Welcome to Planet openSUSE

This is a feed aggregator that collects what openSUSE contributors are writing in their respective blogs.

To have your blog added to this aggregator, please read the instructions.


Rabu
27 Juni, 2018


face

Halo, Gaes!
GLiB hadir kembali! Kali ini kami berkolaborasi dengan Komunitas openSUSE Indonesia akan mengadakan pesta rilis openSUSE Leap 15.0

Kita akan berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan teman-teman seputar berkomunitas dan berkontribusi di ranah perangkat lunak bebas dan terbuka.

Pada kolaborasi kali ini, acara akan di isi oleh narasumber diantaranya:
Saputro Aryulianto – NolSatu
Kukuh Syafaat – Komunitas openSUSE Indonesia
Levay – GLiB – GNU/Linux Bogor

Jangan lupa! Catat tanggal dan waktunya juga ya gaes;

Hari/Tanggal: Minggu, 1 Juli 2018
Waktu: 10.30 – Selesai
Tempat: Kolaborato Coworking Space. Jl. Bogor Baru A4 No.8, Tegallega, Bogor Tengah, Kota Bogor. Jawa Barat

Buruan gaes, jangan sampe ketinggalan acara keren dan GRATIS ini! Ada makan-makan pizza dan minum-minum soda juga loh…Masa liburan lau cuma bengong doang….

Daftar segera di :
s.id/osrp15

Ditunggu ya kedatangannya!
Slot TERBATAS loh… 😊


Rabu
06 Juni, 2018


face

Tulisan ini adalah pembaruan dari tulisan yang pernah saya tulis sebelumnya yang berjudul Install (sangat) minimal openSUSE dengan KDE Plasma dan Minimal install openSUSE dengan KDE Plasma 5 (atau GNOME 3?). Tapi di sini saya mencoba mengimplementasikan GNOME juga. Untuk Desktop Environment lain caranya kurang lebih sama, hanya saja saya tidak mencobanya, jadi silakan gunakan imajinasi Anda.

Salah satu perbedaan installer openSUSE Leap 15 dibanding Leap 42 yang saya gunakan di tulisan sebelumnya adalah adanya opsi Custom saat pemilihan User Interface, jadi kita tidak perlu lagi menggunakan pilihan Minimal server (Text only).

Instalasi

Langsung saja menuju inti. Setelah kita membuat bootable DVD atau Flashdisk lalu boot ke perangkat tersebut, kita memilih menu Installation.

Layar yang pertama tampil adalah Language, Keyboard and License Agreement. Untuk bahasa, Anda bisa memilih apapun yang Anda mau. Sedangkan Keyboard Layout, yang banyak beredar di Indonesia adalah layout English (US). Baca perjanjian lisensi jika perlu, lalu klik Next tanda kita menyetujuinya.

Jika komputer tidak terhubung ke internet (dan sebaiknya tidak usah terhubung ke internet jika tidak menggunakan ISO net install), layar berikutnya yang akan tampil adalah Network Setting. Di sini kita bisa menamai komputer kita pada tab Hostname/DNS. Klik Next.

Layar berikutnya adalah User Interface. Di sinilah proses minimal install dimulai. Pilih Custom, lalu klik Next.

Layar berikutnya adalah Software Selection and System Tasks. Klik Details di bagian kiri bawah layar. Ini akan menampilkan menu di atas layar. Pilih menu Dependencies, lalu hilangkan centang pada Install Recommended Packages. Selanjutnya pilih opsi Options, lalu centang Cleanup when deleting packages. Lanjutkan dengan pindah ke tab Search. Ketik session di kolom pencarian. Akan muncul tiga opsi session, yaitu GNOME, Plasma 5 dan XFCE4. Jika Anda ingin menggunakan GNOME, pilih paket gnome-session dan gnome-session-wayland. Begitu juga jika Anda ingin memilih Plasma 5, pilih paket plasma5-session dan plasma5-session-wayland. Sementara jika Anda memilih XFCE4, tidak ada pilihan session wayland. Untuk Anda yang memilih GNOME, cari juga paket xf86-input-libinput. Anda yang memilih Plasma 5, paket ini langsung terseleksi secara otomatis. Lalu cari dan pilih Display Manager yang ingin digunakan. Untuk GNOME pilih gdm, untuk Plasma 5 pilih sddm. Jika Anda akan menggunakan BtrFS, cari juga paket grub2-snapper-plugin dan snapper-zypp-plugin. Setelah selesai, klik Next.

Layar berikutnya adalah Suggested Partitioning. Jika komputer kita sudah berisi data, sebaiknya kita memilih Expert Partitioner, lalu pilih Start with Existing Partitions. Klik Next.

Jika kita memilih Expert Partitioner, di layar berikutnya kita bisa mengatur partisi kita. Klik Hard Disks di sebelah kiri untuk memunculkan tombol Edit dan tombol-tombol lainnya untuk mengatur partisi. Saya biasanya hanya membuat tiga partisi saja; /dev/sda1 dengan ukuran 256 MiB, tipe EFI System Partition, tipe FS FAT dan Mount Point /boot/efi. Partisi ini dibutuhkan untuk komputer dengan firmware UEFI. Komputer dengan firmware BIOS tidak membutuhkan partisi ini. Partisi kedua adalah /dev/sda2 dengan ukuran 60 GiB (karena saya tidak memisahkan $HOME dari root), tipe Linux Native, tipe FS BtrFS dan Mount Point /. Jangan lupa untuk mencentang opsi Enable Snapshots saat editing partisi. Opsi ini bisa dicentang setelah kita menentukan Mount Point. Anda


Senin
04 Juni, 2018


face

openSUSE Asia Summit 2015

Setelah memasang Leap 15.0 di x260, ternyata saya tidak bisa memainkan gif ataupun video dari Facebook. Peramban yang saya gunakan adalah Firefox 60.0.1. Di lain sisi, memutar youtube tidak ada masalah. Dari hasil pengecekan https://www.youtube.com/html5 didapat bahwa format MP4/H.264 belum didukung oleh sistem operasi dan peramban.

Membaca wiki openSUSE ditautan https://en.opensuse.org/SDB:Firefox_MP4/H.264_Video_Support, masalah ini dapat diatasi dengan:

  1. Pasang repo packman,
  2. Pasang libav, sekalian memasang VLC
    $ sudo zypper in vlc libavcodec56 libavcodec57 libavformat56 libavformat57 libavdevice56 libavdevice57
    
  3. Restart firefox, dan test kembali dukungan video di https://www.youtube.com/html5

Selesai. Horeee.

Estu~


Minggu
03 Juni, 2018


face

openSUSE Leap 15.0 baru saja dirilis beberapa pekan kemarin yakni tepatnya pada tanggal 25 May, pada openSUSE Leap 15.0 ini memiliki banyak pembaruan diantaranya yang menjadi sorotan dari pembaruan openSUSE Leap 15.0 ini dapat dilihat di situs kabar linux saya sendiri masih sempat bingung bagaimana caranya untuk update ke openSUSE Leap 15.0 ini sendiri, saya sendiri masih memakai openSUSE Leap 42.3 sebelum tulisan ini dirilis dan sekarang telah memakai openSUSE Leap 15.0. Yuk langsung aja kita cari tahu bagaimana cara update ke openSUSE Leap 15.0 ini :D.

Pra upgrade

Sebelum kita upgrade si ijo ini kita terlebih dulu menyiapkan beberapa hal yang harus disiapkan. guna mengantisipasi beberapa hal yang tidak diinginkan terjadi (data hilang)

  1. Backup Data penting anda ke Hardisk eksternal (kalau gk ada pinjem punya temen)
  2. Siapkan niat
  3. Internet
  4. Repository lokal, ini tentu diperlukan saya sendiri memilih repo dari repo.opensuse.id agar proses update lebih kenceng

Ganti Repository

Setelah sesajen sebelum upgrade disiapkan, kita langsung ke proses upgrade

zypper mr -da
zypper ar -f http://repo.opensuse.id/distribution/leap/15.0/repo/oss/ repo-opensuse-id-15-oss
zypper ar -f http://repo.opensuse.id/distribution/leap/15.0/repo/non-oss/ repo-opensuse-id-15-non-oss
zypper ar -f http://repo.opensuse.id/update/leap/15.0/oss/ repo-update-opensuse-id-15-oss
zypper ar -f http://repo.opensuse.id/update/leap/15.0/non-oss/ repo-update-opensuse-id-15-non-oss

Upgrade

Setelah kita mengganti repository, kita lakukan upgrade openSUSE ini berikut perintahnya

    1. Tekan Ctrl + Alt dan F1 secara bersamaan, lalu jalankan perintah dibawah ini
zypper ref
zypper dup

Setelah itu kalian bisa ngopi – ngopi atau ngaji juga boleh agar proses upgrade lancar 😀

Note : Semoga bermanfaat


face

Distribusi sistem operasi berbasis Linux semakin bertambah tahun semakin baik perkembangannya, bukan hanya dari sisi enterprise saja, dari sisi komunitas mereka juga berlomba-lomba untuk menyediakan berbagai macam distribusi selevel dengan kelas enterprise, openSUSE salah satunya.

Pesta rilis openSUSE kali ini diadakan oleh Kelompok Linux Arek Suroboyo (KLAS). Acara yang mengusung tema Pesta Rilis openSUSE Leap 15 dan Lokakarya Docker Untuk Pemula Spesial Ramadhan merupakan beberapa rangkaian acara yang dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama.

Pemateri yang yang membawakan pesta rilis openSUSE Leap 15 adalah Darian Rizaludin sekalu ketua KLAS. Dia menyampaikan beberapa pembahasan, diantaranya adalah pengetahuan umum tentang openSUSE dan alasan-alasan kuat mengapa kita menggunakan openSUSE.

openSUSE merupakan salah satu distribusi Linux yang basis pengembangannya seperti SUSE Linux Enterprise, dikembangkan dengan semangat FLOSS sehingga dapat digunakan dengan bebas oleh siapapun juga. Seperti yang kebanyakan orang tahu, SLE (akronim SUSE Linux Enterprise) merupakan distribusi Linux yang dikembangkan oleh perusahaan, dimana kita bisa mengunduh dan menggunakannya dengan bebas namun tidak bisa secara bebas menggunakan semua layanan yang ada pada SLE selama kurun waktu 60 hari atau sekitar kurang dari 2 bulan.

Komunitas pengembang openSUSE, openSUSE Project, menyediakan dua macam distribusi yang bisa digunakan dengan bebas oleh penggunanya, Tumbleweed dan Leap, lantas apa perbedaan dari keduanya?

Tumbleweed merupakan distribusi yang menerapkan konsep rolling release atau rilis bergulir, maksudnya adalah pengguna yang menggunakan openSUSE Tumbleweed lebih sering mendapatkan pembaruan paket stabil terbaru yang disediakan oleh openSUSE Project. Distribusi ini hanya direkomendasikan untuk pengembang, kontributor openSUSE dan “penggila” Linux.

Leap merupakan distribusi rilis reguler atau rilis setiap tahun, Leap memperioritaskan pembaruan terhadap keamanan dan kestabilan setiap rilisnya dan ketentuan itu tidak berubah hingga rilis tahunan berikutnya. Leap berbagi sumber daya sistem dengan SLE sehingga perubahan besar pada arsitektur tidak disediakan selama beberapa tahun, diselaraskan dengan rilis utama (misalnya 12, 13) dari SLE. Leap direkomendasikan untuk sistem administrator, pengembang perusahaaopenSUSEopenSUSEopenSUSEn dan pengguna desktop “biasa”.

Siklus Rilis openSUSEadalah sebagai berikut :

openSUSE Tumbleweed adalah rilis bergulir openSUSE, yang terus diperbarui dan selalu pada ‘rilis terbaru’.

openSUSE Leap adalah rilis reguler openSUSE, yang memiliki siklus rilis perkiraan berikut:

  • Satu rilis kecil diharapkan sekitar setiap 12 bulan, selaras dengan paket payanan (service pack) SUSE Linux Enterprise.
  • Satu rilis besar diharapkan setelah sekitar 36-48 bulan, selaras dengan rilis SUSE Linux Enterprise.

“Ada beberapa alasan kuat kenapa saya menggunakan openSUSE” kata Darian sembari mengutip situs itsfoss.com.

Hal yang paling disoroti adalah komunitas yang mendukung, baik daring maupun luring. Komunitas menjadi tonggak penyalur dari proyek utama untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, dalam hal ini luring lebih baik. Komunitas openSUSE Indonesia layak diacungi “dua jempol” untuk masalah ini. Baik luring maupun daring, openSUSE ID selalu solutif dalam mendukung proyek utama.

openSUSE merupakan sistem operasi yang kuat dan hampir dapat diandalkan, “saya tidak terlalu menyukai dua lingkungan desktop yang didukung secara default oleh openSUSE Project, tapi saya dapat memasang lingkungan desktop lain dengan berjalan sangat mulus di openSUSE Leap” kata Darian.

Jika Anda tidak terlalu familiar cara memasang paket dengan baris perintah, anda dapat memanfaatkan portal software.opensuse.org untuk mencari paket dan hanya dengan


Jumat
01 Juni, 2018


face

Grub error atau hilang bisa terjadi karena berbagai hal. Yang paling umum adalah karena memasang ulang atau update/upgrade Windows bagi pengguna dualboot yang masih menggunakan komputer dengan firmware BIOS. Atau bisa juga karena proses upgrade openSUSE yang tidak sempurna, seperti yang pernah saya alami ketika upgrade dari Leap 42.2 ke Leap 42.3.

Untuk memperbaiki Grub error kita membutuhkan salah satu dari installer openSUSE, openSUSE Live atau Rescue CD. Di sini saya akan menjelaskan proses menggunakan installer, karena kita bisa menggunakan ISO yang pernah kita gunakan untuk memasang openSUSE meskipun versi installer dengan openSUSE yang saat ini digunakan berbeda.

Boot ke DVD atau Flashdisk installer openSUSE, lalu pilih System rescue. Untuk installer terbaru, Anda mungkin perlu memilih menu More untuk menampilkan menu System rescue.

Saat proses booting akan ditampilkan pilihan untuk menggunakan layout keyboard yang ingin digunakan. Biasanya kita hanya perlu menekan Enter saja.

Setelah proses booting selesai, kita diharuskan untuk login dengan menggunakan akun root, tanpa password, langsung saja tekan Enter setelah mengisi user root.

Setelah login dengan root, lakukan langkah-langkah berikut:

  • Cari tahu di mana partisi root berada (jika Anda sudah tahu, Anda bisa melewati proses ini);
    lsblk
  • Contoh di sini partisi root berada di /dev/sda2. mount semua yang diperlukan;
    mount /dev/sda2 /mnt
    mount -t proc none /mnt/proc
    mount --rbind /dev /mnt/dev
    mount --rbind /sys /mnt/sys
  • chroot ke /mnt;
    chroot /mnt /bin/bash
  • mount semua yang ada di /etc/fstab dari sistem yang berada dalam chroot;
    mount -a
  • Pasang grub;
    grub2-install /dev/sda
  • Konfigurasi grub;
    grub2-mkconfig -o /boot/grub2/grub.cfg
  • Proses memperbaiki grub selesai, keluar dari chroot lalu jalankan ulang komputer;
    umount -a
    exit
    reboot

Selesai, kita bisa menggunakan kembali komputer kita.


Kamis
31 Mei, 2018


face

Jaman sekarang, saat distribusi Linux seperti openSUSE dan Ubuntu sudah berkembang pesat, kompilasi kernel secara mandiri hampir sudah tidak diperlukan lagi. Kernel bawaan distribusi sudah just work, tanpa perlu bersusah payah mengunduh kode sumber kernel, melakukan konfigurasi serta melakukan kompilasi yang membutuhkan waktu dan sumber daya komputer yang cukup banyak.

Namun, saya kemarin menemukan kendala dengan kernel bawaan dari openSUSE, baik Tumbleweed maupun Leap. Pada Tumbleweed, baterai laptop saya tidak dikenali. Sedangkan pada Leap 15, baterai sukses dikenali, namun saat diisi daya dari listrik, proses pengisian daya tidak dikenali.

Karena saya sibuk santai-santai, dan sekalian uji nyali, saya memutuskan untuk kompilasi kernel sendiri pada mesin GPD Pocket. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  • Pasang perabotan yang dibutuhkan, seperti: git, ncurses-devel, patterns-devel-base-devel_basis, libelf-devel, rpmbuild, bc, libopenssl-devel
sudo zypper in git ncurses-devel patterns-devel-base-devel_basis libelf-devel rpmbuild bc libopenssl-devel
  • Unduh kode sumber kernel, dalam kasus saya, saya mengunduh dari https://github.com/jwrdegoede/linux-sunxi.git. Jika Anda menggunakan paket data, pastikan saat meng-klon, gunakan opsi –depth 1 biar hemat.
git clone https://github.com/jwrdegoede/linux-sunxi.git --depth 1
  • Masuk ke direktori kode sumber kernel
  • Jalankan make rpm LOCALVERSION=-kompilasi-gpd-pocket. Saya menambahkan opsi -j4 untuk menggunakan 4 inti prosesor yang saya punya.
make -j4 rpm LOCALVERSION=-kompilasi-gpd-pocket
Proses Kompilasi

Proses Kompilasi

Htop

  • Hasil kompilasi berada di folder ~/rpmbuild/RPMS/x86_64/
kernel-4.17.0_rc6_kompilasi_gpd_pocket-1.x86_64.rpm
kernel-devel-4.17.0_rc6_kompilasi_gpd_pocket-1.x86_64.rpm
kernel-headers-4.17.0_rc6_kompilasi_gpd_pocket-1.x86_64.rpm

Dari paket rpm di atas, kita sudah bisa memasangnya di openSUSE. Selamat mencoba!


Rabu
23 Mei, 2018


face

I’ve been curious and interested with GPD Pocket since last year, when first time it announced (https://www.indiegogo.com/projects/gpd-pocket-7-0-umpc-laptop-ubuntu-or-win-10-os#/).

I bought this tiny machine 3 weeks ago on aliexpress. Shipping take only a day, but custom clearance takes almost two weeks.

First impression about this laptop was cute and good built quality.

Tiny

Installing It with Linux

This machine preinstalled with Windows 10, I think it’s original but who cares. I need running linux on it.

I try Leap 15 for first time. Screen rotated -1 and wifi not working. Then I tried Ubuntu 18.04 and similar thing happen. I use iso from gpd site, Ubuntu 16.04 that already customized for GPD Pocket but not working (stuck at boot).

Ubuntu 16.04

I read some documentation at https://github.com/stockmind/gpd-pocket-ubuntu-respin to rebuild Ubuntu 18.04 iso, but not working enough. So I use another methode, installing it then use update.sh to reconfigure all. It’s working. But I’m not satisfied in it. I wanna Tumbleweed on this machine.

I download openSUSE-Tumbleweed-DVD-x86_64-Snapshot20180520-Media.iso and dd-ing it to usb flashdisk then install. Of course when installing process, my screen was rotated -1. I choose GNOME Desktop. But after reboot, GNOME works fine except:

  1. wifi not working
  2. no battery applet, and system not recognize battery

Patch

Kukuh Syafaat, President of openSUSE-ID told me that Richard Brown (@sysrich) use GPD Pocket. So I ask Richard on twitter and he gave me clue in https://github.com/sysrich/salt-states/blob/master/opensuse/laptop.sls.

I use few lines from laptop.sls and it’s working well. I translated that salt script into plain bash script at https://github.com/princeofgiri/gpd-pocket-patch.

After reboot, Tumbleweed still not detecting the battery.

Use Another Kernel

I remember that Leap 15 can recognize the battery. So I download the kernel and installing it. Yes it’s work, but there’s new problem, when in charging mode, battery applet seems not know if that time is in charging mode.

So I decide to compile kernel by my self. Got the source from https://github.com/jwrdegoede/linux-sunxi.git and the result was cool. It’s works.

Let’s Work

Notes

  • I write this post using GPD Pocket
  • I will write kernel compilation in another post
  • Plymouth still rotated -1
Plymouth

Minggu
20 Mei, 2018


face

Menindaklanjuti kegiatan GNOME Recipes Hackfest 2018 yang digelar pada tanggal 28 Februari–2 Maret 2018 lalu, GNOME Indonesia berkolaborasi dengan beberapa komunitas open source seperti BlankOn, Endless, dan openSUSE Indonesia mengadakan kegiatan pengumpulan resep lokal. Kegiatan ini akan digelar mulai Mei hingga Juni 2018.

GNOME Recipes merupakan aplikasi yang dapat membantu Anda untuk memasak dengan menu-menu umum maupun khusus yang telah tersedia di dalam aplikasi. Sayangnya sampai sampai saat ini aplikasi GNOME Recipes belum memuat menu-menu Indonesia. GNOME memerlukan kontribusi dari komunitas untuk dapat memperkaya menu pada GNOME Recipes ini.

Kirim resep terbaik lengkap dengan foto masakanmu melalui formulir ini. Untuk membantu Anda dalam menulis resep, kami telah menyediakan template yang dapat diunduh melalui tautan ini.

Kami menyediakan beragam hadiah menarik untuk kontributor yang mengirim minimal 7 resep masakan dalam kegiatan ini. Yuk berbagi resep!


Sabtu
12 Mei, 2018


face

Ketika memasang pengaya Chrome Remote Desktop dengan Google Chrome, biasanya Chrome akan mengunduh sebuah paket bernama chrome-remote-desktop. Sayangnya yang diunduh adalah chrome-remote-desktop_current_amd64.deb, padahal yang dibutuhkan adalah berkas tersebut dengan ekstensi .rpm. Maka kita perlu mengubah paket tersebut dari .deb menjadi .rpm.

  • Pasang alien dengan perintah berikut
    zypper in https://download.opensuse.org/repositories/utilities/openSUSE_Leap_42.3/x86_64/alien-8.88-3.1.x86_64.rpm`
    
  • Pasang juga rpmbuild dengan perintah berikut
    sudo zypper in rpmbuild
    
  • Jalankan alien
    sudo alien -c -r chrome-remote-desktop_current_amd64.deb
    
  • Nanti hasilnya berupa berkas chrome-remote-desktop-66.0.3359.12-2.x86_64.rpm (dalam contoh ini). Pasang paket tersebut dengan perintah berikut
    sudo zypper in chrome-remote-desktop-66.0.3359.12-2.x86_64.rpm
    

    Selamat mencoba


Jumat
27 April, 2018


face

Pengenalan Android Studio

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas cara instalasi android studio pada openSUSE Leap 42.3.
Android Studio adalah sebuah Lingkungan terpadu atau yang kadang lebih dikenal dengan sebutan IDE (Integreted Development Environment), untuk pengembangan aplikasi Android berdasarkan IntelliJ IDEA.

Fitur – fitur yang ada pada Android Studio

Android Studio sendiri memiliki beberapa fitur – fitur yang dapat meningkatkan kreatifitas anda, antara lain :

  • Sistem versi berbasis Gradle yang fleksibel
  • Emulator yang cepat dan kaya akan fitur
  • Lingkungan yang menyatu untuk pengembang Android
  • Instant Run untuk mendorong perubahan ke aplikasi yang berjalan tanpa membuat APK baru
  • Template kode dan integrasi GitHub untuk membuat fitur aplikasi yang sama dan mengimpor kode contoh
  • Alat pengujian dan kerangka kerja yang ekstensif
  • Alat Lint untuk meningkatkan kinerja, kegunaan, kompatibilitas versi, dan masalah-masalah lain
  • Dukungan C++ dan NDK
  • Dukungan bawaan untuk Google Cloud Platform, mempermudah pengintegrasian Google Cloud Messaging dan App Engine

System Requirement

Linux

  • Desktop GNOME atau KDE
  • distribusi 64-bit yang mampu menjalankan aplikasi 32-bit
  • GNU C Library (glibc) 2.19 atau yang lebih baru
  • RAM minimum 3 GB, RAM yang disarankan 8 GB; tambah 1 GB untuk Emulator Android
  • Ruang disk minimum yang tersedia 2 GB,
    Disarankan 4 GB (500 MB untuk IDE + 1,5 GB untuk Android SDK dan gambar sistem emulator)
  • Resolusi layar minimum 1280 x 800
  • Untuk emulator akselerasi: Prosesor Intel® dengan dukungan untuk Intel® VT-x, Intel® EM64T(Intel® 64), dan fungsionalitas Execute Disable (XD) Bit, atau prosesor AMD dengan dukungan untuk AMD Virtualization™ (AMD-V™)

Tahap Instalasi

Pada tulisan saya kali ini, saya memakai laptop Lenovo Z40-75 berbasis openSUSE Leap 42.3. Sebelum instalasi dimulai ada baiknya sobat mengunduh Android Studio pada laman ini.
Setelah selesai pengunduhan kita mulai tahap mula – mula :

  • Ekstrak hasil unduhan
unzip android-studio-ide-173.4670197-linux.zip
  • Pindahkan direktori Android Studio ke /opt
mv android-studio /opt
  • Install !
cd /opt/android-studio/bin/
./studio.sh

Tunggu tahap instalasi sampai selesai 😀

Beberapa Screenshot

Screenshot_20180329_211208

Tampilan Splash screen Android Studio

Screenshot_20180329_211552

Tampilan awal

note

Jika ingin menambahkan shortcut Desktop Android Studio pada Linux anda cukup dengan

  • Tools => Create Desktop Entry
Sumber
  • http://developer.android.com/studio/install.html
  • https://developer.android.com/studio/intro/index.html?hl=id

face

GNOME 3.28 beberapa waktu lalu baru rilis, cukup memancing banyak komentar. Tanggal 26 April kemarin, Ubuntu 18.04 meluncur dengan menyertakan GNOME 3.28 sebagai Desktop Environment baku. Unity sudah tidak dipergunakan lagi, mungkin tim Ubuntu sudah lelah.

Berawal dari move on-nya si Ubuntu, banyak penggemarnya kecewa, dan merasa GNOME itu jelek, tanpa bisa menunjukkan kejelekannya. Mari kita mundur beberapa waktu lalu.

 

Awal muncul GNOME 3, saya termasuk orang yang tidak suka, antar mukanya aneh. Lebih nyaman dan sederhana GNOME 2. Saya yang saat itu masuk di tim pengembang BlankOn, bersama rekan-rekan membedah kejelekannya sehingga muncullah bibit-bibit pemberontakan dengan dimulainya BlankOn Panel yang berujung pada Manokwari.

Manokwari sendiri perlu dibuat karena kedepannya, semua pustaka GNOME 2 akan ditinggalkan dan beralih ke GNOME 3. Tapi saya dan teman-teman tidak siap untuk sepenuhnya menggunakan GNOME 3 karena beberapa kejelekannya.

2014, saat GNOME Asia di Beijing, saya ngomong sendiri bahwa GNOME jelek ke pimpinan desainer UI/UX, Allan Day, dan berujunglah diskusi panjang. Saya pasti kalah sama mereka dalam hal penjelasan, saya cupunya minta ampun. Tapi saya menang dengan menceritakan bahwa GNOME 3 membutuhkan sumber daya komputer cukup besar (misal RAM 1 GB) di mana masyarakat Indonesia tidak banyak yang bisa memenuhinya. Sedangkan Manokwari, bisa bekerja (waktu itu) pada RAM 256 MB. Toh Manokwari masih menggunakan pustaka GNOME.

Sekitar 2011, Ubuntu merilis Unity, banyak yang komplain dan gak nyaman. Pindah ke KDE juga takut gengsinya turun lantara KDE di masa itu (sampai masa kini sih) mirip MS Windows dan banyak kutu (sekarang udah jauh mendingan).

Kita terbiasa ngedumel dan menjelek-jelekkan tanpa bisa menunjukkan apa yang bisa dilakukan untuk memperbagus hal tersebut. Mental kita lebih banyak sebagai pencela dari pada penebar “Rahmatan Lil Alamin”.

Saya dulu, mantab pindah ke GNOME 3.x saat memiliki layar dengan resolusi di atas FHD (3K) dan layar sentuh. Banyak perabotan GNOME bisa berfungsi dengan baik, seperti:

  • di Yoga 3 Pro, di layar ada logo jendela, saat disentuh, akan bisa menampilkan Activities. Pada DE lain tidak bisa
  • di layar sentuh, on screen keyboard sangat mudah tampil saat kita merasa memerlukannya (atau pada tablet mode). Tentunya hal ini tidak terjadi jika komputer kalian masih konvensional.

Jadi, sebelum mencela GNOME, lebih baik kopdar, ngopi-ngopi dulu dengan teman-teman komunitas GNOME. Saya traktir!

Catatan: saya belum nemu orang komplain dengan DE-nya Endless OS. Kalau komplain terkait tidak bisa booting dan sampai mencela saya tidak beretika sih ada.


Senin
16 April, 2018


face

Orchestration tools yang berkembang pesat dewasa ini hadir di dalam infrastruktur komputasi awan dan kontainer untuk mendorong industri untuk bekerja semakin cepat. Berkolaborasi dengan GO-JEK, Biznet Gio Cloud mempersembahkan GO-TALK: Transforming Modern Infrastructure with Kubernetes. Melalui event ini, simak bagaimana para ahli dari lansekap teknologi di Indonesia memanfaatkan Kubernetes untuk mengotomatisasi layanan dan aplikasi mereka.

Acara ini akan menghadirkan jajaran pembicara di antaranya:
1. Shani Hadiyanto, BI Analyst GO-JEK
2. Ibnu Yahya, Software Architect Biznet Gio Cloud
3. Utian Ayuba, Director Btech

Waktu: 23 April 2018
Tempat: GO-JEK HQ 6th Floor
Pasaraya Blok M Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Sesi ini tidak dipungut biaya, silakan segera daftarkan diri Anda karena tempat yang tersedia terbatas. Silakan kunjungi tautan berikut untuk mendaftar: http://gotalkbiznetgio.eventbrite.com

Acara ini didukung oleh PHP IndonesiaGLiB – GNU/Linux Bogor, dan Komunitas openSUSE Indonesia


Kamis
05 April, 2018


face

2018-03-25 14.47.48

Ini kali kedua konferensi, saya g ikut jadi pembicara. Sebelumnya PyConf ID di PENS 19 Desember silam, hanya cuma submit judul dan tidak lolos (dan memang berharap tidak lolos). Acara di PENS Desember silam termasuk perjalanan ajaib, karena kali pertama saya nyoba bawa sepeda lipat naik pesawat.

Konferensi LibreOffice kemaren saya semacam penyusup, karena sedikit bikin acara dalam acara. Agenda terselubungnya adalah mengumpulkan pengembang-pengembang BlankOn dalam satu lokasi. Semacam BlanKopdar.

Perjalanan ke timur. Rencana awal berangkat naik bus, tapi beberapa jam menjelang berangkat, tiba-tiba malah beli tiket kereta Jayakarta. Dan dapat kabar, kereta jalur selatan asal dan menuju Bandung mengalami terlambat. Karena ada kereta anjlok. Dan Pak Didiet sudah misuh-misuh dari sore.

Untuk penginapan di Surabaya, sebulan sebelumnya saya sudah memesan kamar dormitory di Anjani B&B tidak jauh dari PENS. Memesan 3 kamar dengan total 10 tempat tidur. 2 kamar dengan 4 kasur. 1 kamar untuk tim openSUSE.ID dan 2 kamar untuk BlankOn. Cukup murah.

Saya sampai Surabaya Jumat pagi jam 5, dan langsung ke homestay. Di homestay sudah ada Pak Slamet dan Pak Kuriyanto yang sudah sampai Surabaya sejak Kamis.

Hari Jumat 23 Maret 2018

Setelah mandi dan sarapan, terus langsung ke PENS. Ketemu Pak Edwin. Pak Noor Azam, Pak Eric dan Pak Franklin Weng. Juga ketemu beberapa pendekar yang sebelumnya belum pernah ketemu. Ada Pak Sofyan, Pak Kifli, Pak Syamsul, yang saya baru pertama ketemu. (Maafkan bila ada yg terlupa tidak disebut, keterbatasan memori)

Agenda Jumat adalah Workhop LibreOffice bareng Pak Andika. Break Solat jumat, kemudian dilanjutkan seremonial antara Panitia, Pembicara, Pihak Kampus dan Sponsor sekalian makan siang.

2018-03-23 13.53.04

Setelah Ashar saya balik ke homestay lagi sekalian mengantar Pak Edwin. Sebelum balik, Pak Darian nitip, “Pak ntar malam ada undangan makan di Jenggala Resto”. Siap ndan. Pak Darian makin lemu, mungkin efek stress menjadi koordinator panitia lokal. Selama makan malam, banyak obrolan teknis dan non teknis. Beberapa merupakan temu kangen. Tidak tiap tahun bisa kopdar komunitas seperti ini.

Setelah selesai undangan makan malam, balik homestay. Kita mulai Hackathon di Homestay. Kita bagi tugas tiap-tiap orang, apa aja yang bisa dikerjakan.

BlanKopdar kali ini ada beberapa target yang ingin dikejar:
1. Tambal Paket, terutama terkait Sofware Center dan Appstream Data
2. Nutupin Tiket BlankOn Installer
3. Rilis Manokwari, sekalian mengundang Pak Fadlun buat Hackathon, sebagai kontributor Manokwari paling aktif saat ini.
4. Beberapa konfigurasi infra yang dibutuhkan

Dalam kenyataannya adalah zsync jahitan, install, debug, koding-koding, commit, rilis paket, masuk ke irgsh, jahit dan ulangi dari awal. Jam 1 pada mulai tepar, namun hasilnya produktif. Beberapa bug minor terdeteksi dan dapat ditambal.

Hari Pertama Konferensi, Sabtu 24 Maret 2018.

Tempat acara di Gedung Pasca Sarjana PENS lt. 6. Saya agak telat datang. Pak Slamet dan Tim sudah duluan untuk persiapan Stand Pameran. Saya baru jam 11 sampai PENS. Tak lama dapat telepon dari Pak Aftian. Ya salah satu target utama datang ke Surabaya ini memang untuk ketemu Pak Aftian sebagai supermen di Proyek BlankOn.

Saya banyak menghabiskan di Stand Pameran, ngadep laptop. Jam set 1 ketemu Pak Aftian. Sesi


Selasa
03 April, 2018


face

The Original Story Behind This Conference

Yes, Sokibi and Rania already write the story about how we starting the conference. It’s true but not complete one. The original one was before I have dinner with Sokibi and Rania. I have lunch with Kukuh and Moko in Soto Betawi Restourant near my house.

Soto Betawi

We’re thinking that in 2017 there’s no FOSS Conference in Indonesia. So we decide to organize conference about LibreOffice but small one (we can call it mini conference). But time flows, and we kick out “mini” and become normal conference.

The Document Foundation

Since Franklin Weng becoming board in TDF, he often pursuade me to joining TDF Membership. Well, I’m thinking that I less contribution on LibreOffice and little experience in that (except for personal/daily use). I have lot of experience in OpenOffice, an era before LibreOffice.

So, with organizing this conference, it’s my starting point to contribute to LibreOffice and of course I apply the membership and TDF will process my submission this month.

Start Organizing Conference

We start work in December 2017, preparing the proposal and choose which city and university for the venue. We asking two universities and good will comes from PENS (Politeknik Electronika Negeri Surabaya). We start working on Januari 4th, and prepare everything daily.

We have 9 members of organizer in first place, but then one member just gone away not active, so I kicked him out. Our member was come from different cities, luckly it’s still in one timezone. So we just have 8 powerfull members. In last week near the event, there’s about 25 students from university that joining us as local community organizer.

My main role is as coordinator and fundraiser. It’s easy but not easy. But I have good team members. In the event it’s self I was complicated busy, make sure everything work and run perfectly. But me and others are happy.

Honorable mention Rania, Moko, Kukuh, Joko, Darian, Ummul, and Tamara. The last one can’t attend the conference.

Day #-1

I arrived at Surabaya on Thursday, one day before workshop. I need to come early to make coordination with local organizer and pickup Franklin and Eric. Both of them are my old friends.

Mr. Ardi (lecturer from PENS who also local organizer) told me in telegram chat, that in Day#1, I need to have speech to open the conference with some professor. I bought batik shirt for this special moment. 😀

Day #0

This is workshop day. I visited the venue and meet Mr. Ardi. I see the workshop for couple minutes and then at lunch time, I have meeting with Franklin, Eric, Andika, Noor, Darian, Estu and Lecturer/Professor from PENS.

In that meeting we have introduce our self and have small discussion. The Director of PENS also open the conference, because on Day#1 he can’t attending it.

I stay in Rumah Kertajaya Hostel, same with Franklin, Eric and Italo


Selasa
13 Maret, 2018


face

Tulisan ini masih sedikit melanjutkan pengalaman GNOME Recipes Hackfest 2018, namun sedikit ditambahkan atas pesanan Pak Andika (Koordinator Penerjemahan GNOME) terkait bagaimana cara menguji aplikasi dengan antar muka bahasa Indonesia (dengan file .po yang sudah kita terjemahkan).

Mari kita mulai!

Pasang GNOME Builder Nightly
  • Unduh flatpakref untuk GNOME Nightly dari https://sdk.gnome.org/gnome-nightly.flatpakrepo dan pasang

flatpak –user remote-add gnome-nightly gnome-nightly.flatpakrepo

  • Unduh flatpakref untuk GNOME Builder dari https://raw.githubusercontent.com/GNOME/gnome-apps-nightly/master/gnome-builder.flatpakref dan pasang

flatpak –user install –from gnome-builder.flatpakref

Jalankan Builder dan Ambil Kode GNOME Recipes
  • Jalankan Builder dan pilih tombol Clone untuk kloning kode sumber
  • Kloning dari https://gitlab.gnome.org/GNOME/recipes.git
Kloning Kode
  • Kode akan otomatis dibangun oleh Builder
Build
Detil Build
  • Jalankan!
Jalankan!
GNOME Recipes
Mengubah Antar Muka ke bahasa Indonesia

Seperti gambar di atas, antar muka aplikasi yang kita jalankan menggunakan antar muka baku (bahasa Inggris). Untuk kasus teman-teman yang mengerjakan terjemahan, perlu menguji dan membuat antar mukanya ke bahasa Indonesia. Adapun langkahnya sebagai berikut:

  • tambahkan “–env=LC_ALL=id_ID.utf8” pada bagian “finish-args” di berkas org.gnome.Recipes.json.
org.gnome.Recipes.json
  • Jalankan lagi!
Berbahasa Indonesia

 

Selamat Mencoba!

 


Rabu
07 Maret, 2018


face

This Hackfest are focused on GNOME Recipes and venues in AMIKOM university in Yogyakarta. https://en.m.wikipedia.org/wiki/University_of_Amikom_Yogyakarta

In last year,  I know there will be GNOME Hackfest in Yogyakarta and possibly in March. And I thought it wil be at end of March until Nuritzi tell in Endless Ambassador Telegram Group that it will be start from February 28th until March 2nd. I know this on February 25th. So I ask Kukuh Syafaat to go together and help since he also GNOME Foundation Members.

Actually at February 27th, there’s an outreach event at the local university. But I can’t manage to go because I arrived at Yogyakarta at 17:00 and it already finished. But I have dinner with few GNOME Developer (but no Mattias and Emel) for that day.

#1st Day

This is my first time joining GNOME Hackfest and I don’t know about Recipes at all. So I just learning for this day.

There’s two application, GNOME Recipes and Endless Recipes. We (actually I just silent becase I became student this time 🙂 define our goals in this hackfest.

Then continue with demo of GNOME Recipes and Endless Recipes. And this time I understand how both work. It’s make me interesting to learn about creating basic GNOME applications.

When Phillip gave demonstration, I was amazed by few tools from Endless, there’s Ingester who can collect data and download it to locals then preview it with Hatch Preview.

And from this first day, I understand how different about data between those two applications.

Apps Demo - Endless DemoApps Demo – Endless Demo

For first day dinner, I meet Endless CEO (Matt Dalio) for first time and we have dinner with all developer in Taj (India) Restaurant. Endless paid all food. Thank’s Endless.

Indian Restaurant

Note for first day can be read in https://wiki.gnome.org/Hackfests/Recipes2018/Day1.

#2nd Day

This day starting by Emanuelle explaining about constraints-based layout which is also first time for me to know it. There’s Autolayout.js and Emeus to help manage the layout.

Emanualle explain about constrain-based layoutAutolayout.js

In this day we have some question that Rama and Emel need to ask to “real life” students. Rama became coordinator for collection recipes from Indonesia’s side. It’s decided on first day.

After lunch Martin got the recipes data and started converting it into a shard. Matthias debugged some issues that showed up during demoing of recipes earlier. Me, personally I’m learning about building Recipes from source and understanding ingester.

After hackfest, I meet with Renato from Endless. Actually we already meet at first time dinner but he thinking that me and Kukuh are GNOMErs, not Endless Ambassador. We discuss about marketing stuff and strategy and also he told me that Endless will have office in Bali.

Dinner for this day, I help them to choose. You can guess where is it? The owner come to us and ask take picture with us.

Guess where is it?Guess where is it?

Endless


Senin
06 November, 2017


face

Did you know about EndlessOS? you can read here.

Since end of October, I’m joining Endless Ambassadors Programme. And on November 3rd until November 5th, we have reatreat in Jogjakarta with others Ambassador and Endless employee.

Today, I’m decide to use EndlessOS as my daily OS. I wanna try it, if it’s can fit with me or not. Before using EndlessOS, I’m using Ubuntu and Debian. Personally, since it’s using Linux, I have no struggle on it.

But EndlessOS is different. I according to my first impression before (I install it on another computer), it’s good for new comers but not for advance users.

Right now I’m using EndlessOS 3.3 on my X1 Carbon that using Intel Core i7 5600U and single boot. I’m downloading from Buaya. Yes that’s local repository. It’s because more faster than from the original download source.

First Impression

Fast!

Yes it’s fast, from boot until going to desktop. Even faster than BlankOn.

Nice

I love the wallpaper.

EndlessOS DesktopEndlessOS Desktop

Just Work

My laptop just work on it. Everything seems ok even I have some notes and I will put on last section of this post.

App Center

After installing, I need to make sure that my needs are ready in App Center, so I just randomly look at that.

App Center #1App Center #1

There’s local encyclopedia, so you don’t need to connect internet everytime.

App Center #2 – Encyclopedia

And there’s also Android Studio.

App Center #3 - Android StudioApp Center #3 – Android Studio

I install some of them according to my needs. They’re success installed on my system. One or two seem has problem when downloading the package. I was wondering that’s because internet connection not good. As far I know, that’s need international connection and mostly, this country connection not good at that.

AudacityAudacity – My lovely application

There’s some “weird” in App Center. It’s has two GIMP. Probably it can make new comers feel confuse at first time. They need to choose which one is the “real” one.

Two GIMPTwo GIMP

Steinberg UR242

Steinberg UR242Steinberg UR242

My external soundcard is working here (even I just only playing music from youtube). I have Steinberg UR242. And it’s smoothly can play song from youtube.

Let's RockLet’s Rock

What is missing?

TuxGuitar – Yeah! there’s no tuxguitar in App Center right now. This is my “must have apps all the time”.

Ardour – this is also in my list of apps.

Thunderbird – I can’t find it in App Center. My office use it and I already has backup from previous installation.

VirtualBox – No virtualbox. 🙂

Touchpad – My touchpad always stopped to able to scroll after suspending system (or close the screen). It’s happen in Ubuntu 17.10, and can be solved by installing xserver-xorg-input-synaptics.

Telegram Desktop – It’s not working for me. It’s always force close when I input phone number.

Translations

I found some translation that not fit (yes of course I


Rabu
01 November, 2017


face

“Cerita dari Negeri Matahari Terbit”

Foto diambil dari album openSUSE Asia Summit 2017. Thanks Pak Edwinz, Dhenandi, Kukuh, Takeyama, Pak Yan atas fotonya.

IMG_5011

This is my third time join openSUSE Asia Summit. Previously at Taiwan, Dec 2015. And last year at Yogyakarta. Last year I join as event coordinator for openSUSE Asia Summit 2016. and present as workshop speaker with tittle Manage Log using ELK Stack in openSUSE.

I came again as workshop speaker with title Testing Ansible Roles using Molecule at openSUSE.

This year, we went from Indonesia with big team. 11 people except me with various background. There are:

  1. M. Edwin Zakaria, veteran contibutor for openSUSE since 1999, https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1572
  2. Andi Sugandi, teacher on High School, former President of openSUSE Indonesia Community. https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1608.
  3. Sendy Aditya Suryana, last year join as Volunteer Coordinator for openSUSE Asia Summit 2016, https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1534
  4. Yan Arief Purwanto, since long-long time ago part of openSUSE Indonesia Community. https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1614.
  5. Kukuh Syafaat, president of openSUSE Indonesia Community, https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1502.
  6. Syah Dwi Prihatmoko. Currently working as DevOps Engineer at KodeKreatif. Last year join as Speaker too, https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1544.
  7. Saputro Aryulianto, working as OpenStack Engineer Certified at PT. Boer Technology (Btech), https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1570.
  8. Umul Sidikoh. Student at STT NURUL FIKRI, last year join for first time as speaker at openSUSE Asia Summit 2016 Yogyakarta. https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1616.
  9. Alin Nur Alifah. Working as Programmer at Universitas Pertanian Bogor, https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1590.
  10. Tonny Sabastian, working as CTO at Peentar.id, https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1548.
  11. Muhammad Dhenandi Putra, working as Engineer at PT. Excellent Infotama Kreasindo, https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1520.

One Day Before Summit

Committee invite us for welcome party at University. Many new people join. Cozy moment. Some people say hallo, talking about their project, about difference culture, community etc.

P1000551
P1000581

Day One Summit

IMG_4845

Its rainy day, little bit cold, 12 degree Celsius.

Summit be opening by Takeyama-san with receive album of summit from Indonesia Team as Host for last year to Japan Team.

First Keynote speaker from Richard Brown, Chairman of openSUSE Board), talk about openSUSE update from Nuremberg. Then Omo-san (Kazuki Omo) talk about security at FOSS. Ludwig Nussel from SUSE give talk about roadway to openSUSE Leap 15 which will be release at April 2018.

Lunch break. We all going to Surabaya Restaurant. Of course Indonesia food.
DSC08543

After lunch, various speaker start present on parallel class room.

IMG_4900
P1000721

Day one close by some of lightning talk. And Committee invite dinner with all volunteers and speakers.

P1000804

Day one end.

Day Two Summit

Weather still cold, and typhoon Lan will arrive Tokyo tonight.

Opening by Takeyama. Talk about


Sabtu
28 Oktober, 2017


face

Bulan ini saya jajan kartu suara baru buat bermain gitar. Sebelumnya nyoba beberapa kartu suara hasil minjem dari beberapa teman. Atas rekomendasi pakar studio rekaman Nada Musika, terpilihlah Steinberg UR242.

Steinberg UR242

Saya colokkan ke USB di MacOS, langsung ketedek. Saya langsung optimis bahwa ini akan berfungsi di linux (kecuali fitur DSP, karena saya belum tau entah ada atau tidak di linux). Dan benar saja, dicolokkan ke Ubuntu 17.10 langsung jreng.

Hasil lsusb, muncul Yamaha, karena memang sekarang milik Yamaha.

 

Pada halaman settings

Kamis
20 Juli, 2017


face

Okay, kali ini saya akan membuat cerpen yang mungkin panjang (mikir keras ...). bagaimana saya akhirnya memutuskan untuk membuat e-paspor. Gak tau kenapa saya kepingin aja buat nulis cerita ini. Penasaran?  Gak usah penasaran, ini bukan teka-teki. Ini cuma cerita. Awal Mula Tahun 2016 sebenarnya saya udah menargetkan untuk mbuat paspor, namun ada saja hal-hal … Continue reading Terima Kasih openSUSE Asia Summit, Akhirnya Saya Buat Paspor

The post Terima Kasih openSUSE Asia Summit, Akhirnya Saya Buat Paspor appeared first on dhenandi.com.


Kamis
13 April, 2017


face

Intro Oke, ditulisan ini saya bukan mau pamer punya MacBook baru atau gimana, saya cuma mau berbagi pengalaman saja lewat tulisan gimana saya memasang openSUSE Leap pada MacBook saya, jadi saya akan menceritakan sedikit kronologis dahulu kenapa saya memutuskan buat memasang openSUSE Leap di MacBook. Jadi, sebenarnya sehari-hari saya menggunakan openSUSE Leap 42.2 yang terpasang di laptop … Continue reading Memasang openSUSE Leap pada MacBook Air

The post Memasang openSUSE Leap pada MacBook Air appeared first on dhenandi.com.


Rabu
08 Pebruari, 2017


face

Xenyx 302 USBXenyx 302 USB

Beberapa hari yang lalu dapat pinjeman perangkat tersebut di atas. Yang minjemin juga ngasih gitar yang keren banget. Gitar nanti akan saya posting di artikel berikutnya.

Mixer mini ini juga nanti rencananya buat mencoba layanan musik Gritjam.com. Mixer ini memiliki antar muka USB, saat mencoba kemarin, pakai macOS dan langsung terdeteksi. Langsung terpikir bahwa ini akan otomatis terdeteksi juga di BlankOn. Dan ternyata benar.

lsusblsusb

Lihat di pengaturan, juga langsung nongol. Dicoba muter musik, langsung jreng.

Plug and JrengPlug and Jreng

Rabu
18 Januari, 2017


face

openSUSE Asia Summit 2015

Taiwan hari ke 4, 5/12/2015 | Sabtu (Setelah hampir setahun dalam draf blog)

Hari ini adalah pembukaan acara openSUSE Asia Summit 2015. Sedikit mendung, dengan menaiki metro dan turun di Stasium Technology Building. Kemudian dilanjut jalan kaki. Tak berapa lama, sampailah di tempat acara. National Taipei University of Education.

openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015

Acara dibuka oleh Alcho sebagai ketua panitia dan disambung dengan penyerahan album dari panitia Beijing ke panitia Taiwan.

openSUSE Asia Summit 2015

Keynote pertama oleh Michal Hrusecky dengan tema “What’s been going on in openSUSE latelly”. Keynote kedua oleh Alex Lau membawakan materi “Why’s SUSE matter”.

openSUSE Asia Summit 2015

Istirahat makan siang, kami menuju masjid raya terdekat dengan jalan kaki, berpegang pada panduan gps dari Pak Edwin. Hari ini nyoba makan siang di Warung Surabaya.(*dengan masakan Indonesia, bikin kangen rumah.

openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015

Setelah solat dan makan siang, kembali ke lokasi acara. Agenda hari ini adalah menonton Pak Edwin dongeng. Menceritakan tentang kesusksesan penggunaan opensuse di sekolah-sekolah di Yogyakarta. Sedangkan Pak Utian di ruangan berbeda memulai kelas Openstack.

openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015

Dilanjut dengan beberapa talk lain, diantaranya: Benchou dan narohiko.
Dan talk dari saya pukul 16.00. Maleo di openSUSE.

Baiklah Summit hari pertama selesai. Kami kembali ke msjid, buat magriban dan makan di restoran sebelahnya 🙂
openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015

Kemudian kembali ke stasiun terdekat untuk makan malam bareng panitia dan pembicara. Pak Utian pamit g ikut dan balik ke hotel.

Acara dinner kali ini ada misi lain, membawa opensuse asia summit 2016 ke Indonesia. Targetnya sih berunding dengan Tim Jepang, Hatto Chan, Takeyama dan Tim agar mengalah, summit 2016 di Indonesia, summit 2017 di Jepang.

openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015
openSUSE Asia Summit 2015

Pukul 11 malam dinner selesai. Kami kembali ke hostel. Sampai bertemu besok, Summit kedua, Taiwan hari kelima.

Estu


Senin
16 Januari, 2017


face

Apa itu Pengembang BlankOn?

Pengembang BlankOn adalah manusia-manusia yang aktif berkontribusi dan ingin membangun negeri dengan cara yang berbeda serta keahliah yang berbeda. Mereka terkumpul dalam sebuah kelompok yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut menertibkan dunia. Kelompok ini menghasilkan orang-orang yang cerdas, canggih, mandiri serta berbudi pekerti yang luhur. Selain itu menghasilkan efek samping berupa distribusi sistem operasi berbasis Linux dengan cita rasa nusantara. Kegiatan atau proyek tersebut bernama BlankOn.

BlankOn sendiri bisa diterjemahkan topi belangkon, namun kecenderungannya adalah Blank dan On. Di mana artinya dari keadaan ‘mati’ ke ‘nyala/hidup’. Dengan bahasa yang universal “from zero to hero”.

Proyek BlankOn sendiri dimulai sejak Februari 2005.

Kenapa Saya Bergabung dengan BlankOn?

Saat itu, kehidupan saya tidak seperti sekarang. Kondisi masih terlalu awam dan labil. Yang terpikir hanya saya harus belajar hal-hal yang teman-teman saya belum bisa. Seiring waktu, saya mendapatkan banyak pengetahuan dari teman-teman yang lebih senior lainnya.

Saya mengidolakan beberapa teman-teman yang sudah terlebih dahulu berada di Proyek BlankOn. Mereka keren dan baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam hal-hal teknis. Namun umumnya, saya ingin seperti mereka. Contoh sederhana, saya ingin seperti pak Mdamt ataupun pak Fajran yang saat itu punya ‘mainan’ banyak. Bapak berdua itu juga tidak pelit dalam hal berbagi ilmu ataupun mainan.

Saya juga bermimpi bisa membawa para Pengembang BlankOn ke tingkat yang lebih tinggi sehingga yang tidak pinter seperti saya, bisa ikut maju dan menjadi orang yang bermanfaat bagi sekelilingnya.

Obsesi tersebut beraneka macam jalannya, salah seorang mantan atasan saya pernah bilang “pengguna linux itu nantinya harus keren, laptop pakai Mac, ndak pakai sandal jepit bulukan, dan kalo perlu punya Ducati”. Ujaran tersebut begitu mengena dan berusaha saya terapkan. Kesemuanya sudah terpenuhi kecuali yang terakhir (tapi punya yang kelas bawah). Hahaha.

Manfaat

Bagi saya, saya sudah menganggap BlankOn ini sebagai keluarga. Bisa juga ini menjadi sekte sendiri. Saya tidak gampang berteman dengan orang, namun dari BlankOn ini saya jadi memiliki banyak teman baik. Banyak teman banyak rezeki.

Selain itu, saya jadi dikenal banyak orang karena aktif sebagai Pengembang BlankOn, efek sampingnya, gampang mencari pekerjaan (dalam beberapa waktu, malah sering kelimpahan banyak pekerjaan).

Di dunia komunitas, rekan-rekan yang lebih berpengalaman mendorong saya dan yang lainnya untuk aktif ke proyek hulu (upstream). Menjadikan saya dan yang lainnya bisa ikut kontribusi dalam tingkatan dunia. Ketemu para pengembang dari berbagai negara, juga bisa berkunjung ke berbagai negara.

Saya tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini tanpa ada teman-teman Pengembang BlankOn.

Ah itu dulu dah yang terpikir setelah semalem mengumumkan pensiun menjadi Pengembang BlankOn. Kalau ada yang ditanyakan, bisa komentar di bawah.

🙂


Senin
05 Desember, 2016


face

Buku Security & Hardening Mail Server atau dikenal juga dengan nama buku “Membangun Anti Spam Appliance & Improvement Performa Mail Server” merupakan buku tingkat lanjut dari seri buku Zimbra Mail Server. Seri buku tentang mail server terdiri dari :

  1. Buku Zimbra Fundamental & Medium (terdiri dari 2 varian, buku mini ukuran A5 kertas HVS dan buku standard ukuran B5 kertas art glossy dengan isi sama)
  2. Buku Mastering Zimbra
  3. Buku Security Hardening Mail Server

Buku setebal 95 halaman ini menggunakan kertas art glossy, dibundle dengan CD berisi software yang dibahas dalam buku.

cover-3d-hardening_h9

Jika kita menjadi Administrator mail server, salah satu tantangan terbesar bukanlah bagaimana melakukan instalasi mail server dengan cepat. Instalasi email server bisa dilakukan dalam waktu beberapa jam saja. Tantangan terbesar datang justru setelah mail server aktif dan mulai melakukan tugasnya mengirim dan menerima email. Saat itulah berbagai kendala mulai muncul, antara lain dalam bentuk :

  • Banyak spam berdatangan.
  • Banyak virus.
  • Blacklist IP.
  • Kegagalan pengiriman email ke tujuan.
  • Masuk ke Junk/Spam Folder.
  • Terkena DDos (distributed denial-of-service) attack.
  • Performa mail server lambat.

Buku ini membahas mengenai beberapa metode pengamanan Email Server terhadap serangan Spam, salah satunya menggunakan tools Anti Spam. Mailborder dan Untangle merupakan salah satu dari sekian banyak anti spam yang akan dibahas dalam buku panduan ini.

  1. Materi yang akan di bahas dalam buku ini mencakup :
  2. Overview Excellent
  3. Mail Server dengan Performa yang Berkualitas
  4. Membangun Anti Spam Appliance
  5. Konfigurasi Anti Spam Appliance
  6. Konfigurasi Mail Server
  7. Reporting
  8. Pengenalan Mailborder
  9. Instalasi dan Konfigurasi Mailborder
  10. Management Mailborder Anti Spam dan Anti Virus

Buku ini tersedia secara online pada Bukalapak maupun Tokopedia.


Minggu
04 Desember, 2016


face

Saya biasanya menggunakan perintah CLI (Command Line Interface) untuk manajemen docker images dan container, namun saat menggunakan Docker diatas Synology, saya tertarik juga menggunakan Portainer. Portainer adalah Simple Management UI for Docker.

Menggunakan portainer diatas Synology untuk manajemen Docker images & container secara mudah. Cukup jalankan 1 perintah :

[code lang=”bash”] docker run -d -p 9000:9000 -v /var/run/docker.sock:/var/run/docker.sock portainer/portainer[/code]

Setelah selesai, kita bisa mengakses port 5000 dari Docker host untuk membuka Portainer Dashboard. Selain docker host lokal, portainer bisa juga digunakan untuk mengelola remote docker host.

vavai-portainer2

portainer1

Bagi yang tertarik belajar Docker, saat ini Excellent sudah membuat buku Virtualisasi Modern Berbasis Docker.  Kini bahkan sudah tersedia versi mini dengan harga lebih rendah 😉

Buku ini sudah tersedia di Tokopedia maupun Bukalapak.


Kamis
01 Desember, 2016


face

Buku Excellent : Virtualisasi Modern Berbasis Docker adalah buku pertama Excellent terkait Docker yang ditujukan bagi para SysAdmin maupun developer yang membutuhkan literatur bahasa Indonesia mengenai teknologi virtualisasi terbaru.

Docker merupakan project open source yang menyediakan platform terbuka untuk developer maupun sysadmin untuk dapat membangun, membundel dan menjalankan aplikasi dimanapun dalam satu container yang ringan. Mirip seperti Virtual Machine (VM) namun lebih ringan karena Docker tidak membawa keseluruhan sistem operasi, melainkan berbagi sistem dengan host induknya.

vavai-docker

Dengan bekal pengalaman sebagai professional dibidang teknologi virtualisasi berbasis VMware, Proxmox, Citrix, KVM, OpenVZ, Xen dan lain-lain, team Excellent mengemas buku ini sebagai buku awal dalam mempelajari Docker untuk mendukung pekerjaan sehari-hari

Buku ini tersedia dalam 2 format, yaitu ukuran B5 (seperti majalah) dengan kertas art glossy dan ukuran A5 (buku mini) dengan kertas HVS.

Materi pembahasan mencakup hal-hal sebagai berikut :

  1. Overview Excellent
  2. Pengenalan Docker
  3. Instalasi Docker pada berbagai Sistem Operasi
  4. Penggunaan Perintah Dasar Docker
  5. Cluster Docker
  6. Docker Shipyard
  7. Docker Universal Control Plane
  8. Docker Rancher
  9. Studi Kasus Docker
  10. Backup & Restore

Buku ini tersedia secara online pada :

  1. Tokopedia
  2. Bukalapak

Selain buku-buku diatas, tersedia juga seri buku lain, antara lain Zimbra, Active Directory Samba 4, Mastering Proxmox, Security Hardening Mail Server dan Manajemen Webhosting dengan WHM/cPanel


Minggu
16 Oktober, 2016


face

Sebelumnya saya sudah pernah cerita tentang pengalaman saya menjadi relawan pada openSUSE Asia summit 2016, kalau mau baca bisa ke sini : https://dhenandi.com/opensuse-asia-summit-2016-a-little-stories-from-volunteer/ Dengan perasaan hati senang saya menulis tulisan ini, karena kemarin saya mendapatkan sepatu Fans keren buatan pak Iwan Tahari dari Pak Estu Fardani. Ketika openSUSE Asia Summit hari kedua, tiba-tiba sepatu saya … Continue reading Sepatu Keren dari openSUSE Asia Summit 2016

The post Sepatu Keren dari openSUSE Asia Summit 2016 appeared first on dhenandi.com.


Sabtu
15 Oktober, 2016


face

Well … I bought new machine for fun. Xiaomi Mi Notebook Air 12.5″ (http://xiaomi-mi.com/notebooks/xiaomi-mi-notebook-air-125-silver/). It was good machine. Good price, comparing to Apple Macbook 12. 🙂

I killed Microsoft Windows Chinese version that already on it. Replace it with BlankOn Linux for a while. My plan exactly put openSUSE Tumbleweed.

First installation was not good enough. My pointer not working. So I use keyboard for it. Another issue is when USB installer plugged before computer on, installation will not going well (my experience, the system install on USB it self).

After installation finish, everything going well and good.

openSUSE Tumbelweed on Mi Notebook Air 12.5"openSUSE Tumbelweed on Mi Notebook Air 12.5″

Older blog entries ->