Skip to main content

a silhouette of a person's head and shoulders, used as a default avatar

openSUSE Tumbleweed – Review of the week 2022/46

Dear Tumbleweed users and hackers,

For Tumbleweed it has become the norm to deliver snapshots daily – and we are not making any exception to this in week 46. We have again published 7 snapshots (1111…1117), with the latest one just published moments ago. From a staging point of view, it seems like things are being tested much better lately before being submitted: almost everything passes through staging in a day or so (this is not an invitation to change this – more a Thank you to the respective maintainers making things the way they are)

The 7 snapshots brought you these changes:

  • KDE Frameworks 5.100.0
  • LLVM 15.0.4
  • freerdp 2.8.1
  • Bash 5.2.9
  • Linux kernel 6.0.8
  • Shadow 4.13
  • IceWM 3.2.0
  • Mozilla Firefox 107
  • systemd 252.1
  • Python (all versions): Fixes for CVE-2022-45061
  • postgresql10, 11, 12, 13, 14, and 15 – all bump to their latest minor version

As things go so quickly through the staging projects, it’s much harder to predict what we will receive during the next week. The things that are in work for a bit longer and are thus already known are:

  • Pipewire 0.3.60
  • rubygem-rspec 3.12.0: YaST is in the progress of catching up with the needed changes
  • Switch default from ffmpeg4 to ffmpeg5 (opencv3 is the last package missing)
  • Switch to openSSL 3 (Status can be tracked in Staging:N)

a silhouette of a person's head and shoulders, used as a default avatar

Tugas Kuliah, Intermezzo Piano dan Insight Pembelajaran

Semalam saya mengikuti kuliah Research Methodology dengan dosen prof Wiranto Herry Utomo. Mata kuliah ini memberikan pengetahuan mengenai penulisan ilmiah, baik itu paper maupun thesis.

Prof Wiranto memulai sesi kuliah diawal semester dengan menerangkan sistematika penulisan dan tahapan yang perlu diperhatikan serta memberikan referensi buku, jurnal, tutorial, list penerbit jurnal termasuk waspada terhadap predatory journal.

Untuk semester ini, tugas yang diberikan adalah membuat proposal thesis. Pada setiap sesi kuliah, kami diberikan tugas mulai dari menentukan judul, membuat abstrak, membuat introduction, literatur review dan seterusnya. Tugas itu disubmit melalui ecampus dan kemudian pada tiap sesi kuliah akan diminta melakukan presentasi satu persatu.

Tadi malam saya mendapat giliran memberikan presentasi mengenai literature review. Karena nama saya berawalan M sehingga saya harus menuggu giliran berdasarkan abjad. Kadang prof Wiranto memulai dari tengah, sehingga saya tetap bersiap-siap sejak awal.

Sebelumnya prof Wiranto sudah memberikan persetujuan untuk judul, abstrak dan introduction. Ada beberapa rekan mahasiswa yang belum lolos introductionnya. Ada juga yang belum lolos abstrak. Bahkan ada yang masih macet di judul karena judulnya belum sesuai yang dimaksudkan oleh prof Wiranto.

Judul yang hanya komparasi tanpa memberikan nilai tambah misalnya, tidak akan disetujui. Abstrak yang tidak sesuai struktur, introduction yang tidak memuat research gap, state of the art, novelty (kebaruan) dan lain-lain tidak akan lolos. Setiap mahasiswa harus bisa menjelaskan hasil presentasi yang dilakukan, termasuk jika ada pertanyaan-pertanyaan terkait proposal thesisnya.

Saat baru mulai presentasi, prof Wiranto bertanya pada saya, “Wah sambil mendengarkan musik ya?”. Saya sempat heran karena saya tidak menyetel musik, apalagi saat mengikuti kuliah. Ternyata Vivian sedang main piano, refreshing sekaligus melatih beberapa lagu yang didapat dari tempat les. Saya sampaikan bahwa itu puteri bungsu saya yang main piano.

Saya tidak menyangka suara piano Vivian masuk ke mic saya, karena saya menggunakan mic clip on yang relatif lebih less noise dibandingkan dengan mic bawaan iMac yang saya gunakan.

Mungkin karena berkah piano Vivian atau bisa juga memang sedang beruntung 🤭, prof Wiranto memberikan approval untuk literature review saya setelah menanyakan beberapa isi dan mengkonfirmasikan mengenai perbedaan riset yang saya lakukan dengan riset yang ada dalam literature review.

Selesai presentasi, saya melihat beberapa rekan mahasiswa mengomentari suara piano Vivian. Katanya serasa mendengarkan musik klasik saat saya presentasi. Setelah selesai presentasi, saya baru kepikiran, jangan-jangan suara itu mengganggu. Maaf ya pak prof, saya nggak kepikiran karena konsentrasinya adalah memberikan presentasi dan penjelasan mengenai proposal thesis.

Tugas kuliah itu sebenarnya saya kerjakan disela-sela waktu saat mengantar Vivian sekolah sebelum melipir ke masjid. Kadang saya kerjakan saat menunggu Vivian pulang sekolah. Sering juga saya kerjakan disela waktu pekerjaan di Excellent dan Aktiva. Kemarin saya malah merapikan materinya disela-sela meeting team product development PT Aktiva Kreasi Investama di kebun anggur Zeze Zahra.

Saya pikir akan cukup sulit jika saya menunggu waktu khusus didepan komputer di rumah atau di depan laptop. Selain jarang punya waktu khusus seperti itu, butuh effort besar untuk mengerjakannya. Kadang keburu ngantuk, kadang ada banyak gangguan atau interupsi. Jadi saya memilih untuk menggunakan waktu-waktu luang yang ada untuk mencicil penyelesaian tugas yang ada. Lebih efektif dan lebih efisien buat saya maupun lingkungan saya.

Saya juga belajar banyak baik dari para dosen maupun rekan-rekan mahasiswa. Pekan lalu presentasi saya berlangsung singkat karena materinya terlalu sedikit dan referensi jurnalnya hanya 8. Setelah kuliah, saya bertanya pada rekan yang sudah mendapatkan approval dan ternyata ia punya 40 lebih referensi jurnal (scopus index) dan beberapa halaman literature review. Dia juga menggunakan format yang direferensikan oleh prof Wiranto. Dari situ saya belajar menyesuaikan. Saya menggunakan format yang direferensikan, kemudian meluangkan waktu untuk mencari dan membaca paper dari sciencedirect maupun dari ieee kemudian memasukkannya ke literature review jika memiliki keterkaitan dengan topik thesis.

Pola ini bisa menjadi insight pembelajaran untuk pengelolaan pekerjaan di Excellent maupun Aktiva. Dari pengalaman tersebut, saya belajar agar bisa lebih terencana, mau membuka diri, meluangkan waktu dan menyelesaikan masalah dengan lebih terstruktur dan tepat guna.

the avatar of Nathan Wolf
a silhouette of a person's head and shoulders, used as a default avatar

Hardware Anbernic RG350 P/M en Podcast Linux #165

Bienvenidos a un nuevo audio de Podcast Linux, concretamente el episodio 165 titulado «Hardware Anbernic RG350 P/M« donde Juan Febles comparte una de sus aficiones, el retrogaming, que se cmbina con su otra afición, GN/Linux, mundos que combinan de maravilla por varias razones, entre las que destacan el comprosimo comunitario y de lucha contra la obsolescencia programada que ambas comunidades comparten.

Hardware Anbernic RG350 P/M en Podcast Linux #165

Hardware Anbernic RG350 P/M en Podcast Linux #165

Cada cierto tiempo me gusta promocionar los audios de Podcast Linux, un programa de Juan Febles que hace con mucho cariño y que siempre tienen cosas interesantes que descubrir.

De esta forma, hace poco promocioné su especial 6º aniversario, su Linux Connexión con Jorge Lama o la Academia Automatización del Hogar con Luis del Valle y Germán Martín.

Hoy toca volver hablar y compartir de nuevo su podcast con una entrada en la que presenta una consola portátil china con la que se pueden hacer muchas cosas y sobre la Comunidad Linuxera tiene mucho que decir.

En palabras de Juan:

¡¡¡Muy buenas amante del Software Libre!!!

¡¡¡Muy buenas amante del Software Libre!!!
Bienvenido a otra entrega, la número 165, de Podcast Linux. Un saludo muy fuerte de quien te habla, Juan Febles. Hoy vuelve una consola portátil china al podcast, la Anbernic RG350P o M, más tarde te diré el porqué.

Ya estés en trayecto, haciendo deporte o tareas del hogar, paseando o en tu casa, te doy la bienvenida al episodio 165, Hardware Anbernic 350 P/M.

Recuerda el proyecto PC Reciclado de la Audiencia. Anímate a participar

Enlaces:

Enlaces:

Así que os invito a escuchar este monólogo deJuan cuya voz, tranquilidad y simpatía hace que me encan . ¡Dentro audio!

Más información: Podcast Linux

Sigue a Podcast Linux

Aprovecho para animaros a seguir Podcast Linux en algunos de los canales de comunicación que tiene:

La entrada Hardware Anbernic RG350 P/M en Podcast Linux #165 se publicó primero en KDE Blog.

a silhouette of a person's head and shoulders, used as a default avatar
the avatar of openSUSE News

New Leap Micro Version Now Available

The openSUSE Project is pleased to announce the release of its modern lightweight host operating system Leap Micro 5.3.

This release has a new SELinux module for Cockpit that provides basic functionality for users to troubleshoot configurations and makes NetworkManager the default network configuration tool.

This release is based on SUSE Linux Enterprise SUSE (SLE) Micro 5.3 and is built on top of a SLE 15 Service Pack 4 update.

This ultra-reliable, lightweight and immutable operating system can be used for several compute environments like edge, embedded, IoT deployments and others.

The host-OS has automated administration and patching, so auto-updating gives users a persistent bootable system for their container and virtualized workloads.

Users should know that zypper is not used with Leap Micro, but transactional-update is used instead. One of the packages related to Leap Micro for developers is Podman. Podman gives developers options to run their applications with Podman in production.

Leap Micro has similarities of MicroOS, but Leap Micro does not offer a graphical user interface or desktop version. However, users can use Cockpit to manage their host OS through a web browser.

Large development teams can add value to their operations by trying Leap Micro and transitioning to SUSE’s SLE Micro for extended maintenance and certification.

Developers and professionals can build and scale systems for use in aerospace, telecommunications, automotive, defense, healthcare, hospitality, manufacturing, database, web server, robotics, blockchain and more.

To download the ISO image, visit get.opensuse.org.

a silhouette of a person's head and shoulders, used as a default avatar

Best Linux Distros for KDE Plasma

KDE has been available as a FOSS for 26 years, it is still one of the most powerful and flexible desktop environments that are designed specifically for Linux systems. Initially, KDE meant “Kool Desktop Environment” but it was later changed to “K Desktop Environment”. KDE is 100% free to use and anyone can contribute to […]

Source

a silhouette of a person's head and shoulders, used as a default avatar

Belajar Mengatur Waktu dan Usaha Meningkatkan Kualitas

Pertengahan bulan November ini terhitung 2.5 bulan saya menjalani perkuliahan di President University. 5 hari dalam seminggu, selepas maghrib saya menjalani perkuliahan.

Total ada 5 mata kuliah yang saya jalani :

Senin untuk mata kuliah Information Retrieval dengan dosen Ir. Rila Mandala, M.Eng., Ph.D.

Selasa mata kuliah Ubiquitous Computing dengan dosen Rusdianto Roestam MSc., PhD.

Rabu mata kuliah IT Forensics dengan dosen Cutifa Safitri, M.Sc., Ph.D.,

Kamis mata kuliah Research Methodology dengan dosen Prof. Dr. Ir. Wiranto Herry Utomo, M.Kom.

Jumat mata kuliah Business Intelligence dengan dosen Dr. Tjong Wan Sen, S. T., M. T.

Dosen-dosen yang mengajar memang sesuai dengan titel akademik yang disandang, semua qualified lecturer dan meski memiliki pendekatan pengajaran berbeda-beda, saya bisa belajar analisa sekaligus terapan dari tiap mata kuliah yang ada.

Semua kuliah dilakukan dalam bahasa Inggris, termasuk diskusi, tugas maupun paper dan thesis yang nantinya akan dibuat. Persiapan yang saya lakukan sebelum mengambil perkuliahan (mengikuti kursus speaking, latihan dan mengambil ujian TOEFL) sangat membantu adaptasi hal ini, meski ya tentu saja sebatas apa yang saya bisa.

Kegiatan perkuliahan ini tentu saja mengubah kebiasaan saya selama ini. Biasanya saya masih bisa bersantai di sore sampai malam hari, kali ini saya harus menyiapkan diri setiap sore. Apalagi saya ditunjuk menjadi captain (ketua kelas) untuk beberapa mata kuliah. Hal ini terjadi, mungkin karena saat pertemuan pertama di mata kuliah pak Rila, saya menjadi siswa yang hadir paling awal, hehehe…

Disela-sela kesibukan bekerja, saya berusaha membuat rutinitas belajar, selain tentunya mengerjakan tugas. Saya membuat jadwal rutin untuk tiap mata kuliah, minimal 1 hari sebelum kegiatan mata kuliah dilakukan. Misalnya untuk mata kuliah IT forensics di hari Rabu, paling lambat hari Selasa saya sudah mencoba mempelajari materi yang akan dibahas.

Kadang ada tugas yang butuh waktu khusus untuk mengerjakannya, misalnya untuk pembuatan paper di mata kuliah Ubiquitous Computing dan Research Methodology. Belum lagi saya harus mempelajari Python dan Machine Learning sebagai dasar bagi saya mengikuti mata kuliah Business Intelligence. Hal ini ditambah dengan proyek pribadi rutinitas belajar bahasa Inggris dan menghapal beberapa ayat al qur’an setiap harinya.

Saya juga harus mengelola bisnis Excellent, Aktiva dan Zeze Zahra, sekaligus mengelola kebun dan rumah kabin.

Kadang bukan hanya teman atau saudara yang tanya, bahkan saya sendiri bertanya, ini apa benar saya menjerumuskan diri pada kesibukan bertubi-tubi. Apa yang membuat saya harus sedemikian sibuk padahal saya bisa saja bersantai mengerjakan hal-hal yang menyenangkan saja.

Tapi saya memilih untuk mencoba berbagai hal yang baik dan positif. Dalam hal pemilihan kuliah misalnya, saya memerlukan itu untuk mengupdate pemikiran saya, agar bisa bermanfaat dalam bisnis Excellent, Aktiva dan Zeze Zahra. Bahwa konsekuensinya saya harus belajar lebih keras karena sudah terlalu lama selesai kuliah, ya itu saya pandang sebagai konsekuensi logis yang harus saya pahami dan terima. Sesuatu yang memang harusnya saya jalani dan tidak mencari-cari keringanan atau penyesuaian.

Saya juga ingin memberikan contoh pada Zeze Vavai dan Vivian Aulia Zahra agar mereka mau terus mengupdate pengetahuan sekaligus berupaya sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dari orang tuanya tanpa harus melupakan keterampilan lain dalam kehidupan.

Menulis hal seperti ini di sosmed juga kadang membuat saya berpikir ini jatuhnya jadi pencitraan. Menyebut nama kampus, menuliskan apa-apa yang saya kerjakan, bisa jadi itu malah membuat saya menampilkan hal yang kelihatannya keren-keren saja. Padahal niat saya menuliskan ini memang murni sebagai berbagi pengalaman, bahwa semestinya kita tidak berhenti belajar meski usia kita terus bertambah, dan pembelajaran itu tidak harus formal karena bisa saja kita belajar dalam bentuk lain.

Saya memilih pembelajaran formal di kampus karena memang dulu saya tidak punya kesempatan itu. Saya dulu tidak memiliki peluang untuk bisa menempuh pendidikan di tempat yang bergengsi atau di kampus perguruan tinggi negeri atau di kampus dengan berbagai fasilitas yang memadai. Saya tidak menyesali apa yang sudah saya jalani namun saya juga berusaha untuk bisa mengambil peluang untuk meningkatkan level pendidikan dan pengetahuan saat kesempatan itu ada.

Kadang ada yang bilang bahwa pendidikan formal itu tidak penting karena yang penting itu adalah kemampuan. Seperti selalu dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya, bagi saya pendidikan formal sama pentingnya dengan kemampuan. 2 hal itu bukan dikotomi dan harus dipilih salah satu, karena bagi saya akan keren sekali jika pendidikan formal bisa berjalan seiring dengan kemampuan yang sama baiknya.

Saya belum tahu kedepan apakah saya bisa bisa menjalani pendidikan dengan lancar, bisa menjalani usaha dengan lancar, bisa menata kehidupan dengan baik, karena ya tentunya kita tidak pernah tahu masa depan kita. Yang bisa saya lakukan adalah mempersiapkan dan menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Proses yang dijalani saja sudah merupakan pembelajaran yang baik dan itu harapannya bisa bermanfaat bukan hanya bagi saya pribadi maupun keluarga, melainkan juga buat usaha yang dijalani, untuk lingkungan dan untuk masyarakat banyak.

Note : Image by Pok Rie from Pixabay

a silhouette of a person's head and shoulders, used as a default avatar

Objetivos KDE 2022: Accesibilidad, sostenibilidad y automización.

El primer día de la Akademy de este año de Barcelona ha generado, como ocurrió hace 3 años en Milán, una de las noticias más importantes para la Comunidad. Se han hecho público los objetivos KDE 2022, los cuales serán: ccesibilidad, sostenibilidad y automización. Como ya pasó en el 2019, estos objetivos no significan que los desarrolladores se centren solo en ellos, pero si que estarán dentro de todas las mentes pensantes del proyecto con lo que se espera dar un gran salto respecto a ellos.

La dificultad de marcar objetivos en un proyecto libre

Es muy complicado guiar un proyecto de Software Libre ya que gran parte de su desarrollo es voluntario y las personas que lo suelen hacer no están obligadas a hacer lo que no quieren hacer (esto ha sonado un poco extraño pero creo que me entendéis).

Por otra parte, que cada desarrollador vaya por su lado sin tener en cuenta el trabajo o las líneas maestras del resto, consigue que tengamos un buen lío (algo que suele ser habitual en el Software Libre).

Es por ello que plantear unos objetivos únicos que guíen el Proyecto KDE durante un par de años es muy complicado. No obstante, el órgano de gobierno de KDE, que se llama KDE e.V., se está esforzando mucho para encajar ambas ideas.

Recopilación de noticias

Para ello, cada dos años se pide a los miembros de la Comunidad que propongan al resto cuáles son los objetivos que creen más importantes para el desarrollo del Proyecto.

Posteriormente, se realiza una votación y se seleccionan los 3 objetivos principales que los desarrolladores deberían tener en mente cuando estén desarrollando el Proyecto KDE.

Veamos que se ha decidido este año.

Objetivos KDE 2022: Accesibilidad, sostenibilidad y automización.

De nuevo tres objetivos han sido seleccionados para ser añadidos a los anteriores y que reciban una merecida atención por parte de los desarrolladores del Proyecto KDE.

Objetivos KDE 2022: Accesibilidad, sostenibilidad y automización.
  • KDE para todos – Impulsar la accesibilidad: No es la primera vez que se presenta una propuesta sobre accesibilidad, pero este año la comunidad ha decidido que es hora de actuar.
  • Software sostenible: El software de KDE es muchas cosas: gratuito, bello, eficaz, personalizable… La lista continúa. Pero, ¿qué hay de todo eso y además es ambientalmente sostenible?. En los próximos años mejoraremos en este aspecto.
  • Automatizar y sistematizar los procesos internos: Cada año el número de aplicaciones de KDE crece, y al mismo tiempo adquirimos más usuarios y más socios de hardware. Esto es, por supuesto, fantástico, pero llega un momento en que depender únicamente de los esfuerzos de los voluntarios para las partes críticas de la entrega de software de calidad a todo el mundo deja de ser escalable

Como vemos, la Comunidad KDE, sin dejar de ser una Comunidad, intenta dar respuesta a las inquietudes de la mayoría de sus miembros, e intenta aunar esfuerzos para seguir creciendo.

Y vosotros, ¿qué os parecen los objetivos KDE 2022? Comentad lo que queráis en los comentarios pero, sobretodo, pensad en involucraros si pensáis que los desarrolladores están equivocados. El Software Libre lo hacen personas y su futuro lo deciden personas como tu o yo, no lo olvidéis nunca.

Más información: KDE.News

La entrada Objetivos KDE 2022: Accesibilidad, sostenibilidad y automización. se publicó primero en KDE Blog.

a silhouette of a person's head and shoulders, used as a default avatar

Objetivos KDE 2022: Accesibilidad, sostenibilidad y automatización.

El primer día de la Akademy de este año de Barcelona ha generado, como ocurrió hace 3 años en Milán, una de las noticias más importantes para la Comunidad. Se han hecho público los objetivos KDE 2022, los cuales serán: accesibilidad, sostenibilidad y automización. Como ya pasó en el 2019, estos objetivos no significan que los desarrolladores se centren solo en ellos, pero si que estarán dentro de todas las mentes pensantes del proyecto con lo que se espera dar un gran salto respecto a ellos.

Objetivos KDE 2022: Accesibilidad, sostenibilidad y automatización.

Es muy complicado guiar un proyecto de Software Libre ya que gran parte de su desarrollo es voluntario y las personas que lo suelen hacer no están obligadas a hacer lo que no quieren hacer (esto ha sonado un poco extraño pero creo que me entendéis).

Por otra parte, que cada desarrollador vaya por su lado sin tener en cuenta el trabajo o las líneas maestras del resto, consigue que tengamos un buen lío (algo que suele ser habitual en el Software Libre).

Es por ello que plantear unos objetivos únicos que guíen el Proyecto KDE durante un par de años es muy complicado. No obstante, el órgano de gobierno de KDE, que se llama KDE e.V., se está esforzando mucho para encajar ambas ideas.

Recopilación de noticias

Para ello, cada dos años se pide a los miembros de la Comunidad que propongan al resto cuáles son los objetivos que creen más importantes para el desarrollo del Proyecto.

Posteriormente, se realiza una votación y se seleccionan los 3 objetivos principales que los desarrolladores deberían tener en mente cuando estén desarrollando el Proyecto KDE.

Veamos que se ha decidido este año.

Objetivos KDE 2022: Accesibilidad, sostenibilidad y automización.

De nuevo tres objetivos han sido seleccionados para ser añadidos a los anteriores y que reciban una merecida atención por parte de los desarrolladores del Proyecto KDE.

Objetivos KDE 2022: Accesibilidad, sostenibilidad y automización.
  • KDE para todos – Impulsar la accesibilidad: No es la primera vez que se presenta una propuesta sobre accesibilidad, pero este año la comunidad ha decidido que es hora de actuar.
  • Software sostenible: El software de KDE es muchas cosas: gratuito, bello, eficaz, personalizable… La lista continúa. Pero, ¿qué hay de todo eso y además es ambientalmente sostenible?. En los próximos años mejoraremos en este aspecto.
  • Automatizar y sistematizar los procesos internos: Cada año el número de aplicaciones de KDE crece, y al mismo tiempo adquirimos más usuarios y más socios de hardware. Esto es, por supuesto, fantástico, pero llega un momento en que depender únicamente de los esfuerzos de los voluntarios para las partes críticas de la entrega de software de calidad a todo el mundo deja de ser escalable

Como vemos, la Comunidad KDE, sin dejar de ser una Comunidad, intenta dar respuesta a las inquietudes de la mayoría de sus miembros, e intenta aunar esfuerzos para seguir creciendo.

Y vosotros, ¿qué os parecen los objetivos KDE 2022? Comentad lo que queráis en los comentarios pero, sobretodo, pensad en involucraros si pensáis que los desarrolladores están equivocados. El Software Libre lo hacen personas y su futuro lo deciden personas como tu o yo, no lo olvidéis nunca.

Más información: KDE.News

La entrada Objetivos KDE 2022: Accesibilidad, sostenibilidad y automatización. se publicó primero en KDE Blog.