Welcome to Planet openSUSE

This is a feed aggregator that collects what openSUSE contributors are writing in their respective blogs.

To have your blog added to this aggregator, please read the instructions.


Selasa
13 November, 2018


face

Seringkali kita harus mengakses jaringan baik di kantor, cloud provider, atau pelanggan kita melalui jaringan internet menggunakan VPN. Ada banyak implementasi VPN, yang paling sering digunakan adalah PPTP karena gampang untuk mengkonfigurasinya, percayalah PPTP itu tidak aman 😉

Salah satu yang cukup baik adalah OpenVPN. Instalasi OpenVPN di openSUSE tidak semudah di Ubuntu misalnya yang sudah menyediakan banyak script bantu yang membuat implementasinya menjadi mudah. Tapi, memasang OpenVPN di openSUSE akan membuat anda mengerti apa sebetulnya yang terjadi 😀

Memasang Paket OpenVPN

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memasang paket openvpn dari repositori.

sudo zypper in openvpn

Memasang Easyrsa

Masuklah ke directory /etc/openvpn dan download easyrsa. Kita akan menggunakan easyrsa untuk membuat sertifikat dan kunci bagi server dan klien

cd /etc/openvpn
git clone git://github.com/OpenVPN/easy-rsa

Edit file /etc/openvpn/easy-rsa/easyrsa3/vars.example dan simpanlah menjadi vars. Pastikan baris di bawah dilengkapi, ubahlah seperlunya

set_var EASYRSA_REQ_COUNTRY     "ID"
set_var EASYRSA_REQ_PROVINCE    "DKI Jakarta"
set_var EASYRSA_REQ_CITY        "Jakarta Selatan"
set_var EASYRSA_REQ_ORG         "openSUSE Indonesia"
set_var EASYRSA_REQ_EMAIL       "geeko@opensuse.id"
set_var EASYRSA_REQ_OU          "admin"
set_var EASYRSA_KEY_SIZE        4096

Selanjutnya kita membutuhkkan 2 buah direktori terpisah untuk membuat kunci  rsa, dan menandatangani sertifikat untuk klien dan server. Salin isi direktori /etc/openvpn/easy-rsa/easyrsa3/ ke dalam direktori yang baru dibuat tersebut

mkdir /etc/openvpn/client
mkdir /etc/openvpn/server
cp -R /etc/openvpn/easy-rsa/easyrsa3/* /etc/openvpn/client/
cp -R /etc/openvpn/easy-rsa/easyrsa3/* /etc/openvpn/server/

Kunci Klien dan Request Sertifikat Klien

Pada tahapan ini semua infrastruktur yang dibutuhkan untuk menjalankan OpenVPN sudah siap, saatnya kita membuat kunci dan sertifikat. Kunci untuk klien dan request sertifikat akan dibuat di dalam direktori client, sedangkan kunci dan sertifikat server dibuat di dalam direktori server. Request sertifikat klien akan kita accept dan sign di dalam direktori server.  Di bawah ini adalah cara membuat kunci klien dan request sertifikat untuk sertifikat bernama “geeko”. Pastikan anda mengisi password saat membuat geeko.key agar proteksi kunci lebih aman, dan catatlah password yang anda masukkan.

cd /etc/openvpn/client
./easyrsa init-pki
./easyrsa gen-req geeko

Periksalah pada direktori /etc/openvpn/client/pki/private akan terdapat file kunci bernama geeko.key serta pada direktori /etc/openvpn/client/pki/reqs akan terdapat file geeko.req. Easyrsa akan membuat key dan request tersebut berdasarkan konfigurasi pada file vars. Pastikan bahwa panjang kuncinya sudah sesuai dengan ukuran yang kita set pada file vars. Dalam contoh ini kita menggunakan panjang kunci 4096 bit.

ssh-keygen -y -e -f /etc/openvpn/client/pki/private/geeko.key
Enter passphrase: 
---- BEGIN SSH2 PUBLIC KEY ----
Comment: "4096-bit RSA, converted by geeko@machine from OpenSSH"

Sampai tahap ini kita telah memiliki file kunci klien dan sebuah file request sertifikat klien. File sertifikatnya akan dibuat dan di-sign pada direktori server. Anda dapat membuat kunci klien dan request sertifikat sebanyak yang anda butuhkan, sedangkan berapa koneksi vpn yang diperbolehkan pada satu waktu yang bersamaan akan kita atur pada file konfigurasi openvpn server di /etc/openvpn/server.conf

Certification Authority, Kunci Server dan Sertifikat Server

Selanjutnya kita harus membuat sebuah certification authority, CA, yang dibutuhkan untuk men-sign


Minggu
11 November, 2018


face

Meski tidak terlampau banyak, alhamdulillah frekuensi pembelian ebook VMware vSphere 6.7 selalu ada tiap bulannya. Ebook ini adalah salah satu ebook yang pembuatannya benar-benar diniatkan, karena merupakan salah satu materi yang biaya training resminya mencapai 2000 US$.

Dengan biaya buku/ebook yang relatif murah, ada harapan ilmunya bisa didapat, kemudian mendapatkan pekerjaan yang sesuai dan pendapatannya bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas agar bisa lebih baik lagi.

Dengan nilai investasi masih dibawah 100 ribu untuk versi ebook, saya berharap pengetahuan mengenai virtualisasi server berbasis VMware vSphere ini bisa lebih banyak dikuasai oleh rekan-rekan Sys Admin.

Untuk ebook, bisa diakses disini : http://bit.ly/ebookvsphere67 sedangkan ebook/buku cetak lainnya : https://www.vavai.com/buku-publishing/


Kamis
08 November, 2018


face

LATAR BELAKANG

Salah satu layanan utama di Excellent adalah layanan SMTP Relay. Layanan ini berfungsi sebagai server relay/penerus email dari klien yang ditujukan pada pihak eksternal. Pengguna layanan ini terdiri dari berbagai latar belakang, antara lain :

  1. Pengguna layanan Excellent Managed Services Mail Server. Untuk meningkatkan kualitas dan performa sistem, kami memisahkan layanan SMTP routing ke eksternal termasuk layanan anti spam agar spesifikasi sistem secara penuh digunakan untuk layanan email
  2. Klien yang IP public-nya terkena blacklist pihak tujuan
  3. Klien yang hanya punya IP dynamic
  4. Klien yang terkena limit pengiriman email oleh pihak ISP
  5. Klien yang capek karena email terkadang tidak sampai ditujuan dan tidak diketahui penyebabnya
  6. Klien yang sebel karena email yang dikirim malah masuk ke folder spam di pihak tujuan
  7. Klien yang ingin menyembunyikan posisi server mereka atas pertimbangan keamanan sistem. Port-port yang dibuka dibatasi hanya untuk IP tertentu, misalnya port incoming hanya diperbolehkan untuk email yang berasal dari layanan anti spam Excellent, port 25 outgoing diblock dan koneksi ke server SMTP Excellent diset menggunakan port yang tidak umum

Layanan SMTP Relay ini awalnya dimulai dari 1-2 server. Menggunakan server yang ditempatkan di co-location server. Awal-awal diimplementasikan, domain Excellent sendiri yang menjadi kelinci percobaan. Sebelum menjadi produk untuk dijual, kami harus memastikannya bisa berjalan sesuai harapan. Bagaimana mungkin kami menjual produk terkait email kalau email kami sendiri kerap bermasalah.

Layanan yang awalnya ditujukan untuk kepentingan internal ini terus dimonitor stabilitas dan performanya. Setelah cukup percaya diri, layanan ini kemudian mulai diimplementasikan disisi server managed services. Perlu berbagai langkah preventif dan korektif untuk memastikan bahwa IP public server selalu terjaga aman tanpa mengurangi fleksibilitas sistem. Jumlah server terus ditambah seiring dengan penambahan jumlah klien. Kami juga menyiapkan server pada posisi lokasi geografis berbeda sebagai antisipasi jika ada gangguan di lokasi tertentu.

INISIASI AWAL

Setelah berjalan beberapa lama, pada sesi brainstorming internal ada usulan untuk membuat dashboard smtp relay, dengan beberapa latar belakang pertimbangan, antara lain :

  1. Dengan dashboard smtp relay, klien bisa melakukan tracking log pengiriman email secara mandiri, tidak perlu melakukan request ke team support Excellent. Klien terpenuhi kebutuhannya dan disisi lain team support Excellent terlepas dari pekerjaan yang tidak memberikan nilai tambah
  2. Lebih mudah mengecek perkembangan kualitas layanan. Data-data klien tercatat lebih rapi, dilengkapi dengan detail nama perusahaan,  contact person, no kontak/HP/telp, alamat email dan lain-lain. Mudah juga melakukan broadcast pemberitahuan ke seluruh klien
  3. Pembuatan laporan bisa lebih mudah dilakukan. Mengetahui klien mana yang over usage, klien mana yang terkena lock karena melakukan spamming maupun klien yang terkena suspend karena overdue tagihan lebih mudah dikelompokkan
  4. Bisa membuat skema level layanan, misalnya klien level premium bisa melakukan attachment sekian MB namun klien level silver hanya bisa mengirim attachmen lebih kecil. Demikian juga untuk trafik email, bisa dicheck dengan mudah
  5. Lebih mudah diintegrasikan. Bisa dibuat standard knowledge base untuk proses setup disisi klien, termasuk nantinya dikembangkan untuk API aplikasi. Team juga bisa membuat script auto install untuk mempermudah setting disisi klien
  6. Klien bisa mengecek status pengiriman email per jam, per hari, per minggu hingga per bulan. Berapa email yang

Selasa
06 November, 2018


face

openSUSE adalah distro favorit saya. Sejarahnya bisa diusut ke masa-masa saat saya bekerja sebagai Sys Admin di sebuah perusahaan di Cikarang dan Tanjung Priok di kisaran tahun 2004-2010. Pada periode tahun 2007, openSUSE saya pakai sebagai sistem operasi server-server yang dikelola di perusahaan. Bahkan kebutuhan untuk sistem operasi Windows yang masih dipakai untuk beberapa aplikasi dipenuhi dengan cara membuatnya sebagai mesin virtual diatas openSUSE. Periode yang sama juga menjadi tahun-tahun saya aktif di komunitas yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan Excellent hingga saat ini.

Beberapa server yang dikelola Excellent juga menggunakan openSUSE atau varian SLES-nya. Salah satunya adalah server backup yang juga difungsikan sebagai Docker host. Server tersebut tidak secara default disetting auto upgrade, sehingga saat saya check masih menggunakan versi openSUSE Leap 42.1 dengan isi repositori campuran. Repo campuran ini maksudnya repo utama (oss dan non-oss) beserta repo aplikasi 3rd party.

Sepertinya karena pernah diupdate parsial dengan repo campuran, package aplikasinya tercampur-campur dan sebagian tidak bisa dijalankan. Sedemikian parahnya, sampai-sampai menjalankan zypper dan yast saja tidak bisa, dengan pesan error sebagai berikut :

zypper: symbol lookup error: /usr/lib64/libproxy.so.1: undefined symbol: _ZN9libmodman14module_manager8load_dirENSt7__cxx1112basic_stringIcSt11char_traitsIcESaIcEEEb

Kira-kira seperti itu pesan errornya. Saya coba wget juga tidak bisa. Saya sudah sampai pada tahapan hendak melakukan proses reinstall namun karena ada 6 TB data di server tersebut, saya mencoba cara lain yang mungkin bisa berhasil.

Target utama saya adalah bisa menjalankan zypper dan yast. Jika kedua aplikasi utama ini bisa dijalankan, saya bisa melakukan update untuk aplikasi lainnya. Masalahnya, karena keduanya tidak bisa dijalankan, saya harus melakukan download file package aplikasi dan melakukan instalasi secara manual.

Untuk mendownload package zypper, saya harus menentukan dulu versi openSUSE leap yang hendak diambil. Saya memilih openSUSE leap 42.3 yang masih disupport di repo openSUSE baru kemudian nantinya diupgrade ke versi terkini. Saya mengambil binary zypper melalui https://software.opensuse.org/search menggunakan curl -0 dengan parameter –output (karena wget tidak bisa dijalankan) kemudian mencoba install menggunakan rpm -ivh atau rpm -Uvh.

Ternyata binary zypper ini conflict dengan versi yang sudah ada dan terinstall (dan tidak berjalan 😛 ). Jadi saya melakukan proses remove aplikasi zypper berikut file-file yang menyertainya. Saat mencoba install kembali, ternyata butuh file libzypp. Saya mencari binary libzypp dan mencoba install terlebih dahulu sebelum install zypper. Ternyata libzypp butuh file libmodman. Saat coba install libmodman butuh libsolv-tools. Setelah keduanya diinstall, ternyata masih butuh file libproxy. Saya sudah hampir mengurungkan niat melanjutkan proses recovery sistem ini karena jadi panjang prosesnya. Inilah repotnya install manual karena harus melakukan instalasi file dependency terlebih dahulu. Jadi ingat saat-saat pakai openSUSE kala zypper belum diciptakan dan yast dianggap kurang familiar 🙂

Namun karena saya lagi ada banyak waktu dan saya juga punya hobi ngoprek, saya lanjutkan terus prosesnya. Library apapun yang diminta, saya cari di repo openSUSE. Sampai akhirnya zypper bisa terinstall dengan baik. Karena zypper terinstall dengan baik, yast bisa saya install. Karena keduanya bisa diinstall, saya bisa melakukan perintah zypper mr -da untuk melakukan disable semua repo, kemudian menambahkan repo openSUSE leap 42.3 dengan perintah zypper


face

Dalam beberapa update openSUSE Leap kemarin saya menemukan sedikit issue ketika boot openSUSE di laptop saya, yaitu issue munculnya tulisan “Failed to start setup Virtual Console”, nah tampilannya seperti ini tampilan issue
mungkin issue ini tidak begitu penting karena tidak berpengaruh apa – apa terhadap kinerja openSUSE sendiri, tapi kalau dilihat cukup untuk membuat resah mata untuk saya, jadi saya menemukan solusinya, yaitu sebagai berikut :

vim vconsole.patch
masukkan script ini
su
zypper in patch
cd /usr/lib/dracut
patch -p1 < /path/to/vconsole.patch
dracut -f
reboot

Selesai 😀


Sabtu
03 November, 2018


face

Beberapa waktu yang lalu Excellent memindahkan sistem Zimbra yang selama ini digunakan ke versi yang baru. Versi yang baru ini menggunakan Zimbra Network Edition sehingga feature-feature utama dimanfaatkan semaksimal mungkin. Salah satu feature itu adalah feature HSM (Hierarchical Storage Management)

HSM adalah feature storage tiering, yang akan secara otomatis memindahkan data email dengan usia tertentu (misalnya lebih dari 6 bulan) atau berdasarkan kriteria tertentu ke storage lain secara otomatis. HSM secara otomatis berjalan setiap malam, melakukan patroli terhadap email yang memenuhi kriteria yang sudah ditetapkan dan memindahkan datanya ke storage yang diinginkan.

Dengan cara ini, kita bisa menggunakan harddisk kecepatan tinggi namun mahal seperti SSD atau SAS 15K RPM hanya untuk keperluan data utama saja. Hanya untuk email-email yang frekuensi aksesnya cukup sering. Hanya untuk email yang sifatnya “current” saja, misalnya untuk email beberapa bulan terakhir. Data-data email yang sudah jarang diakses namun tidak hendak dihapus bisa dipindah ke storage lain yang mungkin tidak secepat SSD namun lebih murah dan mendapat kapasitas lebih besar.

Saya menggunakan DigitalOcean Spaces sebagai secondary volume penampung HSM. Awal-awal menggunakannya lancar jaya namun setelah beberapa waktu, HSM selalu berhenti ditengah jalan. Pesannya seperti ini :

Network Modules NG has detected an abnormal interruption of a ZxPowerstore operation, usually caused by a mailboxd service restart.
Please make sure to find and fix the cause of said service restart before restarting the operation. 

For additional information see http://wiki.zextras.com/wiki/Running_Operation_Awareness.

— Operation Details —
Name: CheckBlobs
Start Time: 31/10/2018 15:24:56
Operation Id: d090f2c1-fbdb-49cb-b401-f9610e36f144
Requested By: zimbra

— Parameters —
origin = ZxLink

Hal yang sama juga terjadi pada mekanisme backup otomatis. Selalu terhenti ditengah jalan.

Network Modules NG has detected an abnormal interruption of a ZxBackup operation, usually caused by a mailboxd service restart.
Please make sure to find and fix the cause of said service restart before restarting the operation. 

For additional information see http://wiki.zextras.com/wiki/Running_Operation_Awareness.

— Operation Details —
Name: Smart Scan
Start Time: 01/11/2018 04:01:00
Operation Id: 14f67444-9871-4ad4-bd47-db3106c94c91
Requested By: zimbra

— Parameters —
requesterAddress = zimbra
additionalNotificationAddresses = com.zextras.lib.ContainerListString@1
origin = Cron
isDeep = false

Setelah mencoba beberapa upaya perbaikan dan pengecekan tidak berhasil, kami menghubungi Zimbra support. Mereka meminta beberapa log. Karena modul powerstore dan backup menggunakan teknologi Zextras, Zimbra support juga berkoordinasi dengan pihak Zextras. Team Excellent sendiri punya direct access ke team Zextras karena mereka kenal beberapa engineer Excellent dan saya sendiri pernah bertemu boss mereka di Thailand.

Berdasarkan hasil investigasi, modul backup maupun powerstore/HSM berhenti karena services mailbox mengalami proses restart. Kami confirmed tidak melakukan proses restart services manual jadi kemungkinan services ini mengalami kendala kemudian otomatis melakukan proses restart.

Selagi proses eskalasi masalah berlangsung, saya menemukan tampilan konsole dengan informasi yang menjadi clue, sebagai berikut :

Kalau dari pesan yang ada, Java proses yang salah satunya digunakan oleh services mailbox mengalami proses kill karena out of memory. Kecurigaan muncul jangan-jangan ini yang menjadi penyebab masalah. Karena masalahnya berkaitan dengan memory, solusinya adalah melakukan upgrade memory.

Saya mematikan services Zimbra, shutdown sistem kemudian melakukan


face

Beberapa hari yang lalu menjadi hari yang cukup berat di Excellent. Setelah berjalan lancar sekian lama, tiba-tiba ada gangguan di infrastruktur layanan Excellent SMTP Relay. Layanan ini digunakan oleh klien-klien Excellent Managed Services dan klien yang menggunakan layanan SMTP khusus untuk blast email atau mereka yang sudah punya mail server sendiri. Dengan menggunakan layanan Excellent SMTP Relay, klien bisa menjaga IP public tetap bersih dan disisi lain memiliki proteksi terhadap kemungkinan spamming dari internal ke eksternal.

Dashboard layanan SMTP Relay : https://www.excellent.co.id/smtp

Masalah yang terjadi adalah delay pengiriman email. Tidak biasanya ada antrian email yang terjadi merata di seluruh front end server, yang awalnya berkisar puluhan namun kemudian meningkat menjadi ratusan. Saya segera meminta team Excellent untuk mengecek masalah yang terjadi. Kemudian meminta lead engineer, Ahmad Imanudin untuk memberikan supervisi team. Saat beberapa server front end mengalami antrian mencapai angka ribuan, saya juga turut langsung mengecek permasalahan yang terjadi.

Jika dilihat dari evidence-nya, masalah terjadi karena lost connection while sending MAIL FROM, yang kemungkinan besar karena masalah bandwidth. Karena server cluster Excellent ada puluhan dan tersebar di berbagai provider cloud dan letak geografis yang berbeda, kemungkinan hal ini bisa terjadi. Kami langsung menghubungi support dari data center masing-masing untuk menanyakan hal ini.

Saat proses pengecekan berlangsung, kami juga menemukan kenyataan bahwa pengiriman email sesama 1 provider juga mengalami kendala. Mengingat saya sudah menyiapkan plan B jika terjadi hal sejenis, saya meminta team melakukan re-routing pengiriman email menggunakan cluster server cadangan.

Masalah solved untuk sementara waktu namun menjelang sore masalah yang sama terjadi lagi. Bahkan cluster server cadangan juga mengalami kendala yang sama. Update informasi dari pihak data center, tidak ada kendala apa-apa. Terkait kemungkinan gangguan network, mereka meminta kami memberikan informasi data Mtr untuk pengecekan koneksi antar server.

Saat malam, gangguan mulai mereda. Ahmad melakukan tune up ke setting network di masing-masing server back end dan menyebar antrian ke berbagai server. Meski kelihatannya krisis sudah reda, saya masih tetap belum puas karena rasanya sumber utama masalah belum ditemukan. Terkait tune up setup network, sebelumnya tanpa tune up juga tidak ada kendala kok.

Pagi keesokan harinya, antrian mulai terjadi lagi. Jadi suspect masalah bahwa krisis mereda karena jam pulang kantor sehingga pengiriman email menjadi berkurang memang benar adanya. Saat pagi jam kerja, antrian mulai terjadi lagi.

Saya mengirimkan sinyal ke seluruh team untuk siaga 1. Selain team billing, accounting dan HR, semua team disiagakan untuk merespon keluhan klien, sementara engineer-engineer senior dibagi tugas masing-masing. Ada yang melakukan pengecekan, ada juga yang menyiapkan cadangan server di provider lain dengan asumsi masalah ada pada provider.

Sumber masalah mulai terkuak setelah menemukan log bahwa koneksi ke port tertentu timed out atau refused. Awalnya dipikir karena kekurangan spesifikasi memory dan vCPU jadi meski agak curious saya memberikan approval terhadap request itu. Namun upgrade vCPU dan memory hanya memberikan sedikit tambahan performa, karena masalah timed out dan refused masih terjadi.

Sebagai ujicoba, team mencoba melakukan disable services yang dirasa terkait dengan masalah tersebut, namun dengan melakukan monitoring ketat karena services yang


Kamis
01 November, 2018


face

Insight kali ini masih soal mindset untuk jangan mudah menyerah dan berani memperjuangkan impian kita. Selamat membaca

Beberapa waktu yang lalu saya membaca novel Sidney Sheldon, judulnya “Garis Darah” atau “Bloodline”. Ternyata novel ini sudah pernah saya baca beberapa tahun yang lalu. Ini memang sekedar novel suspense tapi ada beberapa hal menarik seputar cerita tokoh didalamnya.

Salah satu tokoh utama misalnya, diceritakan ia berasal kampung. Ndeso. Awalnya cita-citanya tidak muluk. Ia hanya ingin bisa naik posisi, punya uang dan bisa menarik hati salah satu wanita yang diam-diam dia sukai. Ternyata dia malah ditertawakan. Dia kecewa namun berusaha mengatasinya. Ia belajar memperbaiki kualitas diri. Ambil kuliah malam untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus meningkatkan posisi pekerjaan. Ia juga berhemat agar bisa membeli pakaian yang bagus. Berhemat agar bisa makan di resto bagus supaya nggak kuper. Menyempatkan diri main ke museum atau pameran seni supaya punya bahan pembicaraaan dan pengetahuan jika diajak bicara oleh seseorang dengan level yang lebih tinggi.

Saat akhirnya si gadis yang dia sukai mau menerimanya, dia sudah memiliki keinginan yang lebih tinggi lagi…

Hal seperti ini buat saya sangat menarik. Berapa banyak dari kita yang bekerja tidak sesuai dengan hati dan keinginan, namun juga tidak berusaha untuk memperbaikinya. Berapa banyak dari kita yang mengeluhkan pekerjaan yang kita jalani, sementara tindakan yang kita lakukan hanya mengeluhkannya tanpa berusaha keluar dari lingkaran setan yang membelenggu kita.

Bukankah contoh yang saya sebutkan diatas cukup realistis dan masuk akal untuk dijalani? Pekerjaaan kita bolehlah pekerjaan kasar, namun jika kita tidak ingin seumur hidup kita bekerja kasar, kita mesti mau berusaha meningkatkan kualitas pengetahuan kita. Cobalah ambil kuliah, kursus atau kegiatan kelas malam. Meski gaji minim, cobalah berusaha berhemat untuk bisa membeli baju dengan kualitas baik, agar kita bisa melamar pekerjaan baru dengan tampilan kita yang lebih baik.

Belajar berpakaian dengan rapi. Bedakan pakaian untuk slonong boy dengan baju formal. Jangan melulu menganggap kaus merupakan pakaian segala tempat, situasi dan cuaca. Biasakan berkemeja dengan rapi, meski pekerjaan yang kita jalani mungkin bukan pekerjaan yang mengharuskan kita untuk selalu rapi. Tentu kita perhatikan tepat gunanya, intinya adalah jangan karena pekerjaan lantas kita bersikap masa bodo pada kerapian dan kepantasan dalam berpakaian.

Meski kelihatan sepele, kebiasaan berpakaian rapi akan melekat dan menjadi attitude kita. Jangan menunggu pekerjaan kita berubah menjadi lebih baik baru kita berusaha memperbaiki cara kita berpakaian.

Tidak usah menyesali keadaaan. Tidak usah menyesali kondisi dan kekurangan hidup. Cukuplah kepahitan hidup menjadi pembelajaran dan pengalaman kita agar tidak perlu terulang pada anak dan cucu kita. Tidak apa-apa kita sengsara dan hidup serba kekurangan selama kita berusaha meningkatkan kualitas kehidupan kita.

Jangan terlena. Jangan membiarkan diri kita dibuai rasa nyaman yang semu, tahu-tahu kita menyesali masa-masa yang telah lewat. Cari cara meningkatkan kualitas diri kita, baik yang membutuhkan biaya maupun yang tidak memerlukan biaya. Jika kita tidak memiliki dana untuk membeli buku-buku bagus, tidak ada salahnya kita main ke perpustakaan atau toko buku bekas agar kita bisa upgrade pengetahuan kita. Bahkan dengan teknologi yang ada sekarang, kita bisa dengan mudah membaca ebook yang sebagian gratis dan


Jumat
26 Oktober, 2018


face

Sabtu, 27 Oktober 2018

Biznet Networks HQ
Midplaza 2, Floor 15th
Jl. Jend. Sudirman Kav 10-11
https://g.co/kgs/NZMfAu


Rabu
24 Oktober, 2018


face

Bagi Anda yang belum pernah mencoba memasang aplikasi berformat Flatpak, Anda bisa mencobanya di openSUSE dengan memasang paket flatpak melalui perintah zypper install flatpak sebagai root atau dengan menggunakan sudo. Atau melalui YaST.

Umumnya, aplikasi Flatpak secara baku akan terpasang di direktori /var. Tapi kita bisa mengatur ke manapun kita ingin aplikasi dipasang. Jika ingin terpasang di direktori HOME, kita cukup menambahkan opsi --user saat menambahkan repositori Flatpak maupun saat memasang aplikasi.

Contoh, saat menambahkan repositori flathub, jika tanpa opsi --user adalah seperti ini:

flatpak remote-add --if-not-exists flathub https://dl.flathub.org/repo/flathub.flatpakrepo

Jika ingin menambahkan repositori ke direktori HOME, maka cukup tambahkan opsi --user, menjadi:

flatpak --user remote-add --if-not-exists flathub https://dl.flathub.org/repo/flathub.flatpakrepo

Lalu saat memasang aplikasi, jika tanpa opsi --user adalah seperti ini:

flatpak install flathub org.libreoffice.LibreOffice

Jika ingin memasang aplikasi ke direktori HOME, maka perintahnya menjadi:

flatpak --user install flathub org.libreoffice.LibreOffice

Tapi bagaimana jika partisi HOME kita tidak dipisah dari root dan kita ingin memasang aplikasi Flatpak ke partisi lain supaya partisi root tidak cepat habis? Kita bisa membuat sebuah skrip bash di /home/(user)/bin. Di openSUSE, direktori /home/(user)/bin sudah masuk ke PATH environment secara baku, jadi kita bisa menyimpan skrip bash untuk dieksekusi di sana.

Supaya bisa memasang aplikasi Flatpak ke partisi atau direktori yang kita inginkan, buat sebuah file di /home/(user)/bin dengan nama flatpak, isi file tersebut dengan:

#!/bin/bash

export HOME=/path/ke/direktori/tujuan
export XDG_DATA_HOME=$HOME/.local/share
export XDG_CONFIG_HOME=$HOME/.config
export XDG_CACHE_HOME=$HOME/.cache

exec /usr/bin/flatpak "$@"

Buat file tersebut supaya bisa dieksekusi melalui file manager atau dengan perintah chmod +x $HOME/bin/flatpak. Lalu buat tiga folder di direktori tujuan, masing-masing dengan nama .cache, .config dan .local (semua diawali dengan titik), di dalam .local buat lagi folder dengan nama share (tanpa titik).

Setelah itu, tambahkan repositori dengan menambahkan opsi --user seperti ini:

flatpak --user remote-add --if-not-exists flathub https://dl.flathub.org/repo/flathub.flatpakrepo

Tambahkan repositori lain jika perlu.

Setelah menambah repositori, kita bisa memasang aplikasi Flatpak, semua dengan opsi --user. Misal jika kita ingin memasang LibreOffice, maka jalankan perintah:

flatpak --user install flathub org.libreoffice.LibreOffice

Satu lagi yang perlu dilakukan setelah memasang aplikasi Flatpak, sebelum menjalankannya. Yaitu, kita perlu mengubah file-file .desktop dari setiap aplikasi yang dipasang. File-file ini berada di /path/ke/direktori/tujuan/.local/share/flatpak/app/(nama.aplikasi)/current/active/export/share/applications, ganti (nama.aplikasi) dengan nama aplikasi yang sebenarnya, misal untuk LibreOffice org.libreoffice.LibreOffice. Salin semua file .desktop ke /home/(user)/.local/share/applications, lalu buka dengan editor teks. Cari bagian Exec= (mungkin hanya satu, tapi mungkin juga lebih dari satu), lalu ubah /usr/bin/flatpak menjadi flatpak (hilangkan /usr/bin/). Ganti juga bagian Icon= dengan penamaan icon standar di Icon theme yang digunakan di komputer kita. Misal untuk LibreOffice, dari org.libreoffice.LibreOffice-startcenter menjadi libreoffice-startcenter.

Setelah mengubah semua file .desktop, kita bisa menjalankan aplikasi melalui menu di komputer kita seperti biasa.

Untuk melakukan manajemen


Sabtu
29 September, 2018


face

Singkat cerita saya meng-upgrade postgresql dari 9.6 ke 10.5, dan ketika mengaksesnya dengan pgadmin3 ada peringatan bahwa pgadmin3 tidak fully support postgresql di atas 10.0.0. Wah… Saya cek ke website nya ternyata pengembangan pgadmin3 sudah dihentikan, dan pengguna disarankan pindah ke pgadmin4. Terus terang terakhir kali menggunakan pgadmin4 masih kurang nyaman. Sempat berpikir kalau mau menggunakan phpPgAdmin, tapi kawan-kawan pada protes, mereka nggak suka (di) php (in).

Kami menggunakan postgresql karena bisa dengan mudah dilakukan query lokasi terhadap obyek geografis dengan bantuan PostGIS. Maklum kerjaan kami agak nyerempet-nyerempet tukang ukur tanah, tracking, survey. PostGIS itu spatial database extender khusus untuk PostgreSQL. Terima kasih utk semua pengembangnya. Bayangkan kita bisa dengan mudah dan gratis menikmati fitur yang biasanya hanya terdapat pada database yang mahal. Mau ngebayangin apa itu? Silakan lihat-lihat demo implementasinya di map viewer sederhana ini NSI Map Viewer. Harap dimaklumi kalau agak lambat itu cuma demo sederhana di kvm dengan resource yang terbatas. Aplikasi data spasial berbasis web (web gis) memang lumayan boros dumber daya.

Saya mencoba mencari pgadmin4 di repositori resmi openSUSE ternyata pgadmin4 belum tersedia dan paket yang terdapat di OBS ternyata mengalami masalah dalam dependesinya. Sehingga pgadmin4 saya download dari website pgadmin. Saya memilih utk menggunakan pgadmin4 berbasis web.
Berikut langkah-langkah yang harus dilakukan untuk memasang pgadmin4 (jalankan di terminal):

sudo pip3 install virtualenv
mkdir pyvenv
sudo pip3 install virtualenvwrapper

tambahkan baris di bawah ke dalam ~/.bashrc

export WORKON_HOME=$HOME/pyvenv # Optional
export PROJECT_HOME=$HOME/pyvenv/pgadmin4 # Optional
VIRTUALENVWRAPPER_PYTHON=/usr/bin/python3
source /usr/bin/virtualenvwrapper.sh

Selanjutnya jalankan pada terminal

source ~/.bashrc
mkvirtualenv pgadmin4
cd ~/pyvenv/pgadmin4
wget https://ftp.postgresql.org/pub/pgadmin/pgadmin4/v3.3/pip/pgadmin4-3.3-py2.py3-none-any.whl
pip3 install pgadmin4-3.3-py2.py3-none-any.whl

Jika ada kegagalan “Failed building wheel for pycrypto” instal paket python-devel dan pattern-python3-devel.

Selanjutnya buat file konfigurasi python utk virtual environment pgadmin4

vim lib/python3.6/site-packages/pgadmin4/config_local.py

isi dengan:

import os
DATA_DIR = os.path.realpath(os.path.expanduser(u'~/.pgadmin/'))
LOG_FILE = os.path.join(DATA_DIR, 'pgadmin4.log')
SQLITE_PATH = os.path.join(DATA_DIR, 'pgadmin4.db')
SESSION_DB_PATH = os.path.join(DATA_DIR, 'sessions')
STORAGE_DIR = os.path.join(DATA_DIR, 'storage')
SERVER_MODE = False

Jalankan dg perintah

python3 lib/python3.6/site-packages/pgadmin4/pgAdmin4.py &

Selanjutnya buka browser anda dan arahkan ke http://127.0.0.1:5050
Selebihnya trivial lah 🙂

Mematikan pgadmin4 ini masih menggunakan cara primitif, ctr +c, atau kill process id dari

ps x | grep pgAdmin4

Untuk keluar dari virtual environment python, ketik

deactivate

Kalau ingin menjalankan lagi:

buka terminal, pindah ke direktori pgadmin4

cd ~/pyvenv/pgadmin4
workon pgadmin4

jalankan dg perintah

python3 lib/python3.6/site-packages/pgadmin4/pgAdmin4.py &

Bagi yang bisa bantu buat shortcut aplikasi baik di GNOME maupun KDE silakan, ditunggu tulisannya di opensuse.id

Sebagai info saja bagi yang belum tahu, 6 langkah awal di atas (sampai mkvirtualenv) adalah salah satu cara membuat virtual environment untuk python. Saya menggunakan python3 (3.6) tetapi pgadmin4 bisa dijalankan dengan python2 (2.7). Jadi yang kita lakukan di atas adalah memasang


Rabu
26 September, 2018


face

2018-08-09 11.41.35

Bukan perjalanan pertama saya melalui rute ini, namun tak salah menuliskan catatan ini.

Pesawat saya berangkat Kamis pagi jam 8.15 dengan Catay Pacific CX-718. Saya sudah melakukan checkin online sebelumnya melalui website dan memilih nomor kursi. Catay Airways hanya mengijinkan melakukan checkin online mulai dari 48 jam sebelum keberangkatan. Kemudian saya memilih Muslim Food dari menu checkin Catay. Pilihan Muslim Food hanya tersedia di Penerbangan HK-TPE, sedangkan dari CGK-HK semua makanan adalah Halal. Untuk penerbangan pulang, pilihan Muslim Food hanya tersedia dalam penerbangan TPE-HK, sedangkan HK-CGK semua makanan dinyatakan halal, sehingga tidak perlu memilih lagi. Selalu bawa botol minum isi ulang.

Di bandara Terminal 2F, saya segera melakukan checkin dan drop bagasi. Meski berangkat bertiga, urusan ini mending diselesaikan sendiri tanpa harus tunggu-tungguan. Lanjut imigrasi karena bagian ini cukup memakan waktu. Sampai di loket imigrasi, tebakan saya benar, antrian mengular. Butuh 15 menit dari awal antri hingga pemerikasaan saya selesai. Huft. Sampai di bagian Gate baru mencari Pak Edwin dan Pak Haris yang ternyata sudah duduk ngopi dan sarapan di Old Town Coffee. Oh iya, dalam penerbangan internasional terdapat banyak catatan dalam barang bawaan yang biasanya rewel juga, diantaranya:

  1. Aturan benda cair dalam botol, maksimal 100ml dan dimasukkan ke kantong zipper bening.
  2. Sebelum x-ray terakhir, pastikan botol minum dikosongkan. Nanti bisa diisi kembali di water refil setelah x-ray tersebut.

Boarding 40 menit sebelum jam keberangkatan. Penerbangan ditempuh dalam kurun waktu 5 jam 10 menit. Terdapat perbedaan waktu antara Jakarta dan Hongkong, yaitu lebih cepat 1 jam. HK GMT+8. Saya langsung mengatur jam tangan dan jam di HP agar ikut berganti. Perjalanan saya habiskan dengan tidur, membaca novel dan mendengarkan musik. Terdapat layanan hiburan yang memadai di dalam kabin pesawat.

Oh iya, saya lupa penerbangan Catay menggunakan pesawat jenis berapa, namun di kedua pesawat itu terdapat colokan universal yang bisa digunakan untuk mencharge HP. Ada dua kemungkinan lokasi colokan itu berada. Pilihan pertama ada di lipatan meja makan. Yang kedua pilihannya di bawah kursi, di bagian pertemuan kursi. Silahkan diraba perlahan. Oh iya, ada indikasi lampu hijau yang hidup menandakan charger bisa digunakan karena jika lampu tidak hidup, berarti tidak ada arus yang berjalan. Lampu beberapa kali mati, biasanya ketika akan lepas landas, ada goncangan dan ketika akan mendarat.

Saya sedikit rewel jika berada dalam ruangan AC cukup lama. Apalagi jika di dalam pesawat. Ini menyebabkan hidung saya iritasi kemudian mimisan. Makanya saya selalu menggunakan masker dalam pesawat jika lama penerbangan lebih dari 2 jam. Tak lupa jaket tebal bertudung kepala.

Mendarat di HK pukul 14.20 waktu setempat. Setelah membawa bagasi kabin, kemudian menuju couter checkin transit. Nyari tempat isi ulang air minum, minum secukupnya. Lanjut menuju gate transit. Butuh naik 1 lantai dan kemudian dilakukan pemeriksaan ulang, x-ray bagasi kabin dan screening. Pastikan sebelum masuk pemeriksaan, kosongkan botol minum agar mempercepat proses scanning.

Koneksi internet di Bandara HK saya acungi jempol. Cukup aktifkan Wi-Fi kemudian pilih nama access point untuk bandara HK, setujui persyaratan dan peraturan. Setelah itu bisa berinternet ria tanpa pembatasan durasi berinternet. Untuk kecepatan


face

Vivaldi 2.0 baru saja dirilis hari ini. Mari mencoba memasangnya pada openSUSE. Versi yang digunakan disini adalah openSUSE Leap 15.0.

  • Unduh kunci publik Vivaldi
    wget https://repo.vivaldi.com/stable/linux_signing_key.pub
    
  • Impor kunci publik Vivaldi
    sudo rpm --import linux_signing_key.pub
    
  • Tambahkan repo Vivaldi
    sudo zypper ar https://repo.vivaldi.com/stable/rpm/x86_64/ Vivaldi
    
  • Pasang Vivaldi
    sudo zypper in vivaldi-stable
    
    

Ada masalah dengan codecs? Silakan pasang dengan petunjuk disini.


Kamis
20 September, 2018


face

RSVP: https://gettogether.community/events/219/kopdar-opensuse-id-di-bekraf-habibie-festival-2018/


Selasa
18 September, 2018


face

Tumbleweed adalah distribusi rolling dari openSUSE. Seperti distribusi rolling lainnya, perubahan di Tumbleweed juga sangat cepat. Dan seperti distribusi rolling pada umumnya, ketika ingin memperbarui paket-paket yang sudah terpasang, kita harus memperbarui sistem secara keseluruhan untuk menghindari ketidakstabilan sistem akibat dari perbedaan versi librari yang terpasang. Begitu juga ketika kita ingin memasang suatu paket, kita perlu memperbarui terlebih dahulu paket-paket yang terpasang. Bagi pengguna dengan akses internet terbatas, ini adalah masalah. Karena setiap kali memperbarui sistem, akan diperlukan akses data hingga ratusan MB atau bahkan lebih dari 1 GB.

Untuk mengakali ini, kita bisa memanfaatkan projek tumbleweed.boombatower.com. Projek ini menyediakan repositori dari snapshot-snapshot yang telah dirilis untuk openSUSE Tumbleweed.

Cara resmi untuk memanfaatkan projek ini adalah dengan menggunakan tumbleweed-cli. Caranya, pasang paket tumbleweed-cli melalui YaST >> Software Management atau dengan perintah zypper install tumbleweed-cli sebagai root. Lalu jalankan perintah tumbleweed init untuk melakukan inisialisasi dan melakukan perubahan repositori ke arah repositori snapshot yang sedang kita gunakan. Untuk perintah-perintah manajemen snapshot lainnya bisa dilihat dengan perintah tumbleweed --help.

Tapi sayangnya cara di atas seringkali gagal saya lakukan. Ketika menjalankan perintah tumbleweed init, repositori tetap mengarah ke download.opensuse.org. Sehingga akhirnya saya tidak menggunakan cara ini.

Cara alternatif adalah dengan menambahkan repositori snapshot secara langsung tanpa memanfaatkan tumbleweed-cli. Caranya, buka YaST >> Software Repositories, lalu klik Add. Centang pilihan Specify URL…, lalu klik Next. Isi kolom Repository Name dengan openSUSE-Tumbleweed-Snapshot-Oss atau apapun untuk membedakan dari repositori lain. Dan isi kolom URL dengan http://download.tumbleweed.boombatower.com/(nomor-snapshot)/repo/oss/. Ganti (nomor-snapshot) dengan versi Tumbleweed yang sedang digunakan, dengan format: tahun, bulan dan tanggal (YYYYMMDD) seperti yang tercantum di /etc/os-release, contoh yang saya gunakan saat ini 20180903, lalu klik Next. Tunggu hingga selesai.

Tambahkan juga repositori Non Oss dengan cara yang sama seperti di atas, dengan Repository Name openSUSE-Tumbleweed-Snapshot-Non-Oss dan URL http://download.tumbleweed.boombatower.com/(nomor-snapshot)/repo/non-oss/. Setelah selesai menambahkan kedua repositori tersebut, matikan repositori Oss, Non Oss dan Update yang asli dengan menghilangkan centang pada bagian Enable, lalu tutup jendela Software Repositories dengan mengklik OK. Tutup YaST.

Setelah selesai menambahkan repositori snapshot dan mematikan repositori asli, kita bisa memasang paket baru dengan aman. Untuk memperbarui Tumbleweed ke versi terbaru atau yang lebih baru dari yang sedang digunakan saat ini, kita bisa mengubah URL repositori snapshot Oss dan Non Oss yang tadi kita tambahkan melalui Software Repositories dengan versi snapshot yang sudah dirilis oleh openSUSE. Untuk melihat versi terbaru atau versi mana saja yang tersedia, kita bisa membuka alamat review.tumbleweed.boombatower.com atau download.tumbleweed.boombatower.com. Setelah URL repositori diubah, jalankan zypper dup sebagai root seperti biasa.


Update:

  • Berdasarkan kabar dari web openSUSE Release Tools, repositori Snapshot sekarang bisa diakses menggunakan alamat resmi opensuse.org. Sehingga ketika menambahkan repositori Snapshot Oss dan Snapshot Non Oss, Anda bisa mengisi URL dengan https://download.opensuse.org/history/(nomor-snapshot)/tumbleweed/repo/oss/ untuk Oss dan https://download.opensuse.org/history/(nomor-snapshot)/tumbleweed/repo/non-oss/ untuk Non Oss.
  • Berdasarkan kabar yang sama pula, kini kita juga bisa melihat versi snapshot

Selasa
21 Agustus, 2018


face

 

When you’re planning a trip to Asia, Taipei probably isn’t be the first destination that comes to mind, as it’s often ignored in favor of more popular tourist spots like Tokyo or Hong Kong. But don’t ignore a trip to Taiwan’s big city — it’s an inexpensive, quirky metropolis with some of the best night markets in all of Asia. This is the second time i’ve visited Taipei for openSUSE Asia Summit.

FYI, The last openSUSE.Asia Summit was held in Tokyo, Japan.

Here we go. Me and the famous Mr. gecko!!

Thursday 9 Aug, Day -1 (Travel to Taiwan)

This time, 14 people came from Indonesia to join openSUSE Asia Summit 2018 in Taipei. We divided to 3 groups. One group flight from Juanda Surabaya (Darian, Aftian, Joko, Rania). One group at morning flight from CGK (Haris, Edwin, Estu). Last group with afternoon flight from CGK (Kukuh, Didiet, Rifki, Yan Arief) And 3 others people; Tonny, Iwan Tahari, Siska join a separate flight.

My group is the first team landing in Taiyuan Airport. At international arrival gate, Franklin Weng pick us up to hostel, but we decided to visited Frank office before going to Hostel. We meet Eric Sun and their team. Artistic team who create video for opening ODF Reader on Android. The video created using Blender Software.

22.00 we arrive at hostel. Many thanks to Frank for deliver us. :D. A few hours later, 2 more groups arrived at hostel. We are stay at same hostel. A comfort dormitory with share room. First Hostel, not far from Daan Park. Let call it a day and sleep all the night.

Friday 10 Aug, Day 0 (openSUSE Board and Community Meetup)

Today we plan join meetup at Taiwan SUSE Office after Friday Prayer. We visited Taiwan Grand Mosque, not far from Daan Park and our hostel. Before Friday Prayer, we take breakfast at Sakura Canteen (with Indonesian Food), next to Taiwan Grand Mosque. After praying, we going to SUSE office by walk. We came late to SUSE office, after lost direction. What a day!

Main discussion on SUSE Office

We meet openSUSE boards, SUSE Beijing and SUSE Taiwan, openSUSE Japan, openSUSE Taiwan; Ana Martinez and Simon, Sunny and team, Alcho and team, Takeyama and team, Sakana etc. You can watch meetup video from Sakana here.

Our discussion focus on some point:

  • How to prepare for next summit. We start create guideline for better preparation
  • How to engage more student to join GSOC for openSUSE Project. We plan to choose local coordinator each country to break gap between GSOC/Mentor Team from openSUSE and students from various county, especially Asia.
  • openSUSE Asia Summit album. Takeyama as part of Japan openSUSE team hand over album to Sakana, as local committee for current summit.

Lets finish foods and take photos!! After that, we moved to near building for tonight’s party. COSCUP Welcome Party at Zhangmen Brewing — Breeze Songgao Store. Before party, Libre Office Taiwan


face

openSUSE.Asia Summit 2018 baru saja digelar di National Taiwan University of Science and Technology berbarengan dengan COSCUP dan GNOME.Asia Summit. Rombongan dari Indonesia sendiri pada akhirnya berjumlah 15 orang (openSUSE-ID, GNOME-ID, LibreOffice-ID) termasuk pak Iwan Tahari dan saudaranya yang juga setelah acara berlangsung, mengikuti pameran sepatu di Taipei. Banyak cerita yang tidak dapat kami tuliskan semua disini (silakan intip beberap tautan di bawah) karena hampir setiap dari kami memiliki cerita unik tersendiri. Tahun depan, openSUSE.Asia Summit akan diselenggarakan dimana kira-kira? Tim openSUSE-ID sedang berusaha menyiapkan proposal terbaik untuk bersaing dengan India. Doakan kami ya.

Sampai jumpa tahun depan.

NB: Beberapa catatan perjalanan:


Minggu
19 Agustus, 2018


face

GNOME Asia Summit 2018 this time happen in Taipei – Taiwan, at National Taiwan University of Science and Technology, August 11 – 12, 2018. This summit is co-host between openSUSE Asia Summit and COSCUP, so the summit title is COSCUP 2018 x openSUSE Asia Summit 2018 x GNOME Asia Summit 2018.

I arrived at Taipei at Thursday – August 9. Franklin Weng from LibreOffice Taiwan pickup me at airport and go stright to A+A Workshop. A+A Workshop was place that FOSS Community from Taiwan used for meetup every Thursday. Franklin introduce me to others. Then go to First Hostel to meet other friends from Indonesia who also attend this conference. Most of them from openSUSE Indonesia.

#0 day

On Friday, me and others have free time. We go to Taipei Grand Mosque to Jum’ah (Friday) Praying, then I meet my High School Friends who live in Taipei. Then I go to Microfocus office to meet other Indonesian and openSUSE Community. At night, have dinner with LibreOffice Community around Asia, LibreOffice Taiwan (Franklin Weng) paid for our food.

Then we go to welcome party for speaker and staff. My role for this event was part of international staff, so I have invitation for this with others. It’s good time to see each others and good night few. Few openSUSE and SUSE member discuss with me about potential held openSUSE Asia Summit and GNOME Asia Summit together next year.

Taipei 101 from roof top

#1 day

This summit was very crowd comparing to COSCUP 2016 (I became speaker at that time). On first day attended by 1364 participant and on second day attended by 784 participant. It has 15 parallel classes. Few of them are in English, especially from openSUSE and GNOME.

In this summit, I help to manage coordinating for web content, design, and also material design such as logo. Many friends from Taiwan and Indonesia contribute in this. I’m not become speaker this time, but I bring few students and they become speaker.

Empty Class

On first day, I’m joining Benjamin Berg class, he’s talking about “Supporting Miracast on the GNOME Desktop” which is very interesting for me comparing to others. Then “Desktop applications: life inside a sandbox” by David King then The Year of the GNOME by Nuritzi Sanchez. I spent few hours for discussion with other participant. Sharing mine and their activity about contributing to FOSS. And also I try to find praying room, and found it next conference building. So comfortable. The organizer also give me food that compatible with Halal Food, and I see Sobha and her student got vegetarian food. It’s prepared well.

At evening, we have official two official BoF (openSUSE and GNOME) and one unofficial BoF (LibreOffice). I was realy confuse which one that I must join. But I made decission, because I bring 3 students that contribute in LibreOffice this year, so I will help them to join LibreOffice BoF. Before we go, I told Kukuh to


Kamis
16 Agustus, 2018


face

openSUSE Asia Summit 2018 selesai digelar kemarin. Rangkaian acara total digelar sejak 8-13 Agustus di National Taiwan University of Science and Technology, Taipei. Tulisan saya dalam Bahasa Inggris dapat dibaca pada tautan ini.

Sebagai Summit kedua di Taiwan, openSUSE Asia Summit 2018 berlangsung sangat ramai, banyak kawan-kawan lama dari beberapa summit lainnya ikut hadir. Acara Summit kali ini lebih spesial karena merupakan kolaborasi tiga acara COSCUP X GNOME.Asia Summit X openSUSE Asia Summit.

Saya kebagian sesi hari pertama, Sabtu 11 Agustus pukul 14.30. Materi yang saya bawakan berjudul: How Jogja Become City of GNU/Linux User Friendly. Slide presentasi saya dapat diakses di tautan ini.

Dalam sesi ini, saya menceritakan sejarah komunitas GNU/Linux di Jogja ketika awal-awal saya berkenalan dengan GNU/Linux dalam rentang tahun 2009-2015 bahkan era sebelum saya datang ke Jogja.

Era komunitas GNU/Linux di Jogja mulai pudar sejak periode Startup mulai menggeliat di Jogja, sekitaran tahun 2015. Dalam catatan ini saya melihat bahwa teknologi berkode sumber terbuka tidak lagi dalam tatanan bagaimana berkenalan. Namun sudah menuju bagaimana teknologi ini dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Di bagian akhir cerita, saya menceritakan Apa itu Binar Academy dan bagaimana Binar Academy memanfaatkan GNU/Linux dan teknologi bersumber kode terbuka lainnya dalam proses akademi. Beberapa hal malah merupakan keharusan menggunakan teknologi tersebut dalam proses akademi.

Beberapa teknologi yang kita gunakan di Binar Academy:

  • Sistem operasi, Ervien, salah satu mentor dan saya menggunakan opensuse 42.3 dalam keseharian, beberapa mentor lainnya menggunakan Ubuntu 16.04 dan Linux Mint.
  • Bahasa pemograman, Ruby on Rails, Vue JS, Kontlin,
  • Metabase, Mattermost
  • Database, mysql, postgresql
  • Webserver, NGINX
  • AWS Platform, Heroku
  • Gitlab dan Gitlab-CI

Harapannya adalah semakin banyak orang, lembaga, perusahaan yang memanfaatkan GNU/Linux dan teknologi bersumber kode terbuka lainnya.

Terimakasih untuk openSUSE dan Binar Academy yang menjadi sponsor perjalanan saya.

Estu


Selasa
07 Agustus, 2018


face

Perhelatan openSUSE Asia Summit 2018 tinggal menghitung hari. Perhelatan ini akan berlangsung pada 10 – 12 Agustus di National Taiwan University of Science and Technology, Taipei. Acaranya akan cukup wah sekali karena merupakan kolaborasi tiga acara. COSCUP X GNOME.Asia Summit X openSUSE Asia Summit.

Tahun ini kembali openSUSE.ID mengirim kontingen untuk memeriahkan acara. Ada 9 Pembicara dari Indonesia di openSUSE Asia Summit. Dan ada beberapa pembicara lain yang hadir untuk GNOME.Asia Summit 2018.

Daftar kontingen openSUSE Asia Summit beserta materi yang akan dibawakan adalah:

  • Mohammad Edwin | Maintaining the Good Spirit – openSUSE Indonesia Community Experience
  • Kukuh Syafaat | openSUSE Leap & Flatpak
  • Yan Arief Purwanto | Having fun with KDE: create a Plasmoid
  • Estu Fardani | How Jogja Become City of GNU/Linux User Friendly
  • Didiet Agus Pambudiono | Deployment of multi node web server, database server and storage session server with Ansible
  • Ahmad Romadhon Hidayatullah | Working and Contributing to Open Source Project via Graphic Design in openSUSE Tumbleweed
  • Rahman Yusri Aftian | Nusantara Metode Input at openSUSE
  • Tonny Adhi Sabastian | Single Sign On Services with Free/Open Source Software at Universitas Indonesia – Updating to CAS 5
  • Mohammad Rifki Affandi Z | Build your cloud file hosting using Nextcloud on openSUSE Leap 15.0
  • Darian Rizaludin
  • Joko Susilo
  • Ahmad Haris
  • Siska Iskandar
  • Iwan S Tahari

Tiket pesawat udah dibeli, Visa udah diurus, penginepan juga sudah dipesan. Tapi materi salindia masih draft semua. :D. Sampai bertemu di Taipei.

Terimakasih untuk openSUSE dan Binar Academy yang menjadi sponsor perjalanan saya.

Estu


Senin
30 Juli, 2018


face

Gelaran openSUSE.Asia Summit 2018 akan dimulai beberapa hari lagi. 2018 ini merupakan tahun kelima setelah sebelumnya diselenggarakan di

Tahun ini, openSUSE.Asia Summit 2018 diselenggarakan bersamaan dengan COSCUP dan GNOME.Asia Summit bertempat di National Taiwan University of Science and Technology dengan lebih dari 20 trek. Sudah terbayang akan seberapa meriahnya acara ini? Konon tiket peserta sudah ludes terjual sebanyak 1400 tiket.

Tahun ini, openSUSE Indonesia berhasil mengirimkan 9 orang pembicara, yaitu:

  1.  Ahmad Romadhon Hidayatullah aka Rania Amina; “Working and Contributing to Open Source Project via Graphic Design in openSUSE Tumbleweed
  2. Tonny Adhi Sabastian; “Single Sign On Services with Free/Open Source Software at Universitas Indonesia – Updating to CAS 5
  3. Rahman Yusri Aftian; “Nusantara Metode Input at openSUSE
  4. Estu Fardani; “How Jogja Become City of GNU/Linux User Friendly
  5. Mohammad Rifki Affandi Z; “Build your cloud file hosting using Nextcloud on openSUSE Leap 15.0
  6. Didiet Agus Pambudiono; “Deployment of multi node web server, database server and storage session server with Ansible
  7. Mohammad Edwin Zakaria; “Maintaining the Good Spirit – openSUSE Indonesia Community Experience
  8. Kukuh Syafaat; “openSUSE Leap & Flatpak
  9. Yan Arief Purwanto; “Having fun with KDE: create a Plasmoid

Selain itu, 9 pembicara diatas, ada beberapa teman-teman dari Indonesia juga yang akan hadir seperti dari GNOME, LIbreOffice-ID dan KLAS.

Sampai jumpa di Taipei.


Senin
04 Juni, 2018


face

openSUSE Asia Summit 2015

Setelah memasang Leap 15.0 di x260, ternyata saya tidak bisa memainkan gif ataupun video dari Facebook. Peramban yang saya gunakan adalah Firefox 60.0.1. Di lain sisi, memutar youtube tidak ada masalah. Dari hasil pengecekan https://www.youtube.com/html5 didapat bahwa format MP4/H.264 belum didukung oleh sistem operasi dan peramban.

Membaca wiki openSUSE ditautan https://en.opensuse.org/SDB:Firefox_MP4/H.264_Video_Support, masalah ini dapat diatasi dengan:

  1. Pasang repo packman,
  2. Pasang libav, sekalian memasang VLC
    $ sudo zypper in vlc libavcodec56 libavcodec57 libavformat56 libavformat57 libavdevice56 libavdevice57
    
  3. Restart firefox, dan test kembali dukungan video di https://www.youtube.com/html5

Selesai. Horeee.

Estu~


Rabu
23 Mei, 2018


face

I’ve been curious and interested with GPD Pocket since last year, when first time it announced (https://www.indiegogo.com/projects/gpd-pocket-7-0-umpc-laptop-ubuntu-or-win-10-os#/).

I bought this tiny machine 3 weeks ago on aliexpress. Shipping take only a day, but custom clearance takes almost two weeks.

First impression about this laptop was cute and good built quality.

Tiny

Installing It with Linux

This machine preinstalled with Windows 10, I think it’s original but who cares. I need running linux on it.

I try Leap 15 for first time. Screen rotated -1 and wifi not working. Then I tried Ubuntu 18.04 and similar thing happen. I use iso from gpd site, Ubuntu 16.04 that already customized for GPD Pocket but not working (stuck at boot).

Ubuntu 16.04

I read some documentation at https://github.com/stockmind/gpd-pocket-ubuntu-respin to rebuild Ubuntu 18.04 iso, but not working enough. So I use another methode, installing it then use update.sh to reconfigure all. It’s working. But I’m not satisfied in it. I wanna Tumbleweed on this machine.

I download openSUSE-Tumbleweed-DVD-x86_64-Snapshot20180520-Media.iso and dd-ing it to usb flashdisk then install. Of course when installing process, my screen was rotated -1. I choose GNOME Desktop. But after reboot, GNOME works fine except:

  1. wifi not working
  2. no battery applet, and system not recognize battery

Patch

Kukuh Syafaat, President of openSUSE-ID told me that Richard Brown (@sysrich) use GPD Pocket. So I ask Richard on twitter and he gave me clue in https://github.com/sysrich/salt-states/blob/master/opensuse/laptop.sls.

I use few lines from laptop.sls and it’s working well. I translated that salt script into plain bash script at https://github.com/princeofgiri/gpd-pocket-patch.

After reboot, Tumbleweed still not detecting the battery.

Use Another Kernel

I remember that Leap 15 can recognize the battery. So I download the kernel and installing it. Yes it’s work, but there’s new problem, when in charging mode, battery applet seems not know if that time is in charging mode.

So I decide to compile kernel by my self. Got the source from https://github.com/jwrdegoede/linux-sunxi.git and the result was cool. It’s works.

Let’s Work

Notes

  • I write this post using GPD Pocket
  • I will write kernel compilation in another post
  • Plymouth still rotated -1
Plymouth

Jumat
27 April, 2018


face

GNOME 3.28 beberapa waktu lalu baru rilis, cukup memancing banyak komentar. Tanggal 26 April kemarin, Ubuntu 18.04 meluncur dengan menyertakan GNOME 3.28 sebagai Desktop Environment baku. Unity sudah tidak dipergunakan lagi, mungkin tim Ubuntu sudah lelah.

Berawal dari move on-nya si Ubuntu, banyak penggemarnya kecewa, dan merasa GNOME itu jelek, tanpa bisa menunjukkan kejelekannya. Mari kita mundur beberapa waktu lalu.

 

Awal muncul GNOME 3, saya termasuk orang yang tidak suka, antar mukanya aneh. Lebih nyaman dan sederhana GNOME 2. Saya yang saat itu masuk di tim pengembang BlankOn, bersama rekan-rekan membedah kejelekannya sehingga muncullah bibit-bibit pemberontakan dengan dimulainya BlankOn Panel yang berujung pada Manokwari.

Manokwari sendiri perlu dibuat karena kedepannya, semua pustaka GNOME 2 akan ditinggalkan dan beralih ke GNOME 3. Tapi saya dan teman-teman tidak siap untuk sepenuhnya menggunakan GNOME 3 karena beberapa kejelekannya.

2014, saat GNOME Asia di Beijing, saya ngomong sendiri bahwa GNOME jelek ke pimpinan desainer UI/UX, Allan Day, dan berujunglah diskusi panjang. Saya pasti kalah sama mereka dalam hal penjelasan, saya cupunya minta ampun. Tapi saya menang dengan menceritakan bahwa GNOME 3 membutuhkan sumber daya komputer cukup besar (misal RAM 1 GB) di mana masyarakat Indonesia tidak banyak yang bisa memenuhinya. Sedangkan Manokwari, bisa bekerja (waktu itu) pada RAM 256 MB. Toh Manokwari masih menggunakan pustaka GNOME.

Sekitar 2011, Ubuntu merilis Unity, banyak yang komplain dan gak nyaman. Pindah ke KDE juga takut gengsinya turun lantara KDE di masa itu (sampai masa kini sih) mirip MS Windows dan banyak kutu (sekarang udah jauh mendingan).

Kita terbiasa ngedumel dan menjelek-jelekkan tanpa bisa menunjukkan apa yang bisa dilakukan untuk memperbagus hal tersebut. Mental kita lebih banyak sebagai pencela dari pada penebar “Rahmatan Lil Alamin”.

Saya dulu, mantab pindah ke GNOME 3.x saat memiliki layar dengan resolusi di atas FHD (3K) dan layar sentuh. Banyak perabotan GNOME bisa berfungsi dengan baik, seperti:

  • di Yoga 3 Pro, di layar ada logo jendela, saat disentuh, akan bisa menampilkan Activities. Pada DE lain tidak bisa
  • di layar sentuh, on screen keyboard sangat mudah tampil saat kita merasa memerlukannya (atau pada tablet mode). Tentunya hal ini tidak terjadi jika komputer kalian masih konvensional.

Jadi, sebelum mencela GNOME, lebih baik kopdar, ngopi-ngopi dulu dengan teman-teman komunitas GNOME. Saya traktir!

Catatan: saya belum nemu orang komplain dengan DE-nya Endless OS. Kalau komplain terkait tidak bisa booting dan sampai mencela saya tidak beretika sih ada.


Kamis
05 April, 2018


face

2018-03-25 14.47.48

Ini kali kedua konferensi, saya g ikut jadi pembicara. Sebelumnya PyConf ID di PENS 19 Desember silam, hanya cuma submit judul dan tidak lolos (dan memang berharap tidak lolos). Acara di PENS Desember silam termasuk perjalanan ajaib, karena kali pertama saya nyoba bawa sepeda lipat naik pesawat.

Konferensi LibreOffice kemaren saya semacam penyusup, karena sedikit bikin acara dalam acara. Agenda terselubungnya adalah mengumpulkan pengembang-pengembang BlankOn dalam satu lokasi. Semacam BlanKopdar.

Perjalanan ke timur. Rencana awal berangkat naik bus, tapi beberapa jam menjelang berangkat, tiba-tiba malah beli tiket kereta Jayakarta. Dan dapat kabar, kereta jalur selatan asal dan menuju Bandung mengalami terlambat. Karena ada kereta anjlok. Dan Pak Didiet sudah misuh-misuh dari sore.

Untuk penginapan di Surabaya, sebulan sebelumnya saya sudah memesan kamar dormitory di Anjani B&B tidak jauh dari PENS. Memesan 3 kamar dengan total 10 tempat tidur. 2 kamar dengan 4 kasur. 1 kamar untuk tim openSUSE.ID dan 2 kamar untuk BlankOn. Cukup murah.

Saya sampai Surabaya Jumat pagi jam 5, dan langsung ke homestay. Di homestay sudah ada Pak Slamet dan Pak Kuriyanto yang sudah sampai Surabaya sejak Kamis.

Hari Jumat 23 Maret 2018

Setelah mandi dan sarapan, terus langsung ke PENS. Ketemu Pak Edwin. Pak Noor Azam, Pak Eric dan Pak Franklin Weng. Juga ketemu beberapa pendekar yang sebelumnya belum pernah ketemu. Ada Pak Sofyan, Pak Kifli, Pak Syamsul, yang saya baru pertama ketemu. (Maafkan bila ada yg terlupa tidak disebut, keterbatasan memori)

Agenda Jumat adalah Workhop LibreOffice bareng Pak Andika. Break Solat jumat, kemudian dilanjutkan seremonial antara Panitia, Pembicara, Pihak Kampus dan Sponsor sekalian makan siang.

2018-03-23 13.53.04

Setelah Ashar saya balik ke homestay lagi sekalian mengantar Pak Edwin. Sebelum balik, Pak Darian nitip, “Pak ntar malam ada undangan makan di Jenggala Resto”. Siap ndan. Pak Darian makin lemu, mungkin efek stress menjadi koordinator panitia lokal. Selama makan malam, banyak obrolan teknis dan non teknis. Beberapa merupakan temu kangen. Tidak tiap tahun bisa kopdar komunitas seperti ini.

Setelah selesai undangan makan malam, balik homestay. Kita mulai Hackathon di Homestay. Kita bagi tugas tiap-tiap orang, apa aja yang bisa dikerjakan.

BlanKopdar kali ini ada beberapa target yang ingin dikejar:
1. Tambal Paket, terutama terkait Sofware Center dan Appstream Data
2. Nutupin Tiket BlankOn Installer
3. Rilis Manokwari, sekalian mengundang Pak Fadlun buat Hackathon, sebagai kontributor Manokwari paling aktif saat ini.
4. Beberapa konfigurasi infra yang dibutuhkan

Dalam kenyataannya adalah zsync jahitan, install, debug, koding-koding, commit, rilis paket, masuk ke irgsh, jahit dan ulangi dari awal. Jam 1 pada mulai tepar, namun hasilnya produktif. Beberapa bug minor terdeteksi dan dapat ditambal.

Hari Pertama Konferensi, Sabtu 24 Maret 2018.

Tempat acara di Gedung Pasca Sarjana PENS lt. 6. Saya agak telat datang. Pak Slamet dan Tim sudah duluan untuk persiapan Stand Pameran. Saya baru jam 11 sampai PENS. Tak lama dapat telepon dari Pak Aftian. Ya salah satu target utama datang ke Surabaya ini memang untuk ketemu Pak Aftian sebagai supermen di Proyek BlankOn.

Saya banyak menghabiskan di Stand Pameran, ngadep laptop. Jam set 1 ketemu Pak Aftian. Sesi


Selasa
03 April, 2018


face

The Original Story Behind This Conference

Yes, Sokibi and Rania already write the story about how we starting the conference. It’s true but not complete one. The original one was before I have dinner with Sokibi and Rania. I have lunch with Kukuh and Moko in Soto Betawi Restourant near my house.

Soto Betawi

We’re thinking that in 2017 there’s no FOSS Conference in Indonesia. So we decide to organize conference about LibreOffice but small one (we can call it mini conference). But time flows, and we kick out “mini” and become normal conference.

The Document Foundation

Since Franklin Weng becoming board in TDF, he often pursuade me to joining TDF Membership. Well, I’m thinking that I less contribution on LibreOffice and little experience in that (except for personal/daily use). I have lot of experience in OpenOffice, an era before LibreOffice.

So, with organizing this conference, it’s my starting point to contribute to LibreOffice and of course I apply the membership and TDF will process my submission this month.

Start Organizing Conference

We start work in December 2017, preparing the proposal and choose which city and university for the venue. We asking two universities and good will comes from PENS (Politeknik Electronika Negeri Surabaya). We start working on Januari 4th, and prepare everything daily.

We have 9 members of organizer in first place, but then one member just gone away not active, so I kicked him out. Our member was come from different cities, luckly it’s still in one timezone. So we just have 8 powerfull members. In last week near the event, there’s about 25 students from university that joining us as local community organizer.

My main role is as coordinator and fundraiser. It’s easy but not easy. But I have good team members. In the event it’s self I was complicated busy, make sure everything work and run perfectly. But me and others are happy.

Honorable mention Rania, Moko, Kukuh, Joko, Darian, Ummul, and Tamara. The last one can’t attend the conference.

Day #-1

I arrived at Surabaya on Thursday, one day before workshop. I need to come early to make coordination with local organizer and pickup Franklin and Eric. Both of them are my old friends.

Mr. Ardi (lecturer from PENS who also local organizer) told me in telegram chat, that in Day#1, I need to have speech to open the conference with some professor. I bought batik shirt for this special moment. 😀

Day #0

This is workshop day. I visited the venue and meet Mr. Ardi. I see the workshop for couple minutes and then at lunch time, I have meeting with Franklin, Eric, Andika, Noor, Darian, Estu and Lecturer/Professor from PENS.

In that meeting we have introduce our self and have small discussion. The Director of PENS also open the conference, because on Day#1 he can’t attending it.

I stay in Rumah Kertajaya Hostel, same with Franklin, Eric and Italo


Selasa
13 Maret, 2018


face

Tulisan ini masih sedikit melanjutkan pengalaman GNOME Recipes Hackfest 2018, namun sedikit ditambahkan atas pesanan Pak Andika (Koordinator Penerjemahan GNOME) terkait bagaimana cara menguji aplikasi dengan antar muka bahasa Indonesia (dengan file .po yang sudah kita terjemahkan).

Mari kita mulai!

Pasang GNOME Builder Nightly
  • Unduh flatpakref untuk GNOME Nightly dari https://sdk.gnome.org/gnome-nightly.flatpakrepo dan pasang

flatpak –user remote-add gnome-nightly gnome-nightly.flatpakrepo

  • Unduh flatpakref untuk GNOME Builder dari https://raw.githubusercontent.com/GNOME/gnome-apps-nightly/master/gnome-builder.flatpakref dan pasang

flatpak –user install –from gnome-builder.flatpakref

Jalankan Builder dan Ambil Kode GNOME Recipes
  • Jalankan Builder dan pilih tombol Clone untuk kloning kode sumber
  • Kloning dari https://gitlab.gnome.org/GNOME/recipes.git
Kloning Kode
  • Kode akan otomatis dibangun oleh Builder
Build
Detil Build
  • Jalankan!
Jalankan!
GNOME Recipes
Mengubah Antar Muka ke bahasa Indonesia

Seperti gambar di atas, antar muka aplikasi yang kita jalankan menggunakan antar muka baku (bahasa Inggris). Untuk kasus teman-teman yang mengerjakan terjemahan, perlu menguji dan membuat antar mukanya ke bahasa Indonesia. Adapun langkahnya sebagai berikut:

  • tambahkan “–env=LC_ALL=id_ID.utf8” pada bagian “finish-args” di berkas org.gnome.Recipes.json.
org.gnome.Recipes.json
  • Jalankan lagi!
Berbahasa Indonesia

 

Selamat Mencoba!

 


Rabu
07 Maret, 2018


face

This Hackfest are focused on GNOME Recipes and venues in AMIKOM university in Yogyakarta. https://en.m.wikipedia.org/wiki/University_of_Amikom_Yogyakarta

In last year,  I know there will be GNOME Hackfest in Yogyakarta and possibly in March. And I thought it wil be at end of March until Nuritzi tell in Endless Ambassador Telegram Group that it will be start from February 28th until March 2nd. I know this on February 25th. So I ask Kukuh Syafaat to go together and help since he also GNOME Foundation Members.

Actually at February 27th, there’s an outreach event at the local university. But I can’t manage to go because I arrived at Yogyakarta at 17:00 and it already finished. But I have dinner with few GNOME Developer (but no Mattias and Emel) for that day.

#1st Day

This is my first time joining GNOME Hackfest and I don’t know about Recipes at all. So I just learning for this day.

There’s two application, GNOME Recipes and Endless Recipes. We (actually I just silent becase I became student this time 🙂 define our goals in this hackfest.

Then continue with demo of GNOME Recipes and Endless Recipes. And this time I understand how both work. It’s make me interesting to learn about creating basic GNOME applications.

When Phillip gave demonstration, I was amazed by few tools from Endless, there’s Ingester who can collect data and download it to locals then preview it with Hatch Preview.

And from this first day, I understand how different about data between those two applications.

Apps Demo - Endless DemoApps Demo – Endless Demo

For first day dinner, I meet Endless CEO (Matt Dalio) for first time and we have dinner with all developer in Taj (India) Restaurant. Endless paid all food. Thank’s Endless.

Indian Restaurant

Note for first day can be read in https://wiki.gnome.org/Hackfests/Recipes2018/Day1.

#2nd Day

This day starting by Emanuelle explaining about constraints-based layout which is also first time for me to know it. There’s Autolayout.js and Emeus to help manage the layout.

Emanualle explain about constrain-based layoutAutolayout.js

In this day we have some question that Rama and Emel need to ask to “real life” students. Rama became coordinator for collection recipes from Indonesia’s side. It’s decided on first day.

After lunch Martin got the recipes data and started converting it into a shard. Matthias debugged some issues that showed up during demoing of recipes earlier. Me, personally I’m learning about building Recipes from source and understanding ingester.

After hackfest, I meet with Renato from Endless. Actually we already meet at first time dinner but he thinking that me and Kukuh are GNOMErs, not Endless Ambassador. We discuss about marketing stuff and strategy and also he told me that Endless will have office in Bali.

Dinner for this day, I help them to choose. You can guess where is it? The owner come to us and ask take picture with us.

Guess where is it?Guess where is it?

Endless


Senin
06 November, 2017


face

Did you know about EndlessOS? you can read here.

Since end of October, I’m joining Endless Ambassadors Programme. And on November 3rd until November 5th, we have reatreat in Jogjakarta with others Ambassador and Endless employee.

Today, I’m decide to use EndlessOS as my daily OS. I wanna try it, if it’s can fit with me or not. Before using EndlessOS, I’m using Ubuntu and Debian. Personally, since it’s using Linux, I have no struggle on it.

But EndlessOS is different. I according to my first impression before (I install it on another computer), it’s good for new comers but not for advance users.

Right now I’m using EndlessOS 3.3 on my X1 Carbon that using Intel Core i7 5600U and single boot. I’m downloading from Buaya. Yes that’s local repository. It’s because more faster than from the original download source.

First Impression

Fast!

Yes it’s fast, from boot until going to desktop. Even faster than BlankOn.

Nice

I love the wallpaper.

EndlessOS DesktopEndlessOS Desktop

Just Work

My laptop just work on it. Everything seems ok even I have some notes and I will put on last section of this post.

App Center

After installing, I need to make sure that my needs are ready in App Center, so I just randomly look at that.

App Center #1App Center #1

There’s local encyclopedia, so you don’t need to connect internet everytime.

App Center #2 – Encyclopedia

And there’s also Android Studio.

App Center #3 - Android StudioApp Center #3 – Android Studio

I install some of them according to my needs. They’re success installed on my system. One or two seem has problem when downloading the package. I was wondering that’s because internet connection not good. As far I know, that’s need international connection and mostly, this country connection not good at that.

AudacityAudacity – My lovely application

There’s some “weird” in App Center. It’s has two GIMP. Probably it can make new comers feel confuse at first time. They need to choose which one is the “real” one.

Two GIMPTwo GIMP

Steinberg UR242

Steinberg UR242Steinberg UR242

My external soundcard is working here (even I just only playing music from youtube). I have Steinberg UR242. And it’s smoothly can play song from youtube.

Let's RockLet’s Rock

What is missing?

TuxGuitar – Yeah! there’s no tuxguitar in App Center right now. This is my “must have apps all the time”.

Ardour – this is also in my list of apps.

Thunderbird – I can’t find it in App Center. My office use it and I already has backup from previous installation.

VirtualBox – No virtualbox. 🙂

Touchpad – My touchpad always stopped to able to scroll after suspending system (or close the screen). It’s happen in Ubuntu 17.10, and can be solved by installing xserver-xorg-input-synaptics.

Telegram Desktop – It’s not working for me. It’s always force close when I input phone number.

Translations

I found some translation that not fit (yes of course I


Rabu
01 November, 2017


face

“Cerita dari Negeri Matahari Terbit”

Foto diambil dari album openSUSE Asia Summit 2017. Thanks Pak Edwinz, Dhenandi, Kukuh, Takeyama, Pak Yan atas fotonya.

IMG_5011

This is my third time join openSUSE Asia Summit. Previously at Taiwan, Dec 2015. And last year at Yogyakarta. Last year I join as event coordinator for openSUSE Asia Summit 2016. and present as workshop speaker with tittle Manage Log using ELK Stack in openSUSE.

I came again as workshop speaker with title Testing Ansible Roles using Molecule at openSUSE.

This year, we went from Indonesia with big team. 11 people except me with various background. There are:

  1. M. Edwin Zakaria, veteran contibutor for openSUSE since 1999, https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1572
  2. Andi Sugandi, teacher on High School, former President of openSUSE Indonesia Community. https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1608.
  3. Sendy Aditya Suryana, last year join as Volunteer Coordinator for openSUSE Asia Summit 2016, https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1534
  4. Yan Arief Purwanto, since long-long time ago part of openSUSE Indonesia Community. https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1614.
  5. Kukuh Syafaat, president of openSUSE Indonesia Community, https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1502.
  6. Syah Dwi Prihatmoko. Currently working as DevOps Engineer at KodeKreatif. Last year join as Speaker too, https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1544.
  7. Saputro Aryulianto, working as OpenStack Engineer Certified at PT. Boer Technology (Btech), https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1570.
  8. Umul Sidikoh. Student at STT NURUL FIKRI, last year join for first time as speaker at openSUSE Asia Summit 2016 Yogyakarta. https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1616.
  9. Alin Nur Alifah. Working as Programmer at Universitas Pertanian Bogor, https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1590.
  10. Tonny Sabastian, working as CTO at Peentar.id, https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1548.
  11. Muhammad Dhenandi Putra, working as Engineer at PT. Excellent Infotama Kreasindo, https://events.opensuse.org/conference/summitasia17/program/proposal/1520.

One Day Before Summit

Committee invite us for welcome party at University. Many new people join. Cozy moment. Some people say hallo, talking about their project, about difference culture, community etc.

P1000551
P1000581

Day One Summit

IMG_4845

Its rainy day, little bit cold, 12 degree Celsius.

Summit be opening by Takeyama-san with receive album of summit from Indonesia Team as Host for last year to Japan Team.

First Keynote speaker from Richard Brown, Chairman of openSUSE Board), talk about openSUSE update from Nuremberg. Then Omo-san (Kazuki Omo) talk about security at FOSS. Ludwig Nussel from SUSE give talk about roadway to openSUSE Leap 15 which will be release at April 2018.

Lunch break. We all going to Surabaya Restaurant. Of course Indonesia food.
DSC08543

After lunch, various speaker start present on parallel class room.

IMG_4900
P1000721

Day one close by some of lightning talk. And Committee invite dinner with all volunteers and speakers.

P1000804

Day one end.

Day Two Summit

Weather still cold, and typhoon Lan will arrive Tokyo tonight.

Opening by Takeyama. Talk about

Older blog entries ->