Webinar Zimbra : Mindset untuk Team IT

Sejak beberapa hari terakhir saya mondar-mandir koordinasi dengan team untuk persiapan webinar mengenai Implementasi Zimbra. Saya kebagian jatah mengisi sesi “Introduction to Excellent” dan screenshot yang saya tampilkan ini adalah salah satu bagian slide yang saya presentasikan tadi siang.

Untuk materi slide lainnya akan coba saya upload secara bertahap dalam kesempatan berikutnya.

Saya memerlukan waktu beberapa hari menyesuaikan materi presentasi agar selaras dengan keseluruhan tema, merapikan screenshot, mengarang note untuk setiap slide yang disampaikan dan melakukan ujicoba presentasi apakah waktunya terlewat atau tidak, apakah ada yang kurang jelas dan apakah ada informasi yang perlu diperbaiki.

Sebelum membangun Excellent, saya bekerja sebagai staff IT di perusahaan. Ada beberapa mindset yang saat itu saya pegang namun setelah sekian waktu, saya melihat bahwa mindset tersebut perlu disesuaikan.

Misalnya yang pertama soal Good Admin is Everything. Ada pemikiran bahwa Admin yang bagus adalah Admin yang bisa segalanya. Timbul kesan, jika pekerjaan diserahkan pada vendor, lantas apa fungsi kita sebagai team IT.

Padahal ukurannya adalah keberhasilan implementasi. Pada result atau hasil akhir. Jika kita memiliki berbagai pengetahuan teknis tapi hasil akhir ternyata tidak berjalan sesuai harapan, tetap saja kita dianggap sebagai team IT yang gagal. Perlu diingat, vendor itu adalah partner, bukan musuh. Akan jauh lebih baik jika kerjasama yang terjalin memberikan dorongan pada kelancaran proses implementasi. Kita sebagai team internal bisa banyak belajar, menambah pengetahuan sekaligus bisa fokus pada aspek monitoring dan supervisi.

Ada kalimat, “Serahkan suatu pekerjaan pada ahlinya, jadi jika hendak melakukan implementasi Zimbra dan merasa ada banyak hal yang harus dilakukan dan khawatir tidak kuat, biar Excellent saja yang melakukannya 🙂 . Nanti prestasi implementasi tetap merupakan prestasi team IT yang mampu menjamin keberhasilan berjalannya pekerjaan, bukan prestasi vendor seperti Excellent.

Yang kedua mengenai Budget. “Jika menggunakan Zimbra Network Edition, berarti harus keluar biaya?” Iya, karena memang ada kebutuhan biaya lisensi.

“Wah kalau keluar biaya, sayang dong, kan pakai open source juga bisa”.

Benar bisa, tapi apakah sesuai dengan kebutuhan perusahaan?

Tidak semua pengeluaran uang itu pemborosan. Investment worth the risk. Jika kita tidak keluar biaya sama sekali tapi data email hilang atau perusahaan terkena penipuan hingga rugi ratusan juta atau miliaran rupiah; tender gagal terkirim karena informasinya terhambat di komunikasi email; itu namanya bukan cerdas melainkan celaka. Siapa yang salah? Ya kita sebagai IT yang merasa uang yang dikeluarkan adalah uang milik pribadi.

Jadi, serba berhemat untuk segala hal tidak selalu benar. Melakukan pengeluaran biaya untuk budget keperluan tertentu juga tidak selalu salah. Yang salah itu jika mengeluarkan uang bukan untuk keperluannya. Jika pengeluaran uang untuk kebaikan perusahaan dan untuk mendukung kelancaran operasional perusahaan, itu justru prestasi, karena bisa mencegah kerugian dan meningkatkan peluang keberhasilan.

Yang terakhir soal mindset, “Perusahaan belum butuh karena atasan atau pimpinan atau user juga belum minta”. Sebagai IT kita seharusnya one step ahead. Satu langkah didepan. Jika perlu 10 langkah didepan. Sebelum pimpinan atau atasan minta, kita sudah melakukan riset. Sudah ada usaha. Jangan seperti paku, saat digetok baru berjalan.

Bisa jadi pimpinan belum minta karena belum tahu atau belum terbayang pentingnya feature tersebut.

Misalnya, “buat apa pakai digital signature?”. Oh itu penting untuk memastikan identitas rekanan yang berkomunikasi dan mencegah pemalsuan identitas.

“Mengapa pakai 2 factor?”, agar email account lebih aman.

“Mengapa pakai delegated admin?”, supaya ada pembagian wewenang yang jelas.

Jika kita mau berusaha memperbaiki diri dan kualitas, nanti ada perbedaan. Ada jarak dari kondisi sebelumnya. Berbeda jika kita statis dan menikmati keamanan semu, nanti baru sadar saat sudah terlambat atau saat pimpinan tahu dari pihak lain.

Membersihkan Snapshot yang tertinggal

Pada dasarnya Snapshot yang dibuat oleh Snapper akan otomatis dihapus oleh snapper-cleanup.service jika sudah waktunya terhapus sesuai dengan konfigurasi yang ada di /etc/snapper/configs (atau dengan perintah su -c "snapper -c root get-config"). Namun adakalanya Snapper gagal menghapus satu atau beberapa Snapshot yang saya sendiri masih belum paham kenapa bisa gagal terhapus.

Jika kita tidak menghapus Snapshot yang gagal terhapus tersebut lama-kelamaan akan membuat ruang penyimpanan (HDD/SSD) semakin terkikis habis karena semakin banyak selisih data yang tersimpan antara Snapshot yang gagal terhapus dengan kondisi terkini.

Mendeteksi Snapshot yang gagal terhapus

Untuk mencaritahu apakah ada Snapshot yang gagal terhapus kita bisa membandingkan Snapshot yang terdata oleh Snapper dengan jumlah Snapshot yang ada di tempat Snapshot itu berada.

Melihat data Snapshot dengan Snapper

Untuk melihat daftar Snapshot yang terdata oleh Snapper, kita bisa menjalankan perintah su -c "snapper list". Atau jika Anda mempunyai lebih dari satu konfigurasi Snapper (seperti saya), tambahkan opsi -a untuk menampilkan daftar Snapshot dari semua konfigurasi, su -c "snapper list -a".

Melihat jumlah Snapshot

Untuk melihat jumlah sebenarnya dari Snapshot kita bisa menggunakan perintah standar Linux, yaitu su -c "ls /.snapshots". Untuk Snapshot yang berada di konfigurasi home (jika Anda punya), jalankan su -c "ls /home/.snapshots" dan seterusnya (bisa dilihat dengan perintah su -c "snapper list-configs").

Perintah ls harus dijalankan dengan akses root karena direktori tersebut hanya bisa dilihat oleh root.

Bandingkan

Bandingkan jumlah Snapshot yang muncul dari perintah snapper dan ls. Jika sama berarti aman. Jika jumlah dari perintah ls lebih banyak, berarti ada Snapshot yang tidak terdata oleh Snapper.

Perhatikan/cari nomor Snapshot yang ada di perintah ls tapi tidak ada di perintah snapper. Snapshot inilah yang seharusnya sudah terhapus.

Menghapus Snapshot

Ada tiga cara untuk menghapus Snapshot yang tidak kita inginkan ini, yaitu:

  1. Cara barbar, dengan perintah rm -rf.
  2. Cara yang cukup bisa diterima, dengan perintah btrfs subvolume delete.
  3. Cara elegan, yaitu dengan mengembalikan Snapshot tersebut ke Snapper untuk kemudian dihapus secara alami.

Backup data dan siapkan rescue system

Sebelum menjalankan proses penghapusan sebaiknya backup semua data penting ke partisi lain atau ke penyimpanan eksternal untuk mengantisipasi kerusakan sistem, terutama jika Anda memilih cara pertama dalam menghapus Snapshot.

Siapkan juga installer di thumb drive/flashdisk atau DVD untuk persiapan install ulang jika Anda menggunakan cara pertama, atau persiapan fsck (btrfs check) filesystem jika Anda menggunakan cara kedua. Cara kedua bisa dikategorikan aman, hanya saja menghapus Snapshot dengan cara ini kadang membuat metadata menjadi tidak klop yang membuat Btrfs menjadi read-only sebagai proteksi menghindari kehilangan data. Memperbaiki filesystem yang read-only juga bisa dilakukan dengan live system sebagai alternatif jika Anda sudah tidak memiliki ISO installer.

Cara pertama, rm -rf

  1. Cari tahu subvolid dari Snapshot yang akan dihapus dengan perintah su -c "btrfs subvol list /" | grep <nomor_snapshot>. Ganti <nomor_snapshot> dengan nomor Snapshot yang akan dihapus. Perintah ini akan menampilkan keluaran: ID <subvolid> gen <dan_seterusnya>.
  2. Kaitkan/mount subvolume di mana Snapshot yang akan dihapus berada ke sebuah direktori (biasanya /mnt) dengan perintah su -c "mount -o subvolid=<subvolid_dari_perintah_1> /dev/sdXY /mnt", di mana sdXY adalah partisi tempat Snapshot berada, misal /dev/sda2.
  3. Cari tahu lokasi Snapshot yang akan dihapus yang berada di /mnt dengan perintah su -c "btrfs subvol list /mnt" | grep <nomor_snapshot>. Ganti <nomor_snapshot> dengan nomor Snapshot yang akan dihapus.
  4. Hapus Snapshot tersebut dengan perintah su -c "rm -rfv /mnt/<nomor_snapshot>". Ganti <nomor_snapshot> dengan nomor Snapshot yang akan dihapus.
  5. Lepaskan kaitan/unmount subvolume dengan perintah su -c "umount /mnt".

Coba jalankan ulang komputer. Jika berjalan normal (tidak kernel panik atau kehilangan root filesystem) atau tidak menjadi read-only berarti aman dan Anda tidak salah hapus subvolume. Lanjutkan aktivitas Anda.

Cara kedua, btrfs subvol delete

Jalankan langkah 1 hingga 3 dari cara pertama. Lalu:

  • Hapus Snapshot tersebut dengan perintah su -c "btrfs subvol delete /mnt/<nomor_snapshot>/snapshot". Ganti <nomor_snapshot> dengan nomor Snapshot yang akan dihapus.
    Lanjutkan ke langkah 4 dan 5 dari cara pertama.

Coba jalankan ulang komputer. Jika berjalan normal (tidak menjadi read-only) berarti aman. Lanjutkan aktivitas Anda.

Cara ketiga, kembalikan Snapshot ke Snapper

Tidak terdatanya Snapshot oleh Snapper biasanya karena subvolume /.snapshots/<nomor_snaphot>/snapshot masih ada (tidak terhapus), tapi file /.snapshots/<nomor_snapshot>/info.xml hilang atau kosong (tidak ada isinya).

Untuk mengembalikan Snapshot ke Snapper kita harus mengembalikan file info.xml ke kondisi seharusnya. Caranya dengan menyalin file info.xml dari Snapshot yang lebih baru ke Snapshot yang tidak terdata Snapper lalu mengubah isinya supaya sesuai dengan Snapshot tersebut.

Kita umpamakan Snapshot yang tidak terdata adalah nomor 567 dan Snapshot yang lebih baru adalah nomor 1234 (anggap saja Snapshot nomor 568 sampai nomor 1233 sudah terhapus).

  1. Salin file info.xml dari Snapshot 1234 ke Snapshot 567 dengan perintah su -c "cp /.snapshots/1234/info.xml /.snapshots/567/".
  2. Ubah nomor Snapshot di info.xml yang baru saja disalin supaya sesuai dengan Snapshot 567 dengan perintah su -c "sed -i 's/1234/567/' /.snapshots/567/info.xml". Ubah juga tanggalnya jika perlu, tapi ini hanya opsional saja. Jika Anda tidak mengerti dengan yang saya maksud, baca file tersebut dengan perintah su -c "cat /.snapshots/567/info.xml", terdapat informasi tanggal di sana.
  3. Biarkan sistem menghapus Snapshot tersebut secara alami pada waktunya. Jika Anda tidak sabar ingin segera menghapusnya, jalankan service snapper-cleanup dengan perintah su -c "systemctl start snapper-cleanup.service". Atau bisa langsung menggunakan perintah snapper, yaitu su -c "snapper -c root delete 567", bisa juga ditambah opsi --sync supaya ruang penyimpanan segera dikembalikan, su -c "snapper -c root delete --sync 567".

Hapus Snapshot yang berada di konfigurasi lain

Jika Anda punya lebih dari satu konfigurasi Snapper (seperti saya) dan juga ada Snapshot yang gagal terhapus, ulangi cara di atas untuk konfigurasi lain. Yang membedakan hanya lokasi di mana direktori .snapshots berada. Anda bisa memeriksanya dengan perintah su -c "snapper list-configs", di sana ditunjukkan di mana lokasi subvolume berada, tinggal ditambahkan .snapshots di belakangnya. Misal untuk subvolume /home lokasi .snapshots berada di /home/.snapshots, dan seterusnya.


Tulisan ini bisa dibaca juga di https://kikisyahadat.github.io/2020/07/29/membersihkan-snapshot-yang-tertinggal.html

Plugins Gallery untuk Menggantikan Gallery Block WordPress (Images Size)

Saya sebenarnya cukup senang dengan editor Wodpress versi yang baru (Gutenberg), hanya saja ada kesulitan dalam menggunakan block gallery-nya.

Saat menggunakan gallery block bawaan Gutenberg, saat posisi draft tampilan grid gallery block-nya rapi seperti ini :

Namun saat publish, hasilnya jadi berantakan seperti ini :

Saya tahu, ukuran size gambar-nya memang berbeda-beda. Justru karena itu saya kepingin si gallery lebih cerdas, jadi menyesuaikan ukurannya agar lebih enak dilihat. Buktinya saat posisi draft, ukurannya bisa seragam semua kok.

Setelah beberapa lama mencari-cari konfigurasi atau settings yang tepat, browsing ke beberapa literatur tanpa hasil dan mencoba utak-atik coding khawatir tidak standard, akhirnya saya mencoba plugins lain yang fungsinya sejenis.

Akhirnya ketemu plugins Simply Gallery Box atau Simply Lightbox. Plugins ini berfungsi sebagai pengganti gallery block bawaan Gutenberg WordPress. Bisa digunakan persis sama sebagaimana gallery block, namun hasilnya excellent 🙂

Ini contoh draft menggunakan Simply Gallery Box

Dan ini adalah hasil saat publish/view :

Hasilnya konsisten, tampilannya lebih enak dilihat dan dibuat model grid. Selain tampilan grid, Simply Gallery Block juga menyediakan model tampilan Masonry Gallery (penempatan gambar disesuaikan dengan tinggi rendah gambar, menyamakan tinggi gambar tapi menyesuaikan lebar, jadi tidak monoton sama rata seperti grid) dan ada juga model Justified, yang akan menyamakan tinggi gambar namun mempertahankan lebarnya.

Contoh penggunaan gallery ini saya gunakan pada posting “Membangun Rumah Kabin/Rumah Kayu di Kebun Pisang”.

Eskalasi Masalah Email : mailbox unavailable invalid DNS MX or A/AAAA resource record

Beberapa hari yang lalu ada support ticket yang masuk ke Excellent. Pihak klien mengeluh bahwa mereka tidak bisa mengirim email ke pihak rekanan di Jerman dengan pesan error : “550-Requested action not taken: mailbox unavailable, 550 invalid DNS MX or A/AAAA resource record”

Pihak klien berlangganan paket layanan SMTP Relay Excellent. Layanan ini berfungsi sebagai relay server, yang akan meneruskan email dari server klien ke tujuan.

Berdasarkan pesan error tersebut, team Excellent menginformasikan bahwa email di tujuan tidak ada (unavailable) dan pihak klien bisa menginformasikannya pada pihak rekanan.

Pihak klien bersikukuh bahwa email di tujuan ada dan baik-baik saja, karena jika dikirim via Gmail, emailnya bisa diterima. Atas dasar itu, saya membantu team support untuk melakukan investigasi lebih jauh dan meminta izin pada pihak klien untuk melakukan simulasi dan test ke tujuan email yang dimaksud.

MENGECEK MX RECORDS
Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencoba mengirimkan email via telnet. Jika menggunakan CLI, favorit saya adalah menggunakan telnet dan menggunakan aplikasi swaks. Untuk tahap awal saya menggunakan telnet karena sifatnya masih diagnosa.

Untuk melakukan telnet, saya harus mengetahui MX records domain tujuan. Nantinya saya akan melakukan telnet ke port 25 pada server yang tercantum dalam list MX records.

Saya bisa menggunakan website DNS check (misalnya https://dnscheck.id) namun karena saya sedang melakukan investigasi via CLI, saya menggunakan perintah CLI : dig.

dig namadomain.de mx

;; ANSWER SECTION:
namadomain.de. 3600 IN MX 10 mx01.namadomainserver.de.
namadomain.de. 3600 IN MX 10 mx00.namadomainserver.de.

Ada 2 MX records yang terdaftar dan masing-masing memiliki priority 10. Asumsi pertama saya adalah, jangan-jangan salah satu server bermasalah yang menjadikan error tersebut intermittent. Misalnya sebagian server berhasil berkomunikasi namun yang lainnya gagal. Sebagai contoh koneksi dari SMTP Relay Excellent gagal terhubung ke salah satu server yang bermasalah, sedangkan Gmail dan lain-lain berhasil terhubung karena koneksinya terhadap server yang tidak bermasalah.

Asumsi tersebut hanya dugaan dan harus diuji dengan mencoba mengirimkan email.

UJICOBA KONEKSI PORT PENERIMAAN EMAIL
Port SMTP ada bermacam-macam, misalnya port 465 untuk koneksi SMTP SSL dan port 587 untuk Submission port TLS. Namun, untuk penerimaan email, default portnya adalah port 25 dan saya bisa menggunakan telnet kemudian bicara dengan bahasa mesin ke server tujuan.

telnet mx00.namadomainserver.de 25

Trying 212.227.xx.xx…
Connected to mx00.namadomainserver.de.
Escape character is ‘^]’.
220 namadomainserver.de (mxeue011) Nemesis ESMTP Service ready

Pesan diatas menunjukkan bahwa port 25 disisi server tujuan terbuka dan server mereka siap menerima koneksi. Hal itu dinamakan dengan HELO. Jadi saya membalas pesan tersebut dengan perintah EHLO. EHLO adalah bahasa prokem dari HELO. Ini salah satu kebiasaan dari para ahli IT yang tidak mau repot-repot mencari istilah, hehehe…

ehlo namadomainserver.de

250-namadomain.de Hello namadomainserver.de
250-8BITMIME
250-SIZE 157286400
250 STARTTLS

Baris diatas adalah pemberitahuan dari server setelah saya “kulonuwun” menjawab helo mereka dengan ehlo. Server memberitahukan bahwa mereka mendukung koneksi 8-bit karakter, dengan maksimum attachment 157286400 (150 MB) dan siap menerima koneksi dengan protokol secure TLS.

Setelah server tujuan menginformasikan hal tersebut, saya bisa mengirimkan email dengan menyebutkan email pengirim, email tujuan, subject dan isi email. Saya mulai dengan menyebutkan email pengirim :

mail from:namauser@perusahaan-indo.com

550-Requested action not taken: mailbox unavailable
550 invalid DNS MX or A/AAAA resource record

Ternyata jawabannya langsung error, sama dengan pesan error yang disampaikan pihak klien.

Karena penasaran, saya coba sekali lagi dan hasilnya sama.

Berarti server mx00.namadomainserver.de gagal dihubungi. Saya mencoba ke server kedua, yaitu mx01.namadomainserver.de, ternyata hasilnya sama.

Kesimpulan pertama : Server tujuan memiliki konfigurasi yang sama dan keduanya sama-sama menghasilkan pesan error. Setelah ini, apa yang akan dilakukan? Premis atau asumsi kedua saya adalah, ada masalah dengan si pengirim. Jadi saya melanjutkan investigasi, kali ini menggunakan alamat email saya sebagai pengirim.

UJICOBA PENGIRIMAN EMAIL MENGGUNAKAN DOMAIN LAIN

Untuk keperluan ini, saya menggunakan perintah telnet yang sama.

telnet mx00.namadomainserver.de 25

Trying 212.227.xx.xx…
Connected to mx00.namadomainserver.de.
Escape character is ‘^]’.
220 namadomainserver.de (mxeue010) Nemesis ESMTP Service ready
ehlo namadomainserver.de
250-namadomainserver.de Hello namadomainserver.de
250-8BITMIME
250-SIZE 157286400
250 STARTTLS

mail from:hosokawa.fujitaka@excellent.co.id

250 Requested mail action okay, completed

Berhasil. Ternyata menggunakan domain excellent.co.id berhasil lolos dari pengecekan server tujuan. Ada kemungkinan masalahnya benar disisi domain pengirim.

Untuk memastikannya, saya mencoba koneksi ke MX server kedua :

telnet mx01.namadomainserver.de 25

Trying 217.72.xx.xx…
Connected to mx01.namadomainserver.de.
Escape character is ‘^]’.
220 namadomainserver.de (mxeue110) Nemesis ESMTP Service ready
ehlo namadomainserver.de
250-namadomainserver.de Hello namadomainserver.de
250-8BITMIME
250-SIZE 157286400
250 STARTTLS

mail from:vavai@excellent.co.id
250 Requested mail action okay, completed

Hasilnya sukses kembali. Dari hal diatas, bisa disimpulkan kesimpulan awal sebagai berikut :

  1. Server tujuan valid dan tidak ada issue. Hal ini karena kedua server mereka memberikan respon yang sama
  2. Problem terjadi pada domain pengirim : namaperusahaan-indo.com karena jika mengirim email menggunakan domain excellent.co.id (atau domain lain yang normal) tidak ada kendala
  3. Jika merujuk pesan error : 550-Requested action not taken: mailbox unavailable 550 invalid DNS MX or A/AAAA resource record pesan ini kemungkinan besar bukan berarti alamat email tujuan tidak ada sesuai asumsi semula, melainkan adanya mekanisme pengecekan sender domain (biasanya sebagai bagian dari proteksi anti spam) dan domain namaperusahaan-indo.com gagal memenuhi kriteria ini, sedangkan domain excellent.co.id berhasil memenuhi kriteria

PENGECEKAN INTEGRITAS DNS
Berdasarkan hasil analisa point 3, saya melanjutkan investigasi dengan mencoba mengecek integritas DNS domain namaperusahaan-indo.com melalui alamat https://intodns.com dan menemukan hasil sebagai berikut :

MX A request returns CNAME WARNING: MX records points to a CNAME. CNAMEs are not allowed in MX records, according to RFC974, RFC1034 3.6.2, RFC1912 2.4, and RFC2181 10.3. The problem MX record(s) are: mail.namaperusahaan-indo.com points to [‘namaperusahaan-indo.com’] This can cause problems

Hasil pengecekan diatas membuktikan premis tersebut, menunjukkan bahwa ada kesalahan konfigurasi DNS untuk domain namaperusahaan-indo.com dimana seharusnya MX records merujuk pada nama yang ditranslasikan ke A records.

Pada kasus domain klien namaperusahaan-indo.com, MX records benar merujuk pada nama mail.namaperusahaan-indo.com namun nama mail.namaperusahaan-indo.com merujuk pada alias (cname) dari namaperusahaan-indo.com.

Kemungkinan besar hal diatas terjadi karena email namaperusahaan-indo.com menggunakan layanan email hosting bagian dari web hosting dan pihak ISP mengambil cara mudah melakukan setting MX menggunakan alias name. Hal ini tidak sesuai RFC dan kaidah konfigurasi mail server.

Sesuai RFC 1912 : [RFC 1034] in section 3.6.2 says this should not be done, and [RFC
974] explicitly states that MX records shall not point to an alias
defined by a CNAME. This results in unnecessary indirection in
accessing the data, and DNS resolvers and servers need to work more
to get the answer
.

Referensi : https://tools.ietf.org/html/rfc1912

SOLUSI

Sebagai solusi, saya meminta pada pihak klien untuk menghubungi ISP hosting mereka dan menyesuaikan isian records mail.namaperusahaan-indo.com dari awalnya CNAME terhadap namaperusahaan-indo.com menjadi A records

$ nslookup mail.namaperusahaan-indo.com

Server: 127.0.0.53
Address: 127.0.0.53#53
Non-authoritative answer:

mail.namaperusahaan-indo.com canonical name = namaperusahaan-indo.com.

Name: namaperusahaan-indo.com

Address: 203.201.XXX.XXX

Berikut adalah contoh permintaan penggantian records DNS tersebut :

/*Hi NOC ISP

Mohon dapat dilakukan penggantian/penyesuaian records DNS pada domain kami namaperusahaan-indo.com untuk records mail.namaperusahaan-indo.com sebagai berikut :

Sebelumnya

mail.namaperusahaan-indo.com IN CNAME namaperusahaan-indo.com

Menjadi

mail.namaperusahaan-indo.com IN A 203.201.XXX.XXX

Jika sudah dilakukan, harapa menginformasikannya kepada kami agar dapat kami check dan validasi kembali.

*/

Setelah pihak ISP melakukan pengubahan, pihak klien bisa melakukan pengetesan apakah error seperti yang ditunjukkan pada : https://intodns.com masih ada atau sudah diperbaiki.

HASIL AKHIR
Setelah dilakukan penyesuaian MX records oleh pihak ISP hosting klien, saya melakukan testing ulang dengan telnet port 25. Hasilnya, domain klien mendapat pesan sukses :

250 Requested mail action okay, completed

Setelah mengkonfirmasi hasil tersebut di kedua server MX tujuan, saya menginformasikan kembali pada pihak klien mengenai hasil akhir dan meminta mereka melakukan pengiriman email dengan di cc-kan ke alamat team support Excellent.

Hasil pengiriman email dari pihak klien mendapat balasan dari rekanan mereka di Jerman bahwa email berhasil diterima dengan baik.

Mission accomplished.

CATATAN :
Sebagai email services provider (ESP), Excellent menyediakan layanan lengkap terkait email sebagai berikut

  1. Layanan Excellent Managed Services Mail Server : https://www.excellent.co.id/vps
  2. Layanan SMTP Relay : https://www.excellent.co.id/smtp
  3. Layanan Anti Spam dan Anti Virus : https://www.excellent.co.id/asav
  4. Layanan SSL
  5. Layanan lisensi email server berbasis Zimbra
  6. Dan lain-lain

Menjalankan Free Download Manager di openSUSE

Free Download Manager adalah salah satu aplikasi download manager populer di Windows sebagai alternatif dari Internet Download Manager (IDM) yang berbayar. Saya biasa menggunakan ini ketika masih menggunakan Windows XP dulu, tapi sayangnya dulu tidak ada versi Linux.

Namun sejak versi 6 Free Download Manager menyediakan versi Linux walaupun berbentuk .deb. Tapi ini bisa kita gunakannya di openSUSE, walaupun openSUSE menggunakan .rpm. Free Download Manager untuk Linux bisa diunduh dari halaman ini.

Untuk dijalankan di openSUSE, setelah file freedownloadmanager.deb berhasil diunduh, ekstrak file tersebut dengan klik kanan > extract dari file manager. Di dalam folder hasil extrak ada beberapa file yang salah satunya bernama data.tar.xz. Extrak file tersebut dan ubah folder hasil extrak dari data menjadi FDM (dengan huruf besar) lalu pindahkan ke ~/bin di homedir.

Lalu buat sebuah file teks dengan nama fdm (dengan huruf kecil) dan isi file tersebut dengan:

#!/bin/bash

DIR=$(dirname "$0")
export QT_QPA_PLATFORM=xcb # Jika menggunakan sesi Wayland
exec $DIR/FDM/opt/freedownloadmanager/fdm "$@"

Opsi export QT_QPA_PLATFORM=xcb digunakan jika kita menggunakan sesi Wayland, karena sepertinya Free Download Manager belum memiliki dukungan untuk Wayland.

Buat file tersebut menjadi executable dengan perintah chmod +x ~/bin/fdm atau melalui file manager Dolphin dengan cara klik kanan > Properties, pada tab Permissions centang Is executable.

Pindahkan atau salin file freedownloadmanager.desktop dari ~/bin/FDM/usr/share/application ke ~/.local/share/applications (buat folder applications jika tidak ada). Juga pindahkan atau salin file icon.png dari ~/bin/FDM/opt/freedownloadmanager ke ~/.local/share/icons (buat folder icons jika tidak ada), lalu ubah namanya dari icon.png menjadi fdm.png.

Buka file freedownloadmanager.desktop yang berada di ~/.local/share/applications menggunakan teks editor. Ubah bagian Exec=/opt/freedownloadmanager/fdm menjadi Exec=fdm saja. Ubah juga bagian Icon=/opt/freedownloadmanager/icon.png menjadi Icon=fdm.

Terakhir, periksa apakah paket libgthread-2_0-0 sudah terpasang dengan perintah zypper search --installed-only libgthread. Jika Anda memasang openSUSE dengan cara minimal/custom install seperti saya bisa saja belum terpasang. Jika belum terpasang Anda bisa memasangnya dengan perintah su -c "zypper install libgthread-2_0-0" atau bisa juga hanya mengunduhnya saja dengan perintah su -c "zypper install --download-only libgthread-2_0-0" lalu cari file hasil unduh di /var/cache/zypp/packages/repo-oss/x86_64 extrak file tersebut lalu pindahkan atau salin isinya ke ~/bin/FDM/opt/freedownloadmanager/lib.

Langkah terakhir adalah mengintegrasikannya dengan web browser yang kita gunakan. Jika menggunakan Falkon kita bisa mengaturnya di Preferences > Downloads, centang bagian Use external download manager dan isi kolom Executable: dengan fdm. Untuk browser lain seperti Firefox, Chrome/ium bisa memasang FDM extension melalui web store masing-masing (saya belum mencobanya).

Setelah semua selesai kita bisa langsung menggunakannya untuk mengunduh openSUSE Leap terbaru.

Pengumuman Rilis 15.2

Pengumuman Rilis openSUSE 15.2

Rilis openSUSE Leap 15.2 Membawa Hal-hal Menarik Baru untuk Paket Kecerdasan Buatan (AI), Pembelajaran Mesin (ML), dan Paket Kontainer

02/07/2020

NUREMBERG, Jerman – Tim rilis openSUSE dengan bangga mengumumkan ketersediaan openSUSE Leap 15.2 yang dikembangkan oleh komunitas. Pengguna profesional, mulai dari destop dan server pusat data hingga host kontainer dan Mesin Virtual (VM), akan dapat menggunakan Leap 15.2 sebagai sistem operasi Linux berkualitas tinggi, mudah digunakan, kelas perusahaan.

Rilis ini menyediakan pembaruan keamanan, perbaikan bug, peningkatan jaringan, dan banyak fitur baru untuk pengguna openSUSE yang bergantung pada distribusi yang stabil dan dapat diskalakan. Platform Linux openSUSE yang kaya dan matang mendukung beban kerja pada sistem x86-64, ARM64 dan POWER. Ketergantungan paket inti yang ditemukan di versi Leap 15 sebelumnya dan teknologi sumber terbuka yang lebih baru di Leap 15.2 siap untuk berbagai kasus penggunaan dan beban kerja.

“Leap 15.2 mewakili langkah besar ke depan dalam ruang Kecerdasan Buatan,” kata Marco Varlese, seorang pengembang dan anggota proyek. “Saya sangat senang bahwa pengguna akhir openSUSE akhirnya dapat mengkonsumsi kerangka kerja Machine Learning / Deep Learning dan aplikasi melalui repositori kami untuk menikmati ekosistem yang stabil dan terkini.”

Apa yang Baru

Beberapa paket Kecerdasan Buatan (AI) dan Pembelajaran Mesin (ML) yang menarik ditambahkan dalam Leap 15.2.

Tensorflow: Kerangka kerja untuk pembelajaran mendalam yang dapat digunakan oleh para ilmuwan data, menyediakan perhitungan numerik dan grafik aliran data. Arsitekturnya yang fleksibel memungkinkan pengguna untuk menyebarkan komputasi ke satu atau lebih CPU di desktop, server, atau perangkat seluler tanpa menulis ulang kode.

PyTorch: Dibuat untuk sumber daya server dan komputasi, pustaka pembelajaran mesin ini mempercepat kemampuan pengguna daya untuk membuat prototipe proyek dan memindahkannya ke penerapan produksi.

ONNX: Format terbuka yang dibangun untuk mewakili model pembelajaran mesin, memberikan interoperabilitas dalam ruang alat AI. Ini memungkinkan pengembang AI untuk menggunakan model dengan berbagai kerangka kerja, alat, runtime, dan kompiler.

Grafana dan Prometheus adalah dua paket baru yang dikelola yang membuka kemungkinan baru bagi para ahli analitis. Grafana memberi pengguna akhir kemampuan untuk membuat analisis visual interaktif.
Paket pemodelan data yang kaya fitur: Graphite, Elastic, dan Prometheus memberi pengguna openSUSE kebebasan yang lebih besar untuk membuat, menghitung, dan menguraikan data dengan lebih cerdas.

Secara umum, paket perangkat lunak dalam distribusi bertambah ratusan. Bukan hanya Penggabungan data, Pembelajaran Mesin dan AI yang baru di openSUSE Leap 15.2; Kernel Real-Time untuk mengelola waktu mikroprosesor untuk memastikan peristiwa kritis waktu diproses seefisien mungkin juga tersedia dalam rilis ini.

“Penambahan kernel real time ke openSUSE Leap membuka kemungkinan baru,” kata Gerald Pfeifer, ketua dewan proyek. “Pikirkan edge computing, embedded device, data capture, semuanya mengalami pertumbuhan luar biasa. Secara historis banyak di antaranya telah menjadi domain dengan pendekatan tertutup; openSUSE sekarang membukanya untuk pengembang, peneliti dan perusahaan yang tertarik menguji kemampuannya secara langsung atau mungkin bahkan ikut serta dalam berkontribusi. Sebuah domain lain yang open source membantu membukanya!”

Teknologi Kontainer

Pengguna openSUSE akan memiliki lebih banyak kekuatan untuk mengembangkan, mengirim dan menyebarkan aplikasi kontainer menggunakan teknologi kontainer yang lebih baru yang dikelola dalam distribusi.

Untuk pertama kalinya, Kubernetes adalah paket resmi dalam rilis. Ini memberikan dorongan besar untuk kemampuan mengatur wadah, memungkinkan pengguna untuk mengotomatiskan penyebaran, skala, dan mengelola aplikasi kemas.

Helm, manajer paket untuk Kubernetes, juga ditambahkan. Helm membantu pengembang dan administrator sistem mengelola kompleksitas dengan mendefinisikan, menginstal, dan memutakhirkan aplikasi Kubernetes yang paling kompleks.

Container Runtime Interface (CRI) menggunakan Open Container Initiative (OCI) conformant runtimes (CRI-O) juga baru untuk rilis ini. CRI-O adalah alternatif yang ringan untuk menggunakan Docker sebagai runtime, yang memungkinkan Kubernetes untuk menggunakan runtime yang sesuai dengan OCI sebagai runtime kontainer untuk menjalankan pod atau proses yang berjalan pada sebuah cluster.

Bahkan dengan Docker, penggunaan layanan microservices akan aman berkat paket kontainer lebih banyak yang dibawa dalam rilis ini.

Cilium membantu mengamankan konektivitas jaringan dan menyeimbangkan beban antara wadah aplikasi dan layanan yang dikerahkan menggunakan kerangka kerja wadah Linux seperti Docker dan Kubernetes. Cilium menyediakan cara yang efisien untuk mendefinisikan dan menegakkan kebijakan keamanan lapisan jaringan dan lapisan aplikasi, yang didasarkan pada identitas wadah / pod.

Leap 15.2 menawarkan peran sistem Server dan Server Transaksional. Peran sistem Server menggunakan seperangkat kecil paket yang cocok untuk server dengan antarmuka mode teks sedangkan peran sistem Server Transaksional mirip dengan peran Server, tetapi menggunakan sistem file root read-only untuk menyediakan pembaruan sistem secara atomik dan otomatis dari sistem tanpa mengganggu sistem yang sedang berjalan.

Proses Instalasi

Installer openSUSE akan tetap kuat dan serbaguna seperti sebelumnya, memungkinkan untuk dengan mudah mengubah setiap aspek sistem termasuk mitigasi untuk serangan berbasis CPU seperti Specter atau Meltdown. Proses instalasi menghadirkan beberapa peningkatan seperti dialog yang lebih ramah pengguna untuk memilih peran sistem, peningkatan informasi tentang kemajuan instalasi, kompatibilitas yang lebih baik dengan bahasa kanan-ke-kiri seperti bahasa Arab dan banyak perangkat tambahan kecil lainnya.

Leap 15.2 menawarkan deteksi yang lebih akurat dari partisi MS Windows yang dienkripsi dengan BitLocker dan manajemen yang lebih baik dari perangkat penyimpanan untuk Raspberry Pi. Pemasang juga memudahkan untuk menyesuaikan mitigasi untuk serangan berbasis CPU seperti Specter atau Meltdown.

Instalasi tanpa pengawasan dengan AutoYaST sangat ditingkatkan. Banyak aspek yang dipoles di semua tingkatan. Lebih banyak opsi konfigurasi ditambahkan dan kemungkinan kesalahan dalam profil pengguna dan proses instalasi sekarang ditangani dan dilaporkan dengan cara yang lebih masuk akal dan informatif.

Perbaikan ke YaST – Alat konfigurasi paling lengkap untuk Linux

YaST Partitioner tetap menjadi alat paling ampuh untuk mengkonfigurasi semua jenis teknologi penyimpanan di Linux, baik selama instalasi sistem atau pada tahap selanjutnya. Rilis ini menggabungkan kemungkinan untuk membuat dan mengelola sistem berkas Btrfs yang diperluas ke beberapa perangkat, dan rilis ini juga memungkinkan penggunaan teknologi enkripsi yang lebih maju.

Leap 15.2 adalah rilis openSUSE pertama yang memperkenalkan perubahan bertahap yang membagi konfigurasi sistem antara /usr/etc dan /etc direktori. YaST mendukung struktur baru ini di semua modul yang terkena dampak, menawarkan titik sentral kepada administrator sistem untuk memeriksa konfigurasi yang akan membantu mereka selama masa transisi dan seterusnya.

Leap dapat dieksekusi di atas Windows Subsystem for Linux (WSL), memberikan kekuatan openSUSE ke dunia Windows. Versi YaST di Leap 15.2 meningkatkan kompatibilitas dengan platform itu, khususnya ketika menjalankan YaST Firstboot untuk melakukan semua penyesuaian awal yang diperlukan.

Lingkungan Destop

Sementara lingkungan destop dalam rilis ini akan menjadi baru, fokusnya tetap pada rilis tetap yang lebih konservatif. Versi Dukungan Jangka Panjang untuk KDE Plasma 5.18 LTS tersedia di Leap 15.2. LTS yang lebih baru memiliki jumlah fitur yang diperbaiki dan fitur baru yang signifikan. Notifikasi lebih jelas, pengaturan disederhanakan dan tampilan keseluruhan yang lebih menarik. GNOME 3.34 pembaruan dari sebelumnya versi 3.26 yang tersedia di Leap 15.1. GNOME baru menyediakan sejumlah penyegaran visual untuk sejumlah aplikasi. Lebih banyak sumber data di Sysprof membuat profil kinerja aplikasi lebih mudah dan ada beberapa peningkatan untuk Builder termasuk pemeriksa D-Bus terintegrasi. Xfce memiliki pembaruan kecil ke versi 4.14 setelah empat tahun lebih pengembangan; versi baru menghasilkan banyak pembaruan dan fitur, termasuk peningkatan untuk manajer jendela, manajer berkas, pencari aplikasi dan manajemen daya.

Imej Awan, Perangkat Keras dan Arsitektur

Imej cloud Linode untuk Leap tersedia saat ini dan siap untuk semua kebutuhan infrastruktur. Layanan cloud hosting akan menawarkan Leap 15.2 dalam beberapa minggu mendatang seperti Amazon Web Services, Azure, Google Compute Engine, dan OpenStack. Leap 15 terus dioptimalkan untuk skenario penggunaan cloud sebagai host dan guest virtualisasi.

Komputer dan notebook TUXEDO Linux dapat dibeli dengan Leap 15.2 yang sudah diinstal.

Skenario penerapan Leap meliputi fisik, virtual, host dan guest, dan cloud. Versi untuk arsitektur lain seperti ARM64 dan POWER diharapkan akan keluar dalam beberapa minggu mendatang.

Komponen Inti

Kompiler, bahasa scripting, alat konfigurasi sistem dan antarmuka pengguna grafis semuanya telah ditingkatkan.

GNU Compiler Collection 7 hingga 9 tersedia dalam versi Leap minor yang lebih baru ini bersama dengan versi terbaru dari paket Grafik 3D Mesa untuk mendukung penggunaan sistem operasi kelas profesional. Leap 15.2 memiliki versi 234 yang sama dengan systemd yang digunakan dalam Leap 15.0 dan 15.1.

Dukungan perangkat keras grafis baru telah di-backport untuk rilis Leap 15.2 dan Linux Kernel 5.3 akan digunakan untuk rilis ini. Fitur-fitur kernel secara otomatis tersedia di Leap karena distribusi berbagi kernel yang sama dengan SUSE Linux Enterprise (SLE).

openSUSE Leap 15.2 adalah distribusi dengan paket komunitas yang dibangun di atas sumber inti dari SLE 15 SP 2. Berbagi pakai komponen inti dan keselarasan dengan SLE membuat migrasi ke produk SUSE enterprise akan mudah bagi profesional yang ingin memperpanjang siklus hidup pemeliharaan dan keamanan melewati siklus hidup Leap. Bermigrasi dari versi komunitas Leap ke SUSE Linux Enterprise adalah opsi yang tersedia bagi mereka yang ingin bermigrasi. Migrasi dari instalasi server Leap openSUSE ke SUSE Linux Enterprise mudah bagi integrator sistem yang mengembangkan kode Leap yang mungkin memutuskan untuk pindah ke versi perusahaan untuk SLA, sertifikasi, penyebaran massal, atau Dukungan Jangka Panjang yang diperpanjang.

Paket Kesehatan

Rilis Leap ini meningkatkan kemampuan layanan kesehatan. Sistem manajemen rumah sakit dan kesehatan yang memenangkan penghargaan, GNU Health hadir dalam versi 3.6.4. Sistem ini memiliki GUI yang diperbarui dan disiapkan untuk pelacakan pandemi COVID-19, termasuk kode ICD-10 yang diperbarui dan fungsi laboratorium yang ditingkatkan. GNU Health dapat langsung berinteraksi dengan Orthanc, Server PACS gratis, yang baru dikirimkan dalam rilis ini. Pengembang bidang kesehatan dan medis memiliki beberapa alat sumber terbuka dengan Leap openSUSE yang dapat digunakan untuk membuat User Interface (UI) dan User Experiences (UX) yang kuat untuk perangkat medis. Pengembang perangkat Healthcare dapat lebih percaya diri dalam penggunaan dan kinerja Leap dan mengandalkan sistem yang mendukung perangkat keras yang lebih baru dan lebih lama.

Manajemen Konfigurasi

Administrator sistem akan memiliki alat terbaru untuk manajemen konfigurasi. Salt 3000 telah tiba di Leap; versi Salt baru menghapus versi tanggal dan menyediakan fungsi baru untuk chroot: apply, sls, dan highstate. Ini juga memperbarui sintaksis slot untuk mendukung tanggapan kamus parsing dan menambahkan teks. Ansible juga tersedia untuk sysadmin. Ansible bekerja melalui SSH dan tidak memerlukan perangkat lunak atau daemon untuk diinstal pada node jarak jauh.

Groupware dan File Hosting

Berbagi file dan layanan cloud termasuk perangkat lunak seperti NextCloud dan bahkan suite aplikasi groupware Kopano (sebelumnya dikenal sebagai Zarafa) adalah bagian dari repositori resmi Leap 15.2.

Seperti versi sebelumnya, Administrator Sistem dan usaha kecil dapat menggunakan Leap untuk menempatkan web dan server mail atau untuk manajemen jaringan dengan DHCP, DNS, NTP, Samba, NFS, LDAP, dan ratusan layanan lainnya.

Siklus Hidup Leap

Versi minor dari seri Leap 15 memiliki siklus hidup 18 bulan; rilis minor datang kira-kira setahun sekali. Pengguna openSUSE Leap 15.1, yang dirilis pada Mei 2019, harus meningkatkan sistemnya ke Leap 15.2 dalam 6 bulan ke depan. Rilis pertama Leap 15 dirilis dua tahun lalu.

Unduh Leap 15.2

Untuk mengunduh imej ISO, kunjungi https://software.opensuse.org/distributions/leap

Pertanyaan

Jika Anda mempunyai pertanyaan tentang rilis atau anda merasa menemukan kutu/bug, kami akan sangat senang mendengar Anda melalui:

Ikut Terlibat

Proyek openSUSE adalah komunitas dunia yang mempromosikan penggunaan Linux di mana-mana. Ini menciptakan dua distribusi Linux terbaik dunia, rilis bergulir Tumbleweed, dan Leap, distribusi hibrid perusahaan-komunitas. openSUSE terus bekerja bersama secara terbuka, transparan, dan ramah sebagai bagian dari komunitas Perangkat Lunak Bebas dan Sumber Terbuka dunia. Proyek ini dikendalikan oleh komunitasnya dan bergantung pada kontribusi individu, bekerja sebagai penguji, penulis, penerjemah, ahli kegunaan, seniman dan duta atau pengembang. Proyek ini mencakup beragam teknologi, orang-orang dengan berbagai tingkat keahlian, berbicara dalam berbagai bahasa dan memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda. Pelajari lebih lanjut di opensuse.org

openSUSE 15.2 akan segera rilis! Mau hadiah dari openSUSE-ID?

Beberapa hari lagi openSUSE 15.2 akan segera rilis!

Tulis ulasanmu di blog masing-masing dan dapatkan spesial “Mystery Box” dari openSUSE Indonesia, caranya gampang banget cukup buat tulisan mengenai openSUSE 15.2 seperti apa saja yang baru dan peningkatan apa dari versi sebelumnya.

Lalu mention atau post link tulisan kalian di grup Telegram openSUSE-ID (https://t.me/openSUSE_ID) atau salah satu sosmed openSUSE-ID:
– Twitter: https://twitter.com/openSUSEID
– Facebook Page: https://www.facebook.com/opensuse.indonesia/
– Facebook Group: https://www.facebook.com/groups/opensuse.indonesia/

Jangan lupa, sertakan tagar #openSUSE #openSUSEID #Leap152

5 orang pemenang akan mendapatkan hadiah dan tulisannya dimuat ulang di opensuse.id

Batas pengiriman tulisan 11 Juli 2020 23.59 WIB.

Selamat menulis

Server CCTV dengan Shinobi Video – Bag. 5, IP Cam Murah Meriah

Setelah liat-liat di situs perbelanjaan daring, saya menemukan satu kamera yang fiturnya cukup pas untuk disambungkan dengan Shinobi, harganya juga berkisar 250 ribu rupiah. Berikut fitur yang penting untuk digunakan:

  • Onvif
  • AUTO TRACKING
  • PTZ Rotate Pan Tilt 360
  • Ada sensor suara, sensor gerak dan pemberitahuan ke Hp
Mini Camera
Mini Camera

PTZnya juga berhasil tersambung dengan Shinobi. Onvif devicenya dikenali bikinan Eyeplus.

Server CCTV dengan Shinobi Video – Bag. 4, Menyambungkan dengan DVR

Saya memiliki satu set CCTV beserta DVRnya. Mereknya Nathans, sponsor dari kantor (PT SKK). Ini CCTV asli ndak pakai ribet, just work. Nah … PRnya adalah gimana caranya nyambungin ke Shinobi. Berminggu-minggu saya gak berhasil menemukan solusinya. Sampai saya menyerah.

DVR
DVR

Sekitar 2 mingguan lalu, saya tiba-tiba nemu sebuah saran url rtsp dari internet. Dan saya coba beneran bisa. Berikut urlnya:

rtsp://192.168.0.3:554/user=admin&password=passwordmu&channel=1&stream=1.sdp?real_stream–rtp-caching=100

Silahkan sesuaikan alamat IP beserta akun yang ada di DVR Anda.

Jun 6th, 2020

Call for Paper Gimpscape Artweek Telah Dibuka

Gimpscape Artweek merupakan agenda komunitas Gimpscape Indonesia berupa sesi berbagi dalam bentuk lokakarya atau presentasi ringkas. Pada tahun ini, Gimpscape Artweek diselenggarakan secara daring dan terbuka untuk seluruh anggota komunitas Gimpscape Indonesia. Kegiatan ini diprakarsai oleh para pengurus komunitas Gimpscape Indonesia dan akan diselenggarakan selama dua hari berturut-turut di akhir pekan.

Call for Paper sudah dibuka loh! Buat teman-teman yang pengen ikut menjadi pembicara sekaligus berbagi pengalamannya, sangat dipersilakan.

Beberapa track yang ada di GimpScape Artweek antara lain :

1. Track Desain Grafis
2. Track Motion Grafis
3. Track Desain 3D
4. Track Multimedia (audio, musik, dan/atau video editing)
5. dan lain – lain

Terdapat dua jenis kelas yang bisa dipilih, lokakarya (durasi maks. 2 jam) dan presentasi ringkas (15 menit)

Silakan submit ringkasan paper sebelum 17 Juni 2020 ya!
Pantau terus https://artweek.gimpscape.org untuk update info terkait.

Acara ini disponsori oleh Sepatu Fans serta didukung Komunitas openSUSE Indonesia, Kelompok Linux Arek Suroboyo, dan tokofoss.