Eskalasi Masalah Email : mailbox unavailable invalid DNS MX or A/AAAA resource record
Beberapa hari yang lalu ada support ticket yang masuk ke Excellent. Pihak klien mengeluh bahwa mereka tidak bisa mengirim email ke pihak rekanan di Jerman dengan pesan error : “550-Requested action not taken: mailbox unavailable, 550 invalid DNS MX or A/AAAA resource record”

Pihak klien berlangganan paket layanan SMTP Relay Excellent. Layanan ini berfungsi sebagai relay server, yang akan meneruskan email dari server klien ke tujuan.
Berdasarkan pesan error tersebut, team Excellent menginformasikan bahwa email di tujuan tidak ada (unavailable) dan pihak klien bisa menginformasikannya pada pihak rekanan.
Pihak klien bersikukuh bahwa email di tujuan ada dan baik-baik saja, karena jika dikirim via Gmail, emailnya bisa diterima. Atas dasar itu, saya membantu team support untuk melakukan investigasi lebih jauh dan meminta izin pada pihak klien untuk melakukan simulasi dan test ke tujuan email yang dimaksud.
MENGECEK MX RECORDS
Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencoba mengirimkan email via telnet. Jika menggunakan CLI, favorit saya adalah menggunakan telnet dan menggunakan aplikasi swaks. Untuk tahap awal saya menggunakan telnet karena sifatnya masih diagnosa.
Untuk melakukan telnet, saya harus mengetahui MX records domain tujuan. Nantinya saya akan melakukan telnet ke port 25 pada server yang tercantum dalam list MX records.
Saya bisa menggunakan website DNS check (misalnya https://dnscheck.id) namun karena saya sedang melakukan investigasi via CLI, saya menggunakan perintah CLI : dig.
dig namadomain.de mx
;; ANSWER SECTION:
namadomain.de. 3600 IN MX 10 mx01.namadomainserver.de.
namadomain.de. 3600 IN MX 10 mx00.namadomainserver.de.
Ada 2 MX records yang terdaftar dan masing-masing memiliki priority 10. Asumsi pertama saya adalah, jangan-jangan salah satu server bermasalah yang menjadikan error tersebut intermittent. Misalnya sebagian server berhasil berkomunikasi namun yang lainnya gagal. Sebagai contoh koneksi dari SMTP Relay Excellent gagal terhubung ke salah satu server yang bermasalah, sedangkan Gmail dan lain-lain berhasil terhubung karena koneksinya terhadap server yang tidak bermasalah.
Asumsi tersebut hanya dugaan dan harus diuji dengan mencoba mengirimkan email.
UJICOBA KONEKSI PORT PENERIMAAN EMAIL
Port SMTP ada bermacam-macam, misalnya port 465 untuk koneksi SMTP SSL dan port 587 untuk Submission port TLS. Namun, untuk penerimaan email, default portnya adalah port 25 dan saya bisa menggunakan telnet kemudian bicara dengan bahasa mesin ke server tujuan.
telnet mx00.namadomainserver.de 25
Trying 212.227.xx.xx…
Connected to mx00.namadomainserver.de.
Escape character is ‘^]’.
220 namadomainserver.de (mxeue011) Nemesis ESMTP Service ready
Pesan diatas menunjukkan bahwa port 25 disisi server tujuan terbuka dan server mereka siap menerima koneksi. Hal itu dinamakan dengan HELO. Jadi saya membalas pesan tersebut dengan perintah EHLO. EHLO adalah bahasa prokem dari HELO. Ini salah satu kebiasaan dari para ahli IT yang tidak mau repot-repot mencari istilah, hehehe…
ehlo namadomainserver.de
250-namadomain.de Hello namadomainserver.de
250-8BITMIME
250-SIZE 157286400
250 STARTTLS
Baris diatas adalah pemberitahuan dari server setelah saya “kulonuwun” menjawab helo mereka dengan ehlo. Server memberitahukan bahwa mereka mendukung koneksi 8-bit karakter, dengan maksimum attachment 157286400 (150 MB) dan siap menerima koneksi dengan protokol secure TLS.
Setelah server tujuan menginformasikan hal tersebut, saya bisa mengirimkan email dengan menyebutkan email pengirim, email tujuan, subject dan isi email. Saya mulai dengan menyebutkan email pengirim :
mail from:namauser@perusahaan-indo.com
550-Requested action not taken: mailbox unavailable
550 invalid DNS MX or A/AAAA resource record
Ternyata jawabannya langsung error, sama dengan pesan error yang disampaikan pihak klien.
Karena penasaran, saya coba sekali lagi dan hasilnya sama.
Berarti server mx00.namadomainserver.de gagal dihubungi. Saya mencoba ke server kedua, yaitu mx01.namadomainserver.de, ternyata hasilnya sama.
Kesimpulan pertama : Server tujuan memiliki konfigurasi yang sama dan keduanya sama-sama menghasilkan pesan error. Setelah ini, apa yang akan dilakukan? Premis atau asumsi kedua saya adalah, ada masalah dengan si pengirim. Jadi saya melanjutkan investigasi, kali ini menggunakan alamat email saya sebagai pengirim.
UJICOBA PENGIRIMAN EMAIL MENGGUNAKAN DOMAIN LAIN
Untuk keperluan ini, saya menggunakan perintah telnet yang sama.
telnet mx00.namadomainserver.de 25
Trying 212.227.xx.xx…
Connected to mx00.namadomainserver.de.
Escape character is ‘^]’.
220 namadomainserver.de (mxeue010) Nemesis ESMTP Service ready
ehlo namadomainserver.de
250-namadomainserver.de Hello namadomainserver.de
250-8BITMIME
250-SIZE 157286400
250 STARTTLS
mail from:hosokawa.fujitaka@excellent.co.id
250 Requested mail action okay, completed
Berhasil. Ternyata menggunakan domain excellent.co.id berhasil lolos dari pengecekan server tujuan. Ada kemungkinan masalahnya benar disisi domain pengirim.
Untuk memastikannya, saya mencoba koneksi ke MX server kedua :
telnet mx01.namadomainserver.de 25
Trying 217.72.xx.xx…
Connected to mx01.namadomainserver.de.
Escape character is ‘^]’.
220 namadomainserver.de (mxeue110) Nemesis ESMTP Service ready
ehlo namadomainserver.de
250-namadomainserver.de Hello namadomainserver.de
250-8BITMIME
250-SIZE 157286400
250 STARTTLS
mail from:vavai@excellent.co.id
250 Requested mail action okay, completed
Hasilnya sukses kembali. Dari hal diatas, bisa disimpulkan kesimpulan awal sebagai berikut :
- Server tujuan valid dan tidak ada issue. Hal ini karena kedua server mereka memberikan respon yang sama
- Problem terjadi pada domain pengirim : namaperusahaan-indo.com karena jika mengirim email menggunakan domain excellent.co.id (atau domain lain yang normal) tidak ada kendala
- Jika merujuk pesan error : 550-Requested action not taken: mailbox unavailable 550 invalid DNS MX or A/AAAA resource record pesan ini kemungkinan besar bukan berarti alamat email tujuan tidak ada sesuai asumsi semula, melainkan adanya mekanisme pengecekan sender domain (biasanya sebagai bagian dari proteksi anti spam) dan domain namaperusahaan-indo.com gagal memenuhi kriteria ini, sedangkan domain excellent.co.id berhasil memenuhi kriteria
PENGECEKAN INTEGRITAS DNS
Berdasarkan hasil analisa point 3, saya melanjutkan investigasi dengan mencoba mengecek integritas DNS domain namaperusahaan-indo.com melalui alamat https://intodns.com dan menemukan hasil sebagai berikut :
MX A request returns CNAME WARNING: MX records points to a CNAME. CNAMEs are not allowed in MX records, according to RFC974, RFC1034 3.6.2, RFC1912 2.4, and RFC2181 10.3. The problem MX record(s) are: mail.namaperusahaan-indo.com points to [‘namaperusahaan-indo.com’] This can cause problems
Hasil pengecekan diatas membuktikan premis tersebut, menunjukkan bahwa ada kesalahan konfigurasi DNS untuk domain namaperusahaan-indo.com dimana seharusnya MX records merujuk pada nama yang ditranslasikan ke A records.
Pada kasus domain klien namaperusahaan-indo.com, MX records benar merujuk pada nama mail.namaperusahaan-indo.com namun nama mail.namaperusahaan-indo.com merujuk pada alias (cname) dari namaperusahaan-indo.com.
Kemungkinan besar hal diatas terjadi karena email namaperusahaan-indo.com menggunakan layanan email hosting bagian dari web hosting dan pihak ISP mengambil cara mudah melakukan setting MX menggunakan alias name. Hal ini tidak sesuai RFC dan kaidah konfigurasi mail server.
Sesuai RFC 1912 : [RFC 1034] in section 3.6.2 says this should not be done, and [RFC
974] explicitly states that MX records shall not point to an alias
defined by a CNAME. This results in unnecessary indirection in
accessing the data, and DNS resolvers and servers need to work more
to get the answer.
Referensi : https://tools.ietf.org/html/rfc1912
SOLUSI
Sebagai solusi, saya meminta pada pihak klien untuk menghubungi ISP hosting mereka dan menyesuaikan isian records mail.namaperusahaan-indo.com dari awalnya CNAME terhadap namaperusahaan-indo.com menjadi A records
$ nslookup mail.namaperusahaan-indo.com
Server: 127.0.0.53
Address: 127.0.0.53#53
Non-authoritative answer:
mail.namaperusahaan-indo.com canonical name = namaperusahaan-indo.com.
Name: namaperusahaan-indo.com
Address: 203.201.XXX.XXX
Berikut adalah contoh permintaan penggantian records DNS tersebut :
/*Hi NOC ISP
Mohon dapat dilakukan penggantian/penyesuaian records DNS pada domain kami namaperusahaan-indo.com untuk records mail.namaperusahaan-indo.com sebagai berikut :
Sebelumnya
mail.namaperusahaan-indo.com IN CNAME namaperusahaan-indo.com
Menjadi
mail.namaperusahaan-indo.com IN A 203.201.XXX.XXX
Jika sudah dilakukan, harapa menginformasikannya kepada kami agar dapat kami check dan validasi kembali.
*/
Setelah pihak ISP melakukan pengubahan, pihak klien bisa melakukan pengetesan apakah error seperti yang ditunjukkan pada : https://intodns.com masih ada atau sudah diperbaiki.
HASIL AKHIR
Setelah dilakukan penyesuaian MX records oleh pihak ISP hosting klien, saya melakukan testing ulang dengan telnet port 25. Hasilnya, domain klien mendapat pesan sukses :
250 Requested mail action okay, completed
Setelah mengkonfirmasi hasil tersebut di kedua server MX tujuan, saya menginformasikan kembali pada pihak klien mengenai hasil akhir dan meminta mereka melakukan pengiriman email dengan di cc-kan ke alamat team support Excellent.
Hasil pengiriman email dari pihak klien mendapat balasan dari rekanan mereka di Jerman bahwa email berhasil diterima dengan baik.
Mission accomplished.
CATATAN :
Sebagai email services provider (ESP), Excellent menyediakan layanan lengkap terkait email sebagai berikut
- Layanan Excellent Managed Services Mail Server : https://www.excellent.co.id/vps
- Layanan SMTP Relay : https://www.excellent.co.id/smtp
- Layanan Anti Spam dan Anti Virus : https://www.excellent.co.id/asav
- Layanan SSL
- Layanan lisensi email server berbasis Zimbra
- Dan lain-lain
Updating Documentation for openSUSE Leap 15.2
Installing espanso on OpenSUSE

As I collapsed on the sofa for the evening, I started browsing Fosstodon to see what I'd missed throughout the day. It's FOSS had just posted about a cross-platform text expansion utility written in Rust called espanso.
Installation:
espanso's installation instructions are for .deb based distro's or advise you to use the Snap package. I didn't want to so for those of you that want to get right to it, here's what you're going to need.
Packages:
- libxtst6
- xdotool
- xclip
- libnotify4
These cover the pre-reqs listed here in the espanso manual install docs of: libxtst6 / libxdo3 / xclip / libnotify-bin
sudo zypper install libxtst6 xdotool xclip libnotify4
Once you have those, you can actually follow the rest of the instructions from espanso. But here they are:
curl -L https://github.com/federico-terzi/espanso/releases/latest/download/espanso-linux.tar.gz | tar -xz -C /tmp/
This will download the the .tar.gz file from Github that is tagged with latest and then -x extract, -z gzip, -C to a specific location of /tmp/.
sudo mv /tmp/espanso /usr/local/bin/espanso
This will then move the file from your /tmp/ directory to your /usr/local/bin. Once you've done that, restart your terminal and away you go!

Pointless Waffle:
I've been looking for a truly cross-platform solution for text expansion for years (literally). I've had to make do with different solutions for my different workstations for far too long, all of them have had their quirks and in the end I gave up on them because they just wouldn't behave. I thought I'd take a closer look at espanso as I didn't really have anything to loose except a little time.
I'll be installing it on my macOS & Windows machines tomorrow and test syncing the configuration files across the various platforms with Syncthing.
I'm really looking forward to testing it out and seeing what it can do. Big thanks to Frederico Terzi & the contributors for creating such and awesome tool and to It's FOSS for highlighting it!
Activar la cámara web en #Linux desde la línea de comandos
Una manera sencilla de comprobar nuestra webcam desde la línea de comandos de GNU/Linux gracias a VLC

Hoy es lunes, así que empecemos esta semana con un artículo corto, y un tutorial que quizás nos pueda ser útil en algún momento.
Se trata de aprender cómo activar nuestra cámara web desde la línea de comandos de nuestra distribución GNU/Linux, gracias al gran software VLC.
Para ello es obvio que deberemos tener instalado VLC en nuestro sistema, pero ¿hay alguien que no lo tenga? 
Y abriremos una consola y escribiremos el siguiente comando:
cvlc v4l2:///dev/video0
Esto nos abrirá una nueva ventana con VLC en la que se mostrará lo captado por nuestra cámara web. Si tienes varias cámaras web puedes intentar desde /dev/video0 hasta /dev/video5.
Lo bueno si breve, dos veces bueno, y si además es sencillo mejor, que mejor!! Lo puedes probar y enviarme una captura.
Este artículo lo he leído de uno publicado Emmanuel Kasper en su blog, que puedes encontrar en este enlace:

Actualización de julio del 2020 de KDE Frameworks
Hoy toca entrada recurrente ya que llegamos a la actualización mensual de rigor que demuestra que los desarrolladores de KDE no dejan de trabajar ni en los meses más calurosos del hemisferio norte. Así que se congratulan en anunciar la actualización de julio del 2020 de KDE Frameworks. Con esta se llega a la versión 5.72, un suma y sigue de compromiso y constancia que no parece que tenga un final cercano.
Actualización de julio del 2020 de KDE Frameworks

A pesar de que para los usuarios corrientes esta noticia sea algo confusa ya que no se trata de realzar una nueva aplicación ni de una nueva gran funcionalidad del escritorio, el desarrollo de KDE Frameworks tiene repercusiones directas en él a medio y largo plazo.
La razón de esta afirmación es que KDE Frameworks es básicamente la base de trabajo de los desarrolladores para realizar sus aplicaciones, es como el papel y las herramientas de dibujo para un artista: cuanto mejor sea el papel y mejores pinceles tenga, la creación de una artista será mejor.
De esta forma, las mejoras en KDE Frameworks facilitan el desarrollo del Software de la Comunidad KDE, haciendo que su funcionamiento, su estabilidad y su integración sea la mejor posible.
El pasado sábado 4 de julio de 2020 fue lanzado KDE Frameworks 5.72, la nueva revisión del entorno de programación sobre el que se asienta Plasma 5, el escritorio GNU/Linux de la Comunidad KDE, y las aplicaciones que se crean con para él.
Hay que recordar que los desarrolladores de KDE decidieron lanzar actualizaciones mensuales de este proyecto y lo están cumpliendo con puntualmente. La idea es ofrecer pocas pero consolidadas novedades, a la vez que se mantiene el proyecto evolucionando y siempre adaptándose al vertiginoso mundo del Software Libre.
Una gran noticia para la Comunidad KDE que demuestra la evolución continua del proyecto que continua ganando prestigio en el mundo de los entornos de trabajo Libres.
Más información: KDE
¿Qué es KDE Frameworks?
Para los que no lo sepan, KDE Frameworks añade más de 70 librerías a Qt que proporcionan una gran variedad de funcionalidades necesarias y comunes, precisadas por los desarrolladores, testeadas por aplicaciones específicas y publicadas bajo licencias flexibles. Como he comentado, este entorno de programación es la base para el desarrollo tanto de las nuevas aplicaciones KDE y del escritorio Plasma 5.

Aquí podéis encontrar un listado con todos estos frameworks y la serie de artículos que dedico a KDE Frameworks en el blog,
Recuerda que puedes ver una introducción a Frameworks 5.0 en su anuncio de lanzamiento.
nvidia-settings: ERROR: Could not load GLX/OpenGL functions

Se durante a execução, ocomando optirun com o nvidia-settings, o erro “Could not load GLX/OpenGL functions” for exibido, utilize como alternativa o comando como no exemplo abaixo:
$ optirun nvidia-settings [VGL] ERROR: Could not load GLX/OpenGL functions [VGL] /usr/lib64/libvglfaker.so: undefined symbol: glXGetProcAddressARB
Insira o parâmetros -b none e -c :8 conforme o exemplo abaixo:
$ optirun -b none nvidia-settings -c :8
E teremos o resultado a seguir:

PDF Erstellen mit PDF Quirk
Im Büro gibts öfter den Fall, dass ein Dokument auf Papier eingescannt und versendet werden muss. Das geschieht entweder per Email (so hat man das früher gemacht…) oder besser per ownCloud Dateien teilen Feature. In jedem Fall muss dazu das Papier zuvor gescannt werden, was erstmal ein Bild ergibt. Das wird dann in ein PDF gewandelt, um es verschicken zu können.
Blöd, wenn dann das PDF riesengroß geworden ist, und das Bild trotzdem nur klein drauf ist und dazu noch einen Blaustich hat…
Wie schön wäre doch ein Tool, das dem gestressten Büronauten solcherart Übungen abnimmt und „einfach nur“ einige Seiten in ein PDF scannt?
Dafür gibt es auf dem Linux Desktop PDF Quirk. Dieses nette kleine Tool übernimmt das Scannen, zeigt die Scanergebnisse dann als als sortierbare Seiten an, und wandelt sie dann in ein ordentliches mehrseitiges PDF. Und das ganz ohne Kommandozeile, sondern schnell und mit maximal einfacher, aber hübscher Oberfläche…
Unter der Haube greift PDF Quirk auf Bewährtes zurück: Anstatt Scannen neu zu erfinden wird auf das Tool scanimage des SANE Projekts zurückgegriffen, das viele Scanner unter Linux unterstützt. Das Scankommando kann an die eigenen Bedürfnisse einfach angepasst werden.
Zur Wandlung in PDF kommt ein ImageMagick Utility zum Einsatz, mit dem aus den gescannten Bildern PDFs erzeugt werden. Die Aufrufe der Tools können natürlich innerhalb von PDF Quirk angepasst werden.
Ich hoffe, Linux mit diesem Werkzeug wieder ein bisschen attraktiver für den Einsatz im Büro von kleinen Unternehmen gemacht zu haben. Kraft ist ja sicher schon bekannt 
Alle weiteren Infos Infos zu Installation und Konfiguration snd auf der PDF Quirk Website zu finden.
Lectura dominical recomendada – Educación a distancia: en juego la libertad y privacidad de mis hijos
Hoy me salgo un poco de la estructura habitual del blog, y como hoy suele ser un día que se dedica a la lectura dominical os quiero recomendar una de Javier Sepúlveda que lleva por título «Educación a distancia: en juego la libertad y privacidad de mis hijos» en el que se reflexiona sobre su lucha por defender los derechos de sus hijos en esta reciente episodio de confinamiento.
En estos tiempos de educación a distancia han aparecido un buen número de servicios para poder comunicarnos de forma virtual aprovechando nuestras cámaras y micrófonos.
Desde el famoso Zoom o el eterno Skype hasta el omipresente Google con Meet pasando por el recomendado Jitsi o WebEx de la Generalitat Valenciana, nos hemos visto inmersos en una lucha de unos y otros para intentar imponer un sistema.
Mi experiencia es que todos van más o menos bien pero que su funcionamiento no es 100% óptimo para todo el mundo. Pero claro, esto solo es la visión técnica cuando es quizás más importante la visión de la privacidad, tan importante en la educación libre.
Lectura dominical recomendada – Educación a distancia: en juego la libertad y privacidad de mis hijos

Con esta premisa, Javier Sepúlveda, Ingeniero en Diseño Industrial y en Ciencias de la Computación y fundador y director ejecutivo de VALENCIATECH ha realizado un más que interesante artículo en GNU Operating System donde relata su lucha por los derechos digitales de sus hijos.
Creo que para animaros a leer el artículo completo, os pongo la introducción al mismo para que decidáis si vale la pena invertir unos minutos en él. Spoiler: sí, vale la pena.
«A principios de marzo de 2020 comenzaron a oírse las primeras noticias preocupantes sobre el Covid-19 en España. En cuestión de días se prohibieron todos los eventos públicos, conferencias[1] y reuniones. Incluso se cancelaron las Fallas[2], una fiesta tradicional que se celebra todos los años por esas fechas.
Después llegó el confinamiento de los ciudadanos en sus casas y la suspensión por tiempo indefinido de todo tipo de actividad educativa presencial. Había que pasar a la educación a distancia, pero ¿estaban las escuelas, facultades y universidades preparadas para eso? No, no lo estaban. Necesitaban plataformas de videoconferencia, sistemas de comunicación y servidores que no siempre tenían. Y así es como comienza el problema.

Las instituciones educativas comenzaron a elegir las herramientas que necesitaban de forma unilateral e independiente. Cada profesor, escuela o universidad escogía sobre la marcha un programa o plataforma diferente basándose únicamente en la practicidad y popularidad del software. Dejaban de lado factores mucho más importantes, tales como su propia libertad y privacidad o la de los alumnos. Alumnos y padres no tenían ni voz ni voto, era una actitud de «o lo tomas o lo dejas».
¿Por qué se condenaba a cientos de alumnos a padecer la injusticia de ese software? ¿Por qué motivo tendrían que ser los datos (voz, imágenes, manuscritos) propiedad de una compañía? El precio de los sistemas privativos es nuestra libertad. Es la voz y la imagen de nuestros hijos: todo queda registrado en servidores de terceros para su posterior análisis y explotación. Un precio que no nos podemos permitir.
La situación era inaceptable. Había llegado el momento de decir NO.«
Artículo completo: Educación a distancia: en juego la libertad y privacidad de mis hijos por Javier Sepúlveda
Disponible el decimoséptimo número de la revista digital SoloLinux
Me vuelvo a poner al día con esta publicación online. Me congratula compartir que ya está disponible el decimoséptimo número de la revista digital SoloLinux, suma y sigue con este interesante proyecto.
Disponible el decimoséptimo número de la revista digital SoloLinux
Hubo un tiempo en que las revistas sobre Linux digitales estuvieron de moda en el blog. Tenemos todavía a Atix, que continua con sus publicaciones (lo cual me alegra) y Full Circle Magazine (en inglés, gracias Vampiro Nocturno), y antes teníamos a Linux+, Papirux, Begins o TuxInfo, por citar algunas discontinuadas.
Desde hace un tiempo una revista digital SoloLinux tiene su entrada mensual en el blog, tener todas las alternativas posibles para compartir conocimiento es algo que caracteriza al Conocimiento Libre.
Este número se retoman las entrevistas y colaboraciones. Así que agradecemos la predisposición y amabilidad con nosotros de…
- Lorenzo – El Atareao
- José Johan – Proyecto Tic Tac
- Jorge Herrera – Opinión (vale la pena leer)

Así que, ya tenemos disponible el decimoséptimo número de la revistas digital SoloLinux, el cual llega cargado de contenidos y con el siguiente índice.
|
MANUALES Como borrar los kernel viejos en Debian 10. Como instalar el Kernel 5.7 en Ubuntu o LinuxMint Instalar ddgr el buscador DuckDuckGo en terminal linux Limitar la velocidad de transferencia del comando rsync Configurar la afinidad de CPU para el proceso SYSTEMD Error NO_PUBKEY en Ubuntu o Linux Mint: la solución Como instalar Chromium a través de .deb en Ubuntu 20.04 Sincronizar servidores Ubuntu con FreeFileSync Como reparar Ubuntu tras una actualización fallida Recuperar el password root en Linux Mint Que hacer después de instalar Linux Mint 20 Ulyana HARDWARE Clonar particiones en sistemas remotos con el comando dd Calcular la capacidad real de un disco en linux Como montar una partición temporal en la ram de linux SOFTWARE Instalar VirtualBox 6.1.10 en Ubuntu y Linux Mint Como instalar utorrent en Ubuntu 20.04 y derivados WhatsApp Desktop for linux 2020 Cyberpanel 2.0.1 – El nuevo panel de control web Instalar VLC 3.0.11 en Ubuntu 20.04 sin snap Stellarium 0.20.2 celebra su 20 aniversario |
DISTROS LINUX Devuan 3.0 – Listo para su descarga MX Linux 19.2 – Listo para su descarga Las mejores distribuciones linux para desarrolladores 2020 Linux es mi sistema operativo favorito Linux Mint 20 Ulyana – Listo para su descarga SEGURIDAD Como verificar si NX – eXecute Disable está habilitado Exportar las reglas de iptables a nftables Montar un servidor VPN IPsec en Linux JUEGOS El juego de estrategia Warzone 2100 tiene nueva versión Instalar PPSSPP – El emulador de PSP en Ubuntu ENTREVISTAS ENTREVISTA PROYECTO TICTAC ENTREVISTA EL ATAREAO OPINIÓN LA OPINIÓN DE JORGE HERRERA DESDE MÉXICO |
La revista puede ser descargada o simplemente visualizarla en línea, ya que se cuelga en diferente servicios como Calameo. A continuación os dejo los enlaces de descarga y visualización directa de los cuatro primeros números.
Además, recordar que desde el número anterior se ha abierto el canal oficial sololinux.es de Telegram: https://t.me/sololinux_es
Descarga:
Visualización directa:
Evidentemente, este proyecto no se centra en exclusivo a los contenidos de su web y está abierto a colaboraciones de todo tipo. De esta forma si estas interesado en insertar publicidad en nuestra revista, o quieres que publiquemos algún articulo que hayas escrito tu mismo, puedes contactar con «Adrián» por correo electrónico.
Muchos ánimos en este nuevo proyecto ya que facilita la difusión del Software Libre de una forma que ya no es tan habitual en estos tiempos pero que es igual de válida.
GitLab with openSUSE Leap 15.1 in Azure 安裝小記
GitLab with openSUSE Leap 15.1 in Azure 安裝小記
OS: openSUSE Leap 15.1 in Azure
GitLab: gitlab-ee-13.1.4
上次寫 GitLab 文章竟然是 2019 年 5 月的事情了 ~ ( 其實也只有那篇 XD )
今天要來寫 GitLab 在 openSUSE Leap 的安裝, 安裝的環境在 Azure (實驗在雲端比較方便)
GitLab 官方建議規格
4 CPU / 4 GB RAM , 對應到 Azure B4MS 型別(4 vCPU / 16 GB), NT$ 6.5519 / 小時 (NT$ 4,782 / 每月)
一年前只要 2 CPU 的 ~~
可以嘗試使用 Spot 執行個體, 因為只是測試安裝, 所以用 Spot 會比較經濟
目前我的測試, 如果你用的是 Azure in open, 好像無法建立 Spot VM …. QQ
首先登入 Azure Portal
新增虛擬機器
這邊在影像的部分當然是選擇 openSUSE Leap 系列, 覺得開心的是 openSUSE Leap 15.2 已經可以在 Azure 上被選取了
在佈署的時間, 來看看 GitLab 要如何在 openSUSE 上面安裝
GitLab CE (Community Edition)
GitLab EE (Enterprise Edition)
如果仔細比對上面兩份文件, 差別只有
zypper install gitlab-ce
zypper install gitlab-ee
那到底要裝 社群版本還是企業版呢?
Community Edition or Enterprise Edition ? https://about.gitlab.com/install/ce-or-ee/
上面官方文件, 簡單一句話就是, 請你裝企業版, 以免你之後要升級還有可能要停機, 但是沒有做很多的解釋與比較
藉由 GitLab Taipei 社群的幫助, 給了我一些連結來釐清相關細節, 整理如下
首先就功能來說, 有分爲
CORE
STARTER
PREMIUM
ULTIMATE
請參考 gitlab-tiers https://about.gitlab.com/blog/2018/04/20/gitlab-tiers/
所以就功能來說
CE 的版本就是只有 CORE 功能,
用 EE 版本但是你沒有 subscription 也是 CORE 功能
其他功能就是買 subscription 才有
好了, 那下一步是... 功能的差異細節是 ??
參考官方網頁
說好的 CE 與 EE 呢? 這八個格子是啥 ???
CORE, STARTER, PREMIUM, ULTIMATE
FREE, BRONZE, SILVER, GOLD
然後好像還在哪邊看過部分字眼 ?
好像是這邊 https://about.gitlab.com/pricing/
這個時候你會想, 上面 8 個, 也只符合 7 個啊 ~~ 那 CORE 去哪邊了 ???
要從 2 份官方的文件整理出來
GitLab 的使用方式有兩種
自架 GitLab ( self-hosted )
CE
100% open source , 然後只有 CORE 功能
EE
根據 subscription 來決定功能, STARTER, PREMIUM, ULTIMATE
在 GitLab 上使用
Public project
提供 GOLD 功能
Private project
根據 subscription 來決定功能, FREE, BRONZE, SILVER, GOLD
官方整理表格如下
誰設計這麼複雜的做法? 說出來, 我保證不打死他 …
GitLab.com 功能比較表 https://about.gitlab.com/pricing/gitlab-com/feature-comparison/
自架 GitLab 功能比較表 https://about.gitlab.com/pricing/self-managed/feature-comparison/
所以分界線大概就是
要 100 % open source, 日後不會用到額外功能, 可以裝 CE
不確定會不會用到額外功能, 裝 EE 或是在 GitLab.com 上面使用
我其實真的沒想到光選版本就可以讓我寫 4 頁的說明 Orz….
GitLab 也可以使用容器的方式安裝, 不過要考慮 Volume 的問題
整理這些資訊, VM 肯定裝好了 ..
使用 SSH 連線到 剛剛建立的 Azure VM
為了測試方便, 我透過 > sudo su - 切換為 root
參考 GitLab EE 安裝文件
Azure 上面預設已經裝了 curl 與 openssh, 防火牆的部分是透過 security group 來控制
GitLab上面也有 Azure 的相關說明, 可以參考 https://docs.gitlab.com/ee/install/azure/ 這邊是以Marketplace 為例
Postfix 的部分, 在 Azure 可能會受到限制, 可能要透過 SendGrid 那樣的第三方機制, 可以是之後的研究課題
可以參考這邊更改 SMTP 設定
加入 GitLab 的套件庫
# curl -sS https://packages.gitlab.com/install/repositories/gitlab/gitlab-ee/script.rpm.sh | sudo bash
接下來準備安裝 GitLab, 不過要先來處理 URL ( Domain Name ) 以及 防火牆的部分
在 Azure Portal 上面, 剛剛建立的 VM 概觀內
點選 DNS 名稱的 設定
輸入 DNS 名稱後 點選 儲存
接下來處理防火牆
在 Azure Portal 上面, 剛剛建立的 VM 網路內
點選 新增輸入連接埠規則
建立針對 port 80 / port 443 的開放
準備安裝 GitLab
# sudo EXTERNAL_URL="http://test20200711.japaneast.cloudapp.azure.com" zypper install gitlab-ee
URL 請換成自己的 Domain Name
安裝的輸出蠻可愛的
*. *.
*** ***
***** *****
.****** *******
******** ********
,,,,,,,,,***********,,,,,,,,,
,,,,,,,,,,,*********,,,,,,,,,,,
.,,,,,,,,,,,*******,,,,,,,,,,,,
,,,,,,,,,*****,,,,,,,,,.
,,,,,,,****,,,,,,
.,,,***,,,,
,*,.
_______ __ __ __
/ ____(_) /_/ / ____ _/ /_
/ / __/ / __/ / / __ `/ __ \
/ /_/ / / /_/ /___/ /_/ / /_/ /
\____/_/\__/_____/\__,_/_.___/
Thank you for installing GitLab!
接下來連接 GitLab
http://YOUR_DOMAIN
會被要求更改密碼
改完之後, 使用 root 與剛剛設定的密碼登入
使用雲端平臺的好處就是不用處理 DNS 與 SSL 的問題 :p
GitLab 安裝完成, 就可以往下一個關卡邁進了 :p
也算是前進一步
~ enjoy it
Reference
https://about.gitlab.com/install/?version=ce#opensuse-leap-15-1
https://about.gitlab.com/handbook/marketing/product-marketing/tiers/