Welcome to Planet openSUSE

This is a feed aggregator that collects what openSUSE contributors are writing in their respective blogs.

To have your blog added to this aggregator, please read the instructions.


Rabu
23 Januari, 2019


face

Hari ini bekerja di luar kantor, di perpustakaan umum daerah kota Bekasi. Lokasinya didekat komplek pemkot Bekasi, belakang kantor cabang BCA Bekasi, samping Puskesmas Rawa Tembaga, Samping kantor Telkom, dekat Pengadilan Agama kota Bekasi. Saya meluncur kesini setelah briefing team Excellent di markas Premier Serenity, kemudian meluncur untuk gym di daerah Summarecon Mall Bekasi baru kemudian menuju Perpustakaan umum daerah kota Bekasi.

Kerja disini cocok buat orang IT, karena sepi, sejuk dan bisa konsentrasi. Bonus bisa baca bacaan yang menarik.

Buku Koleksi Perpustakaan Daerah Kota Bekasi

Buku-buku yang ada di foto adalah buku favorit saya semasa SD dan madrasah. Buku yang memberikan pengetahuan dan keluasan pandangan, setidaknya membuat saya bisa compete di SMP dan SMA.

Di belakang perpustakaan ada mushola, Disebelah kanan ada masjid bagus di kantor Telkom, di dekat perpustakaan ada toilet, diseberang perpustakaan berderet warung makan Sunda, Betawi, Padang dan lain-lain. Ada colokan listrik buat charge, ada koran buat dibaca, ada AC yang bikin sejuk saat panas (dan bikin dingin saat hujan 😛 )

Kalau jadi freelancer nggak punya kantor atau jadi pendiri startup merasa bosan beredar dari kafe ke kafe, coba aza kerja di Perpustakaan.
Hemat, jadi pinter dan bisa fokus kerja. 😀


Selasa
22 Januari, 2019


face

Sejak beberapa bulan yang lalu Excellent menjalankan project “Melawan Kekhawatiran : 1 Minggu Traveling”. Project ini berupa pemberian kesempatan untuk liburan bagi setiap team Excellent yang beruntung-diundi secara periodik-selama 1 minggu tanpa diganggu pekerjaan. Team yang diberikan kesempatan untuk liburan 1 minggu ini mendapat budget-saat ini-sebesar Rp. 3 juta. Mereka boleh memilih kota atau daerah atau negara manapun yang ingin dikunjungi. Rekomendasinya adalah kota-kota yang belum dikunjungi oleh team yang lain.

Bagaimana jika budgetnya tidak mencukupi? Mereka boleh menambahkannya dengan budget sendiri 🙂 . Pointnya adalah, mereka harus belajar mengatur rencana dan menyesuaikannya dengan kemampuan.

Selain atas pertimbangan pribadi keinginan saya sejak lama, project ini sebenarnya memiliki tujuan lain, yaitu menguji kemampuan operasional Excellent untuk tetap berjalan tanpa adanya key person atau staff kunci di masing-masing bagian. Misalnya Ahmad Imanudin merupakan salah satu staff senior dan memegang banyak wewenang. Apakah Excellent bisa tetap berjalan dengan baik jika Ahmad mengambil liburan 1 minggu penuh tanpa diganggu pekerjaan.

Jawabannya adalah : harus bisa. Jika operasional Excellent jadi terganggu atau staff yang liburan mesti dikontak beberapa kali, berarti ada prosedur operasional yang harus diperbaiki. Excellent harus berjalan dengan baik meski beberapa staff utamanya pergi liburan 1 minggu atau berangkat umroh 1 minggu lebih atau berangkat haji selama 40 hari.

Setiap kali staff Excellent selesai menjalankan project liburannya, kami melakukan review untuk kegiatan yang ia lakukan. Misalnya waktu Choirulloh liburan, ia memilih kota-kota utama saja, misalnya Yogyakarta. Sempat ke Solo hanya untuk ulang alik naik kereta saja kemudian kembali lagi ke pangkalan di Yogyakarta. Hal itu dikritisi karena tujuan project liburan ini dari sisi personal adalah menguji keberanian dan kemampuan team untuk beradaptasi.

Membuat jurnal perjalanan juga perlu dikritisi. Selama menjalankan project liburan, mereka tidak dibebani dan diganggu pekerjaan. Satu-satunya permintaan saya adalah adanya jurnal perjalanan dalam bentuk posting ke blog. Ini adalah bagian dari gaya hidup. Lifestyle. Agar mereka terbiasa menuangkan gagasan dan pengalaman ke tulisan, agar bisa dibaca oleh orang lain dan memiliki manfaat jangka panjang.

Memang bukan persoalan mudah untuk menulis pengalaman, apalagi bagi yang belum terbiasa menuliskannya. Itu sebabnya saya mendorong mereka untuk melakukannya. Karena benefitnya double, untuk mereka sendiri maupun untuk Excellent. Bagi mereka, menuangkan pengalaman dalam bentuk posting blog membuat mereka mengembangkan kemampuan ingatan, perencanaan dan menyusun kalimat. Dari sisi Excellent, kemampuan team dalam membuat dokumentasi dan presentasi akan lebih terasah, karena mereka bisa memperkaya pilihan penyampaian kalimat karena sudah dibiasakan dengan cara menceritakan pengalaman.

Benefit lainnya adalah, mereka bisa lebih mandiri, karena harus membuat rencana yang baik dan menjalankannya. Mereka tidak bisa tergantung pada orang lain. Mereka harus deal pada situasi yang mereka hadapi. Saya tidak dapat menggambarkan bentuk riil dari benefit yang bisa dicapai dengan pengalaman ini, namun saya yakin pengalaman pribadi yang dialami pada akhirnya akan membantu mereka mengembangkan kemampuan personal mereka dalam memajukan Excellent.

Pada Januari 2019 ini, staff yang mendapat kesempatan untuk menjalankan project liburan adalah Fajar Mukharom. Sehari-hari Fajar menjabat sebagai manajer bagian sales dan marketing. Ia awalnya memilih Lampung sebagai tujuan liburan, namun akhirnya membelokkan tujuannya setelah adanya musibah gempa dan tsunami di Banten dan


Senin
21 Januari, 2019


face

Selain buku-buku tentang komputer, saya menyukai cerita tentang perang, terutama perang dunia kedua dan pernak-perniknya. Salah satu buku (dan film) yang menjadi favorit saya adalah The Longest Day: The Classic Epic of D-Day

Brigjen Norman Cota, diperankan oleh Robert Mitchum

The Longest Day adalah buku yang ditulis oleh Cornelius Ryan yang bercerita mengenai kisah pendaratan tentara sekutu di Normandia yang kemudian menjadi titik point kalahnya Jerman pada perang dunia kedua. Judul buku ini diambil dari perkataan Jenderal Erwin Rommel pada ajudannya Hauptmann Helmuth Lang pada tanggal 22 April 1944 :

“…the first 24 hours of the invasion will be decisive…the fate of Germany depends on the outcome…for the Allies, as well as Germany, it will be the longest day.”

Saya pertama kali melihat The Longest Day justru melalui filmnya yang dirilis di tahun 1962 dan pernah ditayangkan di TV nasional. Saya lupa TV nasional yang mana, hehehe… Meski film lama, tampilannya masih bagus dan ceritanya menarik, apalagi sebagian besar ceritanya didasarkan pada kisah nyata. Setelah di TV, saya beberapa kali menontonnya melalui film on demand atau melihat cuplikannya di Youtube.

John Wayne sebagai Letkol Benjamin H. Vandervoort

Selain kisah nyata, persiapan invasi yang menyita waktu, pressure yang dirasakan oleh ahli cuaca yang harus memprediksi kondisi cuaca saat perjalanan dan pendaratan invasi, ada juga selingan beberapa kisah komedi yang memicu senyum, seperti kisah salah seorang serdadu yang terjun payung dan payungnya tersangkut di dekat lonceng gereja. Saat ia hendak mengambil pisau untuk melepaskan payung, pisaunya jatuh didekat tentara Jerman. Beruntung, sebelum tentara Jerman memberondongkan peluru, tentara Jerman tersebut dirobohkan oleh peluru prajurit sekutu lainnya. Meski demikian, serdadu tersebut sempat tuli beberapa hari karena kelamaan mendengar bunyi lonceng gereja yang keras 🙂

Setelah membiasakan diri membaca artikel bahasa Inggris dengan beberapa tips yang saya tuliskan disini : Tips Membaca Artikel Bahasa Inggris, saya akhirnya kerap membeli ebook bahasa Inggris. Selain melalui Google Play Book, saya juga akhirnya menginstall aplikasi Kindle di HP dan membeli ebook terkait IT, kisah sukses dan pertempuran atau kisah militer, dan membacanya melalui aplikasi Kindle tersebut. Salah satu ebook yang pertama saya baca adalah ebook The Longest Day ini.

Dengan harga sekitar 10$, ebook ini lebih dari layak untuk dikoleksi. Bagi para penggemar buku pak PK Ojong mengenai seri “Perang Eropa”, ebook ini memuat banyak hal yang masuk kedalam buku tersebut.

Ebook ini bisa dibeli via aplikasi Kindle di Android atau iPhone, atau bisa juga melalui perangkat ebook reader Amazon Kindle. Bisa klik gambar diatas atau bisa klik link ini : The Longest Day: The Classic Epic of D-Day


Minggu
20 Januari, 2019


face

Pada tulisan sebelumnya mengenai vSphere Update Manager versi 6.7, sudah dibahas mengenai apa itu vSphere Update Manager dan fungsinya. vSphere Update Manager bisa digunakan untuk melakukan upgrade vSphere host yang masih menggunakan versi vSphere sebelumnya ke versi terbaru, baik per satu host tertentu maupun secara massal per cluster atau per data center. Agar bisa digunakan untuk melakukan proses update ini, ada beberapa proses persiapan yang perlu dilakukan disisi vSphere Update Manager, antara lain :

  1. Melakukan import file ISO ESXi versi terbaru ke halaman administrasi vSphere Update Manager
  2. Membuat Baseline Update Manager yang nantinya akan digunakan sebagai dasar update bagi host yang memerlukan
  3. Melakukan proses Attach Baseline Update Manager yang sudah dibuat pada tiap host yang akan diupgrade
  4. Menjalankan proses Remediate untuk melakukan proses upgrade pada host atau cluster atau data center yang diinginkan

Pada contoh dibawah ini, vSphere Update Manager 6.7 akan digunakan untuk melakukan upgrade host yang masih menggunakan vSphere versi 6.5 ke versi 6.7. Tahapannya adalah sebagai berikut :

  • Siapkan ISO VMware vSphere versi terbaru
  • Buka halaman administrasi vSphere Update Manager
  • Pilih Tab ESXi Images
  • Pilih menu Import dan pilih file ISO yang sudah disiapkan menggunakan tombol Browse. Kemudian pilih tombol Import dan tunggu sampai file ISO selesai diimport
vSphere Update Manager-ESXi Images
  • Pindah ke tab Baselines dan pilih menu New | Baseline. Ikuti pembuatan baseline untuk upgrade sesuai dengan wizard yang diberikan. Misalnya Upgrade 6.7 sebagai nama baseline, kemudian pilih images ISO yang sudah diimport pada tahap sebelumnya
vSphere Update Manager-New Baseline
  • Setelah Baseline selesai dibuat, kita siap menggunakannya untuk melakukan upgrade host yang diinginkan. Pilih salah satu host yang akan diupgrade, kemudian pilih tab Update dan pilih Host Updates pada bagian Overview
  • Klik menu Attach dan pilih baseline yang sudah disiapkan, dalam hal ini baseline Upgrade 6.7
vSphere Update Manager, Attach Baseline pada Host yang Hendak Diupgrade
  • Setelah baseline diattach, kita bisa memilih baseline tersebut kemudian memilih menu Remediate untuk melakukan upgrade versi vSphere pada host yang diinginkan. Monitor proses upgradenya pada bagian Recent Task atau pada tab Monitor vSphere Update Manager
  • Jika ingin melakukan upgrade seluruh host pada data center atau pada cluster, kita bisa memilih data center atau cluster yang diinginkan, masuk pada tab Update dan kemudian melakukan attach baseline pada pilihan Host Updates. Setelah itu prosesnya sama, yaitu melakukan Remediate dan otomatis seluruh host pada data center atau pada cluster yang dimaksud akan diupgrade. Sebagai catatan, sebelum melakukan proses upgrade, vSphere Update Manager akan menjalankan proses maintenance mode. Jika sudah menerapkan skema DRS (Distributed Resources Scheduler), proses maintenance mode ini akan memindahkan VM yang sedang dalam posisi powered on ke host lain. Jika tidak, VM tersebut harus dishutdown atau dipower off terlebih dahulu, baru proses maintenance mode bisa dilakukan

Proses upgrade  vSphere Host menggunakan vSphere Update Manager ini sangat memudahkan manajemen sistem, karena bisa diset secara massal, terencana dan comply dengan standard sistem yang diinginkan.

Catatan :

  1. Materi diatas merupakan bagian dari materi training virtualisasi server di Excellent. Rencananya, training pertama virtualisasi server dengan konsep dan spesifikasi baru di tahun 2019

Sabtu
19 Januari, 2019


face

Untuk mencapai target FIRE (Financial Independence Retirement Early), kita harus mengoptimalkan investasi. Sebelum berusaha mengoptimalkan investasi, kita harus mencukupi kebutuhan hidup kita dan keluarga terlebih dahulu. Sederhananya, susah bagi kita berpikir untuk investasi jika kebutuhan hidup sehari-hari belum bisa dipenuhi.

Untuk mengoptimalkan nilai investasi, kita harus tetap memperhatikan rambu-rambu keamanan investasi, agar upaya kita dalam mengejar level pencapaian FIRE tidak berubah menjadi tragedi. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berinvestasi :

  1. Jangan mengejar investasi bodong. Hanya gara-gara ingin bisa segera memenuhi target FIRE bukan berarti tidak memperhatikan keamanan investasi. Kalau pikiran kita terbuka, investasi bodong mudah dicheck. Jika ada investasi menawarkan keuntungan tidak masuk akal, misalnya keuntungan rutin 10% per bulan, pasti itu mencurigakan. Jangan silau hanya karena keuntungan yang terlihat besar padahal ternyata berupa skema ponzi, keuntungan didapat dari anggota yang mendaftar belakangan sampai akhirnya meledak
  2. Check apakah investasi tersebut mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau tidak. Sebaiknya hindari investasi yang tidak mendapat izin dari OJK.
  3. Jangan mengumpulkan telur dalam satu keranjang. Meski kita sedemikian yakin pada suatu investasi, jangan lantas seluruh asset produktif kita ditempatkan pada satu jenis investasi. Misalnya karena kita yakin pada perkembangan bursa, seluruh asset produktif ditempatkan pada saham. Saat posisi bagus mungkin bisa mendapat gain yang tinggi namun resiko loss juga sangat besar. Mas Teguh Hidayat yang biasanya membahas mengenai value investing mengambil skema moderat, hanya menempatkan investasi pada satu saham maksimal 20-25% dari keseluruhan nilai investasi meskipun sangat yakin pada saham tersebut.
  4. Jangan menyimpan seluruh asset dan kekayaan dalam investasi, sampai-sampai tidak ada cadangan untuk kebutuhan dana darurat. Tetap buat cadangan dana tunai pada rekening yang mudah diambil sewaktu-waktu minimal untuk 1 bulan kebutuhan. Meski kita punya asset berlimpah, jika tidak memegang uang saat dibutuhkan tetap saja kita merasa jadi orang yang merana 🙂
  5. Jangan berhutang untuk investasi. Dalam hal investasi, saya termasuk konservatif. Saya hanya menginvestasikan kelebihan pendapatan. Meski saya yakin pada suatu investasi, saya menghindari pinjam uang atau berhutang hanya untuk memperbesar porsi investasi. Ada rekan terjebak hutang yang tidak produktif karena memaksakan diri berhutang untuk investasi properti yang kemudian terkendala kasus tertentu
  6. Dahulukan pembayaran hutang dibanding investasi. Jika saya memiliki uang 6 juta rupiah dan punya hutang 5 juta rupiah, saya memilih untuk melunasi hutang 5 juta dan berinvestasi dengan 1 juta rupiah saja. Saya menghindari investasi keseluruhan uang dengan asumsi bahwa saya bisa mendapatkan return yang lebih besar yang bisa digunakan untuk melunasi hutang sekaligus masih memiliki kelebihan keuntungan. Pada kenyataannya, yang kerap terjadi adalah investasi yang nyangkut karena kita sendiri memiliki sangkutan kewajiban pada pihak lain
  7. Sesuaikan profil resiko dengan skema investasi. Saat masih muda, mungkin kita bisa memilih skema investasi 10-20-30-40 dengan profil resiko low risk low return menuju high risk high return. Jadi 10% misalnya ditempatkan pada sukuk atau obligasi pemerintah dengan hasil investasi relatif rendah namun juga rendah resiko, sedangkan 40% ditempatkan pada investasi dengan kemungkinan gain tinggi namun tinggi juga resikonya. Saat usia beranjak senja, skema investasinya mungkin dibalik seiring dengan profil resiko yang dipilih

Berdasarkan pengalaman, hampir tidak ada suatu investasi


Jumat
18 Januari, 2019


face

Salah satu sumber penghasilan yang bisa diharapkan saat kita menempuh jalur FIRE (Financial Independence Retirement Early) adalah dengan menabung saham. Saham yang dipilih merupakan saham pilihan dengan dua potensi pendapatan, yaitu :

  1. Dividen Saham. Keuntungan tahunan dari hasil usaha perusahaan yang sahamnya kita miliki
  2. Capital Gain. Keuntungan dari penjualan saham dibandingkan dengan harga pembelian

Karena FIRE sifatnya untuk jangka panjang atau long term, berarti fokus kita sebaiknya pada saham-saham yang memberikan dividen rutin, nilainya cukup besar dan sahamnya likuid (mudah dijual). Seandainyapun hendak dijual, itu jika capital gain yang didapat sayang untuk dilewatkan, misalnya ada potensi capital gain 50% atau lebih.

Memilih saham dividen berarti kita harus tahu dividen yieldnya. Dividen yield adalah persentase nilai dividen dibagi dengan harga saham. Misalnya harga saham sebesar Rp. 1000/lembar, memberikan dividen Rp. 50, berarti dividen yieldnya adalah 5%, hasil dari persentase 50/1000.

Nilai dividen yield masing-masing saham berbeda-beda. Mulai dari nol koma sampai dengan belasan atau puluhan persen. Rata-rata biasanya satu koma sampai dengan 5%, namun ada beberapa saham yang memberikan dividen yield diatas itu.

Bagi beberapa investor kawakan, pemberian dividen yield terlalu besar malah dianggap kurang menarik, karena berarti sebagian besar keuntungan perusahaan diberikan sebagai dividen, tidak dipupuk sebagai penambahan modal usaha. Bagi saya sendiri, kita bisa menilai history perusahaan dalam pemberian dividen, apakah satu waktu melonjak tinggi dan waktu lainnya drop secara drastis atau stabil setiap tahun dalam rentang yield yang wajar.

Bursa Efek Indonesia sendiri menerbitkan daftar 20 saham dengan dividen yield tertinggi yang diupdate setiap 6 bulan sekali dengan nama IDX High Dividend 20. Berikut adalah daftarnya untuk periode Agustus 2018 s/d Januari 2019 :

Sumber gambar : http://doktersaham.com/saham/indeks-saham/idxhidiv20

Sekarang, bagaimana caranya kita memilih saham pilihan yang hendak dijadikan sebagai saham tabungan untuk FIRE? Saya sendiri melakukan kombinasi beberapa informasi, antara lain dari list diatas, kemudian mengecek data pembanding dari halaman Dividend Calendar website Investing.com.

Dividend Calendar Investing.com

Pada halaman Dividend Calendar tersebut, saya bisa mengecek dividend seluruh saham di Indonesia (atau luar negeri jika punya sahamnya), kemudian mengambil rentang waktu satu tahun terakhir. Dari situ bisa didapatkan list saham, tanggal perhitungan dan pemberian dividen dan besaran nilai dividen yieldnya.

Terakhir, saya membandingkannya dengan pengecekan update dari halaman Google, misalnya untuk mengecek dividend yield saham Adaro (ADRO), saya bisa mengetik keyword ADRO:IDX dan mendapatkan hasil sebagai berikut :

Contoh pengecekan harga saham Adaro

Persentase dividen yield ada kemungkinan berbeda karena pengambilan waktu ataupun nilai saham, namun bisa menjadi perkiraan untuk nilai rata-ratanya.

Setelah mendapatkan list saham yang akan dipilih, saya mengurutkannya dalam bentuk pembobotan, misalnya dengan membandingkan rata-rata nilai dividen yield tiap tahun, market cap, perkembangan harga saham, likuiditasnya dan lain-lain. Beberapa pengamat saham merekomendasikan saham Unilever (UNVR) misalnya, mengingat perusahaan ini sudah mature dan trend sahamnya selalu naik, namun saya sendiri tidak memilihnya karena harga sahamnya yang tinggi (modal saya tidak memadai 😀 ) dan dividen yieldnya yang kecil, hehehe…

Ada beberapa saham yang terkenal memberikan dividen yield tinggi, misalnya Samindo Resources (MYOH), Indo Tambang Raya Megah (ITMG), Bukit Asam (PTBA), Baramulti Suksessarana


Jumat
11 Januari, 2019


face
  • Pasang dependensi

    sudo zypper in libcurl-devel sqlite3-devel
    curl -fsS https://dlang.org/install.sh | bash -s dmd
    
  • Catatan: meskipun paket dmd ada di repositori openSUSE, dalam panduan ini disarankan memasang dari kode sumber sesuai cara diatas.

  • Klon dan pasang

    git clone https://github.com/skilion/onedrive.git
    cd onedrive
    make
    sudo make install   
    
  • Jalankan

    onedrive
    

    Anda akan diminta untuk mengunjungi URL autorisasi. Masuk ke akun OneDrive Anda, dan berikan izin aplikasi untuk mengakses akun Anda. Setelah selesai, Anda akan menemui halaman putih kosong. Salin URL dan tempel ke Terminal saat diminta. Onedrive akan mulai mengunduh semua berkas Anda di awan ke folder lokal Anda.

  • Konfigurasi

    Anda dapat menemukan berkas konfigurasi di folder git onedrive. Untuk membuatnya aktif, pindahkan ke folder ~/.config/onedrive/.

    mkdir -p ~/.config/onedrive
    cp ~/onedrive/config ~/ .config/onedrive/config
    

    Buka file konfigurasi. Ada dua opsi yang dapat Anda konfigurasi: sync_dir dan skip_files.

    • sync_dir: lokasi untuk menyimpan berkas OneDrive Anda. Semua berkas yang ditempatkan/dihapus dari folder ini akan disinkronkan ke awan.

    • skip_files: jenis atau pola berkas yang tidak akan disinkronkan.

    Setelah Anda membuat perubahan, simpan dan mulai kembali onedrive.

  • Mulai otomatis

    Setel mulai otomatis dengan systemd.

    sudo systemctl --user enable onedrive
    sudo systemctl --user start onedrive
    

Selamat mencoba

Referensi


Kamis
03 Januari, 2019


face

Pertama kami ucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah berpartisi di event #QuizoSID 2018 kali ini
Setelah berdiskusi tertutup kami memutuskan memilih 2 pemenang yaitu:

  1. Aldiansyah – https://aldhiansyah.wordpress.com/2018/12/31/install-dan-konfigurasi-cacti-network-monitoring-di-opensuse-leap-15-0/
  2. Didiet A Pambudiono – https://medium.com/@sitidy/instalasi-jenkins-pada-opensuse-leap-15-0-3097506bd5d4

Kepada para pemenang, dimohon mengirimkan alamat lengkap ke surel admin@opensuse.id untuk pengiriman hadiah.

Selamat untuk para pemenang, terus berkarya dan Selamat tahun baru 2019 🙂

Salam,
openSUSE Indonesia


Senin
31 Desember, 2018


face

Tahun 2018 adalah tahun yang luar biasa untuk komunitas openSUSE Indonesia. Ada cukup banyak pencapaian kita sebagai komunitas yang cukup membanggakan. Sebagai orang lama dalam komunitas ini saya merasa cukup banyak bermunculan orang muda yang bisa jadi panutan bagi generasi mendatang di kemudian hari. Walaupun dominasi 4L (lu lagi lu lagi) tidak bisa dipungkiri, karena orang-orang yang sama juga adalah penggiat di BlankON, LibreOfficeID, Glib, dan komunitas lainnya, hal itu tidak mengurangi kekaguman saya dengan militansi mereka terhadap penyebaran penggunaan FOSS di Indonesia

Seperti kata seorang sahabat saya di openSUSE, langkah awal adalah yang paling susah. Ketika saya mulai menggunakan Linux di tahun 1997 tidak ada seorang pun yang menggunakannya di tempat kerja saya. Saya sudah sekitar 2 tahun menggunakan Unix saat itu dan kebetulan banyak perangkat lunak GNU yang juga digunakan di kedua sistem operasi tersebut jadi perintah-perintahnya tidak begitu asing. Tapi sangat sulit untuk menemukan orang untuk berdiskusi langsung saat itu. Saat ini hambatan yang saya rasakan dulu sepertinya sudah tidak ada lagi. Ada banyak tempat untuk orang bertanya asal ada niat.  

Hal yang cukup membanggakan juga adalah tentang translasi openSUSE. Tidak seperti beberapa versi bahasa lain yang sebagian penerjemahannya dilakukan oleh SUSE, 🙂 (opens in a new tab)" href="https://l10n.opensuse.org/" target="_blank">terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia adalah murni kerja komunitas. Banyak terima kasih kepada tim penerjemahan, saya harus sebut beberapa nama di sini,  Arif Budiman, Kukuh Syafaat, dan manajer bot primbon ijo, Yan Arief. Tentu ucapan terima kasih juga untuk semua anggota tim translasi, tercatat ada 30 orang, maaf saya tidak sebut satu per satu, anda semua hebat 🙂

Ada beberapa orang yang pada tahun 2018 diterima sebagai member openSUSE, yang saya ingat ada Kukuh Syafaat, Dhenandi, Estu Fardani, Yan Arief.  Beberapa orang lagi sudah mengajukan aplikasi pendaftaran keanggotaan, saya yakin mereka memenuhi syarat, dan tinggal menunggu waktu saja untuk disetujui. Kalau anda berminat silakan ajukan dengan mengikuti petunjuk pada halaman wiki.

Hari tersedih bagi komunitas di tahun 2018 adalah saat kita kehilangan Muhammad Rafi pada bulan Februari 2018 Saya tidak kenal dekat dengan dia, tapi saya sempat ketemu beberapa kali, di acara Bekraf Habibie Festival bulan Agustus 2017, release party openSUSE 42.3 dll dan dalam kesempatan-kesempatan tersebut saya mengenalnya sebagai anak muda yang bersemangat sekaligus sangat rendah hati. Doa kita semua untuk almarhum Rafi.

Pada 23-25 Maret 2018 openSUSE / openSUSE Indonesia mendapatkan undangan untuk membuka booth pada acara Konferensi LibreOffice Indonesia. Terima kasih kepada Komunitas LibreOffice Indonesia yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk ikut serta berpartisipasi pada acara tersebut. openSUSE selalu mendukung LibreOffice sejak awal pembentukan proyek tersebut. Lebih jauh silakan dibaca bagaimana go-oo dihentikan pengembangannya dan disatukan ke dalam LibreOffice.

Tanggal 21 Mei 2018, kita membuat tiket di progress openSUSE untuk meningkatkan status repo yang dikelola komunitas untuk masuk ke staging repo openSUSE. Tanggal 22 Mei 2018, Per Jessen, salah satu anggota Heroes Team openSUSE membalas dan mengatakan repo kita resmi masuk ke repo mirror resmi openSUSE. Semoga hal ini bisa membantu tersedianya update yang cepat dan terkini untuk komunitas


face

PERHATIAN: Tulisan ini hanya berlaku untuk openSUSE Leap 15.0 ke atas atau Tumbleweed saja. Karena sebagian fitur dalam tulisan ini tidak ada di versi sebelumnya.

Jika kita memasang openSUSE dengan pilihan baku, menggunakan filesystem BtrFS, akan secara otomatis dibuatkan snapshot yang bisa dikelola oleh Snapper. Tapi snapshot yang dibuat hanya akan ada pada root saja dan tidak termasuk subvolume yang ada di dalamnya. Snapshot akan secara otomatis dibuat ketika kita membuka modul YaST atau memasang/menghapus paket dengan menggunakan perintah zypper.

Subvolume yang ada di dalam partisi root adalah:

  • /home (jika tidak dipisah dari partisi root)
  • /var
  • /usr/local
  • /tmp
  • /srv
  • /root
  • /opt
  • /boot/grub2/x86_64-efi
  • /boot/grub2/i386-pc

Apapun isi yang berada di dalam direktori dari subvolume di atas tidak akan dimasukkan ke dalam snapshot yang dibuat, sehingga kita tidak bisa melakukan rollback/undochange terhadap konten yang berada di dalam subvolume tersebut.

Saya biasanya membuat konfigurasi Snapper untuk sebagian subvolume tersebut. Diantara yang saya buat adalah /home (karena saya tidak pernah memisahkan HOME dari root), /var, /usr/local, /srv, /root dan /opt.

Untuk membuat konfigurasi dari masing-masing subvolume, jalankan perintah-perintah berikut (semua perintah su -c di bawah bisa diganti dengan sudo dan menghilangkan tanda petik jika Anda memasang paket sudo):

su -c "snapper -c home create-config /home" (untuk subvolume /home jika tidak dipisah dari root)

su -c "snapper -c var create-config /var"

su -c "snapper -c local create-config /usr/local"

su -c "snapper -c srv create-config /srv"

su -c "snapper -c su create-config /root" (jangan menggunakan nama konfigurasi root karena sudah digunakan oleh konfigurasi bawaan untuk partisi root, jadi gunakan su atau nama lain saja)

su -c "snapper -c opt create-config /opt"

Setelah selesai membuat konfigurasi, kita bisa melihat semua konfigurasi dengan perintah:

su -c "snapper list-configs"

Secara baku, semua konfigurasi Snapper yang dibuat secara manual akan membuat snapshot berdasarkan waktu (timeline) dan akan dibuat setiap jam. Jadi, jika komputer kita hidup 24 jam, dalam sehari semalam Snapper akan membuat 24 snapshot di semua konfigurasi. Untuk saya ini terlalu banyak. Apalagi saat membuat dan menghapus snapshot, komputer kadang terasa berat. Sehingga saya memilih mematikan opsi ini dan menggantinya dengan membuat snapshot saat boot.

Untuk mematikan opsi baku ini, kita bisa menjalankan perintah berikut:

su -c "snapper -c home set-config TIMELINE_CREATE=no"

Jalankan perintah tersebut untuk konfigurasi lainnya.

Untuk melihat hasil perubah konfigurasi, jalankan:

su -c "snapper -c home get-config" (untuk konfigurasi home)

Untuk konfigurasi lain, ganti home dengan nama konfigurasi yang ingin diubah/dilihat (root, local, var, srv, su dan opt).

Dan untuk membuat snapshot pada saat boot secara otomatis, kita bisa memodifikasi dan mengaktifkan service snapper-boot. Caranya, salin file snapper-boot.service dan snapper-boot.timer dari /usr/lib/systemd/system ke /etc/systemd/system dengan perintah:

su -c "cp /usr/lib/systemd/system/snapper-boot* /etc/systemd/system/

Lalu edit /etc/systemd/system/snapper-boot.service. Ubah --cleanup-algorithm number menjadi --cleanup-algorithm timeline dengan perintah:

su -c "sed -i 's/cleanup-algorithm number/cleanup-algorithm timeline/' /etc/systemd/system/snapper-boot.service"

Yang dilakukan di atas adalah untuk membuat snapshot saat boot untuk konfigurasi


Sabtu
29 Desember, 2018


face

Seperti diketahui bahwa Dropbox menghentikan dukungan mereka pada beberapa jenis sistem berkas dan pada Linux hanya akan mendukung Ext4. Lantas bagaimana dengan sistem berkas XFS atau Btrfs? Panduan ini mencoba untuk menjalankan Dropbox pada openSUSE Leap 15.0 dengan sistem berkas XFS.

  • Pasang Dropbox terlebih dahulu

      cd ~ && wget -O - "https://www.dropbox.com/download?plat=lnx.x86_64" | tar xzf -	
    
  • Jalankan dan masuk ke Dropbox

      ~/.dropbox-dist/dropboxd
    
  • Pasang perkakas pengembangan.

      sudo zypper install -t pattern devel_basis
    
  • Klon dan bangun dropbox-filesystem-fix.

      git clone https://github.com/dark/dropbox-filesystem-fix.git
    
      cd dropbox-filesystem-fix
    
      make
    

    Berkas dengan nama libdropbox_fs_fix.so harus ada pada folder dropbox-filesystem-fix setelah menjalankan make.

  • Pindahkan folder dropbox-filesystem-fix ke /opt dan ubah izin dropbox_start.py agar dapat dieksekusi.

      sudo mv dropbox-filesystem-fix /opt/
    
      sudo chmod +x /opt/dropbox-filesystem-fix/dropbox_start.py
    

    dropbox_start.py harus berada pada folder yang sama dengan libdropbox_fs_fix.so, jadi jangan pindahkan ke /usr/local/bin/ atau folder lainnya.

  • Pastikan Dropbox tidak berjalan dulu.

      ~/.dropbox-dist/dropboxd stop
    
  • Jalankan Dropbox dengan perintah berikut.

      /opt/dropbox-filesystem-fix/dropbox_start.py
    

    Pastikan mendapat pesan >>> Dropbox started successfully

  • Menghentikan mulai otomatis milik Dropbox

    Entri mulai otomatis milik Dropbox akan dimatikan karena nantinya yang digunakan adalah skrip dropbox_start.py. Untuk menghentikannya, pada menu Dropbox pilih Preferensi, lalu tab Umum, hapus tanda centang pada Jalankan Dropbox saat komputer dinyalakan.

  • Menambahkan Entri Mulai Otomatis Yang Baru

    • Buat berkas dropbox-fix.desktop pada ~/.config/autostart/ lalu buka.

        touch ~/.config/autostart/dropbox-fix.desktop
      
        gedit ~/.config/autostart/dropbox-fix.desktop
      
    • Isi berkas dropbox-fix.desktop dengan isian berikut.

        [Desktop Entry]
        Type=Application
        Exec=/opt/dropbox-filesystem-fix/dropbox_start.py
        Hidden=false
        NoDisplay=false
        X-GNOME-Autostart-enabled=true
        Name=Dropbox Fix		
      

Selamat Mencoba


Referensi


Jumat
28 Desember, 2018


face

Sampai tulisan ini ditulis, versi Virtualbox pada repo openSUSE Leap 15.0 adalah 5.2.22, sedangkan Virtualbox versi 6.0 baru saja dirilis pada 18 Desember 2018 yang lalu. Berikut ini adalah cara memasang Virtualbox 6.0 pada openSUSE Leap 15.0.

  • Unduh
wget https://download.virtualbox.org/virtualbox/6.0.0/VirtualBox-6.0-6.0.0_127566_openSUSE150-1.x86_64.rpm
  • Pasang
sudo zypper in VirtualBox-6.0-6.0.0_127566_openSUSE150-1.x86_64.rpm

Selamat mencoba, have fun!


Senin
24 Desember, 2018


face

GNOME merupakan DE (Desktop Environment) terbaik pilihan saya setelah KDE, walaupun agak berat untuk ukuran DE yang ketika idle memakan banyak RAM dan terkenal bahwa GNOME 3 adalah DE yang berat, tapi saya santai saja karena RAM saya gede jadi ya santai :D. GNOME memiliki tampilan yang bisa dibilang asik dan indah,tapi asik dan indah itu menurut saya tidak akan muncul jika user GNOME tidak menambahkan beberapa extension GNOME yang keren – keren, karena tanpa extension ini GNOME adalah DE yang sedikit membosankan.

GNOME pada laptop saya versi 3.26.2 yang berjalan di openSUSE

Oke kita lanjut ke extension rekomendasi saya beberapa bulan terakhir ini, oiya sekedar info disini saya menggunakan openSUSE Leap 15.0 yang berjalan di atas mesin ThinkPad T460. Oke kita lanjut ke beberapa extension terbaik pilihan saya yang bisa diunduh pada halam berikut

  1. Dash to Dock 
    Dash to Dock, ya itulah namanya, dimana extension ini berguna agar dapat memindahkan Dock yang biasanya ketika kita menginstall DE GNOME 3 itu terdapat Dock disebalah kanan, ketika kita menginstall Dash to Dock ke extension GNOME kita maka dock dapat dipindahkan sesuka hati.  

  2. User Themes
    User Themes, GNOME tanpa User Themes tentu seperti nasi yang tidak ditambahkan apa – apa di nasi tersebut. Ya User Themes ini berfungsi agar tema di GNOME bisa diterapkan dengan mudah diterapkan, dan untuk temanya dapat diunduh di alamat berikut

    User Themes

  3. No Topleft Hot Corner
    Ini juga merupakan salah satu extension yang cukup membantu, karena di GNOME yang ter-install default pada openSUSE ini sendiri, jika arah pointer mouse diarahkan kearah pojok kiri maka akan langsung masuk kearah efek yang sedikit mengganggu, karena saya sendiri sering tidak sengaja mengarahkan pointer ke arah tersebut. Dan tentu saja extension ini sangat membantu menghilangkan efek tersebut :D.

    No Left Hot Corner

  4. Extensions
    Tanpa extensions ini mungkin kita akan bolak – balik ke pengaturan untuk menontaktifkan extension yang kadang belum terlalu kita perlukan. Ya fungsi extension ini adalah untuk menjadi jalan pintas agar kita dapat mengaktifkan atau menonaktifkan extension yang kita mau.

    extension yang sudah terinstall

  5. Refresh Wifi Connections
    Default-nya pada GNOME tida terdapat tombol untuk me-refresh Wifi, dengan extension ini hal tersebut dapat diwujudkan dengan menampilkan tombol refresh yang akan muncul ketika kita melihat jaringan yang tersedia. 

    Tampilan Refresh Wifi

  6. TopIcons 
    GNOME yang terdapat pada openSUSE Leap 15.0 ini adalah versi 3.26.2, yang mana system tray tidak akan mucul yang tempatnya biasanya terdapat di pojok kanan, itu sedikit meresahkan bagi saya, karena saya adalah pengguna aktif Telegram yang memakai Telegram Desktop di Laptop saya. Extension ini sangat berguna karena akan memunculkan system tray pada tempat semestinya.

    TopIcons

  7. Sound Input & Output Device Chooser
    Pada GNOME ketika konek dengan Bluetooth, memindahkan sumber suara di pengaturan itu memakan waktu yang cukup, maka extension ini membantu untuk cepat memilih input dan output suara yang akan keluar pada GNOME.
  8.  Simple Name
    Sesuai namanya, Simple Name akan menampilkan nama user pada panel GNOME di sebelah pojok kanan dengan nama user tersebut. Simpel tapi keren :D. Kayak MAC kan 😀 .

    Simple Name


Sabtu
22 Desember, 2018


face

openSUSE Tumbleweed melakukan updte secara berkala, dan kadang-kadang melakukan update kernel. Dan yang jadi permasalahan adalah, setelah update kernel, adakalanya beberapa aplikasi tidak bisa dijalankan, salah satunya adalah virtualbox.

Ketika virtualbox dijalankan melalui terminal, akan ada informasi seperti dibawah ini :

VirtualBox: Error -10 in SUPR3HardenedMain!
VirtualBox: Effective UID is not root (euid=1000 egid=100 uid=1000 gid=100)
VirtualBox: Tip! It may help to reinstall VirtualBox.

Hal yang pertama kali saya lakukan adalah melakukan reinstalasi virtualbox dengan dengan langkah-langkah :

Masuk kedalam mode root dengan perintah :

su -

Kemudian install ulang virtualbox dengan perintah :

zypper install -f virtualbox virtualbox-qt

Kemudian ganti permission aplikasi-aplikasi untuk menjalankan virtualbox dengan perintah :

chmod 4750 /usr/lib/virtualbox/VBoxNetNAT
chmod 4750 /usr/lib/virtualbox/VBoxNetDHCP
chmod 4750 /usr/lib/virtualbox/VBoxNetAdpCtl
chmod 4750 /usr/lib/virtualbox/VBoxHeadless
chmod 4750 /usr/lib/virtualbox/VirtualBox
chmod 4750 /usr/lib/virtualbox/VBoxSDL

Setelah itu, jalankan kembali aplikasi virtualbox


Jumat
23 November, 2018


face

Dukungan Global Menu di aplikasi GTK resmi diperkenalkan di pengumuman rilis Plasma 5.14, setelah di Plasma 5.13 statusnya sebagai tech preview. Pengguna openSUSE Tumbleweed sekarang sudah bisa menikmatinya, dan begini caranya.

Pasang paket appmenu-gtk2-module untuk dukungan di aplikasi GTK+2 dan appmenu-gtk3-module untuk aplikasi GTK+3. Lalu cek di /home/user/.gtkrc-2.0 dan /home/user/.config/gtk-3.0/settings.ini apakah opsi gtk-modules=appmenu-gtk-module sudah ada? Kalau belum ada, tambahkan.

Untuk mengaktifkan Global Menu, buka System Settings KDE, lalu buka bagian Application Style, lalu Window Decorations. Pilih tab Buttons, kemudian seret ikon Application menu dari kotak di bawah Titlebar ke Titlebar, tempatkan di manapun Anda menginginkannya (saya biasanya menempatkannya setelah ikon Menu dan On all desktop di sebelah kiri). Setelah selesai, klik Apply.

Jika Anda lebih suka Global Menu ditempatkan di panel, buka kunci Widgets jika terkunci. Klik tiga garis vertikal di ujung kanan panel, lalu pilih Add widgets…. Pilih widget Global Menu. Ini akan memunculkan widget Global Menu di panel. Geser ke tempat yang Anda inginkan.

Di GIMP dan Inkscape, Global Menu akan langsung aktif. Sementara untuk LibreOffice Anda harus memasang paket libreoffice-qt5 jika belum terpasang. Sementara untuk Audacity Anda perlu menyalin file audacity.desktop dari /usr/share/applications ke /home/user/.local/share/applications. Kemudian buka file tersebut dengan teks editor. Cari bagian Exec=, lalu hapus env UBUNTU_MENUPROXY=0 sehingga menjadi hanya Exec=audacity %F saja.

Untuk programmer pengguna IntelliJ IDEA, dukungan Global Menu baru akan hadir di versi 183.3459. Sementara aplikasi Java lainnya belum ada dukungan untuk Global Menu.

Firefox dan Thunderbird juga tidak bisa, perlu diimplementasikan oleh developer Mozilla langsung. Sedangkan untuk aplikasi GTK lainnya saya tidak mencobanya. Jadi silakan eksplorasi sendiri.


Selasa
13 November, 2018


face

Seringkali kita harus mengakses jaringan baik di kantor, cloud provider, atau pelanggan kita melalui jaringan internet menggunakan VPN. Ada banyak implementasi VPN, yang paling sering digunakan adalah PPTP karena gampang untuk mengkonfigurasinya, percayalah PPTP itu tidak aman 😉

Salah satu yang cukup baik adalah OpenVPN. Instalasi OpenVPN di openSUSE tidak semudah di Ubuntu misalnya yang sudah menyediakan banyak script bantu yang membuat implementasinya menjadi mudah. Tapi, memasang OpenVPN di openSUSE akan membuat anda mengerti apa sebetulnya yang terjadi 😀

Memasang Paket OpenVPN

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memasang paket openvpn dari repositori.

sudo zypper in openvpn

Memasang Easyrsa

Masuklah ke directory /etc/openvpn dan download easyrsa. Kita akan menggunakan easyrsa untuk membuat sertifikat dan kunci bagi server dan klien

cd /etc/openvpn
git clone git://github.com/OpenVPN/easy-rsa

Edit file /etc/openvpn/easy-rsa/easyrsa3/vars.example dan simpanlah menjadi vars. Pastikan baris di bawah dilengkapi, ubahlah seperlunya

set_var EASYRSA_REQ_COUNTRY     "ID"
set_var EASYRSA_REQ_PROVINCE    "DKI Jakarta"
set_var EASYRSA_REQ_CITY        "Jakarta Selatan"
set_var EASYRSA_REQ_ORG         "openSUSE Indonesia"
set_var EASYRSA_REQ_EMAIL       "geeko@opensuse.id"
set_var EASYRSA_REQ_OU          "admin"
set_var EASYRSA_KEY_SIZE        4096

Selanjutnya kita membutuhkkan 2 buah direktori terpisah untuk membuat kunci  rsa, dan menandatangani sertifikat untuk klien dan server. Salin isi direktori /etc/openvpn/easy-rsa/easyrsa3/ ke dalam direktori yang baru dibuat tersebut

mkdir /etc/openvpn/client
mkdir /etc/openvpn/server
cp -R /etc/openvpn/easy-rsa/easyrsa3/* /etc/openvpn/client/
cp -R /etc/openvpn/easy-rsa/easyrsa3/* /etc/openvpn/server/

Kunci Klien dan Request Sertifikat Klien

Pada tahapan ini semua infrastruktur yang dibutuhkan untuk menjalankan OpenVPN sudah siap, saatnya kita membuat kunci dan sertifikat. Kunci untuk klien dan request sertifikat akan dibuat di dalam direktori client, sedangkan kunci dan sertifikat server dibuat di dalam direktori server. Request sertifikat klien akan kita accept dan sign di dalam direktori server.  Di bawah ini adalah cara membuat kunci klien dan request sertifikat untuk sertifikat bernama “geeko”. Pastikan anda mengisi password saat membuat geeko.key agar proteksi kunci lebih aman, dan catatlah password yang anda masukkan.

cd /etc/openvpn/client
./easyrsa init-pki
./easyrsa gen-req geeko

Periksalah pada direktori /etc/openvpn/client/pki/private akan terdapat file kunci bernama geeko.key serta pada direktori /etc/openvpn/client/pki/reqs akan terdapat file geeko.req. Easyrsa akan membuat key dan request tersebut berdasarkan konfigurasi pada file vars. Pastikan bahwa panjang kuncinya sudah sesuai dengan ukuran yang kita set pada file vars. Dalam contoh ini kita menggunakan panjang kunci 4096 bit.

ssh-keygen -y -e -f /etc/openvpn/client/pki/private/geeko.key
Enter passphrase: 
---- BEGIN SSH2 PUBLIC KEY ----
Comment: "4096-bit RSA, converted by geeko@machine from OpenSSH"

Sampai tahap ini kita telah memiliki file kunci klien dan sebuah file request sertifikat klien. File sertifikatnya akan dibuat dan di-sign pada direktori server. Anda dapat membuat kunci klien dan request sertifikat sebanyak yang anda butuhkan, sedangkan berapa koneksi vpn yang diperbolehkan pada satu waktu yang bersamaan akan kita atur pada file konfigurasi openvpn server di /etc/openvpn/server.conf

Certification Authority, Kunci Server dan Sertifikat Server

Selanjutnya kita harus membuat sebuah certification authority, CA, yang dibutuhkan untuk men-sign


Selasa
06 November, 2018


face

Dalam beberapa update openSUSE Leap kemarin saya menemukan sedikit issue ketika boot openSUSE di laptop saya, yaitu issue munculnya tulisan “Failed to start setup Virtual Console”, nah tampilannya seperti ini tampilan issue
mungkin issue ini tidak begitu penting karena tidak berpengaruh apa – apa terhadap kinerja openSUSE sendiri, tapi kalau dilihat cukup untuk membuat resah mata untuk saya, jadi saya menemukan solusinya, yaitu sebagai berikut :

vim vconsole.patch
masukkan script ini
su
zypper in patch
cd /usr/lib/dracut
patch -p1 < /path/to/vconsole.patch
dracut -f
reboot

Selesai 😀


Selasa
09 Oktober, 2018


face

August one of the best months of 2018 for me, because for the first time I was accepted as a speaker at the 2018 OpenSUSE Asia Summit held in Taiwan, precisely in Taipei, one of the countries that I have never visited.

Before departh

on this departure I departed with several groups from their openSUSE Indonesia: Pak Kukuh, Pak Yan Arief and Pak Didiet. we went to taiwan boarding a China Airlines plane at 14:10 and arrived in Taiwan at 20:40 Taiwan time, and this was my first experience using international aircraft.

43161815435_2354b182f6_o this is when we take photos at Taiwan MRT

and after we arrived in Taiwan we bought the MRT card to use the MRT there, after that at around 11:00 p.m. we arrived at the First Hostel, here I was roomed with several people, including Gus Aftian, Pak Darian, Pak Joko, Pak Kukuh and Kakek Yan Arief.

Day 0

on Friday, we all plan to take part in the openSUSE meeting, which is in the Micro Focus SUSE office in Taiwan, and we went there after we prayed Friday at the Taiwan Grand mosque. because we waited for a very long bus, finally we all decided to walk to the SUSE office after Friday prayers, WOW!

After we arrived there, we were placed in a different room because the main room was full

photo_2018-08-22_06-56-42 here we are at the SUSE Taiwan officephoto_2018-08-22_07-06-57 Me at SUSE Office Taiwan

and in the night, there was a party speaker invitation, there I met a lot of cool people whom I haven’t memorized until now

before party speaker, Libre Office Taiwan invited us for dinner

photo_2018-08-22_07-51-42 Dinner with Libre Office Asia

photo_2018-08-22_07-51-46.jpg

photo_2018-08-22_07-53-30 the great place for speaker party

21.00 we back to hostel for tomorrow

Day 1

and the Event began, this year the OpenSUSE Asia Summit event was joined by several other major events, namely GNOME Asia Summit, and COSCUP

in this day i join to class 304

after that, on the night I attended the BoF openSUSE session, where we determined some things for next year, the openSUSE Asia Summit 2019

Day 2

Today is the day that most excited me, because on the second day I will present my paper in class 304, and also because this is the first time for me. My class started at 11.30 and it turned out that there were quite a lot, and after I talked about it, Igawa, one of the openStack and openSUSE Japanese contributors, asked about the differences between Nextcloud and Owncloud, and I was really nervousphoto_2018-08-22_09-07-25 this is mephoto_2018-08-22_09-07-18 with Masayuki Igawa

after the summit, the Indonesian contingent travels to the ximending night market and buys some souvenirs

No items found.

Day 3 – one day tour

After that event, many speaker join to one day tour at Taiwan, some of the places we visited were the National Palace Museum and Taipei 101, we went there by bus from Taipei Main Station. yes, before going to


Rabu
26 September, 2018


face

2018-08-09 11.41.35

Bukan perjalanan pertama saya melalui rute ini, namun tak salah menuliskan catatan ini.

Pesawat saya berangkat Kamis pagi jam 8.15 dengan Catay Pacific CX-718. Saya sudah melakukan checkin online sebelumnya melalui website dan memilih nomor kursi. Catay Airways hanya mengijinkan melakukan checkin online mulai dari 48 jam sebelum keberangkatan. Kemudian saya memilih Muslim Food dari menu checkin Catay. Pilihan Muslim Food hanya tersedia di Penerbangan HK-TPE, sedangkan dari CGK-HK semua makanan adalah Halal. Untuk penerbangan pulang, pilihan Muslim Food hanya tersedia dalam penerbangan TPE-HK, sedangkan HK-CGK semua makanan dinyatakan halal, sehingga tidak perlu memilih lagi. Selalu bawa botol minum isi ulang.

Di bandara Terminal 2F, saya segera melakukan checkin dan drop bagasi. Meski berangkat bertiga, urusan ini mending diselesaikan sendiri tanpa harus tunggu-tungguan. Lanjut imigrasi karena bagian ini cukup memakan waktu. Sampai di loket imigrasi, tebakan saya benar, antrian mengular. Butuh 15 menit dari awal antri hingga pemerikasaan saya selesai. Huft. Sampai di bagian Gate baru mencari Pak Edwin dan Pak Haris yang ternyata sudah duduk ngopi dan sarapan di Old Town Coffee. Oh iya, dalam penerbangan internasional terdapat banyak catatan dalam barang bawaan yang biasanya rewel juga, diantaranya:

  1. Aturan benda cair dalam botol, maksimal 100ml dan dimasukkan ke kantong zipper bening.
  2. Sebelum x-ray terakhir, pastikan botol minum dikosongkan. Nanti bisa diisi kembali di water refil setelah x-ray tersebut.

Boarding 40 menit sebelum jam keberangkatan. Penerbangan ditempuh dalam kurun waktu 5 jam 10 menit. Terdapat perbedaan waktu antara Jakarta dan Hongkong, yaitu lebih cepat 1 jam. HK GMT+8. Saya langsung mengatur jam tangan dan jam di HP agar ikut berganti. Perjalanan saya habiskan dengan tidur, membaca novel dan mendengarkan musik. Terdapat layanan hiburan yang memadai di dalam kabin pesawat.

Oh iya, saya lupa penerbangan Catay menggunakan pesawat jenis berapa, namun di kedua pesawat itu terdapat colokan universal yang bisa digunakan untuk mencharge HP. Ada dua kemungkinan lokasi colokan itu berada. Pilihan pertama ada di lipatan meja makan. Yang kedua pilihannya di bawah kursi, di bagian pertemuan kursi. Silahkan diraba perlahan. Oh iya, ada indikasi lampu hijau yang hidup menandakan charger bisa digunakan karena jika lampu tidak hidup, berarti tidak ada arus yang berjalan. Lampu beberapa kali mati, biasanya ketika akan lepas landas, ada goncangan dan ketika akan mendarat.

Saya sedikit rewel jika berada dalam ruangan AC cukup lama. Apalagi jika di dalam pesawat. Ini menyebabkan hidung saya iritasi kemudian mimisan. Makanya saya selalu menggunakan masker dalam pesawat jika lama penerbangan lebih dari 2 jam. Tak lupa jaket tebal bertudung kepala.

Mendarat di HK pukul 14.20 waktu setempat. Setelah membawa bagasi kabin, kemudian menuju couter checkin transit. Nyari tempat isi ulang air minum, minum secukupnya. Lanjut menuju gate transit. Butuh naik 1 lantai dan kemudian dilakukan pemeriksaan ulang, x-ray bagasi kabin dan screening. Pastikan sebelum masuk pemeriksaan, kosongkan botol minum agar mempercepat proses scanning.

Koneksi internet di Bandara HK saya acungi jempol. Cukup aktifkan Wi-Fi kemudian pilih nama access point untuk bandara HK, setujui persyaratan dan peraturan. Setelah itu bisa berinternet ria tanpa pembatasan durasi berinternet. Untuk kecepatan


Selasa
21 Agustus, 2018


face

 

When you’re planning a trip to Asia, Taipei probably isn’t be the first destination that comes to mind, as it’s often ignored in favor of more popular tourist spots like Tokyo or Hong Kong. But don’t ignore a trip to Taiwan’s big city — it’s an inexpensive, quirky metropolis with some of the best night markets in all of Asia. This is the second time i’ve visited Taipei for openSUSE Asia Summit.

FYI, The last openSUSE.Asia Summit was held in Tokyo, Japan.

Here we go. Me and the famous Mr. gecko!!

Thursday 9 Aug, Day -1 (Travel to Taiwan)

This time, 14 people came from Indonesia to join openSUSE Asia Summit 2018 in Taipei. We divided to 3 groups. One group flight from Juanda Surabaya (Darian, Aftian, Joko, Rania). One group at morning flight from CGK (Haris, Edwin, Estu). Last group with afternoon flight from CGK (Kukuh, Didiet, Rifki, Yan Arief) And 3 others people; Tonny, Iwan Tahari, Siska join a separate flight.

My group is the first team landing in Taiyuan Airport. At international arrival gate, Franklin Weng pick us up to hostel, but we decided to visited Frank office before going to Hostel. We meet Eric Sun and their team. Artistic team who create video for opening ODF Reader on Android. The video created using Blender Software.

22.00 we arrive at hostel. Many thanks to Frank for deliver us. :D. A few hours later, 2 more groups arrived at hostel. We are stay at same hostel. A comfort dormitory with share room. First Hostel, not far from Daan Park. Let call it a day and sleep all the night.

Friday 10 Aug, Day 0 (openSUSE Board and Community Meetup)

Today we plan join meetup at Taiwan SUSE Office after Friday Prayer. We visited Taiwan Grand Mosque, not far from Daan Park and our hostel. Before Friday Prayer, we take breakfast at Sakura Canteen (with Indonesian Food), next to Taiwan Grand Mosque. After praying, we going to SUSE office by walk. We came late to SUSE office, after lost direction. What a day!

Main discussion on SUSE Office

We meet openSUSE boards, SUSE Beijing and SUSE Taiwan, openSUSE Japan, openSUSE Taiwan; Ana Martinez and Simon, Sunny and team, Alcho and team, Takeyama and team, Sakana etc. You can watch meetup video from Sakana here.

Our discussion focus on some point:

  • How to prepare for next summit. We start create guideline for better preparation
  • How to engage more student to join GSOC for openSUSE Project. We plan to choose local coordinator each country to break gap between GSOC/Mentor Team from openSUSE and students from various county, especially Asia.
  • openSUSE Asia Summit album. Takeyama as part of Japan openSUSE team hand over album to Sakana, as local committee for current summit.

Lets finish foods and take photos!! After that, we moved to near building for tonight’s party. COSCUP Welcome Party at Zhangmen Brewing — Breeze Songgao Store. Before party, Libre Office Taiwan


Minggu
19 Agustus, 2018


face

GNOME Asia Summit 2018 this time happen in Taipei – Taiwan, at National Taiwan University of Science and Technology, August 11 – 12, 2018. This summit is co-host between openSUSE Asia Summit and COSCUP, so the summit title is COSCUP 2018 x openSUSE Asia Summit 2018 x GNOME Asia Summit 2018.

I arrived at Taipei at Thursday – August 9. Franklin Weng from LibreOffice Taiwan pickup me at airport and go stright to A+A Workshop. A+A Workshop was place that FOSS Community from Taiwan used for meetup every Thursday. Franklin introduce me to others. Then go to First Hostel to meet other friends from Indonesia who also attend this conference. Most of them from openSUSE Indonesia.

#0 day

On Friday, me and others have free time. We go to Taipei Grand Mosque to Jum’ah (Friday) Praying, then I meet my High School Friends who live in Taipei. Then I go to Microfocus office to meet other Indonesian and openSUSE Community. At night, have dinner with LibreOffice Community around Asia, LibreOffice Taiwan (Franklin Weng) paid for our food.

Then we go to welcome party for speaker and staff. My role for this event was part of international staff, so I have invitation for this with others. It’s good time to see each others and good night few. Few openSUSE and SUSE member discuss with me about potential held openSUSE Asia Summit and GNOME Asia Summit together next year.

Taipei 101 from roof top

#1 day

This summit was very crowd comparing to COSCUP 2016 (I became speaker at that time). On first day attended by 1364 participant and on second day attended by 784 participant. It has 15 parallel classes. Few of them are in English, especially from openSUSE and GNOME.

In this summit, I help to manage coordinating for web content, design, and also material design such as logo. Many friends from Taiwan and Indonesia contribute in this. I’m not become speaker this time, but I bring few students and they become speaker.

Empty Class

On first day, I’m joining Benjamin Berg class, he’s talking about “Supporting Miracast on the GNOME Desktop” which is very interesting for me comparing to others. Then “Desktop applications: life inside a sandbox” by David King then The Year of the GNOME by Nuritzi Sanchez. I spent few hours for discussion with other participant. Sharing mine and their activity about contributing to FOSS. And also I try to find praying room, and found it next conference building. So comfortable. The organizer also give me food that compatible with Halal Food, and I see Sobha and her student got vegetarian food. It’s prepared well.

At evening, we have official two official BoF (openSUSE and GNOME) and one unofficial BoF (LibreOffice). I was realy confuse which one that I must join. But I made decission, because I bring 3 students that contribute in LibreOffice this year, so I will help them to join LibreOffice BoF. Before we go, I told Kukuh to


Kamis
16 Agustus, 2018


face

openSUSE Asia Summit 2018 selesai digelar kemarin. Rangkaian acara total digelar sejak 8-13 Agustus di National Taiwan University of Science and Technology, Taipei. Tulisan saya dalam Bahasa Inggris dapat dibaca pada tautan ini.

Sebagai Summit kedua di Taiwan, openSUSE Asia Summit 2018 berlangsung sangat ramai, banyak kawan-kawan lama dari beberapa summit lainnya ikut hadir. Acara Summit kali ini lebih spesial karena merupakan kolaborasi tiga acara COSCUP X GNOME.Asia Summit X openSUSE Asia Summit.

Saya kebagian sesi hari pertama, Sabtu 11 Agustus pukul 14.30. Materi yang saya bawakan berjudul: How Jogja Become City of GNU/Linux User Friendly. Slide presentasi saya dapat diakses di tautan ini.

Dalam sesi ini, saya menceritakan sejarah komunitas GNU/Linux di Jogja ketika awal-awal saya berkenalan dengan GNU/Linux dalam rentang tahun 2009-2015 bahkan era sebelum saya datang ke Jogja.

Era komunitas GNU/Linux di Jogja mulai pudar sejak periode Startup mulai menggeliat di Jogja, sekitaran tahun 2015. Dalam catatan ini saya melihat bahwa teknologi berkode sumber terbuka tidak lagi dalam tatanan bagaimana berkenalan. Namun sudah menuju bagaimana teknologi ini dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Di bagian akhir cerita, saya menceritakan Apa itu Binar Academy dan bagaimana Binar Academy memanfaatkan GNU/Linux dan teknologi bersumber kode terbuka lainnya dalam proses akademi. Beberapa hal malah merupakan keharusan menggunakan teknologi tersebut dalam proses akademi.

Beberapa teknologi yang kita gunakan di Binar Academy:

  • Sistem operasi, Ervien, salah satu mentor dan saya menggunakan opensuse 42.3 dalam keseharian, beberapa mentor lainnya menggunakan Ubuntu 16.04 dan Linux Mint.
  • Bahasa pemograman, Ruby on Rails, Vue JS, Kontlin,
  • Metabase, Mattermost
  • Database, mysql, postgresql
  • Webserver, NGINX
  • AWS Platform, Heroku
  • Gitlab dan Gitlab-CI

Harapannya adalah semakin banyak orang, lembaga, perusahaan yang memanfaatkan GNU/Linux dan teknologi bersumber kode terbuka lainnya.

Terimakasih untuk openSUSE dan Binar Academy yang menjadi sponsor perjalanan saya.

Estu


Selasa
07 Agustus, 2018


face

Perhelatan openSUSE Asia Summit 2018 tinggal menghitung hari. Perhelatan ini akan berlangsung pada 10 – 12 Agustus di National Taiwan University of Science and Technology, Taipei. Acaranya akan cukup wah sekali karena merupakan kolaborasi tiga acara. COSCUP X GNOME.Asia Summit X openSUSE Asia Summit.

Tahun ini kembali openSUSE.ID mengirim kontingen untuk memeriahkan acara. Ada 9 Pembicara dari Indonesia di openSUSE Asia Summit. Dan ada beberapa pembicara lain yang hadir untuk GNOME.Asia Summit 2018.

Daftar kontingen openSUSE Asia Summit beserta materi yang akan dibawakan adalah:

  • Mohammad Edwin | Maintaining the Good Spirit – openSUSE Indonesia Community Experience
  • Kukuh Syafaat | openSUSE Leap & Flatpak
  • Yan Arief Purwanto | Having fun with KDE: create a Plasmoid
  • Estu Fardani | How Jogja Become City of GNU/Linux User Friendly
  • Didiet Agus Pambudiono | Deployment of multi node web server, database server and storage session server with Ansible
  • Ahmad Romadhon Hidayatullah | Working and Contributing to Open Source Project via Graphic Design in openSUSE Tumbleweed
  • Rahman Yusri Aftian | Nusantara Metode Input at openSUSE
  • Tonny Adhi Sabastian | Single Sign On Services with Free/Open Source Software at Universitas Indonesia – Updating to CAS 5
  • Mohammad Rifki Affandi Z | Build your cloud file hosting using Nextcloud on openSUSE Leap 15.0
  • Darian Rizaludin
  • Joko Susilo
  • Ahmad Haris
  • Siska Iskandar
  • Iwan S Tahari

Tiket pesawat udah dibeli, Visa udah diurus, penginepan juga sudah dipesan. Tapi materi salindia masih draft semua. :D. Sampai bertemu di Taipei.

Terimakasih untuk openSUSE dan Binar Academy yang menjadi sponsor perjalanan saya.

Estu


Jumat
29 Juni, 2018


face

release party.jpg

Sumber : https://www.facebook.com/opensuse.indonesia/?ref=br_rs

Awal Cerita

jadi ceritanya dulu itu saya masih anak bawang banget, lulus sekolah di Manaratul Islam dan pondok pesantren di Miftahul Ulum. coba keberuntungan saya SNMPTN dan Alhamdulillah Allah mengizinkan saya untuk kuliah di salah satu kampus di Surakarta yaitu Universitas Sebelas Maret dengan Jurusan Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer di FKIP. Setelah masuk kampus saya yang anak aliyah ini gak ngerti apa – apa, beneran dah wkwkkw, ilmu ala kadarnya, pokoknya semuanya dibawah rata -rata yang lain. Kemudian setelah saya masih sedikit belajar di Solo saya mulai mengenal banyak sistem operasi, salah satu yang menjadi pusat perhatian saya ialah Linux.

Waktu itu sekitar tahun 2016, saya liat postingan teman saya, dia lagi ikut acara openSUSE Asia Summit 2016 di jogja, saya pikir “anjir keren dh”, saya mau ikut tapi ternyata tiket udah abis dan saya juga lagi kere. Disitulah saya berkenalan dengan distro linux yang berlogo bunglon ini, dan anehnya saya tertarik karena logo si bunglon ini wkwkwkw.

Memberanikan diri

Nah disini, saya yang gak kenal siapa – siapa sama sekali dan gak tau apa – apa, mulai coba memberanikan diri saya dengan mencoba “sok kenal”. Saya kadang punya prinsip “Kalo lu mau jadi orang besar ya jadi orang kecil dulu, semua butuh proses”. Singkat cerita saya mencoba iseng membeli buku fundamental linux berbasis openSUSE dari PT Excellent yang ditulis sama Bang Nugi, saya sempet chat si pelapak yaitu pak Bos Vavai, dan saya belum tau ternyata pak Vavai adalah pemilik dari PT Excellent itu sendiri, berhubung di kuliah saya akan ada mata kuliah Praktek Industri saya coba tanya ke Pak Vavai, apakah nerima mahasiswa magang disana. Terus saya coba beli majalah sama Pak Kukuh dan saya ambil langsung di menara Jamsostek dan disana saya ketemu sama Pak Edwin. Terus ikut acara openSUSE Indonesia jalan – jalan ke Bursa Efek Indonesia, ikut menjadi penjaga stand LibreOffice Indonesia di acara LibreOffice Conference Indonesia sama Pak Sokibi dan juga menjadi translator si bunglon ini pun saya hanya memberanikan diri.

Saya memberikan apresiasi yang sangat besar pada Pak Edwin, Pak Kukuh dan Pak Estu yang selalu memberikan semangat untuk anak muda di Indonesia supaya ikut event internasional dan kita dituntut jangan takut akan kegagalan kalau belum dicoba.

Singkat cerita ketika saya magang di Excellent saya sungguh senang liat teman saya, Dhenandi diterima sebagai pembicara di acara openSUSE Asia Summit 2017 di Jepang. WOW! saya pun iri wkwkwkw, secara saya seumuran sama dia, masa saya kalah. Setelah saya mendengar kabar bahwa openSUSE Asia Summit selanjutnya akan diadakan di Taiwan, saya pun bergegas membuat Paper! dengan judul “Build your cloud file hosting using Nextcluod on openSUSE Leap 15.0” dan Alhamdulillah paper saya diterimaa !!!

Permasalahan yang saya hadapi berikutnya adalah

  1. Paspor
  2. Visa
  3. Bahasa

tapi saya sadar semua itu bisa saya lewati dengan usaha dan kerja keras ! intinya coba dulu sebelum ngomong, jangan ngomong doang tapi gak ada bukti ! :p


Senin
04 Juni, 2018


face

openSUSE Asia Summit 2015

Setelah memasang Leap 15.0 di x260, ternyata saya tidak bisa memainkan gif ataupun video dari Facebook. Peramban yang saya gunakan adalah Firefox 60.0.1. Di lain sisi, memutar youtube tidak ada masalah. Dari hasil pengecekan https://www.youtube.com/html5 didapat bahwa format MP4/H.264 belum didukung oleh sistem operasi dan peramban.

Membaca wiki openSUSE ditautan https://en.opensuse.org/SDB:Firefox_MP4/H.264_Video_Support, masalah ini dapat diatasi dengan:

  1. Pasang repo packman,
  2. Pasang libav, sekalian memasang VLC
    $ sudo zypper in vlc libavcodec56 libavcodec57 libavformat56 libavformat57 libavdevice56 libavdevice57
    
  3. Restart firefox, dan test kembali dukungan video di https://www.youtube.com/html5

Selesai. Horeee.

Estu~


Minggu
03 Juni, 2018


face

openSUSE Leap 15.0 baru saja dirilis beberapa pekan kemarin yakni tepatnya pada tanggal 25 May, pada openSUSE Leap 15.0 ini memiliki banyak pembaruan diantaranya yang menjadi sorotan dari pembaruan openSUSE Leap 15.0 ini dapat dilihat di situs kabar linux saya sendiri masih sempat bingung bagaimana caranya untuk update ke openSUSE Leap 15.0 ini sendiri, saya sendiri masih memakai openSUSE Leap 42.3 sebelum tulisan ini dirilis dan sekarang telah memakai openSUSE Leap 15.0. Yuk langsung aja kita cari tahu bagaimana cara update ke openSUSE Leap 15.0 ini :D.

Pra upgrade

Sebelum kita upgrade si ijo ini kita terlebih dulu menyiapkan beberapa hal yang harus disiapkan. guna mengantisipasi beberapa hal yang tidak diinginkan terjadi (data hilang)

  1. Backup Data penting anda ke Hardisk eksternal (kalau gk ada pinjem punya temen)
  2.  Siapkan niat
  3. Internet
  4. Repository lokal, ini tentu diperlukan saya sendiri memilih repo dari repo.opensuse.id agar proses update lebih kenceng

Ganti Repository

Setelah sesajen sebelum upgrade disiapkan, kita langsung ke proses upgrade

    zypper mr -da
    zypper ar -f http://repo.opensuse.id/distribution/leap/15.0/repo/oss/ repo-opensuse-id-15-oss
    zypper ar -f http://repo.opensuse.id/distribution/leap/15.0/repo/non-oss/ repo-opensuse-id-15-non-oss
    zypper ar -f http://repo.opensuse.id/update/leap/15.0/oss/ repo-update-opensuse-id-15-oss
    zypper ar -f http://repo.opensuse.id/update/leap/15.0/non-oss/ repo-update-opensuse-id-15-non-oss

Upgrade

Setelah kita mengganti repository, kita lakukan upgrade openSUSE ini berikut perintahnya

  1. Tekan Ctrl + Alt dan F1 secara bersamaan, lalu jalankan perintah dibawah ini
  2. zypper ref
    zypper dup

    Setelah itu kalian bisa ngopi – ngopi atau ngaji juga boleh agar proses upgrade lancar 😀

Note : Semoga bermanfaat


Rabu
23 Mei, 2018


face

I’ve been curious and interested with GPD Pocket since last year, when first time it announced (https://www.indiegogo.com/projects/gpd-pocket-7-0-umpc-laptop-ubuntu-or-win-10-os#/).

I bought this tiny machine 3 weeks ago on aliexpress. Shipping take only a day, but custom clearance takes almost two weeks.

First impression about this laptop was cute and good built quality.

Tiny

Installing It with Linux

This machine preinstalled with Windows 10, I think it’s original but who cares. I need running linux on it.

I try Leap 15 for first time. Screen rotated -1 and wifi not working. Then I tried Ubuntu 18.04 and similar thing happen. I use iso from gpd site, Ubuntu 16.04 that already customized for GPD Pocket but not working (stuck at boot).

Ubuntu 16.04

I read some documentation at https://github.com/stockmind/gpd-pocket-ubuntu-respin to rebuild Ubuntu 18.04 iso, but not working enough. So I use another methode, installing it then use update.sh to reconfigure all. It’s working. But I’m not satisfied in it. I wanna Tumbleweed on this machine.

I download openSUSE-Tumbleweed-DVD-x86_64-Snapshot20180520-Media.iso and dd-ing it to usb flashdisk then install. Of course when installing process, my screen was rotated -1. I choose GNOME Desktop. But after reboot, GNOME works fine except:

  1. wifi not working
  2. no battery applet, and system not recognize battery

Patch

Kukuh Syafaat, President of openSUSE-ID told me that Richard Brown (@sysrich) use GPD Pocket. So I ask Richard on twitter and he gave me clue in https://github.com/sysrich/salt-states/blob/master/opensuse/laptop.sls.

I use few lines from laptop.sls and it’s working well. I translated that salt script into plain bash script at https://github.com/princeofgiri/gpd-pocket-patch.

After reboot, Tumbleweed still not detecting the battery.

Use Another Kernel

I remember that Leap 15 can recognize the battery. So I download the kernel and installing it. Yes it’s work, but there’s new problem, when in charging mode, battery applet seems not know if that time is in charging mode.

So I decide to compile kernel by my self. Got the source from https://github.com/jwrdegoede/linux-sunxi.git and the result was cool. It’s works.

Let’s Work

Notes

  • I write this post using GPD Pocket
  • I will write kernel compilation in another post
  • Plymouth still rotated -1
Plymouth

Jumat
27 April, 2018


face

GNOME 3.28 beberapa waktu lalu baru rilis, cukup memancing banyak komentar. Tanggal 26 April kemarin, Ubuntu 18.04 meluncur dengan menyertakan GNOME 3.28 sebagai Desktop Environment baku. Unity sudah tidak dipergunakan lagi, mungkin tim Ubuntu sudah lelah.

Berawal dari move on-nya si Ubuntu, banyak penggemarnya kecewa, dan merasa GNOME itu jelek, tanpa bisa menunjukkan kejelekannya. Mari kita mundur beberapa waktu lalu.

 

Awal muncul GNOME 3, saya termasuk orang yang tidak suka, antar mukanya aneh. Lebih nyaman dan sederhana GNOME 2. Saya yang saat itu masuk di tim pengembang BlankOn, bersama rekan-rekan membedah kejelekannya sehingga muncullah bibit-bibit pemberontakan dengan dimulainya BlankOn Panel yang berujung pada Manokwari.

Manokwari sendiri perlu dibuat karena kedepannya, semua pustaka GNOME 2 akan ditinggalkan dan beralih ke GNOME 3. Tapi saya dan teman-teman tidak siap untuk sepenuhnya menggunakan GNOME 3 karena beberapa kejelekannya.

2014, saat GNOME Asia di Beijing, saya ngomong sendiri bahwa GNOME jelek ke pimpinan desainer UI/UX, Allan Day, dan berujunglah diskusi panjang. Saya pasti kalah sama mereka dalam hal penjelasan, saya cupunya minta ampun. Tapi saya menang dengan menceritakan bahwa GNOME 3 membutuhkan sumber daya komputer cukup besar (misal RAM 1 GB) di mana masyarakat Indonesia tidak banyak yang bisa memenuhinya. Sedangkan Manokwari, bisa bekerja (waktu itu) pada RAM 256 MB. Toh Manokwari masih menggunakan pustaka GNOME.

Sekitar 2011, Ubuntu merilis Unity, banyak yang komplain dan gak nyaman. Pindah ke KDE juga takut gengsinya turun lantara KDE di masa itu (sampai masa kini sih) mirip MS Windows dan banyak kutu (sekarang udah jauh mendingan).

Kita terbiasa ngedumel dan menjelek-jelekkan tanpa bisa menunjukkan apa yang bisa dilakukan untuk memperbagus hal tersebut. Mental kita lebih banyak sebagai pencela dari pada penebar “Rahmatan Lil Alamin”.

Saya dulu, mantab pindah ke GNOME 3.x saat memiliki layar dengan resolusi di atas FHD (3K) dan layar sentuh. Banyak perabotan GNOME bisa berfungsi dengan baik, seperti:

  • di Yoga 3 Pro, di layar ada logo jendela, saat disentuh, akan bisa menampilkan Activities. Pada DE lain tidak bisa
  • di layar sentuh, on screen keyboard sangat mudah tampil saat kita merasa memerlukannya (atau pada tablet mode). Tentunya hal ini tidak terjadi jika komputer kalian masih konvensional.

Jadi, sebelum mencela GNOME, lebih baik kopdar, ngopi-ngopi dulu dengan teman-teman komunitas GNOME. Saya traktir!

Catatan: saya belum nemu orang komplain dengan DE-nya Endless OS. Kalau komplain terkait tidak bisa booting dan sampai mencela saya tidak beretika sih ada.


Kamis
05 April, 2018


face

2018-03-25 14.47.48

Ini kali kedua konferensi, saya g ikut jadi pembicara. Sebelumnya PyConf ID di PENS 19 Desember silam, hanya cuma submit judul dan tidak lolos (dan memang berharap tidak lolos). Acara di PENS Desember silam termasuk perjalanan ajaib, karena kali pertama saya nyoba bawa sepeda lipat naik pesawat.

Konferensi LibreOffice kemaren saya semacam penyusup, karena sedikit bikin acara dalam acara. Agenda terselubungnya adalah mengumpulkan pengembang-pengembang BlankOn dalam satu lokasi. Semacam BlanKopdar.

Perjalanan ke timur. Rencana awal berangkat naik bus, tapi beberapa jam menjelang berangkat, tiba-tiba malah beli tiket kereta Jayakarta. Dan dapat kabar, kereta jalur selatan asal dan menuju Bandung mengalami terlambat. Karena ada kereta anjlok. Dan Pak Didiet sudah misuh-misuh dari sore.

Untuk penginapan di Surabaya, sebulan sebelumnya saya sudah memesan kamar dormitory di Anjani B&B tidak jauh dari PENS. Memesan 3 kamar dengan total 10 tempat tidur. 2 kamar dengan 4 kasur. 1 kamar untuk tim openSUSE.ID dan 2 kamar untuk BlankOn. Cukup murah.

Saya sampai Surabaya Jumat pagi jam 5, dan langsung ke homestay. Di homestay sudah ada Pak Slamet dan Pak Kuriyanto yang sudah sampai Surabaya sejak Kamis.

Hari Jumat 23 Maret 2018

Setelah mandi dan sarapan, terus langsung ke PENS. Ketemu Pak Edwin. Pak Noor Azam, Pak Eric dan Pak Franklin Weng. Juga ketemu beberapa pendekar yang sebelumnya belum pernah ketemu. Ada Pak Sofyan, Pak Kifli, Pak Syamsul, yang saya baru pertama ketemu. (Maafkan bila ada yg terlupa tidak disebut, keterbatasan memori)

Agenda Jumat adalah Workhop LibreOffice bareng Pak Andika. Break Solat jumat, kemudian dilanjutkan seremonial antara Panitia, Pembicara, Pihak Kampus dan Sponsor sekalian makan siang.

2018-03-23 13.53.04

Setelah Ashar saya balik ke homestay lagi sekalian mengantar Pak Edwin. Sebelum balik, Pak Darian nitip, “Pak ntar malam ada undangan makan di Jenggala Resto”. Siap ndan. Pak Darian makin lemu, mungkin efek stress menjadi koordinator panitia lokal. Selama makan malam, banyak obrolan teknis dan non teknis. Beberapa merupakan temu kangen. Tidak tiap tahun bisa kopdar komunitas seperti ini.

Setelah selesai undangan makan malam, balik homestay. Kita mulai Hackathon di Homestay. Kita bagi tugas tiap-tiap orang, apa aja yang bisa dikerjakan.

BlanKopdar kali ini ada beberapa target yang ingin dikejar:
1. Tambal Paket, terutama terkait Sofware Center dan Appstream Data
2. Nutupin Tiket BlankOn Installer
3. Rilis Manokwari, sekalian mengundang Pak Fadlun buat Hackathon, sebagai kontributor Manokwari paling aktif saat ini.
4. Beberapa konfigurasi infra yang dibutuhkan

Dalam kenyataannya adalah zsync jahitan, install, debug, koding-koding, commit, rilis paket, masuk ke irgsh, jahit dan ulangi dari awal. Jam 1 pada mulai tepar, namun hasilnya produktif. Beberapa bug minor terdeteksi dan dapat ditambal.

Hari Pertama Konferensi, Sabtu 24 Maret 2018.

Tempat acara di Gedung Pasca Sarjana PENS lt. 6. Saya agak telat datang. Pak Slamet dan Tim sudah duluan untuk persiapan Stand Pameran. Saya baru jam 11 sampai PENS. Tak lama dapat telepon dari Pak Aftian. Ya salah satu target utama datang ke Surabaya ini memang untuk ketemu Pak Aftian sebagai supermen di Proyek BlankOn.

Saya banyak menghabiskan di Stand Pameran, ngadep laptop. Jam set 1 ketemu Pak Aftian. Sesi


Selasa
03 April, 2018


face

The Original Story Behind This Conference

Yes, Sokibi and Rania already write the story about how we starting the conference. It’s true but not complete one. The original one was before I have dinner with Sokibi and Rania. I have lunch with Kukuh and Moko in Soto Betawi Restourant near my house.

Soto Betawi

We’re thinking that in 2017 there’s no FOSS Conference in Indonesia. So we decide to organize conference about LibreOffice but small one (we can call it mini conference). But time flows, and we kick out “mini” and become normal conference.

The Document Foundation

Since Franklin Weng becoming board in TDF, he often pursuade me to joining TDF Membership. Well, I’m thinking that I less contribution on LibreOffice and little experience in that (except for personal/daily use). I have lot of experience in OpenOffice, an era before LibreOffice.

So, with organizing this conference, it’s my starting point to contribute to LibreOffice and of course I apply the membership and TDF will process my submission this month.

Start Organizing Conference

We start work in December 2017, preparing the proposal and choose which city and university for the venue. We asking two universities and good will comes from PENS (Politeknik Electronika Negeri Surabaya). We start working on Januari 4th, and prepare everything daily.

We have 9 members of organizer in first place, but then one member just gone away not active, so I kicked him out. Our member was come from different cities, luckly it’s still in one timezone. So we just have 8 powerfull members. In last week near the event, there’s about 25 students from university that joining us as local community organizer.

My main role is as coordinator and fundraiser. It’s easy but not easy. But I have good team members. In the event it’s self I was complicated busy, make sure everything work and run perfectly. But me and others are happy.

Honorable mention Rania, Moko, Kukuh, Joko, Darian, Ummul, and Tamara. The last one can’t attend the conference.

Day #-1

I arrived at Surabaya on Thursday, one day before workshop. I need to come early to make coordination with local organizer and pickup Franklin and Eric. Both of them are my old friends.

Mr. Ardi (lecturer from PENS who also local organizer) told me in telegram chat, that in Day#1, I need to have speech to open the conference with some professor. I bought batik shirt for this special moment. 😀

Day #0

This is workshop day. I visited the venue and meet Mr. Ardi. I see the workshop for couple minutes and then at lunch time, I have meeting with Franklin, Eric, Andika, Noor, Darian, Estu and Lecturer/Professor from PENS.

In that meeting we have introduce our self and have small discussion. The Director of PENS also open the conference, because on Day#1 he can’t attending it.

I stay in Rumah Kertajaya Hostel, same with Franklin, Eric and Italo

Older blog entries ->