Welcome to Planet openSUSE

This is a feed aggregator that collects what openSUSE contributors are writing in their respective blogs.

To have your blog added to this aggregator, please read the instructions.


Rabu
08 Pebruari, 2017


face
Xenyx 302 USB

Xenyx 302 USB

Beberapa hari yang lalu dapat pinjeman perangkat tersebut di atas. Yang minjemin juga ngasih gitar yang keren banget. Gitar nanti akan saya posting di artikel berikutnya.

Mixer mini ini juga nanti rencananya buat mencoba layanan musik Gritjam.com. Mixer ini memiliki antar muka USB, saat mencoba kemarin, pakai macOS dan langsung terdeteksi. Langsung terpikir bahwa ini akan otomatis terdeteksi juga di BlankOn. Dan ternyata benar.

lsusb

lsusb

Lihat di pengaturan, juga langsung nongol. Dicoba muter musik, langsung jreng.


Rabu
18 Januari, 2017


face

openSUSE Asia Summit 2015

Taiwan hari ke 4, 5/12/2015 | Sabtu (Setelah hampir setahun dalam draf blog)

Hari ini adalah pembukaan acara openSUSE Asia Summit 2015. Sedikit mendung, dengan menaiki metro dan turun di Stasium Technology Building. Kemudian dilanjut jalan kaki. Tak berapa lama, sampailah di tempat acara. National Taipei University of Education.

openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015

Acara dibuka oleh Alcho sebagai ketua panitia dan disambung dengan penyerahan album dari panitia Beijing ke panitia Taiwan.

openSUSE Asia Summit 2015

Keynote pertama oleh Michal Hrusecky dengan tema “What’s been going on in openSUSE latelly”. Keynote kedua oleh Alex Lau membawakan materi “Why’s SUSE matter”.

openSUSE Asia Summit 2015

Istirahat makan siang, kami menuju masjid raya terdekat dengan jalan kaki, berpegang pada panduan gps dari Pak Edwin. Hari ini nyoba makan siang di Warung Surabaya.(*dengan masakan Indonesia, bikin kangen rumah.

openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015

Setelah solat dan makan siang, kembali ke lokasi acara. Agenda hari ini adalah menonton Pak Edwin dongeng. Menceritakan tentang kesusksesan penggunaan opensuse di sekolah-sekolah di Yogyakarta. Sedangkan Pak Utian di ruangan berbeda memulai kelas Openstack.

openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015

Dilanjut dengan beberapa talk lain, diantaranya: Benchou dan narohiko.
Dan talk dari saya pukul 16.00. Maleo di openSUSE.

Baiklah Summit hari pertama selesai. Kami kembali ke msjid, buat magriban dan makan di restoran sebelahnya 🙂
openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015

Kemudian kembali ke stasiun terdekat untuk makan malam bareng panitia dan pembicara. Pak Utian pamit g ikut dan balik ke hotel.

Acara dinner kali ini ada misi lain, membawa opensuse asia summit 2016 ke Indonesia. Targetnya sih berunding dengan Tim Jepang, Hatto Chan, Takeyama dan Tim agar mengalah, summit 2016 di Indonesia, summit 2017 di Jepang.

openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015

Pukul 11 malam dinner selesai. Kami kembali ke hostel. Sampai bertemu besok, Summit kedua, Taiwan hari kelima.

Estu



Senin
16 Januari, 2017


face

Apa itu Pengembang BlankOn?

Pengembang BlankOn adalah manusia-manusia yang aktif berkontribusi dan ingin membangun negeri dengan cara yang berbeda serta keahliah yang berbeda. Mereka terkumpul dalam sebuah kelompok yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut menertibkan dunia. Kelompok ini menghasilkan orang-orang yang cerdas, canggih, mandiri serta berbudi pekerti yang luhur. Selain itu menghasilkan efek samping berupa distribusi sistem operasi berbasis Linux dengan cita rasa nusantara. Kegiatan atau proyek tersebut bernama BlankOn.

BlankOn sendiri bisa diterjemahkan topi belangkon, namun kecenderungannya adalah Blank dan On. Di mana artinya dari keadaan ‘mati’ ke ‘nyala/hidup’. Dengan bahasa yang universal “from zero to hero”.

Proyek BlankOn sendiri dimulai sejak Februari 2005.

Kenapa Saya Bergabung dengan BlankOn?

Saat itu, kehidupan saya tidak seperti sekarang. Kondisi masih terlalu awam dan labil. Yang terpikir hanya saya harus belajar hal-hal yang teman-teman saya belum bisa. Seiring waktu, saya mendapatkan banyak pengetahuan dari teman-teman yang lebih senior lainnya.

Saya mengidolakan beberapa teman-teman yang sudah terlebih dahulu berada di Proyek BlankOn. Mereka keren dan baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam hal-hal teknis. Namun umumnya, saya ingin seperti mereka. Contoh sederhana, saya ingin seperti pak Mdamt ataupun pak Fajran yang saat itu punya ‘mainan’ banyak. Bapak berdua itu juga tidak pelit dalam hal berbagi ilmu ataupun mainan.

Saya juga bermimpi bisa membawa para Pengembang BlankOn ke tingkat yang lebih tinggi sehingga yang tidak pinter seperti saya, bisa ikut maju dan menjadi orang yang bermanfaat bagi sekelilingnya.

Obsesi tersebut beraneka macam jalannya, salah seorang mantan atasan saya pernah bilang “pengguna linux itu nantinya harus keren, laptop pakai Mac, ndak pakai sandal jepit bulukan, dan kalo perlu punya Ducati”. Ujaran tersebut begitu mengena dan berusaha saya terapkan. Kesemuanya sudah terpenuhi kecuali yang terakhir (tapi punya yang kelas bawah). Hahaha.

Manfaat

Bagi saya, saya sudah menganggap BlankOn ini sebagai keluarga. Bisa juga ini menjadi sekte sendiri. Saya tidak gampang berteman dengan orang, namun dari BlankOn ini saya jadi memiliki banyak teman baik. Banyak teman banyak rezeki.

Selain itu, saya jadi dikenal banyak orang karena aktif sebagai Pengembang BlankOn, efek sampingnya, gampang mencari pekerjaan (dalam beberapa waktu, malah sering kelimpahan banyak pekerjaan).

Di dunia komunitas, rekan-rekan yang lebih berpengalaman mendorong saya dan yang lainnya untuk aktif ke proyek hulu (upstream). Menjadikan saya dan yang lainnya bisa ikut kontribusi dalam tingkatan dunia. Ketemu para pengembang dari berbagai negara, juga bisa berkunjung ke berbagai negara.

Saya tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini tanpa ada teman-teman Pengembang BlankOn.

Ah itu dulu dah yang terpikir setelah semalem mengumumkan pensiun menjadi Pengembang BlankOn. Kalau ada yang ditanyakan, bisa komentar di bawah.

🙂



Senin
05 Desember, 2016


face

Buku Security & Hardening Mail Server atau dikenal juga dengan nama buku “Membangun Anti Spam Appliance & Improvement Performa Mail Server” merupakan buku tingkat lanjut dari seri buku Zimbra Mail Server. Seri buku tentang mail server terdiri dari :

  1. Buku Zimbra Fundamental & Medium (terdiri dari 2 varian, buku mini ukuran A5 kertas HVS dan buku standard ukuran B5 kertas art glossy dengan isi sama)
  2. Buku Mastering Zimbra
  3. Buku Security Hardening Mail Server

Buku setebal 95 halaman ini menggunakan kertas art glossy, dibundle dengan CD berisi software yang dibahas dalam buku.

cover-3d-hardening_h9

Jika kita menjadi Administrator mail server, salah satu tantangan terbesar bukanlah bagaimana melakukan instalasi mail server dengan cepat. Instalasi email server bisa dilakukan dalam waktu beberapa jam saja. Tantangan terbesar datang justru setelah mail server aktif dan mulai melakukan tugasnya mengirim dan menerima email. Saat itulah berbagai kendala mulai muncul, antara lain dalam bentuk :

  • Banyak spam berdatangan.
  • Banyak virus.
  • Blacklist IP.
  • Kegagalan pengiriman email ke tujuan.
  • Masuk ke Junk/Spam Folder.
  • Terkena DDos (distributed denial-of-service) attack.
  • Performa mail server lambat.

Buku ini membahas mengenai beberapa metode pengamanan Email Server terhadap serangan Spam, salah satunya menggunakan tools Anti Spam. Mailborder dan Untangle merupakan salah satu dari sekian banyak anti spam yang akan dibahas dalam buku panduan ini.

  1. Materi yang akan di bahas dalam buku ini mencakup :
  2. Overview Excellent
  3. Mail Server dengan Performa yang Berkualitas
  4. Membangun Anti Spam Appliance
  5. Konfigurasi Anti Spam Appliance
  6. Konfigurasi Mail Server
  7. Reporting
  8. Pengenalan Mailborder
  9. Instalasi dan Konfigurasi Mailborder
  10. Management Mailborder Anti Spam dan Anti Virus

Buku ini tersedia secara online pada Bukalapak maupun Tokopedia.


Minggu
04 Desember, 2016


face

Saya biasanya menggunakan perintah CLI (Command Line Interface) untuk manajemen docker images dan container, namun saat menggunakan Docker diatas Synology, saya tertarik juga menggunakan Portainer. Portainer adalah Simple Management UI for Docker.

Menggunakan portainer diatas Synology untuk manajemen Docker images & container secara mudah. Cukup jalankan 1 perintah :

 docker run -d -p 9000:9000 -v /var/run/docker.sock:/var/run/docker.sock portainer/portainer

Setelah selesai, kita bisa mengakses port 5000 dari Docker host untuk membuka Portainer Dashboard. Selain docker host lokal, portainer bisa juga digunakan untuk mengelola remote docker host.

vavai-portainer2

portainer1

Bagi yang tertarik belajar Docker, saat ini Excellent sudah membuat buku Virtualisasi Modern Berbasis Docker.  Kini bahkan sudah tersedia versi mini dengan harga lebih rendah 😉

Buku ini sudah tersedia di Tokopedia maupun Bukalapak.


Kamis
01 Desember, 2016


face

Buku Excellent : Virtualisasi Modern Berbasis Docker adalah buku pertama Excellent terkait Docker yang ditujukan bagi para SysAdmin maupun developer yang membutuhkan literatur bahasa Indonesia mengenai teknologi virtualisasi terbaru.

Docker merupakan project open source yang menyediakan platform terbuka untuk developer maupun sysadmin untuk dapat membangun, membundel dan menjalankan aplikasi dimanapun dalam satu container yang ringan. Mirip seperti Virtual Machine (VM) namun lebih ringan karena Docker tidak membawa keseluruhan sistem operasi, melainkan berbagi sistem dengan host induknya.

vavai-docker

Dengan bekal pengalaman sebagai professional dibidang teknologi virtualisasi berbasis VMware, Proxmox, Citrix, KVM, OpenVZ, Xen dan lain-lain, team Excellent mengemas buku ini sebagai buku awal dalam mempelajari Docker untuk mendukung pekerjaan sehari-hari

Buku ini tersedia dalam 2 format, yaitu ukuran B5 (seperti majalah) dengan kertas art glossy dan ukuran A5 (buku mini) dengan kertas HVS.

Materi pembahasan mencakup hal-hal sebagai berikut :

  1. Overview Excellent
  2. Pengenalan Docker
  3. Instalasi Docker pada berbagai Sistem Operasi
  4. Penggunaan Perintah Dasar Docker
  5. Cluster Docker
  6. Docker Shipyard
  7. Docker Universal Control Plane
  8. Docker Rancher
  9. Studi Kasus Docker
  10. Backup & Restore

Buku ini tersedia secara online pada :

  1. Tokopedia
  2. Bukalapak

Selain buku-buku diatas, tersedia juga seri buku lain, antara lain Zimbra, Active Directory Samba 4, Mastering Proxmox, Security Hardening Mail Server dan Manajemen Webhosting dengan WHM/cPanel


Sabtu
15 Oktober, 2016


face

Well … I bought new machine for fun. Xiaomi Mi Notebook Air 12.5″ (http://xiaomi-mi.com/notebooks/xiaomi-mi-notebook-air-125-silver/). It was good machine. Good price, comparing to Apple Macbook 12. 🙂

I killed Microsoft Windows Chinese version that already on it. Replace it with BlankOn Linux for a while. My plan exactly put openSUSE Tumbleweed.

First installation was not good enough. My pointer not working. So I use keyboard for it. Another issue is when USB installer plugged before computer on, installation will not going well (my experience, the system install on USB it self).

After installation finish, everything going well and good.

openSUSE Tumbelweed on Mi Notebook Air 12.5″



face

Saya iseng mencoba (baca: membeli) Xiaomi Mi Notebook Air 12.5″ (http://xiaomi-mi.com/notebooks/xiaomi-mi-notebook-air-125-silver/). Barang datang, dinyalakan, dan langsung babat pasang BlankOn Tambora (http://cdimage.blankonlinux.or.id/blankon/livedvd-harian/current/).

Impresi awal, laptop ini cukup keren dan bagus, kualitas bikinannya juga rapi serta dengan harga yang tidak terlalu mahal.

Instalasi BlankOn cukup berjalan mulus, semua perangkat dikenali dengan baik. Tidak ada kendala yang berarti. Just Work.

BlankOn Tambora di Mi Notebook Air 12.5″

Batrenya juga tahan lama. Sementara pemakaian hanya seputar browsing, muter youtube dan nonton filem. 🙂



Selasa
11 Oktober, 2016


face

Well, OpenSUSE ASia Summit 2016 is biggest opensource event in Indonesia this year. Last year was GNOME Asia Summit 2015.
This year I promised to Edwin that I will help to find sponsorship. It’s because when GNOME Asia, he also help me. So vice versa.
I travel along with my team mates and GLIB (GNU/Linux Bogor) Community. Most of us are speakers in this event.

DSC03615

I know lot of GNOME Developers or GNOME Foundation Members. But this time, I know more about openSUSE/SUSE Developers and Community Members. I treat some of them Sate Klatak. 😀
I have session at secon day. But at first day, accidently I helping local committee to answer few questions  from audience.
Actually I’m little bit famous in FOSS Community in this country. Hahaha. It’s just because I’m Release Manager of BlankOn Linux since few years ago and I also GNOME Foundation Member. Then in openSUSE, I become Coordinator of Indonesia Translation Team.

DSC03519

You can see how crowd my session from picture below:

We also has one day tour. You can see all pictures from flickr: https://www.flickr.com/groups/opensuse-asia-summit-2016/

And about my slide, you can get it from: http://www.slideshare.net/princeofgiri/how-to-contribute-to-foss



Rabu
28 September, 2016


face

Since few days ago I was struggling with u-boot on banana pi m2+. That arm device has limited information. Even on their forum (forum.banana-pi.org). They has lot of information but not clearly understandable by beginner. Also many people complain it.

I was googling every document that contain any information about it. Then trying one by one until finally found this step.

First, you need to clone mainline u-boot’s repository.

git clone git://git.denx.de/u-boot.git --depth 1

You need to find useable config to build u-boot.  You need to creat file configs/Sinovoip_BPI_M2_plus_defconfig with content from http://pastebin.com/A1n1ecmt. And this one will fail. Then I ask in Armbian Forum and got answer (https://github.com/igorpecovnik/lib/blob/master/patch/u-boot/u-boot-default/add-missing-h3-boards.patch#L46-L62). You need to use this line below on your config file:

CONFIG_DEFAULT_DEVICE_TREE="sun8i-h3-orangepi-pc"

From this, you can build the u-boot and write on sdcard with this command as example:

dd if=u-boot-sunxi-with-spl.bin of=/dev/mmcblk0 bs=1024 seek=8

You can test it and see what’s happen from USB Serial connected to your banana pi.



Sabtu
17 September, 2016


face

Taiwan adalah negara lain yang pertama kali saya kunjungi. Berawal dari nasib baik bekerja di Yayasan AirPutih dan kenal dengan teman-teman dari negeri Taiwan. Kesemuanya itu berujung saya diajak ‘piknik’ ke sana pada tahun 2009.

Selang 7 tahun (19-23 Agustus 2016), saya diberikan rezeki dan kesempatan untuk jalan-jalan ke sana lagi sambil ndongeng tentang Maleo yang ada di BlankOn Linux. Tapi tujuan utama adalah bertemu teman-teman yang ada di sana.

Piknik kali ini spesial, karena saya begitu menikmati negara ini, banyak jalan-jalan dan makan-makan.

Terima kasih buat Prof Chi atas jemputan dan kartu 4G selama di sana. Terima kasih juga buat Eric Sun dan Franklin Weng atas semuanya. 🙂

Chiang Kai-shek Memorial Hall / 中正紀念堂



face

Cerita kali ini diawali oleh ‘diculiknya’ diri saya paska piknik ke Taiwan oleh teman-teman dari LSN. Saya diminta mendampingi teman-teman LSN untuk belajar hacking BlankOn untuk perangkat Cubieboard2.
Dari serangkaian percobaan dan riset, saya tuliskan panduannya sebagai berikut:

  1. Unduh kernel dari https://github.com/blankon/linux/tree/cubie2-cubiescreen. Kompilasi (dengan Cross Compiler) dan hasilkan uImage.
  2. Unduh https://github.com/princeofgiri/blankon-cubieboard2-image/tree/debootstrap.
  3. Letakkan uImage yang dihasilkan tadi ke dalam direktori blankon-cubieboard2-image (hasil langkah kedua).
  4. Persiapkan devrootfs dengan cara debootstrap. Lakukan:
  5. sudo qemu-debootstrap --arch armhf tambora devrootfs http://arsip.blankonlinux.or.id/blankon /usr/share/debootstrap/scripts/tamborahttp://arsip.blankonlinux.or.id/blankon /usr/share/debootstrap/scripts/tambora
  6. Jalankan ./build.sh untuk membuat berkas cubieboard2-blankon.img
  7. Tulis ke SDCARD dengan cara:
    dd if=cubieboard2-blankon.img of=/dev/SDCARD bs=1M

    Sesuaikan /dev/SDCARD dengan perangkat Anda, misal /dev/mmcblk0 atau /dev/sdb. Umumnya /dev/sda adalah disk sistem Anda. Jadi akan sangat menderita jika sampai salah.

  8. Pasang di perangkat Cubieboard2, dan nyalakan

Catatan: Image di atas hanya tampil di lcd screen si Cubieboard2. Untuk mengaktifkan HDMI, silahkan sesuaikan di berkas .fex.



Jumat
09 September, 2016


face

openSUSE Asia Summit 2015

Jumat, 4/12/2015

Pagi hari, sedikit gerimis, 2 bapak berjalan dengan semangat, yak sekitar 4 km dari hostel menuju kantor SUSE Taiwan. Setelah beberapa kali nyasar. dan sampailah.

openSUSE Asia Summit 2015

Rombongan kita dipersilahkan menunggu dir uangan rapat oleh Pak Joe Lee, Al Chow, dan beberapa panitia. Ngobrol ngalor ngidul. Bertukar oleh-oleh.

openSUSE Asia Summit 2015

Jam sebelas kita bertolak menuju Masjid, dan tetap jalan kaki. Tak ada rute metro menuju lokasi tujuan.

openSUSE Asia Summit 2015

Sampailah kita.Emm mungkin karena populasi wni muslim lumayan banyak, beberapa rambu-rambu ditulis dalam bahasa indonesia cukup bnyak.

openSUSE Asia Summit 2015

Masjid yang kita kunjungi dikenal dengan nama Taipei Grand Mosque. Bentuk bangunan gedung dapat dilihat jelas masih menggunakan kaca patri. Masjid ini awalnnya dibangun oleh komunitas muslim China yang bermigrasi dari China daratan.

Prosesi salat jumat, campur-campur antara Bahasa Arab, Inggris, bahasa lokal dan Bahasa Indonesia. Setelah selesai salat Jumat, kebetulan ada prosesi masuk islam.

openSUSE Asia Summit 2015

Saya juga berjumpa dengan Bapak M Taufiq Nuruzzaman, salah satu dosen saya ketika kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat itu beliau sedang menyelesaikan studi S3-nya di NTU.

Ngomong-ngomong kita dapat bubur jagung dari relawan masjid, gratis untuk jamaah salat Jumat. Enak sih rasanya, kudapan hangat saat cuaca dingin seperti ini. Sayang ndak saya foto.

Setelah itu, Pak Taufik menyarankan saya makan di kantin masjid, sedang ada pasar, ada beberapa penjual makanan halal, daging sapi/kambing dan menu makan siang.

openSUSE Asia Summit 2015

Pak utian dengan lahap menyantap menu makan siang. Seporsi 120TWD.

openSUSE Asia Summit 2015

Selesai makan kita jalan kaki ke Daan Park. Taman yang luas, bersih.

openSUSE Asia Summit 2015

openSUSE Asia Summit 2015

openSUSE Asia Summit 2015

Kemudian kita balik ke hostel menggunakan metro.

openSUSE Asia Summit 2015

Oh ya, malamnya kita mendapat undangan pesta rilis di gedung yang sama dengan kantor SUSE Taiwan namun berbeda lantai.

Pesta Rilis
Acara diselingi ligthing talk(dadakan) dari beberapa peserta. Ngobrol santai dengan beberapa peserta dan tim SUSE.

openSUSE Asia Summit 2015

Pukul 9 malam kita pulang, sekian untuk hari ini.
openSUSE Asia Summit 2015
*ps: Besok summit hari pertama.

Estu



Rabu
07 September, 2016


face

openSUSE Asia Summit 2015

Ah baru sempat nulis lagi, Wes hampir next summit. Hahaha
Hari kedua, Kamis pagi, 3 Desember 2015. Abis sarapan yg disediakan dari Hostel (roti selai, bikin sendiri), saya keknya belum kemana-mana, mau menyelesaikan materi presentasi. Kita nyoba colokan hasil beli kemaren.

Rencana bareng pak utian adalah nyari sentra electronik, niatnya nyari Nexus. Rute nya saya lupa, hanya jalan kaki, terus beberapa ruas jalan penuh grafiti.

openSUSE Asia Summit 2015

openSUSE Asia Summit 2015

Lokasi ditemukan, setelah lelah muter-muter, kita nyari makan. Tanpa rambu-rambu makanan, maka tujuan kita cuma Mcd. Kebiasaan disini, abis makan di restoran cepat saji, mejanya dibersihin sendiri, piring, gelas, tisu buang sesuai tipe sampahnya. Ga kek disini, masih ada pramusajinya, disana kagak ada, cuma kasir.

Jam 5 pulang,. Kali ini kita mencoba menggunakan metro (KRL). tarifnya relatif murah 15-30TWD sekali jalan. Karena dirasa akan sering menggunakan metro. Kita jadinya membeli tiket paketan 72hr Taipei Metro Pass seharga 380TWD. Jadi sejak pertama kali digunakan, kita punya waktu 72 jam naik metro sepuasnya kemanapun di jaringan Taipei Metro. Horeeee

Untuk makan malam, kita menemukan restoran tidak jauh deket hotel, mesen nasi goreng ayam. Hmm, beberapa restoran tak punya daftar menu dengan huruf latin dan bahasa inggis, kali ini kita beruntung. Lumayan enak.

openSUSE Asia Summit 2015

Setelah makan, rute selanjutnya adalah menuju pasar malam (Shilin Night Market). Pak utian mau beli jaket(Kademen). Pasarnya rame, bnyak makanan dan penjaja lainnya. surga food streat market dah. Bnyak muda mudi piknik rombangan maupun pasangan. (20,24,50)- Jaket ditemukan, saya lupa harganya berapa, tapi lumayan harganya.
openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015

Setelah pak utian dapat yang dicari, beliau pulang dulu, saya keknya masih betah muter-muter.

openSUSE Asia Summit 2015

Jam 22.15 saya sampe hotel. Pak Edwin baru sampe hotel juga, abis itu nyari maem sama Pak utian. Saya ndak ikut. bobok saja 🙂

Sekian hari kedua, besok keknya mau ke kantor SUSE.
Estu



face

Di openSUSE. Asia Summit 2016 ini saya kebagian ngisi workshop bersama dua bapak keren. Pak Utian Ayuba dan Pak Ben Chou.

Materi saya sih tentang Elasticsearch, Logstash, Kibana(ELK) Stack. Saya akan dongeng bagaimana memanajemen logs dari puluhan server kemudian dipusatkan pada satu server untuk ditelaah semua lognya. Log yang sudah disatukan akan ditampilkan oleh dashboard Kibana. Dashboard Kibana ini diakses melalui peramban. Kemudian log yang udah ditampilkan tinggal dilakukan pencarian text untuk menemukan apa yang kita cari. Pencarian text ini akan sangat cepat sekali prosesnya akibat menggunakan Elasticsearch sebagae mesin pencariannya. Nah kira-kira gitulah.

Yuklah daftar.

Dah gitu aja.

Estu




Minggu
01 Mei, 2016


face

This is third time GNOME Asia Summit that I attended. My contribution in this summit as Asia Committee. I help everything that I can, such as:

  1. getting sponsor
  2. designing web (Asep, Piko and Kukuh also help on this)
  3.  designing posters (Kukuh and Aris also help on this)
  4. coordinating with other Asia Committee, GNOME Board and Local Committee
  5. hand carry FANS Shoes (sponsor) from Jakarta to Delhi

I was excited actually when this year summit happen in India, it’s because Indonesia has similar culture with India and it’s common that Indonesia people watch Bollywood movie (my father still love Bollywood movie, but me, only Shakhrukh Khan and some others).

Personally, I also dreamed to visiting few historical place. I’ve been on Great Wall of China when attended GNOME Asia Summit 2016 in Beijing. And this year, we have Taj Mahal.

Submit Talk

I submitted talk and approved about Contributing to GNOME In Indonesia. But I kick out my self (because I’m one of person who choose which one topic is better for conference). I would like to see locals talk than my self.

Ticket and Visa

I bought AirAsia ticket (because it’s cheaper than others) arround 400 USD from Jakarta – New Delhi and New Delhi – Jakarta. I got travel subsidy from GNOME (thanks to GNOME). For Visa, I use e-Visa. It’s easy and fast. It’s cost about 49 USD.

Arrived at India

I arrived at India about 10 pm local time. It’s take near an hour to pass immigration. And magically, easy to pass custom (fyi, I bring 30 shoes and 21 tshirt). I’m with Moko and Syaimif at that time.

Getting taxi and go straight to Manav Rachna University. The taxi driver very friendly. He tried to speak with us even his English not good enough. Arrived at university about 1 am and have difficulties because security of university can’t speak English. Luckily, our taxi driver help us. So we can get our room that local committee provide and have rest.

Anyway, I will not talk about technically thing here.

Day 0

I getting late to the venue just because I don’t know where the venue. The University is huge enough, lot of building and wide area. They already starting opening speak at that time. My first impression is, I’m happy because I meet lot of friends.

The good thing in here are people love to talk with foreigner, maybe because mostly they speak English in daily life. I enjoy talk with all people, because it makes my English better and better.

I was amazed with participants. Many participants love technically things. Especially when GStreamer workshop, many people follow it. This not happen in Indonesia last year.

https://www.flickr.com/photos/kitty-kat/26296528570/in/pool-gnomeasia2016/

Day 1st

I was little bit shocked actually, just because me and Bin Li must have opening speech with Locals such as some Professor/Dean. Not preparing about that. But the opening


Selasa
16 Pebruari, 2016


face

(PO saya tutup)
(Nomor Rekening Saya Update)
(Batch 1 Sukses dengan 78 orderan)

Halo kawan-kawan.
Saya ada berencana untuk mengkoordinasi pemesanan preorder sepatu openSUSE (Tahap Dua).
Target pesanan sebanyak 24 pasang(minimal). Ukuran sepatu yang bisa diproduksi 37-45.
Harga 250rbu+ongkir JNE Bogor-Lokasi masing-masing (bisa menggunakan ekpedisi lain;pos, tiki)
Harga 250ribu sudah termasuk donasi untuk komunitas openSUSE Indonesia.
Hasil donasi akan dirupakan menjadi dvd installer / poster / xbanner untuk dikirim ke beberapa daerah yang membutuhkan.

Cara Pemesanan:

  1. Cek tarif JNE Bogor-Lokasi Anda, berat barang 1kg.
  2. Transfer uang sejumlah 250rbu+ongkir ke Rekening
    BCA a.n Estu Fardani 50 55 00 1381
  3. Kirim bukti transfer(foto resi), ukuran sepatu, nama dan alamat lengkap lewat surel ke
    estu@jogja.linux.or.id

Pemesanan ditutup jika kuota telah terpenuhi.
Salam



Minggu
31 Januari, 2016


face

2 Desember 2015

Penerbangan saya ke Taipei dimulai jam 3.30 pagi dengan maskapai Catay Pacific. Penerbangan ini melalui rute CGK-HKG-TPE. Waktu tempuh 6 jam, (Baca Juga: Cara Mengurus Visa Taiwan). Saya ke Taiwan untuk menghadiri acara OpenSUSE Asia Summit 2015. Tiket 4.7juta CGK-TPE pulang-pergi.

Checkin dan boarding tanpa masalah. Cuma colokan di emperan terminal 2F (dan Terminal 1) is suck, ndak bisa buat ngecass. Saya cuma bawa satu ransel tanpa tambahan lainnya. Pukul 5.15 pesawat mulai lepas landas. Penerbangan 4.40 menit menuju Hongkong.

openSUSE Asia Summit 2015

Selamat Pagi

11.15 (GMT+8) mendarat, masuk Bandara dan langsung proses transit. Oh ya, standarnya pas pemeriksaan tas, bersiaplah keluarkan laptop anda. Untuk mempercepat proses antri, selain lepas jaket, jam, ikat pinggang.

openSUSE Asia Summit 2015

Pagi Boss

openSUSE Asia Summit 2015

Hae Etihad

Waktu transit lumayan lah 90 menit. Cukup untuk ngopi, muter-muter, charge gadget dan tipe colokan masih sama. Pukul 13.05 lanjut menuju Taipei dengan lama penerbangan 2 jam.

Pukul 15.10(GMT+8) sudah mendarat di Taiwan dan kemudian siap-siap menukar dolar taiwan. Saya kemaren bekal $200 dan nilai 1 dolar taiwan sekitar 400an rupiah.

Kelar tukar-tukar, lanjut imigrasi, cari brosur metro dan paket data. Kali ini saya dan Pak Utian dijemput Mas Franklin Weng. Kawan lama. Mei lalu (2015) saat GNOME.Asia, dia berkunjung ke Depok.

openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015

Menuju Hotel

openSUSE Asia Summit 2015

Lewat High Way (jalan layang yang beneran tinggi) dan sampailah di hotel. Green World Hostel.
Bayar buat 5 malam 3068TWD.

openSUSE Asia Summit 2015

Dinner

Malam ini dinner, ditraktir Frank di restoran tidak jauh dari hostel. Dan beneran enak. Saya lupa nama restorannya dalam tulisan latin.

openSUSE Asia Summit 2015openSUSE Asia Summit 2015

Setelah makan malam, kita sempatkan untuk muter-muter, keliling Metro Mall. Mall yang berada 6 meter di bawah jalan raya, tepat 2 lantai di atas Stasium Metro bawah tanah.

openSUSE Asia Summit 2015

Yak itu saja hari pertama. Mari meluruskan kaki, merem. Lanjut besok

Estu~

Foto: Flickr



Rabu
06 Januari, 2016


face

Ceritanya kali ini saya ikut-ikutan nulis kayak pak Utian – Catut biar ketularan keren.

Dengan berbagai pertimbangan dan keadaan, kadang saya memasang sebuah server (desktop) dengan debian minimalis, setelah itu dilanjutkan ke stage berikutnya (misal ke blankon atau proxmox). Nah berhubung yang proxmox ini belum pernah coba, jadi penasaran.

Saya mengikuti panduan di https://pve.proxmox.com/wiki/Install_Proxmox_VE_on_Debian_Jessie. Hal-hal yang perlu dicatat adalah :

  • Pastikan install minimal, saya sendiri memasang dari netinstall dan hanya memasang ssh server;
  • Setelah instalasi, pastikan set IP manual;
  • Pastikan penulisan hostsnya benar sesuai panduan di atas, contoh di tempat saya adalah sebagai berikut :

127.0.0.1 localhost.localdomain localhost
192.168.1.220 e440.vm.kodekreatif.co.id e440 pvelocalhost

# The following lines are desirable for IPv6 capable hosts
::1 localhost ip6-localhost ip6-loopback
ff02::1 ip6-allnodes
ff02::2 ip6-allrouters

  • Pakai repositori seperti punya saya. Kenapa begitu? karena saya udah mencoba beberapa kali dengan kombinasi repositori, hasilnya gagal pasang. Berikut contekannya (perhatikan, saya memberi tanda # di jessie-updates) :

deb http://kambing.ui.ac.id/debian/ jessie main contrib non-freedeb http://security.debian.org/ jessie/updates main contrib non-free
#deb http://kambing.ui.ac.id/debian/ jessie-updates main contrib non-free

#proxmox
deb http://download.proxmox.com/debian jessie pve-no-subscription

  • Pasang paket-paketnya dan reboot

Selamat mencoba



Kamis
17 Desember, 2015


face

DL1_2074
Hi, this is story about my trip to Taiwan for attend openSUSE Asia Summit 2015

This is my second International Conference what I join. The first time is GUADEC 2015 Gothenburg as representative from local organizer of GNOME.Asia Summit 2015, Depok, West Java, Indonesia. And second one is openSUSE Asia Summit as speaker, and it is actually my first time to speak publicly with all audients.

I went from Indonesia with other speakers, Pak Utian and Pak Edwin. I bring talk about Maleo, How to run maleo in openSUSE. You can find my slide from speaker deck.

One day before Summit we came to SUSE Office. Say hello to local committee.

openSUSE Asia Summit 2015

Day One Summit

Pak Utian talk about “Building IaaS Cloud with openSUSE and OpenStack Installation – OpenStack Liberty (Controller, Compute, Network, Storage) on openSUSE Leap 42.1 “. He get long session :). Pak Edwin talk about “Linux for Basic Education, Is It Feasible?“. After Pak Edwin talk, it is my turn to talk about Maleo.

DSC_9705
DL1_1635
DL1_1764

Maleo, the simple way is, how to run html5 app using Maleo (webkit porting using vala). Before can run maleo. We need install Maleo in opensuse. For sample I try instagram and twitter mobile to run natively with Maleo.

Day Two Summit

Day two, rainy in the morning and still many speakers for this session. Unfortunately, not all sessions are english class, so I get difficult to understand all conversation. End the end of summit, I join lightning talk with title “How about Bring Next Year Summit to Yogyakarta, Indonesia”.
DL1_1759

Thanks for committee to allow me bring my presentation and openSUSE who bring me a travel support. Thank to Joe Lie, Al Cho for all kind. Thank to Franklin Weng and Eric Sun for invite us to see other side of Taipei  🙂

See you next year.
Estu~

You can find other photo from here:
[0] https://www.flickr.com/photos/vanmalay/
[1] https://www.flickr.com/groups/opensuse-asia-summit-2015/



Senin
30 November, 2015


face

Can twitter run with Maleo? Yes, it can.

Lets try it. (If you have not installed maleo, you can read this guide)

  1. Create folder for twitter
    $ cd ~/src/ && mkdir twitter-maleo && cd twitter-maleo
  2. Create config.xml fill with this code from github,
  3. Create index.html with fill with this code from github,
  4. Testing run maleo from folder malio
    $ cd ~/src/maleo/build
    $ ./maleo ~/src/hello
  5. Or you can clone this repo from my github account
    $ git clone https://github.com/tuanpembual/twitter-maleo.git

Done!

Estu~



face

Do you have istagram account? Yes I do.

After testing run simple page with maleo, I want try run Instagram with maleo. It is like have a instagram desktop apps. (If you have not installed maleo, you can read this guide)

Lets do it.

  1. Create folder for instagram
    $ cd ~/src/ && mkdir instagram-maleo && cd instagram-maleo
  2. Create config.xml fill with this code from github,
  3. Create index.html with fill with this code from github,
  4. Testing run maleo from folder maleo
    $ cd ~/src/maleo/build
    $ ./maleo ~/src/hello
  5. You can clone this repo too from my friend github account
    $ git clone https://github.com/cho2/instagram-maleo.git

Done! Next sample is run twitter with maleo. Oh, I have one issue to this sample. I just want make this simple apps can be installed with zypper tool in openSUSE. So I need help to package this app to be rpm file and create to own repository. Something like maleo’ repository for openSUSE. Feel free to contact me if you have interest about this issue.

Estu~



Senin
09 November, 2015


face

Pada Ubuntu 14.04 LTS, default HAProxy yang digunakan adalah versi 1.3. Meski untuk kebutuhan basic load balancer sudah terpenuhi pada HAProxy versi ini, ada beberapa parameter yang hanya bisa dijalankan menggunakan HAProxy versi update.

haproxyUntuk menggunakan HAProxy versi update (saat tulisan ini dibuat, versi update adalah versi 1.6), silakan menjalankan perintah berikut :

sudo add-apt-repository ppa:vbernat/haproxy-1.6

Saat ada pesan untuk ENTER, silakan ENTER untuk menyimpan file konfigurasi APT-nya, kemudian jalankan perintah berikut :

sudo apt-get update
sudo apt-get install haproxy

Jika menggunakan Debian atau ingin memastikan versi lain yang paling update, bisa merujuk ke halaman ini : http://haproxy.debian.net/


Kamis
16 April, 2015


face

vCenter Server Appliance (vCSA) merupakan pilihan utama saya dalam melakukan deployment vCenter di klien. Selain karena lebih murah dari sisi biaya-tidak perlu lisensi Windows Server+SQL Server-pertimbangan utama adalah karena vCSA ini berbasis SUSE Linux Enterprise Server (ini pertimbangan sentimentil :-D).

Kemarin ada keperluan relokasi vCenter dari satu host untuk dipindah ke host lain. Migrate VM lain selain vCenter sih mudah, bisa langsung pakai menu migrate/vMotion dari vCenter. Lha ini, vCenternya sendiri yang hendak dimigrate, gimana dong?

vavai-vcenter-server-appliance

Kalau vCenter ada di shared storage, mudah saja. Cukup remove from inventory di host lama dan kemudian add inventory di host baru :

To move a vCenter Server between hosts when there is shared storage:

  1. Shut down the vCenter Server after making a note of the host on which it is running and the datastore on which it is residing Both can be found on the Summary tab of the vCenter Server virtual machine
  2. Connect with the vSphere Client directly to the source ESXi/ESX host on which the vCenter Server was running
  3. Right-click the vCenter Server and click Remove from Inventory
  4. Connect with the vSphere Client directly to the destination ESXi/ESX host on which you want the vCenter virtual machine to run
  5. Right-click the datastore on which the vCenter Server is stored and click Browse datastore
  6. Open the directory for the vCenter Server, right-click the .vmx file and click Add to Inventory
  7. Power on the vCenter Server virtual machine.

Bagaimana jika vCenter tidak menggunakan shared storage? Ada 2 pilihan untuk migrate-nya, yaitu cloning dan export OVF :

Moving vCenter Server when the hosts do not have shared storage

To move a vCenter Server between hosts when storage is not shared, perform one of these options:

I. Clone the vCenter Server from one host to another:

  1. Select the vCenter Server virtual machine from the Inventory
  2. Right-click the virtual machine and click Clone
  3. Select the destination ESXi/ESX host
  4. Power off the vCenter Server on the source host
  5. Power on the vCenter Server virtual machine on the destination ESXi/ESX host.

II. Export the vCenter Server as an Open Virtual Machine Format (OVF):

  1. Connect vSphere Client to the ESXi/ESX host running the vCenter Server virtual machine
  2. Power off the vCenter Server virtual machine
  3. Click File > Export > Export OVF Template
  4. Connect vSphere Client directly to the destination ESXi/ESX host
  5. Click File – Deploy OVF Template
  6. Power on the vCenter Server virtual machine.

Warning: If the vCenter Server virtual machine is running on a Virtual Distributed Switch (vDS), move the vCenter Server virtual machine to a standard vSwitch before proceeding with these steps.

Sumber : http://kb.vmware.com/selfservice/microsites/search.do…

Semoga bermanfaat 😉 . Bagi rekan-rekan yang berminat mempelajari VMware vSphere lebih detail, bisa mengikuti training yang diselenggarakan di Excellent :

Training VMware vSphere Fundamental & Medium (High Availability), 18 – 21 April 2015 18 – 21 April 2015 Rp. 3.000.000,-
Alumni disc 10%
Training VMware vSphere Fundamental & Medium cocok bagi rekan-rekan yang baru hendak mempelajari VMware vSphere atau rekan-rekan yang pernah memakai produk VMware lain (VMware

Selasa
14 April, 2015


face

Komentar singkat : Setingnya mudah, tampilannya keren 😉

Karena komputer klien yang saya gunakan untuk ujicoba punya processor i3-i5-i7 dengan RAM 4-32 GB dengan network gigabit, saya gunakan mekanisme FAT client. Ini berarti semua processing tetap dilakukan disisi klien namun base image ada disisi LTSP Server.

Dulu saya berpikir, buat apa thin dan LTSP kalau harga komputer makin lama makin murah. Asumsi saya ini berubah setelah saya bertemu kembali dengan salah satu mentor bisnis saya yang dulu memberikan inspirasi soal bisnis ke saya. Ia dulu punya kantor interior design di daerah Sudirman kemudian pindah ke daerah Sungai Gerong (dekat UOB Plaza).

vavai-ltsp-linuxmint-1

 

vavai-ltsp-linuxmint-2

 

vavai-ltsp-linuxmint-3

 

vavai-ltsp-linuxmint-4

Ia sudah sejak tahun 2009 menggunakan LTSP untuk production workstation. Alasan menggunakan LTSP bukan karena spesifikasi workstationnya payah (spesifikasi kliennya rata-rata i5 dengan RAM 8 GB) melainkan untuk fleksibilitas.

Dengan LTSP, tidak perlu instalasi sistem di masing-masing harddisk; bisa centralize management untuk manajemen user, group, update maupun upgrade; processing bisa disisi klien dengan mekanisme FAT client dan secara biaya lebih murah dibandingkan dengan penggunaan mekanisme thin client lainnya.

Yang mengagumkan, ternyata ia pakai openSUSE 11.1 yang basis servernya saya install bersama adik saya :-). Jika dulu (dan sekarang) banyak yang bilang “Linux nggak user friendly“, ternyata penggunanya yang notabene bukan aktivis Linux teteup normal-normal saja menggunakannya

BTW, kalau sample-nya pakai openSUSE, kenapa pula ini saya pakai LinuxMint sebagai screenshot :-P. Maklum saja, ini pas kebetulan tertarik ujicoba LTSP dibeberapa platform dan desktop 😉

Intinya adalah, terminal server/client berbasis Linux ini menarik untuk diimplementasikan, termasuk jika saya hendak menerapkannya sebagai terminal untuk RDP dan untuk simulasi training 😉 atau ada rekan-rekan yang hendak implement di lab sekolah atau di perusahaan masing-masing


face

Melanjutkan kisah sebelumnya, setelah mengetahui bahwa Fajar Mukharom tidak membawa DVD eksternal, CD/DVD blank dan perlengkapan lainnya termasuk harddisk eksternal yang berisi berbagai iso file, saya mengambil alternatif berikutnya, yaitu menggunakan USB Flash Disk.

Saya membuat Live USB dengan bantuan UnetBootin dan mencoba boot. ISO yang saya pergunakan adalah PartedMagic. Saya tertolong dengan kecepatan internet yang cukup cepat di Gedung Tifa. Download iso 300-650 MB butuh waktu sekitar 1-3 menit saja. Saya coba buat LiveUSB PartedMagic, tools andalan saya.

liveusbSaat saya coba jalankan, tidak ada masalah. Masalah terjadi saat saya hendak format harddisk, ternyata berulang kali dicoba teteup tidak bisa diformat. Karena terdesak waktu, saya tidak menelusuri detail penyebabnya dan memilih alternatif lain, yaitu distro yang paling sering saya gunakan : SUSE. Karena untuk ISO DVD ukurannya sangat besar (4 GB-an), saya menggunakan versi appliance, yaitu ISO minimal server appliance, remastering dari SUSE Linux Enterprise Server yang saya buat menggunakan SUSE Studio. ISO-nya bisa didownload disini :http://mirror.excellent.co.id/appliance/minimal-server/

Saat saya coba, ternyata gagal boot, baik untuk tipe ISO LiveCD maupun preload ISO installer. Saya ingat beberapa kali gagal jika membuat liveUSB menggunakan Unetbootin, jadi saya coba lagi menggunakan OSForensics Image USB : http://www.osforensics.com/tools/write-usb-images.html

Kali ini berhasil boot dan bisa melakukan instalasi, namun saat mencoba injeksi bootloader, mengalami kegagalan. Berulang kali saya coba namun tetap gagal boot. Saya sempat berniat menggunakan ISO DVD namun karena ukurannya besar dan pembuatan LiveUSB bisa memakan waktu, saya memilih alternatif lain yaitu LiveUSB Ubuntu server.

Saya coba Ubuntu ISO, ternyata malah lebih parah. Tidak bisa booting sama sekali. Entah karena prosesnya lama atau karena ada gagal proses, yang jelas proses liveUSB menggunakan Unetbootin di MacBook Air lamaaaaaaa sekali.

Karena senewen, iseng saya download ISO DVD LinuxMint 17.1 Rebbeca dengan desktop MATE. Saya jadikan LiveUSB, ternyata lancar.

Saya boot, lancar juga, meski agak lambat karena LinuxMint memang berbasis grafis. Saat mencoba install, ternyata berjalan cukup lama. Sambil menunggu proses install, saya terpikir, kenapa nggak sekalian saja gunakan LiveCD-nya.

vavai-linux-mint

Jadilah saya siapkan harddisk backup, saya berikan IP, set agar bisa cross-cable dengan server existing dan siap saya backup. Untuk menghindari terjadinya perubahan permission, saya biasanya menggunakan skema rsync push (dilakukan disisi server yang ada datanya). Jadi saya lakukan perintah seperti ini :

rsync -av –progress /opt/ root@192.168.88.99:/data/

Perintah diatas akan menyalin seluruh isi folder /opt ke folder data yang ada di server IP 192.168.88.99 menggunakan perintah rsync disisi sumber dan rsync+SSH di sisi tujuan.

Ternyata? Default LinuxMint tidak aktif SSH-nya:-))

Backup-and-RestoreSaya coba start, tidak ada aplikasi OpenSSH-Server. Saat hendak mencoba install, ternyata nggak ada akses internet, karena server ini terhubung cross-cable dengan server existing. Saat saya tanya ke pihak data center, mereka tidak menyediakan akses DHCP atau akses internet free didalam ruang server. Paling mungkin dilakukan diruang NOC namun kecepatannya drop jadi 100 Mbps.

Satu-satunya pilihan adalah menggunakan IP public langsung, namun saat saya tanya ke klien, mereka hanya punya 1 IP public. Saya garuk-garuk kepala yang tidak


Senin
13 April, 2015


face

Hari Sabtu pagi, 4 April 2015, saya meluncur ke markas Excellent Emerald Spring. Saya mengecek persiapan training Zimbra Fundamental & Medium. Semua kelihatannya sudah disiapkan sudah cukup baik, karena persiapan ini selalu dibahas saat acara brainstorming dan juga saat membahas aspek Kaizen di Excellent. Mengacu pada SOP yang dibuat team, persiapan saya anggap beres dan setelah memberikan beberapa pesan kepada PIC team, saya berangkat bersama salah satu team yang belum lama bergabung dengan Excellent.

ilustrasi-email-checkSebelum berangkat saya minta agar CD dan DVD yang diperlukan untuk disiapkan. Saya juga mengecek lokasi via Google Maps, karena meski sering mondar-mandir ke sekitaran lokasi, saya termasuk kampungan karena belum pernah datang ke Gedung Tifa. Saya check alamatnya, ada di Kuningan. Mendengar kata Kuningan, refleks saya berasumsi di daerah Rasuna Said, jadi saya memutuskan untuk naik kereta Commuter.

Biasanya kalau saya berkunjung ke beberapa klien dikawasan Rasuna Said (ada beberapa klien Excellent yang berderet di Rasuna Said, bukan nyombong sih, tapi kesannya belagu ya, hehehe….), saya naik kereta dari Bekasi, transit di Manggarai. Dari Manggarai saya naik kereta jurusan Tanah Abang, turun di Stasiun Sudirman. Dari Stasiun Sudirman, saya naik taksi ke lokasi. Persis seperti yang saya ceritakan di status “The Lenovo Affair” 😀

Antara pilihan naik taksi atau APTB atau kereta, akhirnya saya memutuskan naik KA Commuter Line. Alasannya? Ya penghematan ;-). Apalagi karena Sabtu habis libur (Jum’at libur paskah), semestinya tidak terlalu ramai.

Ternyata, saat sampai di stasiun, antrian berekor panjang sekali. Saya memang tidak perlu antri karena semua team Excellent dibekali kartu Multi Trip Commuter Line. Namun, staff yang ikut saya ini belum lama bergabung jadi ia belum punya kartu multi trip. Kalau antri dulu akan lama sekali, jadi akhirnya saya menelpon team yang ada di markas Excellent Emerald Spring untuk datang mengantar kartu multi trip agar bisa digunakan.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kartu datang dan kami naik kereta sesuai skenario.

Sampai di stasiun Sudirman, saya naik taksi ke lokasi. Ndilalahnya, ketemu sama pengemudi taksi yang bingung saat saya bilang mau ke gedung Tifa :

“Mas, tolong kasih tahu jalannya ya, saya nggak tahu”

Jiaaah, sama-sama nggak tahu dong. Jadilah saya mengandalkan Waze dan Google Maps. Tapi lho kok malah ke Sudirman kemudian ke Gatsu ya. Ternyata Gedung Tifa memang sama-sama Kuningan tapi ini daerah Kuningan Barat belakangnya gedung Jamsostek.

Inilah kalau ada konsultan IT kelamaan beredar dari kampung ke kampung di Bekasi, cuma ke gedung Tifa saja sampai mutar-muter kesana kemari kwkwkwkw….

Sampai di Gedung Tifa sekitar pkl. 11.00, rekan team IT klien sudah ada di gedung Tifa. Saya bicara soal skenario yang akan ditempuh dan strateginya. Saya juga sempat bertanya, “Kalau worst case datanya hilang, gimana mas?”

dan jawaban klien : “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh…. JANGAN SAMPAI TERJADI MAS !!!”.

Jadi kesimpulan saya cukup jelas dan konservatif. Apapun skenario yang hendak ditempuh, hal pertama yang harus dilakukan adalah Backup-Backup-Backup. Apa yang harus diingat? Backup. Kalau mau makan, ingatlah backup. Kalau mau reinstall, jangan lupa Backup smile emoticon

Saya bisa melakukan backup data ke server cloud Excellent di Cyber 1. Saya sudah check, kecepatan koneksi ke server


face

Tanggal 30 Maret 2015 (berselang hampir 2 minggu dari tindakan pertama P3K mail server), saya menerima request dari pihak klien untuk visit penambahan storage. Sebenarnya ini bukan salah di klien juga sih kalau jadi lama. Pas kebetulan pekan-pekan tersebut saya dan team Excellent kelayapan kemana-mana, termasuk acara brainstorming luar kota dan kemping bersama team Excellent di Dusun Bambu, Lembang, Bandung.

mailPihak klien bertanya : “Apakah untuk proses ini akan ada down time?”
Saya bilang : Ya.

“Apakah lama?”
Saya jawab : “Ya, bisa lama, karena mesti menambahkan harddisk dan ada kemungkinan memindahkan data”.

Jika demikian, kata klien, “Sebaiknya hari Sabtu saja pak, 4 April 2015. Jadi nggak apa-apa down agak lama karena relatif nggak terlalu banyak kegiatan”.

Saya check di schedule team Excellent, Sabtu-Minggu ada kegiatan training Zimbra Mail Server Fundamental-Medium. Sementara hari Senin-Rabu-nya ada training Mastering Zimbra Mail Server. Saya tanya pada beberapa senior staff Excellent, apakah training bisa ditangani sementara saya menangani urusan ini, jawabannya OK. Jadi saya konfirmasi balik ke klien bahwa : “OK pak, kami bisa visit untuk penanganan masalah storage mail server pada hari Sabtu, 4 April 2015, pukul 11.00 WIB”

Mengapa pukul 11? Mengapa tidak pagi saja? Karena meski sudah saya delegasikan ke team yang biasa menangani kegiatan training di Excellent, saya merasa perlu melakukan pengecekan akhir agar kegiatan training tidak mengecewakan para peserta, apalagi pesertanya ada sekitar 6-7 peserta.

Sebagai persiapan, saya juga menanyakan spesifikasi server pada pihak klien, dan berikut adalah detailnya : Server Dell R710 RAM 8 GB, 3 Harddisk SATA 500 GB 7200 RPM, 4 network card gigabit, sistem operasi Ubuntu 10.04 64 bit.

2 harddisk diset RAID 1 dan mendapatkan kapasitas total sekitar 500 GB, sudah terisi data diatas 99%, hanya tersisa 3 GB, semuanya berupa data mailbox, LDAP dan database, jadi tidak ada kemungkinan menghapus log atau file tidak terpakai karena file yang tidak terpakai sudah saya bereskan pada tindakan pertama beberapa waktu sebelumnya.

1 harddisk berikutnya ada di slot 3, sebesar 500 GB (atau 1 TB, saya lupa 😀 ) namun kata pihak klien, harddisk ini tidak terdeteksi. Pihak klien sudah menyiapkan 6 harddisk SAS 15K RPM masing-masing 600 GB.

Lokasi server klien ada di co location server di Gedung Tifa Kuningan Barat. Saya minta pada pihak klien untuk menyiapkan surat izin masuk gedung, termasuk informasi jumlah dan nama team Excellent, karena biasanya masuk ke gedung data center perlu aspek administrasi, apalagi jika masuknya dihari libur (Sabtu-Minggu).

Hari Kamis, 2 April 2015, saya kelayapan ke Jakarta  untuk diskusi masalah start up, LTSP dan lain-lain. Pulangnya saya merasa kurang fit dan hari Jum’at akhirnya saya istirahat di rumah secara full. Saya sempat bimbang apakah saya perlu mengundurkan schedule atau meminta salah satu team menggantikan saya. Namun atas pertimbangan kemungkinan tingkat kesulitan yang ada, akhirnya saya memutuskan untuk tetap datang, langsung saya sendiri bersama salah satu staff dan tidur cepat di Jum’at malam dengan harapan Sabtu pagi 4 April 2015 saya sudah siap.

Sebelum tidur, saya mengirimkan email ke team mengenai persiapan yang perlu dibawa, baik DVD eksternal, file ISO, CD dan


Minggu
12 April, 2015


face

mailBeberapa waktu yang lalu (tepatnya sih 20 Maret 2015 lalu), saya dihubungi oleh salah seorang IT Admin perusahaan. Perusahaan tempatnya bekerja merupakan anak perusahaan, gabungan dari 2 BUMN besar. Masalahnya sederhana, mail servernya dalam status kritis (sudah down malah :-D) karena kapasitas harddisknya kepenuhan. Ia meminta layanan Excellent, apakah bisa support untuk tindakan segera by remote dan kemudian tindakan pasca dalam bentuk penambahan kapasitas.

Jika bisa, biayanya berapa, estimasi berapa lama pekerjaannya dan bagaimana solusinya.

Saat ada inquiry tersebut, posisi saya sedang di kantor klien di Bandung, jadi saya minta team saya membuatkan draft penawaran agar bisa saya review. Setelah OK, baru dikirimkan.

Dalam perjalanan pulang di taksi kemudian di bus Primajasa, saya menerima kabar pembayaran DP 50% untuk pekerjaan, kemudian minta agar saya bisa eskalasikan dulu, minimal sistem bisa berjalan.

Saya remote akses menggunakan akses GSM, lambat sekali. Meski lambat, saya bisa mengecek bahwa 99% data memang dipakai untuk mailbox dan database. Hanya sedikit data yang dipakai untuk log atau yang lainnya.

disk storageIni berarti bahwa tidak ada pilihan lain selain memindahkan atau menambah storage. Pihak klien bilang bahwa ia sudah menambahkan harddisk namun tidak terdeteksi, jadi untuk sementara sistem tolong diup-kan, tahap berikutnya baru eskalasi permanen dalam bentuk penambahan storage.

Akhirnya sebagai tindakan preventif, saya izin untuk membackup data lognya ke server di markas Excellent DJ (koneksinya cukup cepat diakses dari posisi server klien di Gedung Tifa Kuningan Barat Jakarta). Setelah saya backup, beberapa log yang sudah lama saya hapus sehingga didapatkan ruang harddisk yang cukup untuk menghidupkan services mail server.

Setelah saya hidupkan servicesnya, saya informasikan kepada pihak klien untuk segera membackup atau menghapus isi mailbox beberapa account agar free space bisa bertambah, sebelum nantinya ada proses pemindahan atau penambahan storage.

Kisah penambahan storage (it would be a long story 😉 ) akan saya sampaikan distatus berikutnya. Kalau diceritakan mungkin jadi cerpen atau cerber. Kelihatannya ada manfaatnya karena kisahnya ini mencakup sebagian besar layanan Excellent, memerlukan kemampuan programming saya (meski kemampuan programming saya masih dalam tahap cemen :-P) dan ada banyak faktor terkait domain, hosting, DNS, website dan hal teknis terkait mail server 😀

Tunggu saja kelanjutan ceritanya ya, kali aza ada yang mau denger-in 😛

Older blog entries ->