secara prinsip, apakah kita cukup pede ada suara berisik dan tampilan berantakan jika kita meeting dengan atasan kita?

3. Berpakaian Rapi

Kerja dari Rumah bukan berarti bisa seenaknya. Boleh saja memakai kaus dan celana pendek misalnya, namun usahakan tetap rapi dan penampilannya terjaga.

Jangan meeting online dengan webcam aktif saat kita baru bangun tidur atau belum mandi. Muka masih kusut, rambut jabrik dan tidak segar. Ukurannya sama seperti diatas, apakah kita cukup pede jika berjumpa dengan orang yang kita hormati dalam tampilan seperti itu.

Saya pernah membaca, banyak perusahaan yang mewajibkan para customer services-nya berpakaian rapi dan tampil menarik, meski pihak customer mungkin tidak pernah melihat mereka karena umumnya berkomunikasi via telepon. Mengapa harus rapi, karena tetap ada rasa dan suasana berbeda dalam melakukan pekerjaan dan berkomunikasi dengan pihak klien.

4. Pastikan perangkat yang digunakan

Jika meeting online menjadi hal yang rutin dan mandatori- seperti halnya motor untuk tukang ojek-pertimbangkan untuk membeli perangkat webcam dan mic yang berkualitas. Jatuhnya memang investasi tambahan. Jika perusahaan mendukung, kita bisa melakukan pengajuan pembelian tersebut. Jika belum memungkinkan, kita bisa memilih alternatif lain yang lebih memadai, misalnya mengganti perangkat yang paling memerlukan penggantian.

Jangan sampai meeting bagus untuk project puluhan atau ratusan juta, hasilnya jadi melayang karena suara kita sember atau timbul tenggelam karena kualitas mic yang menyedihkan

5. Koneksi yang excellent

WFH itu jadi boros koneksi dan kuota. Itu keniscayaan. Makanya di Excellent ada tambahan budget untuk beli kuota. Jika koneksinya lambat, coba pilih koneksi lain yang lebih stabil dan lebih mendukung pekerjaan.

Jika memang harus keluar biaya, tidak apa-apa dilakukan, sepanjang hasilnya sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Itu namanya investasi, bukan pemborosan.

Analoginya begini. Jika kita bisa mendapatkan uang 100 ribu tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun itu artinya keren. Kalau kita mengeluarkan biaya sebesar 100 ribu tapi mendapatkan hasil 1 juta, itu namanya excellent.

Tidak apa-apa keluar biaya, asal pengeluarannya masuk akal, bisa dipertanggungjawabkan dan hasilnya jauh lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.

Sementara itu saja ya, beberapa hal yang menurut saya bisa dipertimbangkan saat melakukan meeting online.

Catatan : Ilustrasi ini jangan dicontoh. Ini adalah contoh yang kurang pas, karena meeting dengan team Excellent dengan latar belakang tempat tidur 😀

Server CCTV dengan Shinobi Video – Bag. 3, Menggunakan IP Cam Publik

Bagaimana kalau mau belajar pemasangan shinobi namun tidak memiliki IP Cam? ada caranya kah?

Ada. Pasti Ada

Salah satu caranya adalah dengan menggunakan IP Cam publik yang berada di beberapa wilayah/negara. Daftarnya bisa didapat di http://www.insecam.org/. Tidak semua bisa digunakan, namun tentu saja ada yang bisa. Saya sendiri menemukan satu yang sukses digunakan. Tahapannya kurang lebih seperti ini:

  1. Cari salah satu kamera. Saya menemukan yang berada di Jepang. http://www.insecam.org/en/view/534370/.
  2. Ambil IP Addressnya, investigasi url-urlnya dengan iSpy agar bisa mendapat informasi lebih detil.
  3. Jika tanpa nomor 2, juga bisa, kebetulan kameranya support ONVIF, tinggal masukin alamat IP dan atur-atur dan coba-coba sampai pas
  4. Khusus ini, saya menemukan bahwa konfigurasi yang pas itu MJPEG.
IP Cam Publik
IP Cam Publik

Selamat mencoba dan latihan untuk kamera yang lain. Banyak spot-spot bagus juga lho.

 

PS: CCTV Xiaomi Yi Max 02 1080p Outdoor Smart IP Cam ini ndak support ONVIF gak bisa diakses via rtsp jadinya.

Server CCTV dengan Shinobi Video – Bag. 2, Pemasangan Shinobi

Pemasangan Shinobi cukup mudah sekali, cukup menjalankan sebaris perintah dari root:

bash <(curl -s https://gitlab.com/Shinobi-Systems/Shinobi-Installer/raw/master/shinobi-install.sh)

Selanjutnya tinggal mengikuti langkah-langkah yang ada di layar. Saya memilih mengambil dari branch development agar mendapatkan fitur-fitur terbaru sekaligus testing. Dokumentasi pemasangan secara lengkap bisa dibaca di sini.

Berikut hal-hal utama yang perlu dilakukan setelah pemasangan:

Peramban Firefox

Gunakan peramban Firefox. Karena peramban Chrome tidak mau bila ada https dan self sign. Juka untuk streaming beberapa video cctv. Firefox bekerja lebih benar dari pada Chrome. Enggak tau kenapa.

Masuk sebagai admin dan buat user

Kita perlu memasukkan url http://alamat-ip-shinobi-server:8080/super. User / Pass bakunya adalah admin@shinobi.video / admin. Dari halaman ini kita bisa membuat user baru untuk masuk ke dashboard shinobi server. Juga untuk mengganti password akun admin tersebut.

Super Admin
Super Admin

Shinobi Dashboard

Untuk masuk ke dashboard, buka peramban dan arahkan ke http://alamat-ip-shinobi-server:8080/ lalu masukkan username/password yang sudah dibuat tadi.

Menambahkan Kamera

Klik tombol + (Add Monitor). Di sini kamera disebut monitor. Lalu tinggal isikan parameter-parameter yang sesuai kamera. Saya mencoba sendiri dan ribet. Setelah beberapa kali percobaan, baru berhasil.

Menambah Kamera
Menambah Kamera

Ada cara gampangnya, melalui menu pojok kiri atas – ONVIF. Lalu isikan alamat ip dan klik tombol search. Secara pintar, shinobi bisa mendeteksi kamera dalam jaringan yang kombatibel ONVIF. Jika ketemu, akan ditampilkan deskripsi kamera, bahkan bisa tahu merek/modelnya. Lalu tinggal klik tombol bergambar 2 dokumen (seperti ikon duplicate).

Add Monitor - ONVIF
Add Monitor – ONVIF

Selanjutnya tinggal melengkapi/mengganti isian yang ditampilkan (sama dengan jendela Add Monitor). Tinggal disesuaikan saja atau langsung Save. Secara baku, kamera akan memiliki mode View Only. Kita bisa mengatur/mengganti modenya menjadi Record.

Dua Kamera/Monitor
Dua Kamera/Monitor

Power Video Viewer

Digunakan untuk melihat video yang sudah tersimpan terekam. Tombol ikonnya mirip seperti tag/point pada peta.

Video Viewer
Video Viewer

Seingat saya, Power Video Viewer ini yang tidak bisa di Chrome.

Dah itu dulu tulisan kali ini. Tulisan berikutnya saya akan jelaskan cara optimasinya.

 

*Featured image diambil dari http://getwallpapers.com/collection/hidden-leaf-village-wallpaper

Server CCTV dengan Shinobi Video – Bag. 12, Pemasangan Shinobi

Pemasangan Shinobi cukup mudah sekali, cukup menjalankan sebaris perintah dari root:

bash <(curl -s https://gitlab.com/Shinobi-Systems/Shinobi-Installer/raw/master/shinobi-install.sh)

Selanjutnya tinggal mengikuti langkah-langkah yang ada di layar. Saya memilih mengambil dari branch development agar mendapatkan fitur-fitur terbaru sekaligus testing. Dokumentasi pemasangan secara lengkap bisa dibaca di sini.

Berikut hal-hal utama yang perlu dilakukan setelah pemasangan:

Peramban Firefox

Gunakan peramban Firefox. Karena peramban Chrome tidak mau bila ada https dan self sign. Juka untuk streaming beberapa video cctv. Firefox bekerja lebih benar dari pada Chrome. Enggak tau kenapa.

Masuk sebagai admin dan buat user

Kita perlu memasukkan url http://alamat-ip-shinobi-server:8080/super. User / Pass bakunya adalah admin@shinobi.video / admin. Dari halaman ini kita bisa membuat user baru untuk masuk ke dashboard shinobi server. Juga untuk mengganti password akun admin tersebut.

Super Admin
Super Admin

Shinobi Dashboard

Untuk masuk ke dashboard, buka peramban dan arahkan ke http://alamat-ip-shinobi-server:8080/ lalu masukkan username/password yang sudah dibuat tadi.

Menambahkan Kamera

Klik tombol + (Add Monitor). Di sini kamera disebut monitor. Lalu tinggal isikan parameter-parameter yang sesuai kamera. Saya mencoba sendiri dan ribet. Setelah beberapa kali percobaan, baru berhasil.

Menambah Kamera
Menambah Kamera

Ada cara gampangnya, melalui menu pojok kiri atas – ONVIF. Lalu isikan alamat ip dan klik tombol search. Secara pintar, shinobi bisa mendeteksi kamera dalam jaringan yang kombatibel ONVIF. Jika ketemu, akan ditampilkan deskripsi kamera, bahkan bisa tahu merek/modelnya. Lalu tinggal klik tombol bergambar 2 dokumen (seperti ikon duplicate).

Add Monitor - ONVIF
Add Monitor – ONVIF

Selanjutnya tinggal melengkapi/mengganti isian yang ditampilkan (sama dengan jendela Add Monitor). Tinggal disesuaikan saja atau langsung Save. Secara baku, kamera akan memiliki mode View Only. Kita bisa mengatur/mengganti modenya menjadi Record.

Dua Kamera/Monitor
Dua Kamera/Monitor

Power Video Viewer

Digunakan untuk melihat video yang sudah tersimpan terekam. Tombol ikonnya mirip seperti tag/point pada peta.

Video Viewer
Video Viewer

Seingat saya, Power Video Viewer ini yang tidak bisa di Chrome.

Dah itu dulu tulisan kali ini. Tulisan berikutnya saya akan jelaskan cara optimasinya.

 

*Featured image diambil dari http://getwallpapers.com/collection/hidden-leaf-village-wallpaper

DingTalk Destop di Tumbleweed

DingTalk adalah aplikasi pusat tempat bekerja bergerak (An All-in-one Mobile Workplace). Mulai dari Ngobrel, berkirim surel, meeting hinggal presentasi live.

Tool ini merupakan buatan Alibaba. Dan sejak saya ikut menjadi MVP Alibaba Cloud, komunikasi intensif berpindah menggunakan tools ini.

DingTalk memiliki versi untuk mobile Android maupun iOS. Sedangkan untuk versi destop hanya tersedia untuk OSX dan Windows. Untuk GNU/Linux tidak disediakan.

Namun ternyata ada DingTalk Destop versi tidak resmi di lumbung GitHub. Tautan ini saya dapatkan ketika bertanya di channel Alibaba Cloud MVP.

Lumbung tersedia di tautan https://github.com/nashaofu/dingtalk. Lumbung ini ditulis dengan Electron. Mari kita bangun paket untuk Tumbleweed.

  • Install NodeJS
  • Clone repo
  • Ubah suai berkas package.json
  • Build electron
  • Build paket RPM
  • Install paket RPM.

Berkas package.json saya ubah suai sedikit untuk mengganti nama paket dan mempercepat proses membangun paket RPM. Berikut hasil diff package.json dan perintah bashnya.

build.patch

--- package.json.orig 2020-04-04 10:23:45.888371916 +0700
+++ package.json  2020-04-04 10:55:44.369370401 +0700
@@ -81,7 +81,7 @@
   },
   "build": {
     "appId": "com.electron.dingtalk",
-    "productName": "钉钉",
+    "productName": "DingTalk",
     "artifactName": "dingtalk-${version}-${channel}-${arch}.${ext}",
     "copyright": "Copyright © year nashaofu",
     "asar": true,
@@ -119,30 +119,9 @@
     "linux": {
       "target": [
         {
-          "target": "AppImage",
-          "arch": [
-            "x64",
-            "ia32",
-            "arm64",
-            "armv7l"
-          ]
-        },
-        {
-          "target": "deb",
-          "arch": [
-            "x64",
-            "ia32",
-            "arm64",
-            "armv7l"
-          ]
-        },
-        {
           "target": "rpm",
           "arch": [
-            "x64",
-            "ia32",
-            "arm64",
-            "armv7l"
+            "x64"
           ]
         }
       ],

Perintah eksekusi

patch -p0 < build.patch
npm install
npm run build
npm run pack
sudo zypper in release/dingtalk-2.1.3-latest-x86_64.rpm

Ada beberapa galat yang muncul ketika selesai memasang, namun bisa diabaikan. Setelah dipasang, silakan mencari nama aplikasi dengan kata kunci DingTalk. Kemudian login dengan menggunakan bantuan scan QR Code.

Demikian, semoga bermanfaat.
Estu~

Server CCTV dengan Shinobi Video – Bag. 1, IP Cam

Oprekan kali ini bermula dari lokasi proyek rumah yang kemalingan. Saat awal bangun, kemalingan genset, berikutnya beberapa minggu lalu, para tukang kemalingan handphone.

Saya memiliki cctv yang ada di rumah, subsidi dari Pak Bos yang memiliki perusahaan penjualan cctv. Yang sudah dipakai, sangat mudah dioperasikan. Just work. Namun kali ini sejak pandemi, saya kepikir untuk memanage cctv tersebut dengan linux, entah raspi atau pakai komputer-komputer spek rendah.

Sebelumnya, saya sama sekali tidak mengerti teknologi cctv beserta perabotannya. Namun sejak ngoprek ini, pengetahuan jadi bertambah. Awalnya hanya tau/nemu Shinobi Video saja, setelah itu bingung, harus bagaimana? cara koneksinya ke cctv bagaimana?

Dinamakan IP Cam, tentunya memiliki IP, umumnya, dari pabrikan diatur menjadi dhcp client. Sehingga dapat IP otomatis dari router/server dhcp. Saya dipinjami IP Cam oleh Pak Iwan Tahari. Dalam kardusnya tidak ada informasi apapun (buku manual juga tidak ada). Merek/Pabrikan pembuatnya juga tidak tahu. Jadi dengan coba-coba colokin aja ke router/modem yang ada di rumah, lalu diintip dapat IP berapa, nah itu dia tinggal dipanggil IPnya di peramban.

IP Cam
IP Cam

Setelah sukses dapat IP, saya punya 1 komputer yang rencananya jadi server cctv dan sudah ada dhcp servernya, saya sambungkan IP Cam tersebut ke komputer . Dapat IP 10.42.0.151. Tinggal dipanggil di peramban dan muncul antar muka web si kamera.

Antarmuka Web
Antarmuka Web

Hal utama yang perlu dilakukan adala mengatur zona waktu/waktu, agar nantinya saat dipakai, timestamp yang ditampilkan sesuai. Hal berikutnya adalah pengaturan kualitas gambar. Kamera ini sanggup merekam video/gambar dengan codec H265 dan H264, juga bisa merekam audio serta pengaturan fps dan kualitas. Saya mengatur kualitas medium dan codec H264 (karena H265, rata-rata browser tidak mulus menampilkannya).

Selanjutnya, bagaimana cara menguji bahwa kamera tersebut bisa digunakan? Saya cukup bingung dengan pertanyaan sendiri. Mencari-cari, akhirnya menemukan jawaban, bahwa bisa menguji dengan menggunakan VLC. Tinggal memasukkan url rtp/udp melalui menu Open Network. Nah bagaimana mendapatkan urlnya? macem-macem jawabnya dan bingung. Namun saya menemukan aplikasi pembantu, yang bisa memandu kita.

Aplikasinya bernama iSpy, opensource, adanya di OS Windows saja. Cara penggunaannya cukup mudah, bisa mencari berdasarkan IP yang kita masukkan atau dia mencari melalui jaringan yang ada. Setelah itu dia akan memberikan info ke kita daftar url yang bisa digunakan.

iSpy
iSpy

Ada beberapa format yang perlu diperhatikan:

  • ONVIF, ini format standar IP Cam, jika bisa ini, dengan Shinobi bisa otomatis dalam pendeteksiannya.
  • RTSP, catat url rtsp yang diberikan, di atas contohnya rtsp://ip:8554/live/ch00_0
VLC dengan rtsp
VLC dengan rtsp

Setelah sukses tampil di VLC, kita bisa melanjutkan pemasangan Shinobi Video.

Pendaftaran Peserta KonPeTI Dibuka

Pendaftaran peserta Konferensi Pekerja Teknologi Informasi (KonPeTI) sudah dibuka!
 
Ayo #GerakDariRumah segera daftarkan diri Anda dan sampai jumpa di udara
 

Memasang Cockpit pada openSUSE Leap 15.1

Sebelumnya, ada obrolan tentang Cockpit di status facebook om Adang Hidayat, dan tantangan dari pak Presiden Kukuh Syafaat, akhirnya sifat iseng ini timbul kembali, apalagi saat ini sedang gencar #gerakdarirumah

Apa itu Cockpit?

Menurut situs Cockpit Project, cockpit merupakan sebuah interface yang interaktif untuk administrasi server, sepengetahuan penulis, aplikasi ini secara default tersedia di distro linux CentOS, sedangkan untuk distro lain, seperti  openSUSE dan Ubuntu, maka untuk menggunakan service cockpit, maka perlu dilakukan pemasangan service cockpit.

Untuk itu, dalam kesempatan ini, penulis akan berbagi tips cara pemasangan service cockpit dan bagaimana cara mengaktifkan service cockpit pada openSUSE Leap 15.1 (untuk sistem operasi lain tidak dibahas disini karena blog ini adalah blog openSUSE, bukan yang lain).

Langkah-langkah Pemasangan :

Tambahkan repository systemsmanagement:cockpit dengan perintah :

sudo zypper addrepo https://download.opensuse.org/repositories/systemsmanagement:cockpit/openSUSE_Leap_15.1/systemsmanagement:cockpit.repo

Setelah itu refresh database repository dengan perintah :

sudo zypper refresh

Apabila ada pertanyaan seperti dibawah ini, masukkan jawaban dengan huruf a (trust always) :

Do you want to reject the key, trust temporarily, or trust always? [r/t/a/?] (r): a

Kemudian install cockpit dengan perintah :

sudo zypper install cockpit

Setelah itu, jalankan service cockpit secara manual dengan perintah :

sudo systemctl start cockpit
Masuk ke webconsole Cockpit

Untuk masuk ke webconsole, pada web browser anda masukkan alamat :

https://IP_Address_Server_Cockpit:9090/

Apabila ada informasi Your connection is not private seperti gambar dibawah ini, klik tombol Advanced,

Kemudian klik opsi Proceed to <ip_address> (unsafe), seperti dibawah ini :

Setelah itu akan tampil halaman login cockpit :

Masukkan username dan password user yang digunakan untuk login di OS openSUSE Leap, untuk masuk ke menu cockpit.

Halaman dashboard cockpit :

Menjalankan cockpit secara otomatis setelah Restart/Reboot

Secara default, service cockpit tidak dapat dijalankan secara otomatis, karena tidak adanya komponen [Install], dan apabila dijalankan perintah :

sudo systemctl enable cockpit

akan ada keluaran seperti dibawah ini :

The unit files have no installation config (WantedBy, RequiredBy, Also, Alias
settings in the [Install] section, and DefaultInstance for template units).
This means they are not meant to be enabled using systemctl.
Possible reasons for having this kind of units are:
1) A unit may be statically enabled by being symlinked from another unit's
.wants/ or .requires/ directory.
2) A unit's purpose may be to act as a helper for some other unit which has
a requirement dependency on it.
3) A unit may be started when needed via activation (socket, path, timer,
D-Bus, udev, scripted systemctl call, ...).
4) In case of template units, the unit is meant to be enabled with some
instance name specified.

Untuk itu perlu kita lakukan editing pada file /usr/lib/systemd/system/cockpit.service, dan menambahkan baris :

[Install]
WantedBy=multi-user.target

Sehingga menjadi seperti dibawah ini :

[Unit]
Description=Cockpit Web Service
Documentation=man:cockpit-ws(8)
Requires=cockpit.socket

[Service]
ExecStartPre=/usr/sbin/remotectl certificate --ensure --user=root --group=cockpit-ws --selinux-type=etc_t
ExecStart=/usr/lib/cockpit-ws
PermissionsStartOnly=true
User=cockpit-ws
Group=cockpit-ws

[Install]
WantedBy=multi-user.target

Setelah itu jalankan perintah dibawah ini :

sudo systemctl daemon-reload

Kemudian lanjutkan dengan perintah dibawah ini agar service cockpit otomatis berjalan setelah restart :

sudo systemctl enable cockpit